Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab27
"Maaf" lirih Edwin.
"Maaf karena nggak bisa ngelak waktu Alisya cium pipi aku," lanjut Edwin meneruskan ucapannya. Keyla berusaha berdiri setegak mungkin kepalanya terasa seperti ingin pecah.
"Kenapa?" tanya Keyla di sertai isakan tangis.
"Dengerin aku, aku suka kamu bukan Alisya kalau aja waktu itu aku tau Alisya mau cium aku, aku pasti ngelak," ucap Edwin memegang pundak Keyla.
Keyla menatap mata Edwin.
"Kamu bohong," ucap Keyla mudur beberapa langkah dari posisinya.
"Demi apapun aku nggak bohong," ucap Edwin meyakinkan Keyla.
Keyla menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya.
"Key," Panggil Edwin menatap sendu ke arah Keyla.
"Stop disitu" ucap Keyla di barengi isakan "jangan deketin aku," Keyla semakin menjauh dari posisi Edwin.
Keyla sekuat tenaga menjaga agar tubuhnya berdiri tegak tapi tiba-tiba pandangannya perlahan menggelap.
Brukk
"Keyla"
•••
Keyla bergerak gelisah dalam tidurnya ia memegang kepalanya yang masih berdenyut, perlahan matanya terbuka pemandangan pertama yang di lihatnya adalah Edwin yang berada di sampingnya tengah memejamkan mata dan jangan lupakan tangan Edwin yang memeluk erat pinggang Keyla.
Keyla mengamati wajah Edwin, air matanya mengalir begitu saja tanpa isakan Keyla hanya menangis dalam diam.
Edwin tiba-tiba saja membuka matanya ia terkejut mendapati Keyla yang sudah berderai air mata. Keyla juga terkejut tapi ia tidak menghentikan pandangannya terhadap Edwin.
"Jangan nangis," ucap Edwin menyeka air mata Keyla.
Cup
"Im sorry Key" ucap Edwin tulus, ia mengecup kening Keyla lama.
Keyla semakin terisak di buatnya, Edwin membawa Keyla ke dalam pelukannya. Keyla tidak menolak yang dia butuhkan sekarang hanya pelampiasan yang tidak lain adalah menangis.
"Kita mulai semua dari awal," ucap Edwin mengangkat wajah Keyla dan menatapnya.
"Aku butuh waktu," ucap Keyla melepaskan tangan Edwin dan beranjak dari ranjang.
Edwin menahan tangan Keyla.
"Keyla, aku belum selesai bicara," ucap Edwin.
Keyla melepaskan tangan Edwin pelan. Keyla benar-benar capek dengan keadaannya sekarang rasanya ia ingin menjauh dari Edwin.
"Kita Break" kata Keyla akhirnya. Edwin terkejut dengan ucapan Keyla.
"Break? Hey! Key, jangan main-main kamu sama pernikahan, kita menikah bukan pacaran!" ucap Edwin berusaha menahan emosinya.
"Aku nggak main-main kasih aku waktu dua minggu," ucap Keyla setenang mungkin. Ia sungguh lelah dan ingin menenangkan dirinya tanpa ada Edwin di sampingnya.
"Terserah kalau itu yang kamu mau!" Kata Edwin menyerah.
Keyla menghela nafasnya ia mengambil heels nya yang tergeletak di pinggir ranjang dan tas nya yang ada di meja.
"Nggak ada yang nyuruh kamu pergi dari sini, duduk!" ucap Edwin tegas.
"Aku harus ke villa," ucap Keyla. Ia capek dan ingin istirahat.
"Duduk!" Titah Edwin mutlak. Keyla meletakkan kembali heels dan tasnya, ia duduk di tepi ranjang.
"Ganti baju kamu," ucap Edwin, Keyla menatap Edwin tidak mengerti.
"Maksud kamu?" tanya Keyla.
Edwin mengambil kemeja putihnya dan memberikannya kepada Keyla.
"Kamu ngaco? Nyuruh aku pakai ini, ini terlalu pendek," ucap Keyla menatap kemeja Edwin.
"Apa bedanya sama baju yang sekarang kamu pakai!" Tegas Edwin menatap penampilan Keyla dari atas sampai bawah.
Keyla tidak percaya saja apa yang barusan di katakan oleh Edwin, segitunya dia menilai penampilan dirinya.
Keyla mengambil kemeja Edwin dan membawanya ke kamar mandi, dengan perasaan yang tidak bisa di jabarkan. Keyla dengan cepat mengganti pakaiannya dengan kemeja Edwin. selesai mengganti pakaiannya Keyla tidak langsung keluar dari kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya di depan cermin tidak lama kemudiaan helaan nafas keluar dari mulut Keyla. Keyla membasuh wajahnya dengan air.
Keyla segera keluar kamar mandi, ia membawa baju yang di pakainya tadi, sejujurnya dia malu berpenampilan seperti ini di depan Edwin. Apalagi kemeja Edwin sedikit mencetak pakaian dalam Keyla, tapi entahlah Keyla hanya malas saja sekarang jika harus mendapati Edwin membentak dirinya.
Edwin yang sedang menunggu Keyla di sofa, ia berdiri setelah melihat Keyla keluar dari kamar mandi, ia menghampiri Keyla dan mengambil alih baju yang ada di tangan Keyla.
"Mau kamu bawa kemana?" tanya Keyla. Edwin tidak menjawab ia masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower dan langsung membasahi baju Keyla. Keyla yang melihat itu langsung membelalakkan matanya.
"Edwin, maksud kamu apa sih!!" ucap Keyla dengan cepat merebut baju nya kembali, tapi telat semua bajunya sudah basah di tangan Edwin. Edwin menatap Keyla.
"Dengan begitu kamu nggak bisa keluar dari sini," ucap Edwin melemparkan baju Keyla ke dalam bathtub.
"Apaa!!" Keyla mengacak rambutnya frustasi, sebegitunya Edwin memperlakukannya.
"Selesai kan semua masalah kita malam ini!" Pinta Edwin terdengar seperti tidak bisa di bantah.
Edwin keluar dari kamar mandi, Keyla segera menyusulnya keluar.
"Kamu nggak bisa paksa aku kayak gini!" Tegas Keyla menaikkan nadanya.
"Please Key, kamu masih bisa lebih dewasa dari ini selesaikan masalah kita baik-baik, jangan malah lari dari masalah," ucap Edwin melembut.
"Aku nggak lari dari masalah aku cuma butuh waktu untuk percaya sama kamu lagi," ucap Keyla lirih.
"Kita selesain malam ini oke?" ucap Edwin memegang tangan Keyla lembut, entah sihir apa yang membuat Keyla tiba-tiba langsung mengangguk. Edwin tersenyum tipis.
•••
Jakarta.
(Hana's Cafe)
Saat ini Hana tengah melayani beberapa pembeli yang masuk ke dalam cafenya.
Lonceng pintu berbunyi pertanda ada yang memasuki cafe nya.
"Selamat dat.."
Hana mengubah ekspresinya saat melihat wajah pengunjungnya.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Hana menatap tajam lawan bicaranya.
"Ada yang perlu aku lurusin tentang hubungan kita," ucapnya.
Hana tertawa pelan.
"Za kita udah selesai jadi nggak ada yang perlu di bicarain," ucap Hana kepada mantannya. Reza.
"Aku minta maaf," ucap Reza mendekat ke arah Hana.
Dan Hana mundur selangkah.
"Pergi!!" teriak Hana, sontak semua yang ada di cafe langsung menatap Hana dan berbisik-bisik.
"Han ada masalah?" tanya Sinta menghampiri Hana karena mendengar teriakannya.
Hana menatap Sinta.
"Nggak, kamu urus pelanggan. Aku ada perlu bentar Sin" ucap Hana, Sinta mengangguk lalu kembali ke tempatnya.
Hana melepas apron yang melekat pada tubuhnya.
"Waktu kamu cuman lima menit," ucap Hana sebelum keluar dari Cafenya. Reza tersenyum ia segera mengikuti langkah Hana.
"Maksud kamu apa nyamperin aku ke cafe?" tanya Hana setelah berada di luar Cafe. Dia menatap Reza dengan tatapan tidak suka. Hana masih sakit hati setelah tiga tahun pacaran Reza malah selingkuh.
"Aku minta maaf Han," ucap Reza memegang tangan Hana.
"Nggak usah pegang-pegang bisa!" sentak Hana. Reza menghela nafasnya.
"Oke,"
"Kamu minta maaf? Setelah semua kesalahan yang kamu perbuat? Kamu mikir nggak Za kalau hati aku sakit, kamu hamilin cewek dan kamu hampir perkosa sahabat aku sendiri!!" ucap Hana dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tau aku salah ta.."
"Kamu tau kamu salah, kenapa kamu lakuin!!" ucap Hana memotong perkataan Reza
"Aku dijebak Han, kamu bisa dengerin aku bentar, itu bukan anak aku" ucap Reza menatap Hana penuh harap.
"Bullshit dengan jelas aku liat dengan mata kepala aku sendiri kamu tidur bareng cewek dan parahnya cewek kamu bilang sama aku kalau dia hamil anak kamu, itu namanya di jebak? Pikir pakai otak Za!!" ucap Hana sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Han please kasih aku kesempatan buat jelasin, aku sayang sama kamu" ucap Reza memohon.
"Lima menit kamu sudah habis, jangan pernah temui aku lagi!!" ucap Hana meninggalkan Reza dan kembali masuk ke dalam Cafe.
"I'm sorry Hana. Aku benar-benar menyesal. Aku mencintaimu" lirih Reza lantas pergi dari sana.