Nama nya Nadia biasa di panggil Diah
Hari ini Nadia berangkat kekota bersama Abang Sugi, saudara jauh dari Almarhum Ayah.
Abang Sugi mengajak Nadia bekerja di rumah majikan nya di kota, sebagai perawat yang mengurus orangtua majikan nya yang sudah lansia dan memiliki riwayat penyakit stroke.
Demi Mak, Nadia putus kan tidak melanjutkan Sekolahnya dan Ikut Abang Sugi bekerja di kota.
Mak sakit-sakitan dan butuh obat setiap bulan nya agar bisa bertahan melawan penyakitnya.
Datuk Iskandar, Nama Tuan Besar yang akan di rawat oleh Nadia.
Datuk Iskandar memiliki anak bernama Encik Rafiq yang merupakan seorang pewaris tunggal Belibis group.
Encik Rafiq merupakan sosok yang kharismatik dan baik namun pendiam. umurnya kurang lebih 30 tahun.
Nadia memanggilnya Pakcik.
Sesuai permintaan Datuk Iskandar.
karna masih dalam satu rumpun melayu.
Keadaan akhirnya memaksa Encik Rafiq menikahi Nadia secara Siri.
karna sebenarnya beliau telah memiliki seorang istri yang sedang melanjutkan kuliahnya di Sidney Australia.
Pernikahan siri antara Nadi dan Encik Rafiq menimbulkan banyak konflik diantaranya.
Akankah pernikahan Nadia dan Encik Rafiq mampu bertahan?
Bagaimana akhir pernikahan Nadia?
Akankah harapan Nadia untuk menjadikan pernikahan mereka sah di mata hukum dan pemerintah dapat terwujud?
Yuk simak ceritanya dalam novel terbaru author berjudul 'Menikah Siri'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. Galau
"Dokter bilang besok sore Papa sudah boleh pulang" ucap Encik Rafiq sambil tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah.." ucap Nadia dan Datuk Iskandar bersamaan.
"Waahh.. Selamat ya Tuk... Nadia ikut bahagia mendengar nya.." ucap Nadia sambil memegang tangan kanan Datuk Iskandar.
Datuk Iskandar tersenyum bahagia.
Ketika jam menunjukkan pukul 21.20 wib, Nadia telah tertidur pulas sekali.
Tampak raut lelah tersirat di wajah nya.
Datuk Iskandar bahkan masih terjaga waktu Nadia tertidur.
Kedatangan Bang Sugi yang mengantarkan paikaian ganti untuk nya pun tidak iya sadari sama sekali.
Encik Rafiq hanya tersenyum menyelimuti tubuh kecil sang istri yang terbaring meringkik menghadap tembok.
Lama Encik Rafiq terduduk di sofa sambil menatap layar tv yang tidak menyala.
Fikiran nya jauh menerawang.
Telepon dari Zizi tadi siang mengacaukan otak nya.
Membuatnya menjadi galau.
"Mungkin sebaiknya Aku menyusulnya ke Singapura untuk membicarakan perceraian secara baik dengan nya" bisik Encik Rafiq di dalam hati.
Encik Rafiq memijat pelan kepalanya yang terasa agak berat.
Dia menghela nafas panjang.
Beberapa minggu terakhir ini Dia benar-benar melupakan Zizi dalam kehidupan nya.
Sosok Nadia memenuhi seluruh isi fikiran dan hati nya.
Tidak ada lagi tempat untuk Zizi kecuali rasa kasihan dan pershabatan yang memang mreka miliki sejak kecil.
Rafiq kembali terbayang masa-masa dulu ketika iya dan Zizi menikah.
Encik Rafiq waktu itu sempat berharap dan berjanji akan menjaga Zizi selamanya.
Tidak akan pernah meninggalkan nya apalagi menceraikan nya.
Encik Rafiq begitu mengagumi kecantikan Zizi.
Selalu berusaha memenuhi permintaan nya dengan harapan suatu saat nanti Zizi akan kembali padanya dan mau menerima cinta nya yang tulus.
Encik Rafiq di butakan oleh kecantikan Zizi waktu itu.
Sekarang keadaan sudah jauh berbeda.
Mungkin waktu itu Encik Rafiq hanya mengagumi, bukan cinta.
Sehingga kehadiran Nadia kini memberi semangat baru untuk hidup Encik Rafiq.
Jika dibandingkan tentu saja Nadia kalah jauh dari Zizi yang hampir sempurna.
Tubuhnya yang tinggi semampai dengan rambut ikal tebal dan bibir yang selalu merah, bahkan mata nya yang juga begitu indah dengan susunan alis yang tertata rapih membuatnya selalu terlihat tampil seksi.
Seorang wanita yang begitu modis dan berkelas serta cerdas.
Sementara Nadia hanyalah gadis muda yang berasal dari kampung dengan tubuh kecil dan rambut yang selalu tergerai lurus. Begitu polos dan sederhana.
Sangat manis sehingga membuat siapapun yang dekat dengan nya akan selalu merasa teduh dan tidak membosankan.
Nadia jauh dari kata seksi.
"Astagfirullah.." ujar Encik Rafiq pelan sambil memijit diantara kedua alis nya.
"Hubby.. Kok masih disini? pekerjaan nya belum selesai?" tanya Nadia mengagetkan Encik Rafiq.
"Eehh.. udah kok.. baru saja selesai. Kenapa kamu bangun?" Encik Rafiq balik bertanya.
" Kebangun pengen pipis tadi. Tidur yuk.. " ajak Nadia menggandeng tangan Encik Rafiq menuju tempat tidur yang di sediakan rumah sakit untuk keluarga pasien yang menginap.
Nadia kemudian berbaring diatas dada bidang Encik Rafiq yang memeluk nya erat di balik selimut.
Wangi aroma rambut Nadia membuat Encik Rafiq betah melabuhkan ciuman nya berulang kali di ubun-ubun Nadia.
"I love you" bisiknya pada Nadia.
"I love you too" balas Nadia mendongakkan kepalanya menghadap wajah Encik Rafiq.
Lalu bibir mereka kembali saling sapa.
saling *****.
saling gigit.
Dan saling berbagi kehangatan.
Lama..
Kemudian terhenti ketika Datuk Iskandar yang sedang tidur terbatuk pelan mengagetkan mereka.
Merekapun akhirnya tertidur dengan posisi saling membelakangi.
mksh ya thor🙏