Sebelum baca, silahkan siapkan air putih untuk meredakan emosi.
Kisah rumah tangga yang sangat menggemaskan karena perceraian di ucapkan oleh Dony secara sadar pada Lyra, saat istri meminta hak sebagai seorang wanita normal, sudah dua tahun tidak mendapatkan sentuhan dari seorang suami.
Pertikaian antara Lyra dan Keluarga Dony, karena ingin merebut sebagaian harta yang jelas-jelas tidak ada hak Dony walau berstatus suami.
Hinaan dan cacian harus Lyra terima dari keluarga Dony dihadapan Kesy. Sehingga menorehkan rasa trauma luar biasa bagi putri kesayangan mereka.
Mampukah Lyra bangkit dari keterpurukannya, karena kehadiran seorang pria baik dan sangat berbeda dari Dony mantan suaminya?
Cinta seorang perjaka terhormat yang jatuh cinta pada seorang janda. Yang ternyata benar-benar memperjuangkan Lyra demi menyelamatkan psikologis seorang Kesy putri kesayangan yang menjadi korban perceraian kedua orang tuanya.
Baca kisah perjuangan "Perjaka untuk Janda"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Kesy
Cuaca sedikit mendung, mobil Lyra telah terparkir di gerbang sekolah Kesy sang putri kesayangan. Wajah lelahnya sedikit terobati karena perhatian Zul mampu mengobati kesepian hati saat ini.
Lyra melirik kearah kaca spion, melihat dari kejauhan mobil mantan suaminya sudah berada dibelakang. Sedikit mendengus kesal, dia enggan berbasa-basi dengan pria yang tidak tahu malu tersebut. Walau sudah menjalani kehidupan masing-masing, namun Dony selalu menghantuinya seperti jelangkung. 'Datang tak di undang, pulang minta uang', kalimat itu yang pantas dia sematkan pada Dony sang mantan suami.
Dony mengetuk kaca mobil yang di kemudikan Lyra, sedikit angkuh dia meminta mantan istrinya agar menurunkan kaca mobil dengan satu kode jari telunjuk yang turun naik.
Lyra mendengus kesal, wajah juteknya kembali terlihat, bahkan sangat tidak menyukai bila pria yang sudah berstatus mantan itu hadir di hadapannya.
Lyra menekan switch power window, hanya mendehem, "Hmm...!"
Dony tersenyum tipis, sedikit mengulurkan tangannya pada Lyra, sembari berkata, "Aku ingin membawa Kesy pulang ke rumah. Aku rindu tidur dengannya, kunci rumah mana?" pintanya tanpa perasaan malu.
Lyra menautkan kedua alisnya, "Kesy tidak akan ikut denganmu. Karena aku ada kegiatan dengannya malam ini. Papa dan Mama ku ingin mengajak Kesy makan malam. Jadi jangan pernah berharap aku akan mengikuti semua ingin mu!"
Dony menggeram, memukul keras dinding mobil, membuat Lyra sedikit terkejut.
Lyra membentak Dony, agar segera meninggalkan sekolah Kesy karena dirinya enggan untuk berdebat, "Jangan cari ribut di sini pria brengsek! Kenapa kamu tidak pernah punya malu!? Apa mau mu? Kenapa kamu berharap sekali akan harta ku? Emang tidak cukup warisan keluarga mu?"
Dony semakin tersulut emosi, "Hei.... wanita bodoh! Aku akan terus melakukan apapun untuk mendapatkan Kesy dan rumah itu. Bagaimana pun, anakku membutuhkan aku sebagai Papa-nya, Lyra. Come on.... aku hanya ingin ada tempat berlindung! Tidak mungkin aku tinggal di rumah Kak Rita. Sementara kamu tahu bagaimana keluarga ku!" sesalnya.
Lyra membuka membuka pintu mobil, mendorong keras agar laki-laki brengsek itu menjauh dari kendaraannya, "Pergi kamu, Don....!! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" kesalnya.
Dony yang takut saat melihat Lyra kembali meraih kunci stir, memilih mundur dari pada terjadi sesuatu pada mobil dan keselamatan diri sendiri. Dia memilih pergi meninggalkan Lyra dan membiarkan mantan istrinya untuk membawa putri kesayangan mereka, sehingga merencanakan sesuatu untuk merebut Kesy sang putri.
Lyra tersenyum tipis, melihat mobil Dony berlalu meninggalkan halaman sekolah, "Dasar laki-laki tidak tahu malu! Dia pikir aku takut sama dia, tua bangka, nggak ada pikiran bagaimana untuk menjadi ayah yang baik untuk seorang anak perempuan."
Tidak lama Lyra menunggu dengan pikirannya sendiri, Kesy yang di temani security menghampiri mobil sang Mama. Bersalaman dengan sangat akrab ala-ala mereka.
Security mengangguk hormat pada Lyra, sembari membukakan pintu mobil untuk Kesy, "Selamat sore Ibu, Kesy sudah pulang."
Lyra tersenyum bahagia, "Sore Mas, ya terimakasih!"
Lyra menyambut Kesy yang sudah masuk kedalam mobil dengan wajah sedikit menunduk dan murung. Tidak biasanya anak perempuannya menjadi murung seperti ini. Dia melanjutkan perjalanan menuju rumah, hanya sedikit basa-basi agar tidak kesepian.
Lyra mencoba menghibur sang putri, bertanya agar Kesy kembali tersenyum, "Kamu kenapa sayang? Kok murung?"
Kesy memangku tangannya dengan angkuh, wajahnya semakin murung dengan bibir maju kedepan, membuat Lyra tambah bingung,
Kesy menoleh kearah Lyra, kemudian berkata, "Jika Mama yang punya masalah sama Papa, Mama saja yang berantem! Jangan bawa-bawa Kesy, Papa janji malam ini mau tidur sama Kesy! Papa yang jemput, mau peluk Kesy sampe pagi! Kan Kesy sudah minta izin sama Mama kemren, weekend ini Kesy mau nginep sama Papa!!"
Lyra yang mendengar celotehan anaknya secara mendadak menyalakan lampu sen untuk segera memarkirkan kendaraannya, menekan tombol rem tangan, meraih handphone miliknya, tanpa melihat kearah Kesy sang putri. Dia mencari nomor telepon Dony, mengalihkan wajahnya yang merah padam menahan amarah, seperti akan memakan siapa saja.
Berkali-kali Lyra berusaha menahan emosinya, karena ucapan sang putri, namun dia terus menahan egonya sendiri. Dada semakin terasa sesak, tapi dia tidak ingin menangis di hadapan Kesy yang masih memandangi sang Mama dengan wajah tanpa dosa.
Lyra menghubungi Dony, tanpa menunggu lama mantan suami yang tak tahu dimana keberadaannya menjawab telpon di seberang sana.
["Kamu dimana? Aku menunggumu di depan Indojuly, tolong jemput Kesy. Aku akan memberikan kunci rumah padamu. Sekarang....!!"]
Tanpa mendengar jawaban dari Dony, Lyra menutup telfonnya. Meletakkan handphone di dashboard, masih enggan menatap kearah Kesy. Dia berusaha menyembunyikan rasa kecewanya terhadap Kesy, tapi tak bisa memarahi atau membentak sang putri jika meminta bertemu Dony.
Ada benarnya omongan Kesy, yang berpisah adalah Lyra dan Dony. Kenapa Lyra menjadi berkuasa pada Kesy? Padahal Kesy adalah anak mereka berdua yang berhak mendapatkan perhatian lebih walau mereka memutuskan sudah berpisah.
Lyra berusaha berpikir tenang, semoga Kesy bersama Dony menghabiskan waktu tanpa dirinya akan semakin bahagia, karena mendapatkan perhatian lebih dari sang Papa.
Lyra tersenyum tipis matanya melihat wajah Kesy, saat mereka beradu tatap. Dia mengambil tangan kecil Kesy, mengecup punggung tangan itu dengan penuh perasaan kasih sayang.
"Maafin Mama, karena Mama terlalu egois! Tidak memikirkan perasaan kamu. Kamu boleh menginap sama Papa, dengan catatan jangan pernah biarkan wanita jadi-jadian itu masuk kerumah kita. Kamu mengerti, sayang?" Lyra menjelaskan sembari mengingatkan.
Kesy tersenyum, memberi pelukan hangat pada Lyra, "Tenang saja, Ma! Kesy akan menutup teralis pintu masuk, agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk kekediaman kita selain Papa. Lagian Kesy benar-benar rindu sama Papa. Papa janji mau bawa Kesy di ulang tahun Rey, lusa! Anaknya Mami Rita, makanya Kesy ingin hadirin acara ulang tahunnya, katanya ada Transformers gitu."
Lyra mengusap lembut punggung putrinya, menghela nafas panjang, kembali bertanya, "Kamu ada uang untuk membeli kado?"
Kesy merenggangkan pelukannya, menatap wajah cantik sang Mama dan mengusap lembut pipi mulus itu dengan telapak tangannya yang mungil, "Hmm, beberapa kali Papa memberikan Kesy uang, tapi enggak banyak. Cuma 20 ribu, itu pun dua hari sekali kalau dia mengantarkan makan siang untuk Kesy, dan kami mengobrol sebentar di depan gerbang. Dia selalu cerita tentang pekerjaannya, tanpa menceritakan tentang siapapun termasuk, Mama."
Lyra mengerti apa yang di maksud putri kesayangannya, dia mengambil tas kecil merogoh dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan 50 ribuan.
Lyra menarik nafas dalam, "Ini buat kamu! Jika Papa mengajak kamu makan di luar, tanya dulu. Dia ada uang atau tidak. Jika tidak ada, kamu bayarin Papa, oke! Kalau ada apa-apa hubungi Mama. Kamu masih ingat nomor telepon Mama, kan?" tanyanya menahan air mata yang hampir jatuh menetes.
Kesy mengangguk kembali memeluk, mencium kedua pipi Lyra dengan bibir mungil yang basah.
"Tenang saja, Ma. Kesy masih ingat nomor telepon Mama dan Papa. Apapun yang terjadi, Kesy akan cerita sama Mama. Asal..... Mama jangan marah!!" tawa Kesy mencubit pipi Lyra yang tampak tirus karena beban pikiran.
Mereka melepas pelukan, Lyra merebahkan tubuhnya di jok kemudi, air mata yang tadi akan tumpah dapat dia tahan hingga jatuh kedalam. Sakit sekali rasanya dalam kondisi seperti ini, tapi apa yang bisa dia perbuat. Sejahat-jahatnya seorang pria pada istri, tidak akan mungkin dia tega menyakiti anak kandungnya sendiri. Hanya itu yang ada dipikiran Lyra. Yah.... semoga saja.
udah bagus di demenin Ama Zul.
kalo Eva jadi Zul,Eva talak sepuluh,supaya ngga bisa ketemu LG di neraka maupun di sorga .😁
aku mampir thor
sifat dan sikapnya sangat aku dambakan. masih adakah d dunia nyata ini laki2 sprt zul