Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima Pinangan
Beberapa bulan pasca menuduh Sashi sebagai pelaku utama nyatanya tidak membuktikan bahwa wanita itu salah. Nadya kerap menerima paket yang isinya selalu misterius dan ternyata itu benar-benar bukan dari Sashi.
Kehidupan rumah tangga Nadya dan Puguh masih terusik, namun Sashi tidak pernah peduli. Toh bukan dia yang melakukan.
"Kamu kenapa?" tanya Laila.
"Oh, itu istri mantan suamiku sempat menuduhku meneror rumah tangganya. Nyatanya itu bukan aku melainkan orang lain," jelas Sashi yang saat ini berada di ruangannya.
"Meneror bagaimana?" tanya Laila. Dia selalu penasaran dengan apapun yang dibicarakan Sashi padanya.
"Ya, ada teror aneh-aneh yang dikirim padanya. Seolah itu aku yang melakukan. Sudah kujelaskan berkali-kali kalau itu bukan aku. Awalnya mereka tetap menuduhku. Lambat laun, mereka mungkin sudah lelah mengawasiku."
"Hah, sampai segitunya?"
Sashi mengangguk.
"Apa bukan ibu mertuanya sendiri? Bukankah dia yang getol banget untuk menyatukan kamu dan anaknya. Jelas ada niatan juga untuk memisahkan anaknya dengan istri sahnya sekarang."
Laila benar. Ada kemungkinan ibu mertuanya Nadya yang melakukan. Bisa saja dia menggunakan perantara orang lain agar pusat masalah tertuju pada Sashi. Ya, seolah-olah Sashi yang melakukannya. Ibarat kata lempar batu sembunyi tangan.
"Entahlah. Bisa jadi, sih. Apalagi orangnya nekad sekali."
Perbincangan belum usai, namun telepon di atas meja Laila berdering. Laila segera mengangkatnya kemudian mengiyakan panggilan itu.
"Siapa?" tanya Sashi yang melihat Laila baru saja meletakkan gagang telepon.
"Pak Fathan memintamu ke ruangannya."
"Bawa apa saja?" Biasa bosnya itu selalu meminta beberapa berkas darinya. Terkadang hanya alasan berkas membuatnya ingin bertemu.
"Tidak ada. Bawa diri saja katanya."
"Ish, aku serius, La."
"Hemm, kamu pikir aku sedang bercanda?"
Sashi tak mendebat lagi. Entah, apa yang diinginkan bos itu darinya. Rasanya sangat mengejutkan masuk ke ruangan duda berumur itu tanpa membawa pekerjaan apapun.
Sashi mengetuk pintu kemudian Fathan mempersilakannya masuk.
"Masuk!"
Kini, Sashi sudah berada di dalam ruangan Fathan. Pria itu memintanya untuk duduk. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan dengannya.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Sashi.
"Duduklah!"
"Terima kasih, Pak."
"Siang ini, apakah kamu ada acara?" tanya Fathan.
"Biasanya saya makan siang bersama Laila, Pak."
"Siang ini saya mengajakmu makan siang. Saya tahu kalau masa iddahmu sudah lewat. Berikan saya kesempatan lagi untuk mengenalmu. Bagaimana?"
Deg!
Harus senang atau bagaimana? Bosnya sampai saat ini masih mengharapkan Sashi untuk menjalin hubungan dengannya. Kalau dia menolak kedua kalinya, tidak akan ada kesempatan ketiga. Maka dari itu, Sashi tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan sebagus ini.
"Baiklah, Pak. Saya mau."
"Panggil Fathan saja," ucapnya kemudian.
"Tapi, Pak--"
"Saya mengerti. Panggil saja Fathan ketika berdua."
"Ba-baik Ma-mas Fathan," ucap Sashi terbata-bata. Rasanya sangat aneh sekali harus memanggil bosnya sendiri dengan sebutan mas.
Fathan tersenyum. Mungkin Sashi sudah membuka hati untuknya. Dengan persetujuan Sashi untuk makan siang bersama itu lebih dari cukup.
...***...
Restoran Bintang yang letaknya lumayan jauh dari perkantoran tempat Fathan bekerja. Dia sengaja mengajak Sashi ke sini. Awalnya terjadi perdebatan seru antara Sashi dan Laila. Biasanya makan siang berdua, hari ini Sashi menolaknya.
"Kamu suka tempatnya?" tanya Fathan.
"Iya, Mas. Ini pertama kalinya Sashi datang ke sini," ucap Sashi. Bisa dikatakan ini kencan pertamanya. Sepulang dari makan siang, sudah dipastikan kalau Laila akan menanyakan detail ceritanya.
"Pesan makanan dulu. Baru kita lanjutkan ceritanya," pinta Fathan. Ini kesempatan kedua setelah kesempatan pertama sirna begitu saja.
Sashi memanggil pelayan. Sementara Fathan pasrah apa yang dipesan oleh Sashi. Setelah pelayan meninggalkan meja mereka, barulah kedua insan ini melanjutkan obrolan yang tertunda.
"Sejujurnya aku tidak mau melewatkan kesempatan ini begitu saja. Aku tahu kalau kamu wanita hebat dan kuat. Namun, kamu juga membutuhkan pendamping hidup, penerus generasi muda, dan kebahagiaan."
Deg!
Apa maksud ucapan bosnya barusan? Apakah pria itu akan mengajaknya menikah saat ini juga? Atau mungkin membuka hati Sashi agar mau menerimanya?
"Apa maksud Mas Fathan?"
"Sebenarnya kamu bisa memahami apa yang kusampaikan. Namun, kalau kamu memang tidak bisa memahami duda mendekati paruh baya ini, tak masalah. Aku yang akan membimbingmu. Sejujurnya, dari sekian banyak wanita, aku tetap terpaku padamu. Andaikan saja tak ada drama pernikahan sirimu itu, mungkin saat itu kita sudah menikah."
Deg!
Wajar kalau Fathan mendekati paruh baya. Dia memang duda berumur kepala empat. Sementara Sashi, wanita yang usianya baru mau mendekati kepala tiga.
"Apakah ini sebuah lamaran?" tanya Sashi langsung ke intinya. Melihat Fathan yang tidak suka basa-basi itu membuat Sashi juga harus mengimbanginya.
"Bisa dibilang seperti itu, tetapi ini belum secara resmi. Kalau memang kamu setuju, aku akan membuat lamaran resminya."
Ini beruntung atau sekadar mimpi saja? Kalau Sashi melewatkan kesempatan kedua, belum tentu Fathan memberikan kesempatan ketiga. Mengingat Sashi yang tak lagi muda dan tinggal seorang diri tentunya butuh sandaran.
Ini kesempatan bagus, Sashi. Perkara hati, itu bisa sambil jalan. Banyak wanita di luaran sana yang menginginkan bisa menikah dengan Pak Fathan. Ah, bukan Pak lagi, lebih tepatnya Mas Fathan. Kok geli ya, bawahan menjadi istri bos. Lucu sekali.
"Hei, kenapa diam? Apakah kita seperti cerita di dalam novel yang bertema Sugar Baby dan Sugar Daddy?"
"Ehm, bukan seperti itu, Mas. Tapi, Mas Fathan tahu juga kan kalau aku belum memiliki perasaan apapun? Apakah itu tidak masalah untuk Mas Fathan?"
Fathan tersenyum. Walaupun cinta hanya miliknya, Sashi-pun tak menjadi masalah. Bagi Fathan, cinta akan terbangun karena biasa.
"Asalkan kamu mau, kita akan bangun cinta itu bersama-sama. Bagaimana?"
Perbincangan lagi-lagi terhenti ketika makanan yang dipesan datang. Fathan memintanya untuk lekas makan terlebih dahulu. Setelah itu, Fathan menunggu jawaban Sashi.
"Ini makanannya enak sekali, Mas!" seru Sashi.
Fathan cuma bisa tersenyum lantaran sebentar lagi kalau Sashi menerimanya, Fathan akan lebih sering mengajak Sashi ke tempat-tempat yang diinginkannya.
Makan siang berakhir. Fathan masih menunggu jawaban dari wanita di hadapannya ini. Wanita yang statusnya menjadi janda siri pria lain.
"Jadi, apakah kamu mau menerimaku, Sashi?" tanya Fathan untuk yang terakhir kalinya.
Rasanya tubuh Sashi bergetar. Inikah namanya jodoh? Sashi bingung harus menjawabnya seperti apa? Kehidupannya sudah benar-benar berbeda sekarang. Dia janda yang tidak memiliki keluarga dekat.
"Baiklah, Mas. Aku menerimamu," jawab Sashi tanpa ragu. Bukan sebuah pelarian, tetapi Sashi butuh sosok yang bisa membuatnya nyaman.
Binar mata bahagia nampak terlihat jelas di wajah Fathan. Pria 40 tahun itu lantas memberikan sebuah cincin yang selalu disimpannya selama ini. Sewaktu-waktu Sashi menerimanya, dia langsung memberikan pada wanita yang dicintainya itu.
"Kemarikan tanganmu," ucap Fathan.
Setelah tangan Sashi terulur, Fathan kemudian memasangkan cincin di jari manis tangan kirinya. Fathan memperlakukannya dengan cukup lembut sekali. Sashi sungguh beruntung.