Disarankan untuk membaca "Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda" dan "Remember Me, Baby" lebih dulu agar bisa memahami alur ceritanya. Terima kasih.
Raymond Dawson: "Jangan menangis lagi ... aku yang salah ... tolong maafkan aku. Kali ini, izinkan aku untuk mencintai dan menjagamu dengan benar."
Lorie: "Aku hanya ingin kehidupan yang biasa saja. Ingin mencintai pria yang sederhana, yang bisa membantuku mencuci piring dan mengurus anak."
Setelah melewati masalah yang rumit, akhirnya Raymond dan Lorie berkencan. Akankah hubungan itu mulus hingga ke jenjang pernikahan?
Lalu, bagaimana dengan Daniel Hill yang menginginkan cinta Dokter Ana? Apakah dia akan berhasil mematahkan teori cinta wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Setelah keluar dari halaman rumah Dokter Ana, Lorie mengemudikan mobilnya ke The Spring Mountains. Ia ada janji dengan Amber untuk membantunya mengerjakan PR dari sekolah. Si manja itu betul-betul memanfaatkan Lorie yang sedang cuti untuk menemaninya setiap kali ada kesempatan. Alex sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya itu, tapi juga tidak bisa melakukan apa pun untuk melarang. Setidaknya Amber masih mau mendengarkan perkataan Lorie dan tidak membuat ulah yang membikin pusing para pelayan di kediamannya.
Setengah jam kemudian, gadis kecil bermata bulat itu sudah melompat-lompat seperti seekor anak kelinci dan masuk ke dalam pelukan Lorie. Aslan dan Aaron yang ikut menyambung Lorie di depan pintu masuk hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya.
“Amber, Aunty baru saja sembuh. Kamu bergelantungan seperti anak monyet begitu, bagaimana kalau Aunty sakit lagi?” tegur Aaron saat melihat Amber masih terus menempel pada bibi mereka.
“Kamu yang anak monyet!” balas Amber dengan sengit. Bibirnya mengerucut, sebal karena dikatai seperti seekor anak monyet. Dibandingkan Aslan yang pendiam dan tenang, Aaron adalah kakaknya yang bawel dan tukang *bully*. Huh! Tidak bisa dikategorikan sebagai seorang kakak yang baik.
Dengan setengah hati gadis kecil itu melepaskan Lorie dan berjalan di sisinya. Ia menyingkirkan kedua kakaknya dengan menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri, kemudian langsung menggiring Lorie ke kamarnya.
“Sangat merepotkan memiliki kakak laki-laki yang cerewet,” gerutunya setelah menutup pintu.
Lorie terkekeh melihat tingkah gadis itu dan mencubit hidungnya dengan gemas.
“Tidak boleh berkata seperti itu,” tegurnya. “Kelak kakak-kakakmu yang akan menjagamu kalau ayahmu, Paman Billy, juga aku sudah tidak ada. Jadi kamu harus patuh dan menyayangi kedua kakakmu itu. Mengerti?”
Amber mendengkus tidak senang dan membalas, “Untuk apa berbicara seperti itu? Aunty dan Daddy akan berumur panjang dan melihatku menikah dengan pria tampan yang kaya dan baik hati. Saat itu ... kalian tidak perlu mencemaskanku lagi.”
“Masih ada pria tampan yang kaya, baik hati, dan kaya?” tanya Lorie dengan mata membola.
“Tentu saja ada!”
Mendengar ucapan yang bernada penuh kesombongan itu, Lorie tidak tahan untuk menyentil kening si gadis kecil sambil berkata, “Siapa yang mengajarimu omong kosong seperti ini? Aku akan mengadukan kepada ayahmu agar memblokir Netflix di kamarmu. Berhenti menonton film orang dewasa.”
“Siapa bilang aku mengetahuinya dari film orang dewasa?” elak Amber dengan bibir mengerucut. Ia mengusap-usap keningnya yang terasa sakit.
“Lalu dari mana kamu tahu semua itu?”
“Tentu saja dengan melihat Daddy, juga Paman Daniel dan Paman Raymond. Mana mungkin aku tidak bisa menemukan pria seperti mereka? Aku cantik, manis, dan imut ... pasti akan ada banyak pria yang menyukaiku nanti. Aku hanya tinggal memilihnya,” jawab Amber dengan penuh percaya diri.
“Baiklah. Kamu bisa memilih siapa pun yang kamu sukai nanti, tapi tetap harus menyayangi kedua kakakmu. Mengerti?”
“Hm. Aku akan mengusahakannya.”
Lorie mendongak menatap langit-langit kamar dan mendesah tak berdaya. Ia sungguh tidak memiliki kalimat bantahan untuk gadis cilik yang keras kepala dan sangat cerdas ini.
*Kinara Lee, lihat anakmu ini. Siapa yang mengajarinya seperti ini? Bukan aku, oke? Jangan salahkan aku kalau kelak kita bertemu*.
“Aunty, sudahlah ... jangan cemaskan hal-hal yang masih lama terjadi, sekarang bantu aku menyelesaikan PR Ilmu Sejarah ini. Aku tidak mengerti,” ujar Amber seraya menariki tangan Lorie.
Lorie menyentil kening Amber lagi sehingga gadis itu mengaduh kesakitan.
“Apa lagi? Kenapa Aunty sangat senang menindas anak kecil?” sungut Amber tidak terima karena merasa dianiaya oleh bibinya.
“Sangat pintar membantah omongan orang tua, tapi tidak bisa mengerjakan soal semudah ini. Kamu benar-benar ....”
Mengetahui kesalahannya, Amber segera memasang wajah imut sambil terkekeh pelan.
“Aunty yang paling baik dan cantik ... tolong aku, ya .... Aku janji tidak akan membantah lagi.”
Lorie mendengkus. Ia tahu Amber bermulut manis hanya saat membutuhkan pertolongan. Saat kesulitannya sudah selesai, tentu saja dia akan kembali melawan setiap ucapan yang keluar dari mulut semua orang. Meski begitu, ia juga tidak bisa melakukan apa pun untuk mengatasinya. Hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan membantunya mengerjakan semua tugas itu dengan penuh kesungguhan.
***
ayolaaaaah..akhiri ini semua😭😭😭
dengan Keiko. ingat cerita tentang Kinara Lee
dari judul cerita yg sebelum-sebelumnya sama ...sangat menarik.
dah berapa tahun yaa...? aku cari di sebelah gak ada. sampai akhirnya kangen kembali ke sini langsung cari lagi judul ini. eh..ketemu.