Lovina Serena Robinson adalah seorang wanita cantik jebolan dari MI6. Rekrutan termuda berusia 18 tahun dan menguasai 8 bahasa.
Namun, trauma yang dialaminya ketika berumur 10 tahun dan menewaskan kedua orang tuanya, tak bisa disembuhkan oleh MI6. Lovy menjadi semakin kejam. Dia mengundurkan diri dari MI6 setelah merasa dijebak dalam misi pertamanya.
Sang nenek membawa Lovy kepada Lea dan menjadikannya salah satu anggota The Red Lips. Sebuah organisasi yang berisi para wanita yang memiliki trauma hebat. Tujuannya, membunuh semua pria hidung belang dengan kematian tragis.
Siapa sangka, kehidupan baru Lovy membuatnya berhasil hidup layaknya sipil dan bertemu cinta sejatinya, Sean Wilver.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama setelah Lovy tahu pembunuh kedua orang tuanya. Lovy membalaskan dendam itu dan meninggalkan Sean. Dalam pengasingannya, Lovy mengandung anak dari pria yang pernah dicintainya.
Bagaimana nasib anak lelaki yang lahir dan kini menanyakan tentang ayahnya?
***
Selamat datang di novel Lele karya ke 8❤️ Semoga suka ceritanya dan jangan lupa berikan semua dukunganmu padaku ya😆
Vote poin, koin, vocer, like dan komen ajaib😍
Nglunjak bin ngarep🤭 Lele padamu💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lelevil Lelesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KISAH MASA LALU
PIP!
Mesin pada helikopter mulai bergerak. Baling-baling yang berada di empat sisi berputar cepat dan mulai menghempaskan benda-benda yang masuk dalam jangkauannya.
"Hem, aku merasa kendaraan ini belum sempurna. Getarannya masih terasa," ucap Vivi berpendapat dan Lovy mengangguk sependapat karena tangannya pada kemudi ikut bergetar.
Lovy mulai menarik stik itu dan perlahan, mobil yang mereka tumpangi melayang di udara. Vivi melongok ke jendela yang masih tertutup rapat.
"Hahaha! Ini keren, Lovy, walau aku tegang. Ini adalah kendaraan ilegal, dan uji coba hanya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam pembuatannya. Semoga kita tak meledak," ucap Vivi kemudian yang berubah menjadi tegang.
Lovy terlihat berusaha fokus ketika menaikkan kendaraan itu sampai ke atas pohon diketinggian sekitar 10 meter.
"Aku rasa cukup, sudah tak ada yang menghalangi jalan kita," ucap Lovy gugup melihat sekitar.
"Jika kulihat rute ini, sepertinya kita menuju ke mansion," ucap Vivi saat melihat jalur pada GPS yang telah diatur oleh petugas di pusat komunikasi.
"Tak masalah. Kita akan berpetualang nanti," jawab Lovy dengan senyum liciknya.
Vivi balas tersenyum lalu mengenakan seat belt. Pengalaman terbang kali ini sungguh membuatnya berdebar karena berada dalam mobil.
Lovy mulai menggerakkan stiknya ke depan dan mobil mulai melaju dengan baling-baling di atasnya. Namun, dua wanita itu mulai menyadari jika kecepatan kendaraan itu cukup lambat.
"Mungkin terlalu berat," ucap Lovy berpendapat karena penunjuk kecepatan kendaraan terbangnya tak terdeteksi.
Tak ada speedometer tambahan untuk helikopter tambahan itu. Lovy dan Vivi merasa jika kendaraan yang terlihat keren itu masih jauh dari kata sempurna.
"Pengalaman terbang dibutuhkan untuk menerbangkan benda ini. Seperti kecepatan angin, pergerakan angin, dan semacamnya. Kita bukan ahli dibidangnya, Lovy. Berbahaya jika kita menggunakan mobil semacam ini untuk misi. Mobil ini ... seperti masih dalam tahap pengembangan. Jikapun dijual, pasti para pembeli masih meragukan kemampuannya," tegas Vivi dan Lovy mengangguk setuju.
"Setidaknya lumayan dari pada harus membeli. Baron memberikannya gratis pada kita. Semoga mobil ini tak membunuh kita saat menjalankan misi," ucap Lovy yang fokus berkendara di atas permukaan.
Akhirnya, perjalanan uji coba itu selesai. Lovy melihat mansion Baron dari atas langit dan perlahan menurunkannya di halaman depan.
Semua orang sudah menunggu, tapi sang pemilik rumah tak terlihat. Lovy beranggapan jika Baron sedang bersenang-senang bersama D dan S.
"Sepertinya D dan S tak mengalami trauma atas kasus pemerkosaan yang terjadi pada mereka," sindir Lovy.
"Ya, aku rasa demikian. Mungkin mereka berdua malah menikmatinya," sahut Vivi dan dua wanita cantik itu terkekeh pelan.
Mobil dengan warna merah menyala itu akhirnya mendarat dengan sempurna. Vivi memasukkan lagi baling-baling tersebut di tempat semula di mana bagian atas mobil jadi terlihat sedikit menonjol dan bagian dalam cekung karena menyimpan mesin.
"Bagaimana? Hebat bukan?" tanya salah satu anak buah Baron.
Lovy dan Vivi menatap pria itu lekat dengan wajah malas.
"Mesinnya bergetar. Aku merasa digiling di dalam sana," ucap Vivi mengutarakan pendapatnya. Praktis, wajah pria itu langsung serius seketika.
"Yah, selain itu lambat. Aku bertaruh, mobil itu terbang dan aku berlari di bawahnya, aku masih menang," imbuh Lovy.
"Tak ada informasi tambahan untuk baling-baling yang dipasang. Speedometer tak ada, termasuk penunjuk ketinggian, tekanan udara, kecepatan angin, kecepatan terbang, dan ... masih banyak yang harus diperbaiki," tegas Vivi.
Lovy lalu pergi meninggalkan sekumpulan pria itu memasuki mansion dengan Vivi berjalan di sampingnya. Para pria itu mendekati mobil seperti ingin melakukan pembaruan dari ciptaan mereka.
"Lihat tampang mereka. Konyol sekali," kekeh Vivi saat ia menoleh ke belakang dan para pria itu seperti berdiskusi membicarakan sesuatu.
"Aku lelah. Aku ingin tidur," ucap Lovy seraya memijat dahinya di mana wajahnya memang menunjukkan demikian.
"Aku akan mengecek D dan S sebelum ke kamar," sahut Vivi dan diangguki Lovy.
Mereka berpisah di persimpangan koridor. Vivi berjalan dengan santai menuju ke kamar tempat Baron berada.
Saat Vivi akan mengetuk pintu, ia mematung saat mendengar suara D, S dan Baron sepertinya bersenang-senang menikmati sore dalam kamar.
Vivi menarik napas dalam lalu memberanikan diri mengetuk pintu. Hingga akhirnya, suara kegembiraan itu hilang.
CEKLEK!
"Oh! Hai, Vivi," jawab Suzanne dengan senyum terkembang di balik pintu.
"Wow, apa yang terjadi?" tanya Vivi terkejut saat wajah Suzanne dicoret-coret dengan lipstik.
"Kau ingin ikut bermain?" tanya Dorothy yang duduk di atas kasur dengan Baron di hadapannya memegang kartu.
"Kalian ... bermain kartu?" tanya Vivi menebak.
"Ya. Aku sial. Lihat, wajahku dicoret-coret! Baron sangat hebat. Wajahnya masih bersih," jawab Suzanne seraya menujuk Baron yang tampak bangga karena dirinya menang.
"Oh, oke. Aku kira ... ya sudah, lanjutkan bermain. Aku mau tidur. Ingat kata Lovy, tetap waspada," tegas Vivi dan Suzanne mengangguk senang lalu menutup pintu.
Vivi geleng-geleng kepala. Ia mengira jika mereka bertiga sedang asyik bercinta. Akhirnya, Vivi kembali ke kamar dan mendapati Lovy berbaring di atas kasur seraya memegang ponselnya.
"Ada apa?" tanya Vivi mendekat.
"Timku yang memeriksa kediaman Harold mengatakan jika Rico terlihat bersama Emerald, Sean, dan Marcus. Rico sudah bertemu ayahnya," ucap Lovy dengan gugup.
Vivi ikut diam sejenak seperti memikirkan sesuatu. "Bukankah ... memang seharusnya Rico tahu tentang sebenarnya?" tanya Vivi yang kini duduk di samping Lovy di atas kasur.
"Ya, aku tahu. Hanya saja ... aku takut. Aku khawatir jika Rico akan membenciku dan Matthew karena berpikir kami membohonginya. Bagaimana jika Sean mengambil Rico dariku? Rico satu-satunya alasan aku masih bertahan hidup, Vivi," ucap Lovy sedih.
Vivi mengangguk mengerti karena ia juga seorang ibu. "Begitu hal ini selesai, kita jemput Rico. Setidaknya, dia aman bersama para polisi itu. Lebih beruntung Rico ketimbang kita yang sekarang dalam posisi sulit," ucap Vivi dan Lovy mengangguk membenarkan.
Vivi meminta Lovy untuk beristirahat karena sebentar lagi, misi mereka untuk mencari tahu tentang Zero akan segera berlangsung.
Di tempat Rico berada.
"Portland?" tanya Rico mengulang.
"Ya. Rumah Nenek dan Sean ada di Portland. Ikutlah dengan kami. Di sini berbahaya, sedang di sana, kau aman," ucap Emerald mencoba membujuk.
"Maaf, Nek, tapi aku tak bisa. Aku senang karena memiliki nenek lebih dari satu. Hanya saja, aku ingin membantu polisi menemukan kakek Harold. Aku juga harus mencari keberadaan ayahku Matthew," jawab Rico serius.
"Bagaimana jika ayahmu Sean, bukan Matthew?" tanya Emerald serius.
"Mom," sahut Sean, tapi Emerald malah mempelototi anaknya.
"Soal itu ... entahlah. Aku tak ingin memikirkannya. Aku ingin tahu kebenarannya dari ayah Matthew, mommy, nenek Lea dan kakek Harold kenapa mereka harus berbohong tentang hal ini," ucap Rico dengan wajah tertunduk.
"Karena mereka hanya mempermainkanmu. Sayang mereka padamu hanya pura-pura. Jika mereka sungguh mencintaimu, mereka tak akan berbohong," tegas Emerald.
"Mom!" panggil Sean yang kini berintonasi tinggi. Emerlad mendengkus keras. Rico terdiam, begitupula Marcus. "Aku minta maaf. Hanya saja, Rico tak bisa pergi ke mana pun. Kasus ini terjadi di Kansas. Aku dilibatkan karena kepolisian menyangkutkan kejadian ini dengan masa laluku. Aku menerimanya, dan berjanji akan menyelesaikan kasus ini dengan baik. Jadi ... pulanglah. Setidaknya kau sudah memberikan penjelasan pada Rico tentang masa laluku bersama Lovy. Selanjutnya, biarkan Rico yang memutuskan. Dia berhak memilih," tegas Sean mencoba memberikan pengertian pada ibunya.
Emerald terlihat kesal. "Baik, aku mengerti. Aku hanya akan menganggu pekerjaan kalian. Besok aku pulang," ucapnya sebal.
"Jangan marah," ucap Sean membujuk.
"Tidak. Hanya saja, aku tak ingin hal buruk terjadi pada cucuku. Sudah cukup dengan kematian ayahmu. Aku tak ingin ada pembunuhan lagi. Sudah cukup penderitaan ini," tegas Emerald dengan wajah sudah memerah.
"Kenapa mommy membunuh kakek? Tak mungkin seseorang membunuh tanpa alasan," tanya Rico curiga.
"Itu karena ibumu seorang psikopat!" jawab Emerald dengan mata melotot.
"Mom! Sudah cukup!" bentak Sean yang merasa jika ibunya bicara melebihi batas.
"Psikopat? Apa itu?" tanya Rico bingung.
"Psikopat bisa dikatakan orang yang memiliki gangguan kepribadian, yang ditunjukkan dengan perilaku kasar, tidak sensitif, manipulatif, dan antisosial. Hanya saja, aku merasa jika ibumu tidak demikian. Lovy senang bergaul, bahkan ia memiliki teman," ucap Marcus terdengar membela mantan isteri Sean.
"Dia melakukannya untuk menutupi jati dirinya. Ia pura-pura ramah dan baik hati, tapi sebenarnya ia menyimpan dendam. Ia sudah mengincar Wilver dan ingin membunuhnya!" teriak Emerald tiba-tiba.
"Itu tidak benar! Itu karena Lovy mendengar laporan tentang kasus yang terjadi di masa lalunya. Hal itu menjurus kepada ayah sebagai pelaku kejahatan tersebut. Aku bisa memahami amarah Lovy kala itu. Aku membaca berkas masa lalunya yang diperkuat dengan kesaksian Matthew," ucap Sean terlihat marah.
Marcus, Emerald dan Rico menatap Sean lekat. Sean terlihat seperti berusaha untuk tenang sambil bertolak pinggang.
"Saat itu, polisi menduga jika para penjahat yang mendatangi kediaman Lovy ingin mengambil kekayaan Richard. Namun ternyata, itu semua bohong. Alasan mereka datang karena ayah yang mengirimnya. Ayah menginginkan berkas kepemilikan Travel Agent Paradise. Di mana dulu perusahaan itu dikelola oleh ayah dan ayah Lovy. Bahkan namanya dulu adalah Richard's Travel Agent, tapi setelah ayah mendapatkannya, ia mengubah namanya," ucap Sean kemudian.
Semua orang membisu.
"Ibu Lovy diperkosa beramai-ramai yang diketahui dari hasil otopsi serta mayat beberapa pria yang telanjang di sekitarnya. Mayat tuan Richard ditemukan sudah terluka dengan kondisi patah tulang. Petugas yakin jika luka itu didapatkan atas perlakuan kasar para penjahat. Pasti ayah Lovy berpikir jika ia dan isterinya tak bisa hidup dengan penderitaan itu sehingga memilih mengakhiri hidupnya dengan meledakkan rumah. Itu fakta yang sebenarnya, Mom," ucap Sean dengan suara bergetar.
Emerald terlihat kaget. Marcus diam mendengarkan termasuk Rico yang seperti berusaha mencerna tiap kalimat yang Sean lontarkan.
"Aku selama ini diam karena tak ingin kau sedih. Pria pembunuh Elda menemui ayah. 9051, angka yang Elda sebutkan sebelum kematiannya melalui telepon. Angka itu adalah nomor dari narapidana bernama Leroy. Pria itu menemui ayah di kantornya. CCTV perusahaan merekam kedatangan lelaki itu. Dan pria itu, tewas dibunuh oleh Lovy," ucap Sean serius.
"Jadi ... itukah alasan mommy membunuh kakek Wilver? Karena kakek mengirim para penjahat untuk membunuh kedua orang tua mommy? Hanya karena surat berharga?" tanya Rico dengan kening berkerut terlihat sedih.
"Ya, memang menyakitkan. Hanya saja, ibumu tetap harus ditangkap, Rico. Dia membunuh dengan sengaja. Jika saja saat itu ibumu bisa menahan amarahnya, ia tak perlu menjadi buronan Amerika. Aku sudah mengatakan yang sejujurnya. Itulah fakta sebenarnya," ucap Sean menatap Rico sendu, di mana bocah lelaki itu meneteskan air mata usai mendengar kisah sebenarnya.
Marcus langsung memeluk Rico erat yang tak menghentikan tangisannya. Marcus mengajak Rico keluar di mana Sean sepertinya masih ingin berbicara dengan sang ibu.
Sean menarik napas dalam. Emerald diam saja dengan wajah tertunduk terlihat seperti tertekan.
"Pulanglah, Mom. Di sini, tidak aman. Penjahat yang melakukan kekacauan ini belum ditangkap. Kasus kali ini rumit, dan pekerjaan yang harus kuselesaikan sangat banyak. Aku ingin cepat menuntaskannya agar hatiku tenang," ucap Sean.
"Ya, Ibu mengerti. Besok Ibu akan pulang," ucap Emerlad lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Sean terlihat pusing, tapi akhirnya memilih keluar kamar untuk menyusul Marcus dan Rico. Ternyata dua orang itu berada di taman.
Sean melihat di kejauhan di mana Rico tampak begitu sedih setelah mendengar kisah masa lalu ibunya yang sampai tega menjadi penjahat.
Sean mengurungkan niat untuk mendatangi keduanya. Saat Sean membalik tubuhnya, ponselnya berdering. Ia segera menerima telepon itu dengan wajah serius.
"Jejak Harold ditemukan! Ada bekas ban mobil dan jejak sepatu. Sepertinya, Harold pergi meninggalkan Kansas karena CCTV jalanan melihat mobil yang keluar dari wilayah sungai di jam yang hampir sama saat kejadian. Sayangnya, mobil itu menghilang saat terjadi kemacetan. Tim sudah pergi ke lokasi, dan menemukan mobil tersebut ditinggalkan. Jejak Harold menghilang dari situ. Kami sudah memeriksa seluruh penerbangan, tapi CCTV bandara tak menemukan sosoknya. Sean, tolong kaucari informasi dari Rico, apakah dia tahu tempat lain selain kediaman Harold di Kansas? Jika ya, itu akan sangat membantu," pinta seorang petugas dari panggilan telepon tersebut.
"Aku mengerti, terima kasih informasinya," jawab Sean lalu menutup telepon.
Sean lalu membalik badan di mana kali ini ia memiliki alasan untuk menemui Rico.
"Dia anak yang cerdas dan tangguh. Rico akan menolongku memecahkan kasus ini. Mungkin, dia juga bisa membawaku pada Lovy. Hem, aku yakin itu," ucap Sean dengan sorot mata tajam dan langkah mantap menuju ke taman.
***
masih eps bonus dari tips mak ben. tengkiyuw lele padamu. selamat akhir pekan❤️