"aku harus mendapatkan pria dingin itu!" tekad seorang gadis sembari menyeringai.
Dia adalah Queensha Karren Bramantyo yang tergila gila dan terobsesi pada seorang pria bernama Darren Austin Keith yang memiliki paras tampan dan menawan tapi memiliki sifat dingin dan sulit untuk didekati.
Semakin dalam gadis itu menggali informasi tentang pria itu, dia semakin tahu karakter dan latar belakangnya yang menarik.
Bagaimana kisah cinta mereka berdua? apakah Queen berhasil mendapatkan cinta pria pujaannya?
Ini adalah squeel novel DOKTER CANTIK ISTRI KETUA MAFIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona manies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencari tahu lagi..
Queen duduk didepan komputer bersama dengan Arlendra, dia hendak mencari tahu segalanya tentang pria yang akhir-akhir ini menghantui mimpinya, dia benar-benar sudah terpikat dan terpesona akan ketampanan pria itu.
"siapa yang ingin kamu ketahui identitasnya nona?" tanya Arlendra, dia hendak membantu gadis itu untuk mencari tahu tentang Darren karena gadis itu tak bisa melakukannya sendiri.
Queen menoleh dan menatap wajah Arlendra "Darren Austin Keith" ujarnya, hanya mengatakan namanya saja Queen tersipu, wajahnya memerah tanpa bisa dia cegah.
Arlendra menatap wajah Queen, alisnya menyernyit heran melihat perubahan wajah gadis itu, sudut bibirnya tertarik dan senyum tercetak diwajah pria paruh baya itu "oh gadis ini sedang kasmaran rupanya.. ternyata Queen kecil sudah dewasa"
Arlendra terkekeh, dia segera mencari tahu apa yang diinginkan oleh gadis cantik yang sedang duduk disampingnya sembari menunggu dengan begitu antusias "memangnya dia siapa nona?" tanya Arlendra yang iseng bertanya, dia ingin melihat reaksi dari gadis kecil ini.
Queen tersenyum "hanya teman saja kok" ucapnya berdusta, tak mungkin kan kalau dia bicara kalau Darren itu calon pacarnya atau lebih tepatnya pria yang dia kejar dan berusaha dia dapatkan.
"bukan pacar?"
Queen terkesiap lalu membuang muka kesamping "bukan" ucapnya lemah, dia sebenarnya tak terlalu percaya diri untuk mengakui hal ini karena sampai saat inipun Darren masih bersikap dingin dengannya, meski dia sudah tak sesinis biasanya tapi pria itu selalu berbicara tanpa memikirkan perasaannya.
Arlendra mengangguk, dia tak mau membuat gadis kecil ini sedih saat melihat perubahan wajahnya yang berubah sendu.
"baiklah, akan uncle coba cari ya?"
Queen mengangguk dengan atusias kembali.
Tangan pria itu menari diatas keyboard, dia fokus sekali menatap komputer canggih itu, lalu alisnya menyernyit heran "kenapa keamanannya tak bisa uncle tembus ya?"
Queen yang duduk disamping Arlendra juga ikut melihat dan mencondongkan tubuhnya didepan komputer "aku kemarin juga sudah mencoba menembus pertahanan sistem itu, tapi tak bisa! makanya aku meminta bantuan uncle"
Dengan kemampuan Arlendra yang telah terlatihpun tak dapat menemukan hasil yang mereka inginkan.
"kemungkinan latar belakang pria ini kuat sehingga kerahasiaan data yang kita inginkan tak bisa kita dapatkan" ujar Arlendra, lalu tangannya mulai mengetik nama yang tadi Queen ucapkan, dia juga penasaran sekali dengan sosok pria yang dapat membuat gelisah Queen.
Queen mengangguk, dia juga sebenarnya juga sudah menduga hal ini tapi tak apa kan kalau berusaha?
"pantas saja nona tampak suka sekali pada pria ini, dia ternyata sangat tampan" batin Arlendra saat menemukan informasi pria itu.
"nanti uncle akan mencari informasi pria itu sedikit demi sedikit dan uncle akan mulai menggali informasi lainnya, nanti uncle juga akan coba cari tahu dan meminta bantuan teman uncle yang berada di Paris"
Queen mengangguk "baiklah, maaf sudah menyita waktumu dan aku juga telah menganggu pekerjaan uncle"
Arlendra tersenyum "uncle tak keberatan nona, jadi jangan merasa bersalah begitu, kalau kamu bekata begitu malah uncle merasa tak suka, uncle lebih suka kamu repotkan.."
Quen terkekeh, dia berdiri dan kemudian memeluk tubuh uncle Arlendra "terimakasih"
Arlendra mengusap kepala Queen, dia suka sekali sikap hangat gadis itu "sama sama, pulanglah kemansion hari sudah malam"
Queen melerai pelukannya dan menggangguk .
"atau mau uncle antar nak?"
Queen menggeleng "tidak perlu, aku pulang uncle, byee.." melambaikan tangan lalu keluar dari ruangan itu, dia belum puas sebenarnya karena informasi yang dia inginkan tak bisa dia dapat.
Gadis itu melihat Gerald yang sepertinya juga hendak pulang "rald"
Gerald menoleh dan menyernyit "kakak belum pulang?"
Queen menatap malas adiknya itu "memangnya yang kau lihat ini siapa? surti?!" sungut gadis itu.
Gerald sama sekali tak bereaksi apapun, dia masih setia mempertahankan sikapnya yang dingin itu, padahal kalau yang disana seorang Gerrell sudah pasti terbahak mendengar ucapan Queen barusan.
"Gerrell sudah pulang?"
Gerald mengangguk untuk menjawab pertanyaan Queen.
"kakak lelah rald, bisa boncengin kakak?" ujar Queen sembari menyodorkan kunci motornya.
"kakak ikut aku naik mobil saja!"
Queen menggeleng "kakak ingin sekali menghirup udara malam, ayolah rald" rengek Queen sembari menggoyangkan lengan Gerald.
"kemana gadis gahar tadi?" ucap Gerald penuh dengan sindiran, dia masih kesal rupanya saat tadi dikalahkan oleh Queen.
"kamu pendendam sekali, lain kali kakak akan mengalah deh"
Gerald mendengus, dia tak terhibur sama sekali saat Queen berusaha mengambil hatinya, justru hal itu terdengar menyebalkan sekali, mengambil kunci motor yang ada ditangan Queen lalu berjalan keluar mansion.
Queen tersenyum lalu mengikuti langkah kaki Gerald.
"helmnya hanya ada satu?" Tanya Gerald, saat sampai didepan motor milik kakaknya, dia sebenarnya heran kenapa seorang gadis malah suka sekali memakai motor besar seperti ini.
"tunggu sebentar" Queen lari terbirit kegarasi, dia hendak mengambil helm, setelah mendapatkan helm berwarna hitam, jika dilihat dari bentuknya itu adalah helm hadiah saat pembelian sepeda motor karena terlihat ada tulisan merk sepeda motor disisi helm itu, motor itupun ternyata tergeletak digarasi, entah milik siapa tapi Queen ambil saja.
"kamu pakai itu rald, aku pakai helm ini" mengangkat helm yang dia ambil barusan.
Gerald menurut dan segera menaiki motor, Queen dengan semangat naik dan memekik kegirangan "lets goo.. my cold brother"
Gerald diam saja saat kakaknya itu menggoda dirinya, dia segera membawa motor itu masuk kejalan raya.
Motor melesat dengan kecepatan tinggi karena jalanan yang lengang kaena sudah larut malam.
**
Didalam mobil Darren sedang asik bermain ponsel, dia hendak pergi kesalah satu club untuk minum.
Pria tampan itu ingin melihat bagaimana bentuk dan suasana club dinegara ini.
mbrrrooooom
Mobil yang disupiri oleh Jonathan itu disalip oleh sebuah motor sport berwarna hitam.
Alis Jonathan menyernyit, dia seperti mengenali motor itu "ah benar" pekiknya saat melihat nomor polisi motor tersebut "tuaaan.. lihatlah nona Karren"
Darren yang sedang menyandarkan tubuhnya kemudian duduk dengan tegap, dia menoleh kesamping dan depan "kau membohongiku?"
"tidak tuan! saya hapal betul nomor plat motornya"
"kejar dia!"
Jonathan mengangguk, dia mulai menginjak dalam gas mobil tersebut dan berusaha mengejar motor yang tadi melesat dan tak terlihat lagi.
Beruntungnya ada lampu merah didepan dan motor itu tampak berhenti "benar kan tuan? tapi nona Karren dengan siapa itu?"
Darren mencondongkan tubuhnya kedepan, bisa dia lihat seorang gadis yang dia yakini adalah Karren tengah memeluk erat tubuh seorang pria, tangannya terkepal dan menatap tajam motor itu.
"apa itu pacar nona Karen ya?"
dug
Jonathan terkesiap saat jok mobil yang dia duduki ditendang oleh Darren.
"hehehe tapi kan nggak mungkin, dia kan tampak tergila gila pada anda" ucapnya beralasan, dia mengumpati mulutnya yang tadi berbicara tanpa dia fikirkan dulu.
"kejar motor itu!"
Jonathan mengangguk dan segera mengejarnya, tapi pada saat dipertigaan motor itu sudah menghilang dan tak terlihat jejaknya sama sekali "maaf tuan, saya kehilangan jejaknya" ucap Jonathan, dia takut sekali tuannya itu murka.
Darren membuang nafasnya kasar "dasar bodoh!"
"maaf tuan, apa kita jadi pergi ke club?" tanyanya takut-takut, dia mendongak untuk melihat bagaimana wajah Darren saat ini melalui cermin kecil yang ada diatas kepalanya.
Mata Jonathan terbelalak lalu menunduk dan kembali fokus kejalan, dia bersitatap dengan mata tajam tuannya itu "ya ampun, tuan sangat mengerikan sekali"
"tuan" tanyanya karena tak mendengar jawaban.
"kita ke club!"
Jonathan mengangguk, dia segera membawa mobil menuju salah satu club terbesar dikota ini, dia dituntun dan diarahkan melalui gps yang terpasang dimobil.
Danzel Danzel,,,, kamu salah ngomong di depan mereka yg jaillll hahahahahaha
otw malam pertama