Mengisahkan seorang pemuda manja cucu dari wanita lansia yang kaya raya, Dia hidup dengan segala aturan yang diterapkan sang Oma hingga akhirnya menikah dengan gadis yang pura-pura jadi pacarnya untuk memenuhi permintaan terakhir dari wanita yang di anggap sebagai Ibunya Cinta dan juga akibat kesalah pahaman semata dari sang Oma yang menginginkan hal serupa, namun setelah menikah Oma Alima sangat terkejut saat mendapti Foto Ibu Cinta adalah mantunya yang dinikahi sirih oleh Suryo Pranoto putra tunggalnya Dua puluh tiga tahun silam. sejak kejadian itu Al dan Cinta dipisahkan karena di anggap menjalin hubungan terlarang. Banyak juga liku-liku yang mereka lalui setelah kejadian itu dari hadirnya orang ketiga dan orang yang datang dengan dendam. Apakah pernikahan Al dan Cinta adalah pernikahan sedarah? lalu bagaimana reaksi keduanya?dan bagaimana cara Al dan Cinta melewati bahtera dalam rumah tangga mereka? Baca terus setiap episode nya ya kalau ingin tahu kisah cinta kedua cucu manja Oma??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_27 Keputusan Oma
Kini Andini sudah selesai di makam kan dibantu warga sekitarnya hingga sore hari. Al dan Galih mengantar Cinta ke rumah kontrakannya untuk mengambil beberapa barang penting yang akan dibawanya kerumah Al.
Cinta pun masuk kekamar sang Ibu untuk mengambil barang yang diamanahkan sang Ibu sebelum pergi. Namun Ia kembali duduk terisak-isak saat melihat kamar terakhir Ibunya, rasa sedihnya bukanya merendah tapi justru semakin membara. "Ibu, Cinta kangen." Cinta memeluk foto berukuran tiga kali empat yang hanya satu-satunya yang Ia punya ada tergeletak di atas meja.
Al yang merasa Iba pun langsung mengusap kepala gadis yang kini telah menjadi istrinya itu. "Berhenti lah menangis, lihatlah wajah mu lebih jelek dari pada Monyet," goda Al sembari tersenyum. Ia berusaha membuat Cinta melupakan kesedihannya.
Cinta yang merasa hatinya masih kesal pun lagi-lagi menepis tangan Al. "Jangan sok baik, aku tidak mau dikasihani," teriak Cinta sembari manyun namun air matanya masih terlihat menggenangi kelopak matanya yang sipit itu.
Al tergelak. "Ya sudah ikut mati saja sana, kalau kamu gak bisa ikhlas!" gerutu Al ikut kesal.
Cinta yang mendengar ucapan Al pun semakin membesarkan volume menangis Nya. "Hwaaaaaa..."
Al pun menggaruk kepalanya dan bingung melihat tingkah Cinta sambil berkaca pinggang memikirkan sesuatu yang bisa menghentikan tangisnya yang seperti anak kecil itu.
"Diam lah, nanti aku beliin es cream deh," tawar Al dengan nada yang lebih lembut kali ini.
Cinta pun memandang Al dengan wajah yang sinis. "Kau pikir aku anak kecil, ha?" sentak Cinta murka.
"Benar juga," desis Al lirih. "Kalau begitu diam lah dan cari kotak yang Ibu maksud!" ucapnya mengingatkan.
Cinta langsung terdiam dan mengusap air matanya.
Lagi-lagi Al terkekeh. "Begitu saja sudah mempan, kenapa gak dari tadi saja aku mengucapkannya, dasar kunti," celetuknya menyeringai.
Setelah beberapa menit bergelut mencari kotak itu dan menyiapkan pakaiannya yang dibutuhkan Cinta. Mereka pun meninggalkan kontrakan itu hingga mereka tiba malam hari di kediaman Suryo Pranoto.
Seperti biasa kedatangan mereka langsung disambut oleh Arman dan para bodigat nya. Rupanya Sang Oma juga sudah berdiri didepan pintu sambil berkaca pinggang menanti kedatangannya.
Al mengkerut kan keningnya saat mata tua itu nampak nya kurang suka melihat kedatangan mereka.
"Selamat malam Oma!" sapa Al cengengesan.
"Malam Oma," sapa Cinta juga yang hanya menunduk dan tak berani memandang wajah sang Oma.
Oma tak menyahut lalu melirik ke arah Cinta yang membawa tas berisi pakaian di tanganya, terlihat sekali tas itu hanyalah tas murahan.
Al yang mengerti pun langsung memeluk tubuh tua itu. "Oma," panggilnya manja. "Aku sudah menunaikan kewajiban ku, Oma."
Oma Alima tak peduli lalu memukul bokong Al dengan tongkatnya.
Bug!
"Berhenti bersikap manja atau aku akan menghukum mu," gertak Sang Oma emosi.
Al meringis menerima pukulan nenek tua itu.
"Oma, Oma itu sudah tua berhentilah marah-marah nanti oma kena serangan jantung lo," ucapnya tampa pikir panjang.
"Apa? apa kau sedang mendoakan aku cepat mati?" delik sang Oma. "Kenapa kau membawa Cinta lagi kemari, anak bodoh?" Sang Oma pun melontarkan pertanyaannya.
"Lo, bukanya Oma akan menikahkan kami setelah aku di kenalkan di halayak ramai," cetus Al yang selalu saja dengan cekatan menimpali sang Oma.
Oma pun langsung menjewer telinga Al.
"Aduh, Aduh, Oma sakit!" teriak Al dengan telinga yang memerah.
"Oma memang akan menikahkan kalian tapi tidak sekarang juga, anak bodoh, banyak yang harus di persiapkan kau pikir semudah itu menyiapkannya hanya dalam waktu singkat," Oceh Sang Oma yang selalu di buat geram oleh Al.
"Ah, kenapa harus lama-lama kami bahkan sudah menikah," timpal nya lagi hingga Oma terkejut di buatnya.
Oma pun menjewer Al kian kuat hingga Al makin meringis, wajahnya yang putih itu langsung berubah menjadi merah. "Apa kata mu? apa kalian sudah gila? bagaimana bisa kalian menikah tampa persetujuan ku." Oma Alima semakin emosi dibuatnya.
Cinta menggigit bibir bawahnya. "Maaf Oma ini salahku." Cinta pun membungkuk berkali-kali dihadapan wanita lansia itu.
"Oma lepaskan telinga ku, sakit Oma," pinta Al yang mencoba melepaskan tangan Omanya.
Kerena merasa kasihan Oma Alima pun melepaskan tanganya, lalu memandang Al dan Cinta bergantian sambil menumpukan kedua tanganya diatas tongkat kesayanganya. "Kenapa kalian mengambil keputusan sebesar ini, ha?" tanya sang Oma sembari membentak keduanya.
Al yang tidak pernah bersikap serius pun langsung menutup kedua telinganya, sedangkan Cinta hanya menunduk takut.
"Apa kalian tidak menghargai ku?" sentak Sang Oma lagi.
Tak ingin wanita lansia itu bertambah marah Cinta pun langsung berlutut di kaki sang Oma sambil menangis ketakutan. "Maaf kan Cinta Oma, maaf, ini sungguh diluar keinginan Cinta, Oma!"
Melihat Cinta memohon Al pun tak tega melihatnya lalu ikut-ikutan memohon, bukan Al namanya kalau Ia tak bisa menggunakan aksi jitunya untuk mengambil hati sang Oma.
Al mulai memasang wajah melasnya. "Oma, maafkan kami, kami ini saling mencintai, apa Oma tega membuat kami menahan lebih lama? apa Oma mau, Al melakukan sesuatu yang tidak terkendali karena tak mampu melawannya." Al berucap dengar pikiran dangkal.
Cinta yang kesal pun langsung menyikut lengan Al. "Apa maksud mu bicara begitu? kau ini, sungguh tidak tau malu," bisik Cinta yang menekankan setiap kalimatnya meskipun dalam keadaan menangis.
Diam lah," desis Al balik.
Oma yang melihat keduanya pun belum memberikan jawabannya.
"Tidak Oma bukan begitu," elak Cinta agar Sang Oma tak salah paham pada nya. "Kami terpaksa melakukannya karena permintaan terakhir Ibu sebelum meninggal, Oma" ucapnya nanar. Sebenarnya Ia tak ingin mengingat sang Ibu lagi karena mengucapkan kalimat itu saja membuat dada nya terasa sesak.
Oma nampak membulatkan kedua matanya.
"Iya Oma, sebagai lelaki tentu aku harus bertanggung jawab," timpal Al menambahi.
Oma Alima pun manggut-manggut. "Sayang sekali aku belum sempat bertemu dia," ucapnya menyayangkan.
Oma Alima pun kembali menatap keduanya. "Bangun!" perintahnya sambil menggunakan tongkatnya memukul Al dengan pelan.
Setelah kedua nya berdiri, Oma Alima pun meminta mereka mengikuti Ia diruang keluarga, lalu membalikan badan secara tiba-tiba hingga Al dan Cinta hampir saja menabraknya.
"Maaf Oma," jawab keduanya.
"Dengar baik-baik!" Oma Alima memandang keduanya dengan serius. "Dengarkan baik-baik keputusan ku! pertama, Selama empat puluh hari sebelum pernikahan besar kalian, Oma melarang kalian tidur dalam satu kamar."
Al melongo. "Apa? apa Oma? bagaimana bisa, itu tidak adil dong Oma," protes Al tak terima.
Sedang yang lain terkekeh menahan tawa melihat penderitaan anak manja itu, termasuk Arman dan Galih. "Itu artinya gak ada malam pertama dong," bisik Galih pada Arman.
"Kasihan Tuan Muda," Timpal Arman terkekeh.
Oma tak menghiraukan protesan yang Al layangkan dan melanjutkan keputusannya. "Kedua, kalian hanya boleh bertemu setengah jam saja untuk mengobrol secara pribadi dalam dua puluh empat jam, itu pun dalam pengawasan dan setelah ke kampus Al harus pergi ke kantor hingga sore hari."
"Apa? keputusan macam apa itu," desis Al manyun.
"Dan ketiga adalah, Jika Al berada di rumah Cinta tidak boleh keluar dari kamar kecuali makan."
"Oma, mengapa Oma sekejam itu?" Gerutu Al tak terima sambil membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Tak ada kata protes!" kekeh Sang Oma. "Dan yang terakhir adalah_."
"Oma, kenapa keputusan Oma sebanyak itu, aku tidak mau," potong Al sebelum ucapan sang Oma selesai sedangkan Cinta hanya pasrah saja.
Oma pun melotot kearah Al kemudian melanjutkan keputusannya. "Keempat, Selama di kampus, tidak ada yang boleh tau kalau kalian sudah menikah sampai pesta kalian digelar secara umum, Kalian paham?" Tegas Sang Oma bersungguh-sungguh.
"Banyak sekali, itu namanya keterlaluan Oma, kami itu sudah syah tidur satu kamar masak begitu juga tidak boleh," protes Al lagi manyun lalu melangkah menghampiri Oma dan bergelayut manja.
Al pun mencari cara agar sang Oma tidak memberikan Ia keputusan yang akan memberatkannya. Think, Ia punya ide. "Oma, kurangilah satu saja keputusan Oma itu, setidaknya Al bisa tidur bareng Cinta, Oma, Al janji!" melas nya memohon sambil mengangkat kelingkingnya. "Al akan patuhi semua ke putusan Oma yang lainya kecuali yang satu itu, ya Oma," ucap Al dengan tampang dibuat-buat sambil menunjukkan jejeran giginya yang indah lalu mengedip-ngedip kan matanya .
"Tidak ada malam pertama, bukankah kau sudah melakukan nya lebih dulu!" geram Oma kesal.
Sungguh konyol dua manusia Oma dan Cucu itu tampa malu berbicara di depan anak buah dan pelayannya seperti itu.
"Apa? kapan aku melakukanya Oma? bahkan menciumnya saja baru beberapa kali itu pun karena dalam keadaan tidak sengaja," ucapnya sambil melirik Cinta yang menatapnya dengan amat kesal.
Lagi-lagi Arman dan Galih menutup mulud mereka menahan tawa.
Cinta pun mengepalkan tangannya, Ingin sekali Ia meninju wajah Al yang tak tau malu itu. "Ck, dasar pria tak tak mau, begitu saja ia ucapan didepan orang sebanyak ini, apa dia tak punya otak, bisa-bisa nya Ibu menikahkan aku denganya," batin Cinta.
Rupanya jurus Al tak ada yang mampu membuat Oma luluh. "Bawa Cinta ke kamarnya dan ingat tugas kalian mengawasi mereka, mereka tidak boleh bertemu tampa izin dariku, Kalau sampai kalian ketahuan membantu mereka, maka kalian akan ku hukum, ini berlaku untuk semua, Kalian paham!" Oma menatap semua orang yang ada disana dengan pandangan menakutkan lalu memantik kearah Galih dan Arman. "Terutama kalian berdua!" imbuh wanita lansia itu.
"Baik Nyonya sepuh," jawab mereka serempak.
🤟🤟🤟Hai reader, jika kalian mampir dan membaca kisah Cucu manja Oma jangan lupa dukunganya ya, berupa like, Comen, vote dan tentunya di favoritkan ya agar kalian bisa mengikuti kelanjutannya🙏🙏🙏
Dukungan mu amat lah berarti untukku!!!
I Love You❤️❤️❤️
hay kk semua, mampir yuk di novel favorit aku, SYAHDU by otor ALFAJRY, Dan karya 1 nya lagi SANG PENAKLUK yang TAKLUK. keren deh. cus kesana ya kk2... 😉