🛑 COBA BACA DULU 10 PART jamin nagih 😁😁😁
Karena ancaman kedatangan Iblis di Blood Moon. Alexa Aegis, putri pertama klan Penyihir harus merelakan dirinya menikahi Alexander Ostrander, pertemuan pertama mereka tidaklah meninggalkan kesan baik.
Sementara dia lebih bisa berteman dengan Ahiga, putra kedua dari Kekuatan Warewolf yang ikut bergabung. Alexander yang asing baginya tiba-tiba berada di didekatnya sepanjang waktu. Sementara ternyata dalam klannya sendiri dia punya begitu banyak wanita yang siap menumpahkan darah satu sama lain
Akankah cinta bisa menemui mereka.
🌸
Ini adalah The Light Protector Witch Series
Terdiri dari 7 Book
BOOK 1 . ALEXA ● Blood Of Love
BOOK 2 . AURORA ● The Blood Moon
BOOK 3 . SOFIA ● The Cursed Diamond
BOOK 4 . APOCALYPSE ● The Faith of Love
BOOK 5 . NEW ERA ● The Next Leader
BOOK 6 . CARA ● Rewriting The Star
BOOK 7 . ALENA ● The Dragon Hatcher (On going)
🛑Book 2+3+4 ada di AURORA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27. Kita Harus Bicara
"Nonaa !!" Odette berteriak ngeri saat sebuah reruntuhan dari dinding yang sudah retak hampir mengenaiku. Suara benturan dan ledakan dua kali menguncang rumah sakit itu. Aurora sedang memblok serangan rudal di perimeters utara.
" Nona tidak apa-apa! " Odette segera berlari menghampiriku.
"Aku tak apa, aku punya aura pelindung. Tak ada serangan fisik bisa menembusku. Kalian fokus menolong yang lain." pasti ada yang terluka akibat serangan ini. Aku harus fokus mengecek keseluruhan perimeter.
" Laporkan situasi ..." aku meminta laporan setelah dua serangan beruntun menghantam kami, walaupun ini hanya efek ledakannya.
"Nona! Tuan tadi menelepon tepat di tengah ledakan! Dia sudah pasti tahu sekarang!" Odette memegang tanganku dengan takut. Alexander memang ketat mendidik anak buahnya ini. Mereka ketakutan karena pasti menerima kemarahan Alexander.
"Odette, dengarkan aku! Aku akan bicara sendiri dengan Alexander. Kalian tidak usah takut, sekarang bantu yang lainnya, aku harus mengecek perimeter." aku menguncangkan lengannya. "Ini perintah! Kau dengar aku!? Laksanakan sekarang! Kita dalam kondisi kritis!?" Aku perlu menekankan perintahku melihat dia sudah terfokus dengan efek telepon Alexander. Untungnya Odette langsung bergerak karena perintahku.
"Disayap utara baik-baik saja, tidak ada kerusakan" sayap yang paling kukuatirkan baik baik saja. Berarti seharusnya daerah lainnya aman. Berturut-turut laporan lain masuk kemudian. Kami bisa bertahan.
"Aurora, kalian diatas baik-baik saja? " Aurora belum memberikan laporan.
"Kami baik Alexa. Kami akan bertahan disini sejam lagi sebelum tim Ourinko mengantikanku. Tampaknya puncak serangan sudah berakhir, tidak ada lagi suara pesawat diatas kami." aku menghela napas lega. Puncak serangan hari ini sudah lewat. Kuharap tidak ada yang menyerang diatas tengah malam.
"Semua tim dibawah, fokus untuk membantu tim medis mengecek apa ada yang terluka karena goncangan tadi." aku memberikan perintah terbaru. Oke, saatnya bicara dengan Alexander.
"Odette, sambungkan aku dengan Alex." Odette langsung menekan tombol yang telah di set nomor Alexander dan memberikan padaku. Aku menghela napas panjang sebelum berbicara.
"Odette!" dia mulai dengan nada tinggi!
"Ini aku Alexa!"
"Alexa! Kenapa kau dI Yaman, dan ledakan apa yang terjadi barusan!" Jadi dia sudah tahu aku di Yaman.
"Aurora memblok serangan udara dua kali tadi, suara ledakannya memang keras dan ada efek tekanan udara. Maaf, aku tadi pagi mendapatkan situasi darurat di Yaman, rumah sakit tempat puluhan relawan kami dan Doctors Without Borders bekerja teramcam serangan udara, aku tidak punya waktu lagi bicara padamu, kami harus mempersiapkan legiun penyihir utama, logistic dan tambahan dokter dan korban terus berdatangan kesini. Kami menghadapi ribuan orang terluka dibawah perlindungan kami. Kuharap kau tidak marah kepada Odette dan Odelia, mereka tetap mengawalku. Aku benar-benar diburu waktu tadi pagi karena kami tidak tahu kapan serangan udara akan menyasar rumah sakit kami." aku bicara panjang, dan Alexander tidak memotong. Tampaknya dia mengerti.
"Kau terluka? Kenapa tadi Odette berteriak?"dia mengkhawatirkan aku.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tadi cuma reruntuhan yang jatuh. Aku tidak bisa terluka karena serangan fisik karena kalung mantraku. Tidak ada yang perlu dikuatirkan..."Alexander diam. Tampaknya aku harus berterimakasih padanya.
"Terima kasih untuk sudah mendengarku Alex. Kuharap kau tahu bahwa kejadian seperti ini akan terus ada karena ini sudah tugasku. Aku pemimpin divisi kemanusiaan untuk daerah konflik menolong mereka adalah tugas utamaku." dia masih diam disana dan tidak menangapiku.
"Alex...?" Apa telepon ini terputus. Ini aneh, dia tidak berusaha mendebatku?
"Apa yang kau butuhkan disana? " akhirnya dia bicara. Kejutan? dia bahkan memberikan support!
"Sejumlah besar logistik medis. Kami butuh banyak supply peralatan medis. Daftarnya ada di Daniel... kami akan menunggu selama beberapa waktu, sampai kakek bisa memastikan tak ada serangan udara lagi akan menyerang kami." Mungkin besok kami akan menghadapi serangan udara lagi. Kakek harus bergerak di politik untuk memastikan dunia mengecam serangan ke pemukiman sipil ini.
"Aku akan menelepon Daniel dan memastikan kebutuhan kalian. Ada ada tambahan tim keamanan untuk membantumu. Dalam 6 jam kedepan mereka akan tiba di London. Mereka akan mengikuti perintahmu, tapi prioritas utama mereka adalah perlindunganmu. Jika keadaan tidak bisa kau kendalikan lagi bawa timmu keluar dari sana Alexa. Kau mengerti! Aku percaya kau bisa menangani ini."
"Iya, aku mengerti..." akhirnya dia percaya padaku. Aku tinggal mengikuti kata-kata terakhirnya.
" Sekarang berikan teleponnya ke Odette." Odette berdiri agak jauh disana. Dia cemas mendengar pembicaraanku.
"Alex, kumohon jangan marahi mereka. Mereka mengikuti permintaanku. Mereka menyarankan aku bicara padamu awalnya. Dan mereka adalah bantuan besar buatku disini. Tapi aku benar-benar kehabisan waktu, aku berpikir kau akan mendebatku dan masalah kita akan semakin panjang. Aku minta maaf sudah membuatmu kuatir. Lain kali aku akan memberitahumu lebih awal..." aku mencoba menawar agar Odette dan Odelia tidak terkena kemarahan Alexander.
"Aku tau ... aku hanya ingin bicara dengan mereka... dan jaga dirimu." Well, sepertinya ini akan baik-baik saja. Aku memberikan telepon ke Odette sambil memberikan tanda oke. Dan tampaknya Alex tidak memarahinya terlalu banyak dilihat dari ekspresi wajahnya.
Akhirnya Odette menutup telepon. Dia menghela napas panjang.
"Alexander marah padamu... ?"
"Sedikit Nona, kau tahu bagaimana Tuan. Tapi itu masih dalam katagori normal, aku memang salah tidak melapor. Tuan akan mengirimkan tim Komandan Olev kesini lewat London."
"Baiklah masalah Alexander sudah selesai, ayo kita periksa keadaan." Aku menghabiskan waktu beberapa saat mengawasi keadaan. Masalah hari ini tampaknya selesai. Waktunya istirahat. Komandan militer sementara mengambil alih komando utama.
Kami bertahan disana sampai tiga hari kemudian. Ourinko berhasil menahan satu rudal lagi di malam ke dua. Diplomasi politik kakek membuahkan hasil, foto foto serangan dan korban telah tersebar keseluruh dunia dan pengecaman terhadap pihak-pihak yang bertikai dan sekutu mereka sementara menghentikan tindakan agresi semena-mena terhadap faselitas sipil.
Tim bantuan kembali dihari ke empat. Walaupun tim dokter bantuan masih bekerja sangat keras untuk menangani para korban. Serangan itu juga akhirnya membuka tekanan dunia terhadap akses bantuan kemanusiaan yang selama ini tidak bisa masuk. Selasa malam semua tim kembali ke London. Rabu dan Kamis kami masih mengawasi semua dari London. Dan bantuan logistic medis masih terus mengalir kesana.
Masalah ini selesai untuk sementara. Aku kembali ke dunia nyata, masalahku sendiri menunggu. Pertunanganku mangkin dekat. Ayah dan Ibu telah menyiapkan semuanya. Undangan telah disebar untuk 66 Ketua Klan untuk merayakan penyatuan keluarga ini.
Alexander sesekali meneleponku. Aku menjawabnya dengan baik, walaupun dia juga tahu ada jarak yang tercipta di pembicaraan kami. Tapi setidaknya tidak ada pertengkaran diantara kami yang dapat membatalkan acara ini.
"Alexa... " sebuah panggilan saat aku berjalan di selasar selatan Mansion setelah keluar dari ruangan kakek untuk laporan operasi Yaman.
"Ahiga...senang bisa bertemu denganmu lagi." senyumku langsung mengembang melihat siapa yang memanggilku. Rasanya senyumnya yang ramah selalu bisa membuat seseorang menjadi lebih bersemangat. Aku langsung memeluknya.
"Bagaimana kabarmu..." Ahiga membalas pelukanku.
"Baik, terima kasih. Kau disini. Ada keperluan dengan kakek."
"Ahhh iya sebenarnya, aku mengundang secara resmi kakek dan keluargamu untuk pertunangan keluarga utama kami lebih tepatnya adikku dengan salah satu sepupumu kurasa."
"Ahhh benarkah, ..."
"Dan kudengar kau juga akan bertunangan?"
"Ohh kau tau..."
"Iya kakekmu bercerita. Dia memberikan undangan pertunangan kalian. Dengan Alexander? Terakhir aku sudah menduga kau dan dia ada sesuatu." Ahiga tersenyum.
"Hmm... begitulah...." aku menghela napas panjang.
"Ada apa? Kau tidak bahagia atas pertunanganmu?" mungkin ekspresiku terlalu terlihat dimatanya. Kemudian dia berhenti "Maaf, tidak seharusnya aku bertanya begitu...Kau terlihat tidak begitu bersemangat."dia tersenyum kecil sambil menepuk pundakku.
"Ahh ... aku cuma kelelahan... kemarin kami baru menangani krisis di Yaman. Dan harus mengerahkan legiun utama menahan serangan udara selama tiga hari di faselitas rumah sakit terakhir di Raaz." aku mengalihkan pembicaraan.
"Ohhh, serangan itu menjadi berita utama sekarang. Kalian ternyata punya misi disana? Kalian yang menyebarkan berita serangan itu?"
"Iya, kakek mengupayakan agar serangan itu berhenti, walaupun perdamaian disana masih sangat jauh. Dan krisis kemanusiaan sangat mengkhawatirkan disana. Manusia memang suka saling menghancurkan. Kau tagu betapa merusaknya perang. " ia mengganguk maklum terhadap ceritaku.
"Kau mau makan malam, bagaimana kalau kita makan diluar. Bagaimana kalau De Escalante " dia mengulurkan tangannya, sambil menyebutkan sebuah restoran Italia tak jauh dari Mansion.
"Baiklah, ayo. " aku dengan riang menyambut ajakannya. Aku memberi pesan kepada Odelia, bahwa aku akan makan malam bersama seorang teman di restoran yang kami pilih. Mereka membalas akan menyusulku segera.
Kami makam dengan lahap. Makan dan bertemu teman, itu adalah obat stress yang sangat bagus. Dan Ahiga juga teman makan yang sangat baik. Sudah lama aku tidak mendapatkan teman yang suka bercanda seperti Ahiga. Bertemu dan berbicara dengannya adalah pelepasan dari stress yang sangat bagus untukku. Dia orang yang sangat pintar menjadikan segala sesuatunya sebagai bahan lelucon. Bahkan kami menertawakan para pelayan yang melayani kami. Sebagai penutup kami memesan wine untuk merayakan pertemuan kami.
"Kau puas sekarang!" Ahiga berkata-kata serius.
"Haa, apa maksudmu?!" Aku baru selesai tertawa terbahak-bahak akibat leluconnya.
"Maksudku aku sudah menghiburmu selama dua jam, dan menambah berat kita masing-masing 2 kilo karena makanan-makanan enak ini" aku baru sadar banyak sekali yang sudah kami habiskan.
"Aku terlalu mudah terbaca bagimu ...hahaha " aku antara tertawa dan menangis menanggapi perkataan Ahiga.
"Kau mau cerita?! Aku akan mendengarkan. Mungkin nanti aku bisa memberikanmu sudut pandang baru. " dia menggeser duduknya ke dekatku. Dia memang teman yang baik dan manis.
Aku memeluknya, dan menyenderkan kepalaku ke lengannya. Memejamkan mataku sebentar menikmati perhatiannya. Aku selalu berpikir jika saja aku dijodohkan dengan Ahiga, semuanya akan lebih mudah. Dia seorang teman yang sangat baik, dan sudah pasti akan menjadi seorang kekasih yang penyayang. Dan aku tak terperangkap dalam hareem makhluk gelap penakluk wanita seperti Alexander. Sementara Ahiga mengelus kepalaku lembut membiarkan aku bersandar padanya.
"Kalian disini rupanya..." sebuah suara membuat tengkukku dingin. Aku membuka mata dan meluruskan dudukku. Mimpi buruk! Alexander berada didepanku, menatapku tajam dan melemparkan tatapan membunuh pada Ahita. Kenapa dia ada disini, dia bilang akan datang Jumat malam!
"Alexander! Senang bertemu denganmu brother. Kami sedang makan ... ayo kita makan bersama, kebetulan kau ada disini." suara Ahita datar, dia menantang Alexander. Dia mungkin tahu sedikit banyak kesedihanku karena pria didepanku ini. Ini bisa jadi bencana. Aku sekarang ketakutan! Tadi kami terlalu akrab. Dan dia melihatnya. Aku harus memperbaiki ini.
" Aku sudah makan dipesawat? Terima kasih atas perhatianmu. " balasan yang tidak begitu menyenangkan dari Alexander.
"Alexa, kau sudah selesai. Jika sudah, kita ada janji ke suatu tempat bukan! " suara Alexander tenang, dia sedang mengancamku agar menurutinya, jika tidak akan dipastikan dia membuat keributan disini.
"Ohh benarkah, kau tidak menyebutkannya Alexa, kupikir aku bisa mengantarmu kembali ke Mansion Aegis tadi. " Ahita menyiram bensin ke pembicaraan ini. Aku merinding. Aku harus menghentikan dua laki-laki ini bicara lebih jauh.
"Terima kasih untuk kebaikanmu. Tapi aku yang bertanggung jawab mengantarnya. Dia tunanganku. Kau sudah menerima undangan dari klan kami kan ?!" Alexander tidak mau menerima ucapan Ahita. Dia tersenyum dingin sekarang.
"Ahh.. Ahita, aku akan kembali bersama Alex. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan!" aku harus pergi dari sini secepatnya sebelum kedua laki-laki alpha ini menyerang lebih dari permainan kata-kata.
"Kalau begitu ayo! Ahita kami buru-buru, terima kasih telah menemani Alexa, tunanganku...Assitenku akan membayar bill kalian " Alex mencengkram tanganku dengan kuat sehingga aku meringis.
"Ahita, please ... terima kasih atas waktumu, sampai jumpa " aku mengingatkannya untuk tidak memperpanjang. Tampaknya dia mengerti.
Alexander tidak menunggu lagi untuk menarikku dari tempat itu. Mobil dan sopirnya menunggu di tempat parkir depan restoran. Sepertinya dia benar-benar berniat membawaku langsung pergi. Cengkraman tangannya tidak berkurang. Dia langsung membuka pintu belakang! Dan memastikanku masuk.
Kami akan bertengkar itu sudah pasti! Dia duduk ke sampingku dengan menghempaskan tubuhnya.
"Kita ke OakHill, Simon !" Oakhill!? Bukan ke mansion Aegis? Aku langsung cemas kemana dia akan membawaku.
"Oakhill? Kemana?" aku langsung bertanya.
"Kau dan aku perlu bicara empat mata sekarang! Kita ke Mansionku!" jadi dia punya rumah sendiri di London.
"Aku mau pulang Alexander!Aku lelah ... " aku mencoba melawannya.
"Kau tidak akan pulang malam ini! Kita harus bicara" Alexander menjawab dingin.
"Kau tidak bisa mengaturku seenakmu Tuan Alexander. " nadaku naik, aku tersulut karena dia mengabaikanku.
"Diam Alexa! Jangan terus mendebatku! Atau kau akan menerima akibatnya! " dia mencengkram lenganku dengan kuat, sambil berbicara dengan nada rendah mengancam. Aku terkesiap! Dia sedang dibatas kesabarannya. Satu kata lagi akan membuatnya meledak!
Perjalanan kami 30 menit terasa seperti neraka es! Aku dan Alexander saling diam, masing-masing dari kami merencanakan konfrontasi di otak kami. Aku tidak peduli lagi. Aku akan melawannya! Aku tidak bisa diam seperti ini lagi.
Mobil sampai ke Mansion besar bergaya Victoria khas Inggris. Sang sopir dengan sigap turun dan membuka pintu untukku. Alexander mencengkram tanganku dan membawaku masuk, mungkin dia takut aku melarikan diri. Dua orang pelayan membuka pintu utama. Pelayan utama menyambutnya didalam.
"Tuan selamat datang, ada yang Anda butuhkan?"
" Tidak ada Doria, aku akan naik ke kamarku, aku tidak mau diganggu." suaranya setenang es. Aku merinding mendengarnya.
Dia masih diam membisu, kami melewati lobby utama dan menaikki tangga ke lantai dua. Aku takut, dia pasti membawaku ke kamarnya. Sementara tangannya tak melepas cengkramannya di lenganku.
"Masuk!" dia membuka pintu kamar.
padahal ini plus point.anda dari author lain, jeung..😍
makasih othor karyamu menambah wawasan dan pengetahuan