"Kamu pikir aku memperhatikanmu? Aku hanya khawatir dengan lingkunganmu. Akan ku habiskan yang berani mengganggumu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
PARIS POINT OF VIEW:
Aku masih menikmati jagung bakar seraya duduk bersembunyi di bawah selimut, sesekali menikmati pemandangan di langit yang bertabur bintang. Entahlah, kurasa bintang di langit sini lebih jelas daripada bintang yang ku lihat dari balkon rumah Dhika.
Dhika duduk di sampingku seraya menyesap coklat panas nya perlahan, dia benar benar sudah tidak beku lagi sikapnya.
“Apa kamu punya wine?” tanyaku pada Dhika yang menatapku heran seraya mengerutkan dahinya.
“Wine?”
“Iya, wine,”
“No, aku tidak ingin melihatmu mabuk lagi,”
“Ayolah, ini dingin. Aku tidak akan melewati batas. Hanya sebagai penghangat saja,” pintaku.
“Tidak boleh,”
“Kamu juga pasti kedinginan kan,”
“Kita bisa menghangatkan diri bersama di dalam tenda,”
“Dasar mesum!”
“Apa yang kamu pikirkan, ada sleeping bag ganda di dalam. Kamu bisa menghangatkan badanmu di dalam tenda,” sahut Dhika santai.
“Cobalah, apa kamu tidak pernah minum wine?” tanyaku menatapnya serius bertanya karena penasaran.
“Tidak,”
“Tidak???”
“Tidak pernah,”
“Bukannya Oma-mu nasrani ya? Kamu dikelilingi keluarga nasrani kan? Tidak minum sedikitpun saat pesta?” tanyaku heran.
“Tidak,”
“Kamu ini pengecut atau apa sih? Kamu tidak berani mencobanya?”
“Kamu ingin melihat bagaimana papaku akan membunuhku?” sahutnya datar.
“Astaga, kamu takut dengan papamu. Iya sih, papamu sangat menyeramkan. Aku saja takut padanya, aku benar benar takut,” kataku bergidik ngeri mengingat om jonathan.
“Maka lenyapkan keinginanmu untuk minum itu di sini, karena banyak mata mata di sini,” kata Dhika memperingatkan.
“Mata mata??? Seram sekali pegawaimu,” kataku kecewa.
“Benar benar tidak ada signal,” gumam Dhika melihat layar ponselnya.
“Kenapa memangnya?"
“Aku hanya takut ada tugas autopsy mendadak,”
“Kita pulang besok pagi saja kalau begitu,” usulku.
“Baiklah, kita akan tidur setelah ini,”
“Aku tidak bisa tidur,” kataku menyandarkan kepalaku di bahu dhika.
“Kenapa? Tidak nyaman?”
“Karena terlalu lama tidur tadi siang,”
Dhika mengusap lembut rambutku yang sedikit tertiup angin, kepalaku masih bersandar di bahunya. Aku menggenggam tangan kanannya yang terasa dingin. Dia cukup terkejut dengan tindakanku.
“Apa kamu memiliki trauma?” tanyaku hati hati.
“Kenapa kamu tiba tiba bertanya ini?” sahutnya datar.
“Aku hanya penasaran dengan tangan kananmu yang gemetar saat autopsy, tidak ada yang memperhatikannya tapi aku melihatnya,” lanjutku yang membuatnya melepaskan tanganku dan memilih masuk tenda.
“Sudahlah, bukan urusanmu,” sahutnya dingin berbaring di dalam tenda.
“Tentu saja urusanku, aku istrimu. Kamu menganggapku istri kan?” kataku ikut berbaring di sampingnya.
“Tapi kamu bilang jika kita tidak akan mencampuri urusan masing masing, aku harap kamu ingat ucapanmu sendiri,” kata dhika datar.
“Bukannya dulu kamu dokter bedah?” tanyaku masih dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Hem,”
“Lalu kenapa bisa menjadi dokter forensic? Kemampuanmu lebih baik digunakan untuk menyelamatkan orang hidup kan daripada mengurus orang mati?”
“Jadi menurutmu aku bukan dokter berguna jika berurusan dengan mayat?” Tanya nya cepat.
“Bukan begitu, kamu terlihat sangat hebat saat proses autopsy. Bahkan tak ada yang berani mencelamu atau menentang semua aturan konyolmu yang ternyata memang sangat penting untuk proses penyelidikan. Kamu benar benar keren saat bekerja, tapi terkadang sangat menyebalkan!” kataku sedikit kesal.
“Sangat menyebalkan?” Tanya dhika memiringkan badannya memperhatikan wajahku.
“Sangat,” sahutku yang membuatnya mencium bibirku sejenak dengan lembut.
“Sekarang masih menyebalkan?” Tanya dhika.
“Sedikit,” sahutku tersenyum menahan panas di pipiku.
“Sekarang?” Tanya nya mencium bibirku lagi.
“Kamu benar benar menyebalkan,” kataku memukul dadanya pelan yang membuatnya terkekeh.
“Tidurlah,” kata Dhika mengusap wajahku dan memelukku.
“Aku tidak bisa tidur,” kataku cepat.
“Lalu?”
“Ceritakan aku tentangmu,” pintaku manja.
“Tentangku?”
“Mantanmu,”
“Mantan?”
“Kamu tidak punya mantan pacar?” tanyaku mulai melihat bola matanya yang terlihat berpikir mencari jawaban.
“Tidak perlu, nanti kamu sakit hati,” kata Dhika memelukku.
“Ceritakan,” rengekku.
Dhika tidak memperdulikanku, dia mulai mengendus leherku dan menyesap di sana membuatku menahan geli.
“Apa profesi mantan kekasihmu saat ini?” tanyaku yang membuatnya menghentikan aksinya.
“Dokter,” sahutnya pelan seraya melihat ke langit langit tenda.
“Dokter bedah juga?”
“Hem,”
“Kenapa kalian berpisah?”
“Kamu akan sangat sakit jika tahu banyak hal,”
“Percaya diri sekali,” cebikku.
“Aku serius tidak ingin menyakitimu,”
“Apa kamu selingkuh?”
“Tidak,”
“Apa dia selingkuh?”
“Dia setia,”
“Lalu?”
“Kita sepakat berpisah,” sahut dhika.
“Pasangan yang aneh! Jika saling cinta kenapa sepakat berpisah!” kataku kesal.
“Lihatlah kamu cemburu,” kata Dhika mencium bibirku sekilas.
“Aku tidak sedang cemburu, aku kesal pada pemikiran kalian,” kataku cepat.
“Cinta tidak harus memiliki, apa kamu pernah tahu kata kata itu?” kata dhika seraya menelusupkan tangan nya di balik dress yang ku kenakan. Permukaan tangannya yang dingin meremas sesuatu yang ada di sana hingga membuatku menahan gairah.
Aku memainkan rambutnya dan mencium bibirnya untuk menyalurkan hasratku yang tertahan karena sentuhan nya.
“Tendanya terbuka,” kataku di sela ciuman kami yang memburu.
“Ck,” Dhika berdecak kesal dan menutup resleting tenda kami.
Dia menindihku di bawah tubuhnya, melanjutkan aksinya yang sempat tertunda karena menutup tenda. Gerakan jarinya yang menarik tali dressku, menyingkapnya serta melepasnya membuatku polos di bawah nya.
Dia menyatukan tubuh kami, kami benar benar melakukannya di dalam tenda, anggap saja ini gila! Tapi ini yang kami lakukan saat ini.
Ku harap dia tidak melakukan percintaan ini sampai pagi supaya kami bisa beristirahat sebelum perjalanan pulang. Bukankah dia akan bekerja besok.
⭐⭐⭐⭐⭐🙏🙏
sehat sehat sll yaa 🤗
terimakasih cerita menghiburnya thor..👍👍