NovelToon NovelToon
Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Fennita Eka Putri Nurfadiyah

Manusia bercita cita namun kembali Allah yang berhak menentukan.

Baiknya...
Buruknya...
Senangnya...
Sedihnya...

Memiliki rumah sangatlah cukup untuk berteduh.
Pastinya aman untuk berlindung.

Tapi tanpa cahaya?

Akankah tetap menjadi indah?

Akankah tetap terasa nyaman?

Akankah akan merasa aman dalam kegelapan?

Masalalu tidak selamanya buruk.
Bisa jadi masalalu adalah sebuah titik balik untuk mendapatkan yang jauh lebih baik.

Manusia hanya bisa melakoni apa yang sudah digariskan apa yang sudah ditetapkan. Hanya manusia masih dapat merubah melalui usaha dan do'a.

Perjalanan yang tidak selalu mudah.
Tidak pula menjanjikan pemandangan yang indah.
Tapi satu yang harus diyakini jika Allah ada bersama hambanya. Jika usaha tidak akan berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fennita Eka Putri Nurfadiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUA 26

Jam dinding menunjukan pukul 20.00 WIB. Keluarga kecil mereka sedang berada di ruang keluarga. Menemani Aina yang sedang bermain juga Alvin yang sedang menonton suatu acara yang membahas tentang bisnis.

"Bunda." rengek Aina sambil menghampiri Haifa.

"Kenapa sayang? Ngantuk?" tanya Haifa.

Aina mengangguk.

"Yaudah kita rapihkan mainannya dulu yuk. Abis itu baru kita siap siap bobo." ajak Haifa.

Seperti biasa sebelum tidur Aina sudah dibiasakan oleh Alvin untuk kencing, gosok gigi, cuci tangan dan kaki. Barulah boleh naik ke tempat tidur.

Kebiasaan Aina juga setiap akan tidur selalu meminta dibacakan buku cerita. Biasanya peran itu dilakukan oleh Alvin tapi sekarang sudah diambil alih oleh Haifa.

Aina sudah tampak menguap.

"Baca do'a dulu sayang." ucap Haifa sambil mengelus rambut putrinya.

Aina menurut ia mengangkat tangan mungilnya untuk berdo'a kemudian mengusapkannya ke muka.

Haifa masih terus membacakan cerita sambil mengusap kepala Aina sampai Aina benar benar tertidur. Tidak butuh waktu lama Aina sudah benar benar tertidur.

Tugasnya menidurkan Aina sudah selesai. Haifa kembali ke bawah tepatnya ke ruang keluarga. Untuk melihat apakan Alvin masih disana. Ternyata benar Alvin masih disana dengan acara yang sama.

Haifa mendudukan dirinya disamping Alvin.

"Mas."

"Hm. Aina udah tidur?"

"Udah."

"Yaudah diem di sini temenin."

"Mau nanya boleh gak?"

"Minta izin segala, mau tanya apa?" ucap Alvin tapi pandangannya tetap ke acara tv.

"Dulu waktu masih sama mamanya Aina, kalian tinggal di rumah ini juga?"

Alvin diam, tidak langsung menjawab.

"Soalnya, tadi kata tetangga di sini mas sama Aina juga masih lumayan baru di sini." kata Haifa melanjutkan ucapannya.

Alvin tersenyum sebelum akhirnya menjawab, "Enggak sebelumnya kami bukan tinggal di sini."

"Kenapa kok pindah dari rumah lama? Pasti berat ya? Terlalu banyak kenangannya?"

"Kayaknya di kepala kamu masih banyak rasa penasaran tentang kami ya?"

"Sedikit, maaf ya. Cuma Haifa rasa, Haifa juga harus kenal sama mamanya Aina. Daripada nanya ke orang lain kan? Mending Haifa nanya langsung sama Mas."

"Waktu sama Mamanya Aina, mas tinggal di apartemen daerah x. Itu permintaan mamanya Aina. Karena waktu itu dia pengen ngelanjutin kuliah magister di Universitas P. Jadi kalau dari sini dia merasa terlalu jauh jarak tempuhnya."

"Oh begitu ya. Pantesan pas pertama Haifa ke sini, Haifa enggak nemu apapun tentang mamanya Aina."

"Jadi kamu diem diem cari tahu tentang mamanya Aina?" sekarang pandangan Alvin sudah benar benar terfokus pada Haifa.

"Ya soalnya Mas kayaknya enggak ada niat ngajak Haifa buat kenal sama Mamanya Aina. Jadi Haifa cari tahu sendiri. Gimanapun juga Haifa kan harus tahu tentang mamanya Aina. Haifa enggak mau kalau nanti dikira menjauhkan Aina dari mamanya karena udah ada Haifa."

"Oh iya Mas, udah kasih tahu mamanya Aina kalau mas udah menikah lagi kan?"

"Iya mas udah kasih kabar. Selain itu mas juga udah jelasin lewat telepon waktu itu. Waktu mas kasih tau sih dia bilang selamat, terus dia sempet nanya juga, apa kamu mas bisa nerima Aina? Ya mas jawab, mas yakin kalau kamu bisa nerima dan bisa jadi partner hidup Mas juga partner buat membesarkan Aina. Dia bilang, syukur kalau begitu terus dia juga titip pesen buat kamu katanya titip Aina."

"Kalau untuk bawa kamu kenalan dan ketemu sama dia, bukan Mas enggak mau kalian ketemu. Tapi kan kamu tau juga dia enggak tinggal di Indonesia. Dia juga lagu sibuk kayaknya. Tiap Aina nelepon juga jarang diangkat. Terus paling dia balas lewat chat dia bilang maaf lagi rapat atau apa. Sabar ya, nanti kalau ada kesempatan dia pulang ke sini. Mas udah minta tolong dia buat kasih kabar."

"Ke sini?" tanya Haifa memotong ucapan Alvin.

"Ke Indonesia maksudnya. Bukan ke sini ke rumah ini. Kamu cemburu ya?" ucap Alvin dengan senyuman jail nya.

"Enggak. Lanjut gimana?"

"Ah malu malu."

"Mas Alvin ih."

"Oke oke. Tapi dia bilang kayaknya dalam waktu dekat belum ada rencana pulang ke Indonesia."

"Emang Mamanya Aina enggak rutin pulang ke Indonesia?"

"Ya Mas enggak tau juga sih. Enggak mikirin, paling kalau dia lagi pulang minta ketemu sama Aina ya silakan."

"Oh gitu. Yaudah kalau gitu."

"Jadi kalau kamu mau tau tentang mamanya Aina. Tanya langsung aja jangan cari tau sendiri. Apalagi cari taunya di rumah ini, dijamin kamu enggak bakal dapat apa apa."

"Maaf ya Mas, Haifa enggak bermaksud mengungkit terus masalalu Mas. Niat Haifa cuma pengen tau dan Haifa rasa Haifa perlu tau tentang dia sebagai mamanya Aina ya. Bukan mau tau dia sebagai mantan istri mas."

"Iya sayang. Nanti Mas kasih kamu kontak Mamanya Aina ya. Nanti kalau dia mau tau tentang Aina, dia bisa langsung tanya sama kamu. Sesama perempuan pastikan lebih enak ngobrolnya."

"Enggak begitu maksud Haifa Mas. Haifa enggak melarang Mas buat komunikasi sama Mamanya Aina."

"Iya, Mas paham. Tapi sekarang kamu udah jadi istrinya Mas juga Bundanya Aina juga. Jadi Mas percaya kalau bakal lebih baik kalau kamu yang berhubungan langsung sama Mamanya Aina."

"Enggak ah jangan begitu. Kita harus sama-sama menjalin hubungan baik sama Mamanya Aina."

"Oh iya, Mas besok jadi kan kita ke rumah ibu? Katanya kak Zia juga mau ke sana. Haifa juga kangen pengen ketemu Fiqri (bayinya Vina yang lahir sebulan sebelum nikahan Alvin)." Haifa sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin larut dalam cerita masalalu.

"Kamu ini memang suka anak kecil ya?" tanya Alvin.

"Iya, gemes soalnya. Dari dulu Haifa selalu pengen punya adik. Tapi kayaknya emang takdir aku jadi anak bungsu."

"Awas nanti Aina cemburu loh, liat kamu sama anak kecil lain."

"Masa sih cemburu sama sepupunya sendiri?"

"Jangan salah loh, Aina itu sekarang lagi dalam euforia punya sosok ibu. Buktinya sekarang apapun yang dia lakukan maunya sama kamu kan. Jadi enggak menutup kemungkinan juga kalau nanti Aina bakal cemburu."

"Nanti kita kasih penjelasan pelan-pelan."

"Enggak semudah itu sayang. Orang dewasa aja kalau lagi bahagia itu mendadak susah dikasih tau. Apalagi anak kecil."

"Kita liat nanti deh gimana respon Aina. Yaudah deh Haifa mau ke kamar ya. Mas masih mau nonton? Tapi kayaknya daritadi juga enggak ditonton itu acaranya."

"Iya, soalnya ada kamu yang mengalihkan duniaku." ucap Alvin.

"Dih mulai. Geli deh kalau Mas Alvin kalau udah begini."

"Hahaha geli tapi suka kan kamu?"

"Enggak ya."

"Malu-malu, muka kamu merah sayang."

Haifa tidak menanggapi lagi, ia memilih memainkan handphonenya sedangkan Alvin kembali fokus menonton televisi.

Satu jam larut dalam kegiatan masing-masing. Alvin bahkan sudah mematikan televisi. Tapi Haifa nampaknya masih asik dengan handphonenya.

"Asik banget. Lagi ngapain sih?" tanya Alvin sambil melihat ke handphone Haifa.

"Kamu baca artikel artikel tentang parenting?" tanya Alvin saat mengetahui apa yang sedang dibaca istrinya.

"Heem. Haifa belum punya pengalaman tentang mengurus anak. Jadi Haifa perlu banyak belajar."

Alvin tersenyum sambil mengusap kepala sang istri.

"Masya Allah. Terima kasih ya sayang, sudah mau banyak belajar buat Aina. Mas merasa sangat beruntung punya kamu di hidup kami."

"Apa sih berlebihan tau Mas. Udah ah Haifa mau ke kamar. Minta tolong ya mas nanti matikan lampunya kalau mau ke kamar juga." ucap Haifa kemudian bergegas ke kamar.

Dini hari, mereka masih terjaga sepertinya mereka melanjutkan kembali obrolan tadi.

"Udah jam berapa ya ini?" tanya Haifa sambil memejamkan mata.

"Jam setengah satu. Mulai ngantuknya?" tanya Alvin sambil memainkan rambit Haifa.

"Papa... Bunda..." suara Aina terdengar nyaring dari balik pintu sambil mengetuk pintu sekuat tenaga.

Alvin dan Haifa sama-sama terkejut.

"Mas, tolong bukain pintunya itu kasian Aina. Haifa harus ke kamar mandi." ucap Haifa sambil bergegas ke kamar mandi.

"Papa... Bunda..." panggilnya sekali lagi dengan suara yang lebih kencang.

"Iya sayang," ucap Alvin yang baru membuka pintu.

Aina yang dalam keadaan mengantuk langsung merentangkan tangannya.

"Kenapa kok tumben anak papa bangun jam segini?" tanya Alvin sambil menggendong Aina dan membawanya masuk ke dalam kamar.

"Aina tadi mimpi buluk papa." ucapnya sambil mengucek mata.

"Mimpi apa sayang? Tadi Aina baca do'a enggak sebelum bobo?" tanya Alvin lalu menidurkan Aina di sampingnya.

"Bunda mana?" tanya Aina saat menyadari tidak ada Haifa di sana.

"Bunda lagi di kamar mandi. Aina mimpi apa?"

"Aina mimpi dikejal kejal guguk. Aina panggil papa tama bunda tapi papa tama bundana gak ada."

"Yasudah jangan takut tadikan mimpi aja, tidak apa-apa. Sekarang kita ke kamar Aina papa temenin sampe Aina bobo lagi yuk." ajak Alvin.

Aina menggeleng.

"Mau bobo tini, tama papa, tama bunda aja." ucapnya.

"Hai sayang kok bangun? Kenapa?" tanya Haifa yang baru keluar dari kamar mandi.

"Aina mau bobo tini." ucapnya.

"Yaudah bobo di sini ya sama bunda." ucap Haifa lalu membaringkan tubuhnya di samping Aina.

"Peluk bunda." pinta Aina yang langsung dikabulkan oleh Haifa.

"Baca do'a dulu ya sayang sebelum bobo lagi."

Aina hanya mengangguk. Tidak lama, Aina sudah kembali tertidur.

"Kenapa mas liat Haifa begitu banget?" tanya Haifa ketika sadar Alvin masih duduk sambil memandangi mereka.

"Enggak apa-apa sayang. Mas seneng banget, pemandangan seperti ini yang selalu mas harapkan dari dulu. Akhirnya bisa terwujud berkat kamu. Terima kasih ya sayang."

"Udah ah mas, udah cepet tidur mas. Nanti kalau susah bangun Haifa tinggal ke rumah ibu." ucap Haifa.

"Yaudah aku tidur. Tapi peluk juga dong. Tadi aja sebelum Aina ke sini kamu peluk-peluk aku." ucap Alvin sambil membaringkan tubuhnya.

"Mau Aina kegencet?"

"Yah kalah ya sama anak." ucap Alvin kemudian mencium kening Haifa dan Aina bergantian sebelum tertidur.

Setelah semalam pertama kalinya mereka tidur bertiga dan ada pertama kali yang lain bagi Alvin dan Haifa. Sekarang mereka sedang sarapan sebelum nantinya mereka akan pergi ke rumah ibu.

"Mas salah enggak sih setelah menikah kita baru sekarang ke rumah ibu?" tanya Haifa.

"Insya Allah enggak apa apa. Lagian kita baru nikah 10 hari awal awal repot sama pindahan dan tiga hari kebelakang juga mas udah mulai kerja." jawab Alvin.

Jujur pertama kali berkunjung dengan status sebagai menantu dan mertua membuat Haifa merasa bingung. Haifa bingung bagaimana nanti ia harus bersikap takutnya yang Haifa lakukan tidak berkenan di mata ibu mertuanya.

Haifa menggeleng mencoba mengusir segala ketakutannya.

'Astagfirullah kok Haifa jadi suudzon sih. Padahal beberpa kali ketemu juga ibu itu baik.' ucap Haifa dalam hatinya.

Mereka sudah sampai di rumah orangtua Alvin. Tampak masih sepi, mungkin keluarga abangnya belum datang.

"Yuk kita turun." ajak Alvin.

Haifa menarik nafas terlebih dahulu.

"Kamu kok tegang banget sih, kayak pertama kali aja ketemu keluargaku" ucap Alvin sambil mengusap pipi Haifa.

"Maaf ya mas, Haifa masih belum terbiasa," ucap Haifa karena takut Alvin tersinggung dengan sikapnya.

"Enggak apa-apa sayang, wajar kok."

Mereka berjalan beriringan.

"Assalamualaikum." ucap Alvin sambil mengetuk pintu.

"Wa'alaikumussalam. Eh Alvin, Haifa,  Wah cucu nenek udah datang. Ayo masuk-masuk." ajak ibu sambil menuntun Aina.

Mereka duduk di ruang keluarga. Disana juga kebetulan sudah ada ayah.

"Assalamualaikum yah." sapa Alvin lalu mencium tangan ayah kemudian diikuti oleh Haifa.

"Wa'alaikumussalam." jawab Ayah.

"Gimana Haifa, Alvin enggak bandel kan?" tanya ayah bercanda.

"Eh. Hehe enggak kok yah." jawab Haifa.

"Enggak lah baik Alvin mah." ucap Alvin membela diri

"Baik sih baik. Tapi kalakuan sok aneh aneh maneh teh Vin."

"Atuh Yah."

"Aina sekarang jarang main ke rumah nenek ya." kata ibu pada Aina.

"Hehe Aina kan teneng main di lumah tama bunda. Kemalin Aina main di taman. Banak temen balu, telu nenek." ucap Aina.

"Iya tapi jangan lupa sama nenek dong. Masa karena ada bunda jadi lupa sama nenek." kata ibu lagi.

Deg... Salahkan kalau Haifa merasa sedikit tidak enak dengan perkataan ibu barusan?

"Ibu ini. Baru juga 10 hari belum sebulan enggak ketemu udah dibahas aja." jawab Alvin.

"Ya justru itu kalau baru beberapa hari udah jarang ke sini apalagi lama kelamaan kan."

"Bu, kan enggak mesti mereka yang ke sini kalau mau ketemu mah bisa ibu yang kesana." ucap Ayah.

"Ya masa Orangtua yang mengunjungi anaknya." ucap ibu.

Sementara Haifa hanya diam. Ia bingung, mau menjawab takutnya dikira membela diri, tidak menjawab takutnya dikira tidak mau menanggapi obrolan ibu.

***

**To be continued...

See you next part**...

1
Dya Kusuma
mau banget thor
Mur Wati
kirain ibunya alvin pengertian soalnya pas baca bab yg depan sebelum alvin jadian sama haifa gak taunya ibunya alvin mertua julid ternyata
Mur Wati
yah gagal buka puasa dong vin🤕🤕😃😃😃
Mur Wati
ea ea
Mur Wati
nah iya dinda benar tuh jgn ky ina dan aul
Mur Wati
idih gak jelas kan ina baru suka dan belum tentu Alvin mau ya gak salah lah haifa emang kalo teman duka harus temen yg lain gak boleh suka kalo udah jd pasangan trus di rebut itu baru salah
Mur Wati
keren ini gak seperti cerita lain ayah nikah lagi anak kandung di buang
Mur Wati
apa hubungannya sama inara ... Alvin pun tau inara jg karena mahasiswa nya aja
Mur Wati
ooh Haifa merasa gak enak dgn ina yg kagum dgn Alvin tapi kan mereka gak ada hubungan apa" cuma dosen sama mahasiswanya gpp lah gak merebut koq
defy andriani
Berminat banget
Arma
Luar biasa
Bunda Aish
💕
Sarinah Sianturi
Luar biasa
Nianandra Amelia Putri
aku suka ceritanya
Nianandra Amelia Putri
😊😊😊😊
Nani
kak pokoknya harus lanjut ya cerita-cerita nya aku Download novel toon cuma pengen baca cerita kaka
zevayya abrielle
hadeuh
zevayya abrielle
nah lohhhhhh mulut mercon datang
Windi Gulo
masih mau thor
Windi Gulo
masih mau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!