Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Rumah Rival
...Selamat Membaca📖...
...🎨🎨🎨...
Hari ini Gibran pulang larut malam, seperti hari-hari biasanya. Dia juga masih menggunakan seragam sekolahnya, dari tadi siang ia belum pulang sama sekali.
Dia masuk dan melihat Arga berada di ruang tamu. Menatap dirinya tajam, namun tidak Ia hiraukan. Dia berjalan melewati ayahnya begitu saja.
"GIBRAN!" ucap Arga, membuat Gibran menghentikan langkahnya.
"Dari mana saja kamu?"
"Jam segini baru pulang."
"Sekalian saja nggak usah pulang kamu!"
Gibran menghela nafas kasar, berusaha mengatur emosinya. Dia menoleh kebelakang, menatap ayahnya. Kemudian melangkah keluar rumah kembali.
"Mau kemana lagi kamu?"
"Pergi, bukannya itu kemauan papa ya?!" Gibran menutup pintu dengan kasar.
"GIBRAN!"
Gibran mengegas motornya dengan kencang. Malam ini dia berniat untuk tidur di rumah Rival. Sejujurnya tadi dia sudah berniat untuk tidak pulang, karna dia tau apa yang terjadi dirumah.
Sesampainya dirumah Rival, dia menumpang mandi dan meminjam baju. Kemudian ia ikut berbaring di samping Rival, dia belum mengantuk sama sekali.
Gibran mengambil ponsel yang terletak diatas nakas, membuka aplikasi WhatsApp. Entah mengapa tiba-tiba dia membuka room chat dengan Caramel. Gibran mengerutkan keningnya, terakhir dilihat pukul 00:35. Apakah gadis itu belum tidur? kemudian Gibran dengan iseng mengirim pesan kepadanya.
...🎨🎨🎨...
Caramel terbangun karna dirinya kebelet. Setelah dari kamar mandi ia membuka aplikasi, instagram, twitter, dan WhatsApp. Hanya sekedar men-scroll saja, sebenarnya ada beberapa chat namun dia malas untuk membalasnya.
Caramel keluar, menuju dapur. Untuk mengambil air putih. Kemudian kembali lagi ke kamar, mengambil ponselnya diatas nakas dan meletakkan gelas yang ia bawa.
Ini yang dia tidak suka jika harus bangun tengah malam, selain suasananya yang menyeramkan dia juga pasti sulit tidur kembali. Butuh beberapa tenaga ekstrim untuk kembali tidur. Dia mengerutkan keningnya ketika mendapatkan chat dari Gibran.
Gibran
p
00:40
Gibran
Belum tidur?
00:40
^^^Caramel^^^
^^^?^^^
^^^00:44^^^
Gibran
Belum tidur?
00:45
^^^Caramel^^^
^^^Kebangun tadi.^^^
^^^00:45^^^
Gibran
Tidur sana, besok sekolah.
00:45
Caramel senyum-senyum sendiri, saat membaca chat dari Gibran. Kesambet jin apa ya cowok ini? tumben tiba-tiba perhatian kaya gini. Dia memeluk ponselnya erat, entah apa yang sekarang ada di perasaannya.
...🎨🎨🎨...
Keempat sahabat itu sedang duduk di dalam kelas, sambil memakan mie lidi yang Putri bawa. Bel masuk masih sekitar 10 menitan lagi, kelas juga belum terlalu ramai, sebagian masih pada diluar.
"Mel, gimana. Kapan lo mau ngajak Gibran nge-date?" tanya Jihan
"Ouh, iya. Kapan nih, Mel. Hampir aja lupa gue." ucap Putri sambil memakan mie lidi.
"Lebih cepat lebih baik lo!" sambung Naura.
"Nanti gue coba deh, tapi kalo di tolak?"
"Yang penting lo udah coba."
"Soal mau nggaknya dia, kita nggak masalah kok."
Setelah beberapa jam dalam kelas, akhirnya jam istirahat berbunyi. Kantin adalan surga dunia bagi semua siswa.
Saat melewati depan ruang guru, bu Hera keluar. Dan menyuruh Caramel untuk membantunya mengkoreksi nila kelas sebelas. Tidak enak jika harus menolak, untungnya tadi pagi dirinya sudah sarapan jadi siang ini dia tidak terlalu lapar.
Dia mengikuti bu Hera masuk kedalam ruang guru, sedangkan ketiga sahabatnya menuju kantin terlebih dahulu.
Di dalam ruangan juga ada Rival yang sedang duduk di sofa. Bu Hera menyuruh Caramel duduk terlebih dahulu.
Tak lama bu Hera datang dengan membawa tumpukan buku, milik kelas sebelas.
"Tolong, kalian berdua koreksi ini ya! ibu ada urusan soalnya."
"Urusan perut buk?"
"Diem kamu, udah itu bantuin Caramel!"
Setelah bu Hera keluar, sepertinya hanya ada mereka berdua disini. Semua guru sedang rapat di ruang rapat.
Untuk menghilangkan keheningan, Caramel mulai berbicara.
"Lo nggak ngumpul sama temen lo?"
"Bosen, lagian Gibran juga nggak masuk."
Caramel menoleh kearah Rival. "Kenapa?"
"Tadi malam dia nginep di rumah gue, seragamnya kotor....sebenarnya gue punya dua sih, tapi kotor juga."
"Kenapa nggak ambil kerumah?"
"Tadi malam dia udah pulang, katanya diusir sama bokapnya. Biasalah."
"Gibran sama bokapnya sering berantem?"
"Heem." Rival berdehem, kemudian menoleh kearah Caramel. "Sebenarnya Gibran itu baik kok, cuma kadang-kadang suka nggak bisa ngontrol emosinya aja."
Caramel mengangguk. "Ouh."
"Lo mau ketemu sama, Gibran?"
"Hah? buat apa?"
"Ya bilangin gitu, biar dia mau balik ke rumah. Bukannya gue ngusir ya...gue keinget waktu Gibran pergi kerumah nyokapnya, itu sama lo kan?"
"Iya."
...🎨🎨🎨...
Hari ini Caramel memutuskan untuk pulang bersama Rival. Tadi dia setuju dengan tawaran Rival, untuk ikut kerumahnya. Mereka tidak hanya berdua, ada anggota Antraxs juga yang ikut kerumah Rival. Biasa untuk ngumpul-ngumpul.
Sesampainya di rumah Rival, Caramel mengikuti mereka berempat. Dia duduk di ruang tamu bersama Bram, Revan dan Asep. Rival pergi ke kamarnya untuk memanggil Gibran. Di dalam rumah terlihat sepi, katanya kedua orang tua Rival sedang berada di luar negri.
Tak lama Rival datang bersama Gibran.
"Siang bos." sapa Bram
Gibran mengangkat kedua alisnya, kemudian pandangannya jatuh kepada satu gadis yang duduk di antara Bram dan Revan.
"EHEM!" Gibran melayangkan tatapan tajam kepada Bram. Bram mengerti maksudnya, dia langsung menggeser duduknya.
"Ngapain lo ikut kesini?"
"Gue yang ngajak." ujar Rival
"Ikut gue!" Gibran menarik Caramel. Mereka berhenti di taman belakang rumah. Gibran duduk di kursi, menyuruh Caramel duduk di sampingnya.
"Ngapain lo kesini?"
"Main, kenapa nggak boleh? kan ini rumah Rival!" Caramel menatap Gibran dari samping. "Lo yang ngapain disini?"
"Bukan urusan lo!"
"Lo minggat ya? masalah lo sama bokap lo, nggak akan selesai jika kalian sama-sama egois." Caramel memegang tangan Gibran, sontak Gibran langsung menatapnya. "Pulang ya."
"Minta maaf, itu yang akan membuat lo menjadi dewasa."
"Bukan gue yang salah."
"Terus siapa? bokap lo?!"
Gibran hanya terdiam, matanya menatap kedua manik mata Caramel. Matanya berkaca-kaca, entah mengapa Caramel ingin sekali menangis saat ini. Detik itu juga, Gibran mengusap air matanya yang belum sempat mengenai pipi.
"Pulang ya,"
Gibran mengangguk. "Lo jelek deh kalo kaya gitu. Senyum."
Caramel memegang kedua telapak tangan Gibran, yang masih memegang pipinya. Caramel tersenyum.
"Gitu kan, cantik lo. Gue anter pulang ya."
Caramel mengangguk.
Mereka berdua kembali, menuju ruang tamu. Caramel kembali duduk di sebelah Bram, sedangkan Gibran pergi ke kamar Rival untuk mengambil baju dan kunci motornya.
Setelah Gibran kembali, Caramel berpamitan kepada mereka semua.
"Gue pergi dulu, ya."
"Hati-hati bos," ucap Asep
Bersambung....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍