Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lo maunya gimana?
...•••...
“Gue mau balik.”
“Kenapa?” tanya Jay memutar kursi gaming nya menatap Sian yang terduduk di tepi ranjang. “Nggak betah, ya, tinggal di rumah gue?”
“Bukan nggak betah,” bantah Sian. “Gue cuma kangen sama keluarga gue.”
“Gue anter aja. Sekalian mau balik ke apart.” Jawab Jay.
“Eh? Kok gitu? Masih lumayan lama loh liburnya. Gue nggak minta lo nganterin. Cuma bilang aja, lagipula gue udah biasa pulang sendiri.”
“Gue anter aja,” sanggah Jay. “Lagian… ngapain di rumah lama-lama. Panas bet hati gue.”
“Cemburu sama bokap sendiri?” kekeh Sian.
Jay tak menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia berdiri dari duduknya lalu mendekati pintu kamar.
“Beres-beres aja sekarang. Subuh-subuh kita berangkat,” Jay kembali menoleh kebelakang menatap Sian. “Gue mau bilang sama Papa dulu.”
Tak menunggu respon dari sahabatnya, Jay langsung membuka pintu kamarnya dan melangkah menuju kamar ayahnya.
Begitu tiba di depan kamar ayahnya, Jay mengangkat tangan lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
“Pa!”
Tak kunjung mendapat jawaban, ia kembali mengetuk pintu itu.
Tok. Tok. Tok.
“Pa!” teriak Jay lebih kencang.
Ia mengernyit. Heran karena tak mendapat respons, biasanya sang ayah belum tidur, meskipun jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Tok. Tok…
Ketukan Jay terhenti ketika terdengar suara gagang pintu yang diputar dari dalam.
Kriet…
Pintu itu perlahan terbuka, memperlihatkan kepala perempuan yang menyembul dari baliknya.
“Apa ada?” tanyanya dengan suara sedikit serak.
Sebelah alis Jay terangkat. Ia menatap perempuan di hadapannya dengan heran, terlebih melihat gelagatnya yang seolah enggan membiarkannya masuk.
“Papa mana?”
“Lagi mandi. Mau di panggil?”
Alih-alih menjawab, Jay justru mendorong pintu itu. Namun, perempuan tersebut segera menahannya.
“Sebentar, ya—”
Jay mendorong pintu itu hingga terbuka lebih lebar, membuat perempuan itu kehilangan keseimbangan dan terhuyung mundur.
“Kenapa lo ngelarang-larang segala sih? Gue mau ketemu bokap gue!” bentaknya kesal.
Namun, amarah yang memenuhi kepalanya seketika terusik saat pandangannya menangkap penampilan perempuan itu.
Gila!
“Nggak percayaan banget sih jadi orang,” gerutu perempuan itu sembari membenarkan robe putih yang dikenakannya, senada dengan dress satin tipis di baliknya.
Entah kenapa, perempuan itu sepertinya suka sekali mengenakan pakaian serba putih.
Pandangan Jay kemudian beralih ke leher jenjangnya. Beberapa bercak tampak menghiasi kulit putih perempuan itu, dan tanpa perlu bertanya, Jay sudah bisa menebak apa yang baru saja dilakukan sepasang suami istri di kamar tersebut.
“Hey?”
Teguran itu menyadarkan Jay. Ia menggelengkan kepala kecil, lalu kembali menatap perempuan di hadapannya dengan ekspresi sedatar mungkin, meskipun gejolak dalam dirinya masih meluap-luap.
“Bilangin ke Papa, besok pagi-pagi gue sama Sian mau pulang,” ujarnya dengan napas memburu.
“Pulang?”
Jay tidak menjawab. Ia hanya diam memperhatikan wajah perempuan itu.
“Serius… kamu mau pulang? Kamu nggak kangen…” Perempuan itu menggantungkan ucapannya sebelum melanjutkan, “Sama Papa kamu?” Katanya dengan wajah memelas.
“Padahal 2 hari lagi dia mau keluar kota selama 5 hari karena kerjaan. Sayangnya… aku nggak bisa ikut.”
Shit man!
Jay harus mati-matian mempertahankan kewarasannya sendiri. Bagaimana bisa perempuan yang dicintainya itu berdiri di hadapannya dengan penampilan yang begitu memanjakan mata, sementara ia bahkan masih harus menahan amarah akibat apa yang baru saja disaksikannya? Ayolah, dirinya hanya laki-laki normal!
“Oh, ya?” Jay melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka.
“Gila, Kak. Lo jago banget bikin gue makin tergila-gila sama lo,” gumamnya. Tatapannya sempat jatuh pada bibir perempuan itu yang merah merona dan sedikit bengkak, sebelum kembali mengunci kedua matanya.
Jay mengangkat tangan, lalu menyentuhkan ibu jarinya pada bibir bawah perempuan itu. Ia memberikan sedikit tekanan hingga bibir tersebut terbuka.
“Jadi… lo maunya gimana?” tanyanya dengan suara serak.
Jay kemudian mendorong ibu jarinya lebih dalam ke mulut perempuan itu hingga menyentuh lidahnya yang hangat dan basah. Tatapannya tetap tertuju pada wajah perempuan tersebut, mengamati setiap perubahan ekspresinya.
Gemericik air di kamar mandi tak lagi terdengar. Perempuan itu mendorong tubuh Jay menjauh darinya.
"Keluar!" perintahnya tegas.
Jay terkekeh melihat ekspresi panik perempuan di hadapannya. Ekspresi yang tak pernah ia lihat selama ini. "Kenapa? Lo takut?" tanyanya, lalu menghisap ibu jari yang tadi ia masukan ke dalam mulut perempuan itu dengan gerakan yang terlihat menghayati.
"Aku bilang. Keluar!" Usir perempuan itu sekali lagi dengan nada penuh penekanan.
"Iya. Iya. Rileks my love," kata Jay melemparkan flying kiss lalu keluar begitu saja, kembali menutup pintu itu.
"Fuck! Sange gue, cok!" geram Jay begitu melangkah menjauh dari kamar ayahnya. Ia mengusap wajahnya kasar, berusaha meredakan gejolak dalam dirinya, tetapi itu sama sekali tidak membantu. Selangkangannya masih mengeras di balik celana, membuatnya semakin frustasi.
Apa ia harus menuntaskannya seorang diri? Atau meminta bantuan sahabatnya?
Sialan! Kenapa juga perempuan itu harus memberitahu kalau ayahnya akan pergi selama 5 hari? Apa itu kode darinya? Apa perempuan itu sengaja memberitahunya karena menginginkan sesuatu darinya?
Jay menghembuskan napas kasar. Entah perempuan itu memang bermaksud demikian atau tidak, pikirannya terlanjur dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuatnya semakin sulit berhenti memikirkannya.
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG