Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Slide yang mengungkapkan segalanya
Sekitar lima belas menit kemudian, perempuan yang tadi memberikan arahan kembali muncul di lantai dua puluh dua. Kali ini ia berdiri di tengah ruangan sambil menepukkan kedua tangannya pelan untuk menarik perhatian.
"Selamat siang, semuanya. Sesi orientasi akan segera dimulai. Silakan tinggalkan barang-barang yang tidak perlu dibawa. Ikuti saya menuju ruang serbaguna di lantai dua puluh."
Satu per satu para karyawan baru berdiri dari kursi masing-masing. Beberapa merapikan pakaian, sebagian lagi membawa buku catatan dan pulpen yang telah disiapkan sejak tadi.
Lauren ikut berdiri sambil merapikan blazer abu-abunya. Ia mengambil buku catatan dari dalam tas, lalu menyampirkannya ke lengan sebelum mengikuti rombongan.
Pintu lift terbuka tak lama kemudian. Karena jumlah peserta cukup banyak, mereka terbagi ke dalam dua lift. Lauren berdiri di bagian belakang bersama Della.
"Gugup?" bisik Della sambil tersenyum.
Lauren mengembuskan napas pelan.
"Sedikit."
"Tenang saja. Orientasinya santai, kok. Paling cuma pengenalan perusahaan, aturan kerja, sama beberapa kebijakan yang harus dipatuhi."
Lauren mengangguk tipis.
Lift berhenti di lantai dua puluh. Begitu pintunya terbuka, mereka langsung disambut lorong yang lebih luas dengan papan petunjuk menuju ruangan itu.
Ruangan itu ternyata jauh lebih besar daripada yang Lauren bayangkan. Deretan kursi telah disusun menghadap sebuah panggung kecil lengkap dengan layar LED berukuran besar. Logo Nozer Holdings terpampang di tengah layar, sementara beberapa staf tampak sibuk memastikan seluruh perlengkapan presentasi telah siap.
"Silakan duduk sesuai tempat yang masih kosong," ujar perempuan tadi.
Lauren memilih duduk di barisan tengah. Dari tempat itu, Lauren bisa melihat hampir seluruh ruangan. Jumlah peserta orientasi ternyata lebih banyak dari yang ia kira, berasal dari berbagai divisi dengan latar belakang yang berbeda.
Tak lama setelah semua peserta duduk, lampu ruangan sedikit diredupkan.
Seorang pria paruh baya mengenakan jas abu-abu berjalan naik ke atas panggung. Ia membawa sebuah mikrofon dan menyapu seluruh ruangan dengan senyum hangat.
"Selamat datang di Nozer Holdings. Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan selamat kepada kalian semua yang berhasil menjadi bagian dari perusahaan ini."
Tepuk tangan pelan terdengar memenuhi ruangan.
"Mulai hari ini, kalian bukan lagi sekadar pelamar, melainkan keluarga besar Nozer Holdings. Kami berharap kalian dapat berkembang bersama perusahaan ini, menjunjung tinggi profesionalisme, integritas, dan rasa saling menghormati dalam setiap pekerjaan yang dilakukan."
Lauren memperhatikan setiap kalimat yang disampaikan, berusaha mengalihkan pikirannya dari sosok pria yang sejak pagi terus memenuhi benaknya. Namun, entah mengapa, setiap kali nama perusahaan itu disebut, bayangan pria bermata biru dengan tatapan dingin itu kembali muncul tanpa bisa ia cegah.
" Sebelum kita mulai, izunkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Grace dari divisi pengembangan sumber daya manusia. Sesi ini akan memperkenalkan kalian pada sejarah, struktur, dan nilai-nilai inti Nozer Holdings International sebelum kalian resmi memulai pekerjaan sehari-hari."
Layar di depan ruangan menyala, menampilkan logo perusahaan yang megah diikuti serangkaian slide berisi grafik pertumbuhan, cabang-cabang bisnis, dan sejarah panjang keluarga Nozer dalam membangun kerajaan bisnis mereka sejak beberapa generasi lalu.
Lauren mencoba fokus mendengarkan, mencatat beberapa poin penting di buku kecil yang ia bawa, meski pikirannya sesekali masih melayang ke lorong sunyi lantai direksi tadi pagi.
"Dan tentu saja," lanjut Grace, mengklik remote-nya, memunculkan sebuah slide baru di layar, "perusahaan sebesar ini tidak akan berjalan tanpa kepemimpinan yang kuat."
Lauren mendongak, matanya terpaku pada layar di depannya. Sebuah foto formal muncul di sana terlihat foto seorang pria berjas hitam sempurna, berdiri tegak dengan latar belakang gedung pencakar langit, mata birunya menatap lurus ke kamera dengan ekspresi dingin dan berwibawa yang begitu familiar bagi Lauren.
Alex Christopher Nozer — Chief Executive Officer, Nozer Holdings International.
Jantung Lauren serasa berhenti berdetak sejenak. Ia menatap layar itu lama, membaca nama lengkap yang tertera di bawah foto itu berulang kali, seolah dengan membacanya lebih lama akan membuat kenyataan itu terasa lebih masuk akal.
Pria itu bernama Alex, dia adalah CEO sekaligus Pemilik seluruh perusahaan ini, bukan sekadar karyawan tingkat atas seperti yang sempat ia duga.
"Pak Alex mengambil alih kepemimpinan perusahaan pada usia dua puluh tiga tahun, menggantikan ayahnya yang mengalami masalah kesehatan," jelas Grace, suaranya penuh kekaguman yang jelas terlatih untuk disampaikan berkali-kali kepada setiap angkatan karyawan baru.
"Di bawah kepemimpinannya, Nozer Holdings mengalami pertumbuhan pesat di berbagai sektor, mulai dari properti, logistik, hingga investasi keuangan global."
Beberapa karyawan baru di sekitar Lauren mulai berbisik-bisik pelan, kagum dengan sosok pemimpin muda yang tampak begitu sempurna di foto itu. Lauren sendiri hanya bisa duduk terpaku, tangannya mencengkeram pena yang ia pegang, pikirannya berputar liar mencoba mencerna kenyataan yang baru saja terkonfirmasi secara resmi di hadapannya.
Selama ini, tanpa pernah ia sadari, ia telah membentak seorang CEO perusahaan multinasional di gang gelap karena pulang dalam keadaan babak belur. Ia telah menceramahinya seolah pria itu anak muda biasa yang perlu dinasihati, tanpa tahu sedikit pun siapa sebenarnya yang ada di hadapannya.
Sebuah pikiran cemas tiba-tiba menyelinap masuk ke benaknya, membuat perutnya terasa mulas. Bagaimana kalau Alex marah karena kelancangannya waktu itu? Bagaimana kalau semua kata-kata kasar yang pernah ia lontarkan—"kau pikir aku bodoh", "berhentilah melakukan apa pun yang membuatmu selalu pulang seperti ini"—ternyata menjadi alasan tersembunyi kenapa Alex diam-diam mengawasi dan mempekerjakannya, bukan karena niat baik, melainkan untuk suatu saat membalas kelancangannya itu?
Ia menelan ludah, mencoba menepis pikiran buruk itu, tapi kekhawatiran itu terus menggerogoti benaknya sepanjang sisa presentasi. Dalam hati ia berdoa sungguh-sungguh,semoga saja pekerjaan barunya ini tidak berakhir dengan pemecatan mendadak beberapa bulan dari sekarang, hanya karena ia pernah bersikap terlalu berani kepada seseorang yang, ternyata, memegang kendali penuh atas nasib kariernya sekarang.
"Ada yang bertanya sejauh ini?" tanya Grace, menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
Lauren tidak mengangkat tangan, meski pertanyaan yang paling ingin ia ajukan tidak mungkin ia lontarkan di hadapan seluruh karyawan baru lainnya. "Apakah Pak Alex punya kebiasaan mengingat setiap orang yang pernah membentaknya di jalanan, lalu diam-diam mengatur agar orang itu bekerja untuknya?"
Presentasi berlanjut, membahas struktur organisasi, jalur pelaporan, dan berbagai kebijakan perusahaan yang harus dipatuhi setiap karyawan. Lauren mencoba mencatat sebaik mungkin, meski separuh perhatiannya masih tertahan pada satu nama yang terus berputar di kepalanya.
Ia teringat kembali malam itu, malam ketika ia menekan kain kompres ke pelipis Alex dengan gerakan kasar, membentaknya habis-habisan tanpa tahu siapa sebenarnya pria yang sedang ia rawat.
Waktu itu, semua kata-kata itu keluar begitu saja dari rasa khawatir yang tulus, tanpa perhitungan, tanpa rasa takut akan konsekuensi apa pun, karena bagi Lauren waktu itu, Alex hanyalah seorang pria misterius yang kebetulan sering ia temui, bukan seseorang dengan kekuasaan yang bisa menentukan masa depannya begitu mudah.
Sekarang, dengan kenyataan baru yang terungkap di hadapannya, Lauren tidak bisa lagi bersikap seceroboh itu. Ia harus lebih berhati-hati, lebih menjaga sikap, meski entah kenapa, di dalam hatinya yang paling dalam, ada bagian kecil yang enggan sepenuhnya menyesali kata-kata yang pernah ia ucapkan waktu itu, karena semua itu murni berasal dari rasa peduli yang tulus, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan terhadap orang lain sejak kehilangan kedua orang tuanya.
"Baik, mari kita lanjutkan ke sesi berikutnya," kata Grace, mengklik remote-nya lagi, memunculkan slide baru berisi bagan struktur divisi. "Kalian akan diperkenalkan pada masing-masing kepala divisi tempat kalian ditempatkan, termasuk jalur komunikasi resmi yang berlaku di perusahaan ini."
Lauren mencoba kembali fokus, memaksa dirinya untuk menyerap informasi yang disampaikan, meski sesekali matanya masih mencuri pandang ke arah layar yang sudah berganti slide, seolah berharap foto Alex akan muncul kembali agar ia bisa menatapnya lebih lama, mencoba mencari jawaban dari wajah dingin yang kini terasa jauh lebih rumit dari yang pernah ia kenal sebelumnya.
Di ujung sesi, ketika seluruh karyawan baru mulai beranjak dari kursi masing-masing untuk istirahat siang, Lauren masih duduk sejenak, menatap layar proyektor yang sudah dimatikan, menghela napas panjang sambil mencoba menenangkan diri.
"Semoga saja", batinnya, mencoba meyakinkan diri sendiri sekuat yang ia bisa, "semoga saja apa yang pernah kukatakan padanya waktu itu tidak akan jadi alasan untuk memecatku begitu saja beberapa bulan kedepan."
Ia berdiri perlahan, melangkah keluar dari ruang serbaguna bersama karyawan baru lainnya, membawa serta satu kekhawatiran baru yang kini menempel erat di benaknya.