Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Eksekusi Helena
Mobil Rolls-Royce Phantom berhenti tepat di depan pintu masuk VIP Rumah Sakit Medika Pratama. Dua pengawal pribadi membukakan pintu dengan cemas, merasakan atmosfer berbahaya yang memancar dari pasangan suami istri tersebut.
Clarissa turun terlebih dahulu, gaun hitamnya menyapu lantai dengan keanggunan seorang penguasa yang hendak menjatuhkan eksekusi mati. Di sisinya, Dominic berjalan dengan langkah tegap, matanya yang kelam tak menyisakan sedikit pun ruang untuk belas kasihan.
Di lantai lima kamar VIP, dua petugas kepolisian berseragam kaku berdiri berjaga. Begitu melihat Dominic dan Clarissa mendekat, kedua polisi itu seketika menunduk hormat dan membukakan pintu tanpa bertanya.
Di dalam kamar yang luas dan steril itu, Helena sedang duduk di tepi ranjang. Wajah cantiknya tampak pucat tanpa riasan, namun matanya memancarkan rasa cemas yang amat sangat.
Begitu mendengar pintu terbuka, Helena mendongak dengan memasang raut paling malang dan air mata yang langsung menggenang.
"Dominic! Syukurlah kamu datang..." jerit Helena dengan suara bergetar, bersiap melemparkan tubuhnya untuk memeluk pria itu.
"Tolong aku, Dominic! Polisi-polisi di luar gila! Mereka menuduhku mencoba membunuh Clarissa! Kamu tahu betul aku tidak mungkin sekejam itu—"
Langkah Helena terhenti seketika. Tubuhnya membeku kaku di tengah ruangan.
Bukan Dominic yang menahannya, melainkan tatapan Clarissa. Binar keemasan dari iris mata wanita itu memancar penuh ancaman, menembus manik mata Helena hingga membuat napasnya tersedak di tenggorokan.
Clarissa melangkah perlahan mengitari ruangan. Jemari lentiknya mengusap tepi meja nakas, membiarkan keheningan tegang menggerogoti mental Helena sebelum membuka suara.
"Masih mau berakting, Helena?" tutur Clarissa amat merdu, suara halusnya mengalun dingin bagai bisikan dari dalam kubur. "Atau kamu butuh aku menyegarkan ingatanmu tentang racun dosis tinggi yang kamu campurkan ke dalam minuman Clarissa tua, sebelum kamu mendorongnya ke dalam danau?"
Wajah Helena seketika berubah pasi. "A-Apa yang kamu bicarakan?! Jangan asal bicara! Kamu sendiri yang melompat ke danau untuk memfitnahku!"
Clarissa terkekeh pelan—sebuah tawa renyah tanpa emosi yang membuat bulu kuduk Helena berdiri tegak. Ia merogoh sebuah flashdisk kecil berlis emas dari tas tangannya, lalu melemparnya santai ke atas ranjang rumah sakit.
"Di dalam sana bukan hanya rekaman CCTV resolusi tinggi dari dermaga," bisik Clarissa, melangkah satu titik lebih dekat hingga bayangannya mengurung Helena. "Tapi juga riwayat transaksi akun rahasiamu di Swiss. Transaksi pembayaran untuk membeli racun kelumpuhan saraf dari pasar gelap Singapura tiga minggu lalu."
Helena membelalak lebar, dadanya memburu keras oleh ketakutan yang mendadak melumpuhkan seluruh persendiannya.
"T-Tidak... Tidak mungkin! Dari mana kamu
mendapatkan itu?!"
"Julian Vane," potong Dominic dengan suara berat yang menggelegar kaku di ruangan itu.
Dominic melangkah maju, merengkuh pinggul halus Clarissa dari belakang dan mengunci istrinya dalam perlindungan mutlak. Matanya menatap Helena dengan kejijikan yang teramat dalam.
"Seluruh jalur pasar gelap Singapura ada di bawah genggaman Vane & Co," lanjut Dominic dingin tanpa ampun.
"Kamu bertindak seolah-olah kamu paling cerdik di rumah ini, Helena. Padahal di mata Clarissa... kamu hanya seekor kecoa yang membongkar liang kuburmu sendiri."
"Dominic! Tidak! Kamu dibohongi oleh wanita iblis ini!" jerit Helena histeris, air matanya menetes liar saat ia berusaha menggapai jas Dominic.
"Aku melakukan semua ini untukmu! Aku mencintaimu, Dominic! Posisiku di sampingmu direbut oleh wanita sampah ini!"
PLAK!
Suara tamparan keras bergaung nyaring di kamar steril itu.
Bukan Dominic yang menamparnya, melainkan Clarissa. Kekuatan tamparan itu begitu kuat hingga kepala Helena terlempar ke samping dan sudut bibirnya pecah merembeskan darah segar.
Helena tersungkur di atas lantai marmer yang dingin, memegangi pipinya yang memerah dengan mata terbelalak syok.
Clarissa berlutut sedikit, menyambar dagu Helena dengan cengkeraman jemarinya yang amat kuat hingga kuku-kukunya menancap di kulit Helena. Ia mensejajarkan wajahnya, menatap Helena dari jarak beberapa senti dengan aura Ratu Victoria yang haus darah.
"Mencintainya?" desis Clarissa rendah, matanya berkilat membakar. "Kamu tidak mencintainya, Helena. Kamu hanya haus akan takhta Nyonya Pratama. Dan asal kamu tahu... wanita yang dulu kamu tindas dan kamu racuni sudah mati di dasar danau itu."
Clarissa memperketat cengkeramannya pada dagu Helena yang gemetar hebat.
"Jiwa yang berdiri di hadapanmu sekarang adalah penguasa yang akan mencabut seluruh nafasmu," bisik Clarissa tepat di depan telinga Helena.
"Laporan kepolisian tidak akan hanya menjeratmu atas percobaan pembunuhan. Besok pagi, seluruh aset keluargamu akan disita untuk membayar ganti rugi pemalsuan dokumen Pratama Group. Kamu tidak hanya akan membusuk di penjara... tapi kamu akan menyaksikan keluargamu merangkak menjadi pengemis di jalanan."
"T-Tidak... Ampun, Clarissa... Tolong ampuniku..." tangis Helena pecah, tubuhnya gemetar hebat oleh teror ketakutan yang tak tertahankan. Sombong dan keangkuhannya hancur lebur tanpa sisa.
Clarissa menghempaskan wajah Helena hingga wanita itu jatuh terjerembap di atas marmer. Ia berdiri anggun, merogoh sapu tangan sutra dari saku Dominic, lalu mengusap jemarinya dengan gerakan lambat seolah-olah baru saja menyentuh bangkai yang menjijikkan.
"Polisi!" panggil Dominic tajam.
Dua petugas polisi langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
"Bawa wanita ini ke tahanan polda sekarang," perintah Dominic dingin. "Pastikan tidak ada jaminan penangguhan penahanan atas nama siapa pun."
"Siap, Tuan Pratama!"
Dua polisi itu menyambar kedua lengan Helena dengan kasar, menyeret wanita yang menangis meraung-raung dan berteriak histeris itu keluar dari kamar VIP. Suara jeritan penyesalan Helena bergaung sia-sia di lorong rumah sakit yang sepi, menandai kehancuran total sang antagonis.
Di dalam kamar yang kini hening, Clarissa melemparkan sapu tangan sutra yang kotor itu ke dalam tempat sampah. Ia berbalik, menatap Dominic yang sedang mengamatinya dengan binar gairah dan rasa kagum yang makin membara.
"Satu kecoa selesai, Suamiku," bisik Clarissa sensual, menyunggingkan senyuman Ratu yang paling memikat. "Sekarang... mari kita fokus merebut kendali penuh atas Pratama Group dari Kakek Silas."
Dominic tersenyum berbahaya, menyusupkan jemarinya ke pinggul Clarissa dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang protektif. "Apapun perintahmu... Istri-ku."
disini memainkan strategi dan taktik
dan setiap chap pasti ada semua kalimat tsb🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️
bisa di kurangi kah kalimat tsb???