Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 – Hari Pertama Tanpa Raka
“Kehilangan tidak selalu datang bersama pemakaman. Kadang ia datang ketika pagi tiba, dan kita sadar ada satu orang yang tidak akan pernah pulang lagi.”
--
Matahari pagi telah kembali menggantikan bulan. Cahaya yang menembus melalui jendela rumah sakit terasa asing di mata Alina. Ia tidak yakin kapan terakhir kali memejamkan mata, yang ia ingat hanyalah duduk semalaman di kursi ruang tunggu, memandangi pintu ruang intensif seraya berharap keajaiban datang begitu saja.
Harapan itu seakan sia-sia, karena pagi itu hanya membawa dirinya pada kenyataan yang sama pahitnya dengan malam sebelumnya bahwa Raka telah pergi. Hujan memang sudah berhenti, tetapi udara rumah sakit masih menyisakan aroma basah yang bercampur dengan antiseptik.
Lorong-lorong tampak lebih sibuk di banding semalam, perawat mulai berganti shift, dokter melakukan visit pagi, dan keluarga pasien satu per satu terbangun dari tidur singkat mereka di kursi tunggu.
Alina menatap langit mendung diluar jendela, rasanya aneh melihat matahari tetap terbit ketika dunianya baru saja runtuh. Di sebelahnya, Hendra masih tertidur dalam posisi duduk, kepala pria setengah baya itu bersandar pada dinding, sementara kedua tangannya terlipat di dada.
Wajahnya tampak jauh lebih tua pagi itu, garis-garis lelah terlihat jelas, seolah dalam semalam telah merampas sesuatu yang sudah bertahun-tahun dari hidupnya. Alina menelan air liurnya, ia belum pernah melihat ayahnya selemah ini.
Sejak ibunya meninggal, Hendra selalu menjadi tiang rumah yang paling kokoh. Ia yang menenangkan mereka ketika menangis, ia yang memastikan makan malam tetap tersedia, ia yang diam-diam bekerja lebih keras agar kedua putrinya tidak kekurangan apa pun, dan kini, pria yang selama ini menjadi sandaran mereka tampak seperti seseorang yang kehilangan arah.
Tak jauh dari sana, Birendra baru kembali dari mushola rumah sakit. Kemeja putihnya sudah berganti dengan kemeja lain yang dibelikan staf kantornya dini hari tadi, tetapi mata merah dan wajah lelahnya tidak bisa disembunyikan. Ia membawa dua cangkir teh hangat dan sebungkus roti.
“Kamu harus makan sedikit,” pintanya dan membuat Alina segera menggeleng.
“Aku nggak lapar.” Birendra tidak memaksa. Ia hanya meletakkan roti itu di samping Alina, lalu duduk diam di kursi sebelahnya. Keheningan di antara mereka tidak terasa canggung, justru keheningan itulah yang paling mereka butuhkan, karena tak ada kata-kata yang mampu memperbaiki keadaan.
Beberapa menit kemudian Hendra terbangun, pandangannya kosong sesaat sebelum ingatan tentang semalam kembali menghantamnya, bahunya langsung turun pelan, seolah beban itu kembali diletakkan di pundaknya.
“Ayah minum dulu.” Alina menyerahkan segelas air putih, Hendra menerimanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Hendra meneguk air itu secara perlahan, lalu menatap putrinya cukup lama. Tatapan itu membuat dada Alina sesak, ada kesedihan yang begitu dalam disana, tetapi juga ada rasa khawatir yang lebih besar, yaitu kekhawatiran tentang Keira.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan dokter pun datang menghampiri mereka, lebih tepatnya untuk masuk ke ruangan Keira untuk mengecek serta mengontrol kondisinya. Tidak lama kemudian, dokter itu pun kembali keluar, dan kali ini wajahnya sedikit lebih tenang dibanding semalam.
“Kondisi ibu Keira stabil,” jelasnya pelan. “Tekanan darahnya sudah membaik, tetapi beliau masih dalam pengaruh bius dan belum sadar sepenuhnya.”
“Apa dia sudah tahu tentang suaminya?” tanya Hendra dengan suara yang terdengar berat, namun dokter itu pun lekas menggeleng.
“Belum. Untuk sementara ini, kami sarankan keluarga tidak menyampaikan berita itu dulu sampai kondisi psikisnya lebih stabil.” Kalimat itu membuat Alina menunduk, ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kakaknya nanti.
Keira sangat mencintai Raka, dan semua orang tahu itu. Bahkan cara mereka saling memandang saja sudah cukup menjelaskan bahwa pernikahan mereka dibangun dari cinta yang tulus, dan bagaimana mungkin ia harus mengatakan bahwa pria yang selalu di panggil ‘rumah’ itu tidak akan pernah kembali?
Menjelang siang, jenazah Raka dipindahkan ke rumah duka. Birendra membantu mengurus seluruh proses administrasi dan pemulangan jenazah, ia berbicara dengan petugas rumah sakit, menghubungi keluarga Raka, dan memastikan semua kebutuhan terpenuhi.
Alina memperhatikan itu dari kejauhan. Pria itu bergerak dengan tenang, tetapi ia tahu ketenangan itu dipaksakan. Sesekali Birendra berhenti beberapa detik, menarik napas panjang, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Ketika keluarga Raka datang, suara tangis pecah memenuhi lorong rumah sakit. Ibunya Raka langsung jatuh terduduk seraya memanggil nama putranya berulang kali, dan suara tangis itu membuat tubuh Alina bergetar, hingga memalingkan wajah karena tidak sanggup melihatnya.
Birendra menghampiri ibu Raka dan membantu menenangkannya, pemandangan itu membuat hati Alina semakin nyeri, karena semua orang kehilangan seseorang ini, bukan hanya mereka.
Saat sore tiba, dokter akhirnya mengizinkan satu orang masuk ke ruang intensif selama beberapa menit, dan Hendra mendorong Alina pelan. “Kamu masuk dulu,” begitulah ucapnya. Langkah Alina terasa berat ketika memasuki ruangan itu.
Ruangan intensif benar-benar terlalu putih. Dinding putih, seprai putih, lampu putih, bahkan suara mesin monitor terdengar dingin. Di atas ranjang, Keira terbaring dengan wajah pecat dan perban melingkar di pelipisnya. Selang infus menempel di tangannya, sementara napasnya terdengar pelan dan teratur, kemudian Alina mendekat perlahan.
“Kak…” suaranya langsung pecah. Ia menggenggam tangan kakaknya yang dingin. “Aku disini.” Tidak ada jawaban. Alina duduk di kursi kecil di samping ranjang.
Alina memperhatikan wajah Keira lama sekali, sulit dipercaya bahwa wanita yang beberapa hari lalu masih tertawa memilih rak buku kini terbaring tak berdaya dihadapannya. Air mata jatuh satu per satu ke punggung tangan kakaknya.
“Kak… bangun ya.” Suara monitor tetap berdetak pelan.
Alina menunduk, membiarkan tangisnya keluar tanpa suara. Ia ingin mengatakan banyak hal, tetapi semua kalimat terasa sia-sia, bagaimana mungkin ia meminta Keira kuat sementara dirinya sendiri nyaris hancur? Sebelum keluar ruangan, Alina sempat menyentuh rambut kakaknya dengan lembut.
“Aku janji, aku nggak akan ninggalin kakak.” Janji itu keluar begitu saja, dan ia tidak tahu betapa mahal harga yang harus dibayar untuk menepatinya.
Malam kembali tiba, setelah seluruh urusan rumah duka selesai, Birendra kembali ke rumah sakit membawa pakaian ganti untuk Hendra dan Alina. Mereka duduk bertiga di ruang tunggu yang mulai sepi.
“Raka anak baik,” begitulah kata Hendra dengan suara yang serak. Kalimat pertama yang ia ucapkan sejak semalam. “Ayah belum sempat bilang terima kasih karena dia sudah menjaga Keira.” Alina menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak kembali menangis.
Birendra menunduk diam. Ia teringat sahabatnya itu tertawa beberapa hari lalu seraya berkata ingin cepat punya anak. Kenangan itu datang begitu jelas hingga dadanya terasa nyeri. “Raka pasti tahu, Yah.” Ucap Birendra pelan. Hendra tidak menjawab, air mata kembali jatuh dari sudut matanya.
Di balik pintu ruang intensif, Keira masih tertidur panjang. Ia belum mengetahui bahwa rumah yang akan ia pulangi nanti telah kehilangan satu penghuninya, dan kursi ruang tunggu yang dingin itu, tiga orang duduk dalam diam seraya menunggu pagi berikutnya, tanpa menyadari bahwa kehilangan mereka belum berhenti sampai di situ.