Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Kebenaran yang Terungkap
Keheningan yang mencekam setelah pengakuan Mita akhirnya pecah oleh suara helaan napas berat Baskoro. Pria paruh baya itu perlahan berdiri dari kursinya. Ketegangan terpancar jelas dari rahangnya yang mengeras, sementara sorot matanya yang tajam menatap lurus ke arah Mita, lalu beralih ke arah Sam dan Vanya yang duduk mematung.
Baskoro berkata dengan suara yang rendah namun sarat akan penekanan yang menggetarkan seisi ruangan, "Mita... Ayah tidak pernah mendidikmu untuk menjadi seorang pengecut, dan Ayah juga tidak pernah mengajarimu untuk merendahkan harga dirimu seperti ini di depan orang lain."
Mita tersentak, ia mendongak dengan air mata yang kian deras mengalir, bersiap menerima amarah atau pengusiran yang mungkin saja terjadi. Namun, kalimat Baskoro selanjutnya justru membuat seluruh orang di meja makan itu tertegun.
"Ayah tahu siapa kamu. Ayah tahu bagaimana didikan orang tua kandungmu," lanjut Baskoro, matanya kini beralih dan menatap tajam ke arah Sam. Tatapan itu begitu dingin hingga membuat Sam refleks menundukkan kepala sedalam-dalamnya. "Dan Ayah bukanlah orang bodoh yang bisa ditipu mentah-mentah oleh cerita karanganmu demi melindungi seseorang."
Baskoro menggebrak meja makan dengan pelan namun tegas, membuat Vanya di sebelah Sam terlonjak kaget.
"Jika kamu berpikir dengan mengorbankan nama baikmu dan menanggung noda ini sendirian akan membuat semuanya selesai, kamu salah besar, Mita," ucap Baskoro, suaranya naik satu oktav. "Ayah tidak peduli dengan sandiwara kamar terpisah yang kalian lakukan. Tapi Ayah tahu persis anak laki-laki Ayah! Sam, angkat kepalamu!"
Sam perlahan mengangkat wajahnya yang kini sudah sepucat kertas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dada.
"Katakan dengan jujur di hadapan Ayah dan Ibumu sekarang," tuntut Baskoro dengan mata yang berkilat murka. "Janin yang dikandung Mita... apakah itu benar-benar bukan darah dagingmu? Ingat, Sam, sekali saja kamu berbohong, Ayah tidak akan pernah menganggapmu sebagai anak di rumah ini lagi!"
Suasana di ruang makan itu seketika menjadi semakin kritis. Diana hanya bisa menutup mulutnya terisak, sementara Vanya mulai memandang Sam dengan tatapan panik dan penuh tuntutan agar pria itu tetap menyangkalnya. Di tengah kepungan tatapan itu, Sam merasa dunianya benar-benar runtuh berantakan.
Sam menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya di bawah tatapan mengintimidasi sang ayah. Dengan suara yang diusahakan se-stabil mungkin, ia akhirnya angkat bicara.
"Papa... apa yang dikatakan Mita itu benar," ujar Sam, mencoba meyakinkan Baskoro. "Aku bersumpah demi nama baik keluarga kita, aku memang tidak pernah menyentuh Mita sejak malam pertama hingga hari kami berpisah. Pernikahan kami murni sebatas status di atas kertas."
Mendengar penegasan dari Sam, Mita tidak membiarkan keraguan sekecil apa pun tersisa di benak kedua orang tua angkatnya. Dengan gerakan tenang namun pasti, ia membuka tas yang sejak tadi dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna merah muda—buku khusus pemeriksaan dan pegangan untuk ibu hamil yang ia dapatkan dari bidan.
Mita meletakkan buku itu di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Baskoro.
"Papa, Mama, ini adalah buku pemeriksaan kandungan Mita dari bidan," ucap Mita dengan nada yang teramat jujur. "Di sana tertera dengan sangat jelas tanggal pemeriksaan beserta usia kandungan Mita saat ini. Jika Papa dan Mama menghitungnya kembali, usia kandungan ini jauh lebih tua daripada usia pernikahan Mita dan Mas Sam. Secara medis... janin ini memang sudah ada sebelum pernikahan kami terjadi."
Baskoro terdiam. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia meraih buku tersebut dan membacanya dengan saksama bersama Diana yang ikut mendekat. Garis-garis ketegangan di wajah Baskoro perlahan mengendur saat melihat fakta otentik yang tertulis di sana. Tanggal medis itu tidak bisa berbohong; usia kandungan Mita memang terbukti melampaui tanggal akad nikah mereka.
Melihat rentetan bukti nyata itu, Baskoro akhirnya mengembuskan napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Kemurkaan di matanya perlahan surut, digantikan oleh sorot kekecewaan yang mendalam atas jalan hidup yang dipilih putri angkat kesayangannya, namun ia kini berekspresi seolah sepenuhnya percaya bahwa janin itu bukan anak Sam. Namun tidak dengan hatinya.
Detik itu juga, Sam merasakan sebuah kelegaan yang teramat sangat melingkupi dadanya. Seolah-olah sebuah batu besar yang selama ini menyumbat napasnya telah diangkat pergi. Di sebelahnya, Vanya pun diam-diam mengembuskan napas lega yang panjang, menyadari bahwa posisi Sam kini sepenuhnya aman dari tanggung jawab atas janin tersebut.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)