NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Hari keempat masa "kurungan" Cia di rumah transit perwira.

Bagi sebagian orang, dilayani bak ratu oleh seorang Mayor Angkatan Darat mungkin adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Ren bangun lebih pagi dari matahari, memasak sarapan bergizi (dengan bumbu yang entah bagaimana selalu terasa pas), menyapu rumah, hingga memastikan jadwal minum obat dan oles salep Cia tidak terlewat satu menit pun.

Namun bagi Cia—seorang dokter muda dengan jam terbang tinggi yang terbiasa berlarian menyusuri lorong IGD dengan adrenalin meletup-letup—berbaring di sofa seharian sambil menonton siaran berita adalah sebuah siksaan mental.

Pagi itu, Cia berdiri di depan cermin kamar mandi, memutar tubuhnya untuk melihat pantulan punggung kirinya. Warna memar yang semula ungu pekat kini telah memudar menjadi kuning kehijauan. Rasa ngilunya nyaris hilang, hanya menyisakan sedikit pegal jika ia mengangkat benda berat.

Aku udah sembuh. Fix. Nggak ada alasan lagi buat rebahan, batin Cia mantap.

Gadis itu keluar dari kamar, sudah rapi mengenakan kemeja katun biru muda dan celana bahan yang nyaman. Ia menenteng jas putih kebesarannya di lengan kanan.

Di ruang tamu, Ren sedang duduk di depan laptop miliknya, mengenakan kaus oblong hitam ketat dan celana loreng PDL. Pria itu tampak sedang membaca laporan intelijen harian, kacamata anti-radiasi bertengger di pangkal hidungnya—sebuah pemandangan langka yang sukses membuat langkah Cia terhenti sejenak untuk mengagumi ketampanan suaminya.

Menyadari kehadiran Cia, Ren mengalihkan pandangannya dari layar. Matanya langsung memindai penampilan istrinya dari atas ke bawah, lalu berhenti pada jas putih yang dibawa gadis itu. Alis tebal sang Mayor bertaut.

"Mau ke mana, Almeera?" tanya Ren, suaranya datar dan rendah. Pria itu menutup laptopnya dengan gerakan pelan yang justru terasa mengintimidasi.

"Ke Puskesmas, Mas," jawab Cia, memamerkan senyum paling manis yang ia miliki sebagai senjata pertahanan pertama. "Punggungku udah nggak sakit sama sekali. Suer deh. Kasihan dr. Rian sama perawat lain pasti keteteran ngurus pasien pascabanjir. Aku cuma bantu-bantu sedikit kok."

Ren menyilangkan tangan di depan dada, menyandarkan punggung tegapnya ke sofa. "Dokter Samuel bilang masa pemulihan memarmu butuh waktu hingga lima hari sebelum kamu diizinkan beraktivitas normal. Ini baru hari keempat."

"Mas, beda sehari doang," rengek Cia, melangkah mendekat dan duduk di lengan sofa, tepat di sebelah Ren. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap suaminya dengan tatapan memelas andalannya. "Lagian, kalau aku kelamaan rebahan, ototku malah kaku. Kalau kamu takut aku kenapa-napa, janji deh, aku nggak akan angkat-angkat pasien. Aku cuma duduk periksa di ruang poli."

Mata elang Ren menatap Cia tanpa berkedip selama beberapa detik. Pria itu sedang menimbang-nimbang. Ia tahu betul keras kepalanya sang istri. Jika dilarang, Cia mungkin akan nekat kabur saat ia lengah. Di sisi lain, menahan seorang dokter yang ingin menolong pasien sama saja dengan menentang sumpah profesi gadis itu.

Terdengar embusan napas pasrah dari hidung mancung Ren. Pria itu melepas kacamata anti-radiasinya dan meletakkannya di atas meja.

"Baik," putus Ren akhirnya.

Cia bersorak pelan, nyaris melompat kegirangan. "Yes! Makasih, Mayor Ren—"

"Dengan dua syarat," potong Ren cepat, mengangkat dua jari di udara. "Satu, kamu hanya boleh mengerjakan tugas administratif dan konsultasi ringan. Tidak ada tindakan medis yang menuntut kontak fisik berat atau menjahit luka."

Cia mengangguk cepat, menyetujui. "Siap. Syarat kedua?"

Ren berdiri, mengambil kemeja loreng PDL-nya yang tersampir di sandaran kursi makan, lalu memakainya. Gerakannya begitu efisien dan penuh wibawa.

"Syarat kedua," Ren menatap Cia sambil mengancingkan seragamnya. "Saya yang akan mengantarmu, dan saya akan berkantor di Puskesmas hari ini untuk memastikan kamu mematuhi syarat pertama."

Mulut Cia sedikit terbuka. "Kamu... mau ngantor di Puskesmas? Di kelilingi ibu-ibu hamil dan balita yang mau imunisasi?"

"Posko komando satgas saya bersifat mobile. Saya bisa bekerja dari mana saja," jawab Ren enteng, mengambil baret hijaunya dan memakainya dengan sudut kemiringan yang sempurna. "Ayo berangkat, Dokter."

Kedatangan Cia di Puskesmas DTP Merauke pagi itu disambut dengan sorak-sorai lega dari para staf dan perawat. Dr. Rian bahkan nyaris memeluk Cia jika saja ia tidak segera menyadari eksistensi sosok tinggi besar berseragam loreng yang berjalan masuk tepat di belakang gadis itu.

Langkah Rian terhenti mendadak. Senyumnya berubah menjadi cengiran kaku.

"P-pagi, Mayor," sapa dr. Rian, menunduk hormat.

"Pagi, Dokter. Lanjutkan tugas Anda. Anggap saja saya tidak ada," balas Ren datar.

Namun, menganggap Ren 'tidak ada' adalah hal yang mustahil. Sang Mayor menarik sebuah kursi plastik kosong, meletakkannya di sudut ruang poli umum yang paling strategis—di mana ia bisa mengawasi Cia dengan jelas namun tidak menghalangi jalan pasien—lalu membuka laptopnya di atas paha.

Kehadiran seorang Mayor Angkatan Darat dengan wajah datar bak algojo di sudut ruangan, nyatanya membawa dampak tak terduga bagi dinamika Puskesmas.

Biasanya, ruang poli selalu bising. Pasien sering kali berebut antrean, ibu-ibu berdebat soal nomor urut, atau anak-anak yang berlarian merengek. Namun hari ini, suasana ruang tunggu mendadak sangat tertib. Para pasien mengantre dengan tenang, sesekali mencuri pandang ke arah pria berseragam yang mengetik di laptopnya dengan aura dingin yang membekukan udara tropis Merauke.

Cia menahan senyumnya sepanjang pagi. Ia memeriksa pasiennya satu per satu di meja periksa. Setiap kali ia hendak berdiri untuk mengambil sesuatu di lemari obat yang letaknya agak tinggi, Ren sudah mengangkat wajahnya, menatap Cia dengan sorot peringatan.

Alhasil, dr. Rian atau perawat lokal yang akan buru-buru mengambilkannya untuk Cia sebelum sang Mayor bertindak.

Menjelang jam istirahat siang, seorang bapak paruh baya masuk ke ruang poli dengan dipapah oleh putranya. Kaki kirinya dibalut kain kotor yang merembeskan darah segar.

"Tolong, Dokter. Bapak saya kakinya tertusuk paku karat panjang waktu lagi bersihin sisa kayu banjir di belakang rumah. Lukanya dalam," lapor sang putra panik.

Insting Cia langsung bereaksi. Ia bangkit dari kursinya. "Bawa ke brankar periksa, Mas. Saya harus bersihkan lukanya dan cabut pakunya segera sebelum tetanus."

Namun, Cia lupa dengan luka di punggungnya. Saat ia berusaha memapah sisi lain dari bapak tersebut untuk naik ke atas brankar yang lumayan tinggi, punggung kirinya tertarik keras.

"Awh," rintih Cia tertahan, wajahnya sedikit memucat.

Belum sempat Cia melepaskan pegangannya, sebuah lengan kekar sudah menyusup dari arah belakang, mengambil alih beban tubuh pasien itu sepenuhnya.

Ren tidak mengatakan apa-apa. Dengan kekuatan fisik yang seolah tak tertandingi, pria itu memapah bapak tersebut dengan mudah dan mendudukkannya perlahan di atas brankar periksa.

"M-makasih, Mas Tentara," ucap bapak itu dengan nada segan.

Ren hanya mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah istrinya. Tatapan elangnya memancarkan perpaduan antara omelan bisu dan kekhawatiran. "Jangan memaksakan diri, Dokter," bisiknya rendah saat ia berdiri berdekatan dengan Cia.

Jantung Cia berdesir. Ia menatap suaminya dengan pandangan penuh rasa terima kasih, lalu mengangguk. "Tolong pegangi kakinya sebentar ya, Mas. Aku butuh posisinya stabil biar cabut pakunya nggak merobek jaringan lain."

Kolaborasi yang tak pernah terbayangkan itu pun terjadi. Ren, seorang komandan yang terbiasa memegang senjata dan memerintah ratusan prajurit, kini berdiri di samping brankar medis. Tangan kasarnya memegangi pergelangan kaki sang pasien dengan sangat stabil, menenangkan pasien tersebut dengan auranya yang kuat, sementara Cia dengan telaten membersihkan luka dan mencabut paku karatan itu menggunakan alat medis.

Dr. Rian yang mengintip dari balik tirai hanya bisa menggelengkan kepala takjub. Pasangan suami istri ini kalau digabungin, beneran bisa bikin batalyon medis sendiri, batinnya ngeri sekaligus kagum.

Sore harinya, matahari mulai meredup, menyisakan semburat jingga di langit barat Papua. Jam operasional poli telah selesai, dan Cia sedang merapikan meja kerjanya.

"Capek?" tanya Ren, mendekat dan menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya.

Cia menerimanya dengan senyum lebar. "Capek dikit, tapi puas banget. Rasanya lega bisa kerja lagi. Makasih ya, Mas, udah repot-repot jadi bodyguard di sudut ruangan seharian ini."

"Asal janjimu ditepati, saya tidak keberatan," jawab Ren santai. Pria itu mengambil jas putih Cia dari sandaran kursi dan membantu memakaikannya ke bahu istrinya, layaknya seorang pelayan setia memakaikan mantel pada ratunya.

Saat mereka berjalan keluar dari Puskesmas menuju kendaraan rantis yang terparkir, seorang prajurit dengan pangkat Prada berlari kecil menghampiri mereka. Itu Prada Sigit.

Napas prajurit muda itu sedikit tersengal. Ia memberikan hormat sempurna. "Lapor, Mayor. Mohon izin."

Ren membalas hormat tersebut. "Ada apa, Sigit?"

"Ada titipan dokumen sangat rahasia dari Markas Komando Distrik Militer (Kodim) setempat. Dokumen ini diteruskan langsung dari Mabes TNI di Jakarta, dengan stempel prioritas tinggi," lapor Prada Sigit, menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal bersegel lilin merah berlambang garuda.

Alis Ren bertaut. Dokumen fisik bersegel lilin sangat jarang dikirimkan ke daerah operasi kecuali memuat instruksi yang tidak bisa diretas melalui jalur komunikasi elektronik.

"Diteruskan pada siapa?" tanya Ren, menerima amplop tersebut.

Prada Sigit melirik sekilas ke arah Cia sebelum menjawab dengan nada hati-hati. "Untuk Anda, Komandan. Namun, di sudut amplop juga tertera tembusan logo Kementerian Kesehatan."

Cia yang berdiri di sebelah Ren seketika menegang. Kementerian Kesehatan? Kenapa dokumen militer untuk suaminya memiliki tembusan dari instansi tempatnya mengabdi?

Ren mengamati amplop itu. Garis rahangnya mengeras. Tanpa banyak bicara, pria itu merobek segel lilin merah tersebut dengan ibu jarinya, menarik keluar selembar surat resmi berlogo garuda emas.

Mata elang sang Mayor bergerak cepat membaca deretan kalimat formal di atas kertas tersebut. Cia menahan napas, menatap perubahan ekspresi di wajah suaminya.

Awalnya, wajah Ren terlihat datar seperti biasa. Namun, saat matanya mencapai paragraf kedua, sorot matanya menajam secara drastis. Tangan kirinya yang bebas mengepal kuat di sisi tubuhnya. Urat-urat di lehernya bermunculan. Udara di sekitar mereka mendadak terasa turun beberapa derajat.

"Mas?" panggil Cia pelan, merasa ketakutan melihat reaksi Ren. "Ada apa? Surat apa itu?"

Ren perlahan menurunkan kertas itu. Tatapannya kosong ke arah jalanan berdebu di depan mereka, rahangnya terkatup begitu rapat hingga gigi-giginya bergemeretak samar.

Dengan gerakan kaku, Ren melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam saku celana lorengnya. Pria itu menoleh, menatap Prada Sigit dengan aura komandan yang mematikan.

"Siapkan jalur komunikasi satelit yang terenkripsi ke Jakarta sekarang juga," perintah Ren, suaranya sangat dingin, membekukan apa pun yang dilaluinya. "Saya harus bicara dengan Panglima."

"S-siap, Mayor!" Prada Sigit segera berlari menuju posko komunikasi.

Cia melangkah maju, memegang lengan suaminya. "Mas Ren, tolong jangan bikin aku panik. Ada apa sama suratnya? Kenapa ada logo Kemenkes?"

Ren menunduk, menatap wajah istrinya. Ada amarah yang membara di balik mata elang itu, namun amarah itu jelas tidak ditujukan pada Cia. Itu adalah amarah seorang pria yang wilayah teritorinya—keluarganya—baru saja diusik oleh tangan kekuasaan.

"Surat itu adalah perintah pemindahan tugas," jawab Ren pelan, namun setiap katanya terasa berat bak batu marmer.

"Pemindahan tugas? Kamu ditarik balik ke pasukan khusus?!" Cia panik, napasnya mulai tak beraturan.

Ren menggeleng pelan. Tangan besarnya terangkat, mengusap rahang Cia dengan sangat protektif.

"Bukan saya, Almeera," bisik Ren, matanya memancarkan badai yang siap meledak. "Ini perintah pembatalan program internsip-mu di Merauke. Kementerian Kesehatan, atas rekomendasi 'khusus' dari petinggi militer, memerintahkanmu untuk segera kembali ke Jakarta besok pagi."

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!