Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 - Suara Anak Kecil
Tangisan anak kecil memenuhi ruang bawah tanah.
Tidak keras.
Justru karena tidak keras, suara itu terasa lebih buruk. Seperti anak yang sudah terlalu lama menangis sampai tidak punya tenaga lagi. Seperti isak yang terjebak di dinding dan diputar ulang bertahun-tahun kemudian.
Ayla berdiri diam.
Arga menatapnya sekilas. “Ayla?”
“Aku baik-baik saja.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Maya, yang berdiri di belakang mereka, tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melihat layar tempat wajah Surya tersenyum seolah sedang menonton eksperimen berhasil.
“Kau dengar?” tanya Surya. “Memori tubuh lebih jujur daripada memori kepala.”
Ayla menatap kamera. “Kalau tujuanmu membuatku sentimental, pilih suara yang lebih bagus.”
Surya tertawa pelan. “Masih keras kepala. Pak Lukman membentukmu dengan baik.”
Arga mengangkat senjata ke arah speaker. “Matikan audionya.”
“Kalau ditembak, sistem mengunci.”
“Kamu pikir saya percaya?”
“Tidak. Tapi kau akan mempertimbangkan karena Ayla ada di ruangan itu.”
Arga tidak menembak.
Itu sudah cukup sebagai jawaban.
Ayla berjalan ke panel kontrol di sisi kiri. Ada layar kecil dengan beberapa pilihan arsip. Teksnya sebagian rusak, tetapi satu folder menyala:
MB-07 RESPONSE TEST.
Tangisan anak kecil berubah menjadi suara pintu besi ditutup. Lalu suara pria dewasa.
“Subjek tidak menunjukkan respons nyeri sesuai prediksi.”
Suara lain menjawab, “Ulangi stimulus.”
Maya mengumpat pelan.
Ayla menekan tombol stop.
Tidak berhenti.
Surya tersenyum di layar. “Rekaman itu tidak bisa dihentikan dari dalam.”
Arga bergerak ke panel lain. “Lestari, kau dengar?”
Radio hanya mengeluarkan statis.
Sinyal mati.
Bima dan tim utama terpisah dari mereka.
Ayla melihat ventilasi, kamera, celah pintu, panel listrik. Ruangan ini bukan hanya ruang arsip. Ini kandang psikologis.
Surya tidak ingin membunuhnya malam ini.
Dia ingin melihat apa yang tersisa di dalam kepala Ayla.
“Apa yang kau mau?” tanya Ayla lagi.
“Kau.”
Arga langsung menegang.
Surya tersenyum semakin lebar. “Tenang, Pak Arga. Bukan dalam arti puitis. Aku membutuhkan data responsmu. Empat belas tahun berlalu. Aku ingin tahu apakah modifikasi awal bertahan.”
Ayla tertawa pendek. “Kamu bicara seperti orang yang sangat ingin kehilangan gigi.”
“Kau boleh marah. Marah juga data.”
Ayla melangkah mendekati layar.
Arga menahan lengannya. “Jangan terpancing.”
“Aku tidak terpancing.”
“Wajahmu bilang sebaliknya.”
Ayla menoleh, hampir tersenyum meski matanya dingin. “Kamu mulai membaca wajahku?”
“Sedikit.”
“Berbahaya.”
“Saya tahu.”
Maya tiba-tiba berkata, “Surya, kau salah hitung.”
Surya menatapnya melalui kamera. “Rubah Perak. Kau masih suka masuk ruangan yang bukan urusanmu.”
“Kalau menyangkut uangku dan anak kami, semua jadi urusanku.”
Ayla mengerutkan dahi. “Anak kami?”
Maya mengangkat bahu. “Istilah emosional. Jangan baper.”
Surya tertawa. “Kau pikir Besi Kelabu keluarga? Organisasi itu membuat anak-anak jadi senjata dan menyebutnya penyelamatan.”
Ayla diam.
Kalimat itu mengenai bagian yang tidak bisa langsung dia bantah.
Di Pulau Seraya, anak-anak yang datang memang diselamatkan dari tempat lebih buruk. Tetapi setelah itu mereka dilatih, ditempa, dipaksa bertahan. Tidak semua keluar hidup utuh.
Arga melihat perubahan kecil di wajah Ayla.
Surya juga.
“Ah,” kata Surya lembut. “Masih ada retak.”
Ayla mengambil kursi logam kecil dan melemparkannya ke layar.
Layar pecah.
Lampu merah berkedip semakin cepat.
Maya mendesah. “Itu pilihan.”
Arga langsung menarik Ayla ke belakang saat panel dinding terbuka. Dari dalam, keluar gas putih tipis.
“Masker!” kata Arga.
Mereka bertiga memakai masker. Gas itu bukan racun keras, lebih mirip iritan. Namun tangisan anak kecil masih terdengar dari speaker cadangan.
Ayla menutup mata sebentar.
Dalam gelap di balik kelopak matanya, ada kilatan gambar: lantai dingin, tangan kecil, bau antiseptik, seseorang memanggil angka. Bukan nama. Angka.
Tujuh.
Dia membuka mata.
Arga sedang memegang bahunya. “Tetap di sini.”
“Aku di sini.”
“Lihat saya.”
Ayla menatapnya.
“Nama kamu Ayla Prameswari,” kata Arga pelan. “Kamu di Institut Biomedis Nusantara. Saya Arga. Maya di belakangmu. Itu rekaman, bukan sekarang.”
Maya tidak menggoda.
Ayla menatap Arga beberapa detik.
Lalu berkata, “Aku tahu.”
Suaranya lebih serak daripada yang dia suka.
Arga mengangguk. “Bagus.”
Maya berjalan ke panel yang tadi diabaikan. “Aku menemukan jalur manual. Butuh dua orang.”
“Apa risikonya?” tanya Arga.
“Kalau salah, pintu tetap tertutup dan gas bertambah.”
Ayla bergerak ke sisi lain panel. “Apa langkahnya?”
Maya menunjuk dua tuas di sisi berbeda. “Tarik bersamaan setelah lampu ketiga.”
Arga berkata, “Saya yang satu.”
Ayla menggeleng. “Kamu pegang pintu. Kalau terbuka sedikit, paksa.”
“Ayla—”
“Aku bisa hitung lampu.”
Maya tersenyum tipis. “Dia memang lulus TK.”
Lampu pertama berkedip.
Kedua.
Ketiga.
Ayla dan Maya menarik tuas bersamaan. Pintu besi bergetar, terbuka beberapa senti. Arga langsung memasukkan batang logam dari rak peralatan, menahan celah, lalu mendorong dengan seluruh tenaga.
Pintu terbuka cukup lebar.
Udara lorong masuk.
Di luar, Bima sudah berlari ke arah mereka bersama dua anggota tim.
“Pak! Kalian hilang dari radio!”
Arga keluar terakhir, memastikan Ayla dan Maya lewat lebih dulu.
Bima melihat mata Ayla sedikit merah karena gas. “Kamu baik?”
Ayla menjawab, “Kalau ada yang bertanya lagi, aku tagih biaya konsultasi.”
Bima lega karena dia masih menyebalkan.
Namun Arga tidak tertawa.
Di dinding luar ruangan, ada tulisan lama yang baru terlihat setelah lampu darurat menyala.
MB SERIES: RETENTION BEYOND TRAUMA.
Ayla menatap tulisan itu.
Surya tidak mengembalikan ingatan.
Dia membuktikan bahwa sesuatu pernah ditanam agar ingatan itu tetap hidup di tubuhnya, meski kepalanya lupa.
Dan itu jauh lebih buruk.
Bima akhirnya menemukan panel ventilasi utama di luar ruangan. Setelah dibuka paksa, sisa gas keluar lebih cepat. Tim medis memeriksa mereka satu per satu. Maya menolak diperiksa terlalu lama, Ayla lebih buruk lagi.
“Matamu merah,” kata petugas medis.
“Kurang tidur.”
“Tekanan darahmu tinggi.”
“Bertemu orang menyebalkan.”
Petugas itu menatap Arga, meminta bantuan.
Arga berkata, “Periksa minimal.”
Ayla menatapnya. “Kamu memberi instruksi atas tubuhku?”
“Tidak. Saya mencegah kamu pingsan lalu menyalahkan lantai.”
Maya tertawa kecil. “Lantai memang sering bersalah.”
Akhirnya Ayla membiarkan petugas memeriksa mata dan napasnya. Tidak ada keracunan serius. Hanya iritasi dan kelelahan. Kata kelelahan membuat Ayla ingin pergi lebih cepat.
Di sudut ruangan, Lestari memotret tulisan `MB SERIES`. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena takut, melainkan marah.
“Ini bukan riset,” katanya. “Ini penyiksaan yang diberi tabel.”
Tidak ada yang membantah.
Ayla menatap alat-alat tua di balik kaca. Beberapa bentuknya tidak dia kenal, tetapi tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada kepalanya. Bahunya kaku. Telapak tangannya dingin. Ada bagian dalam dirinya yang mengenal tempat semacam ini.
Arga berdiri di sampingnya tanpa menyentuh.
“Keluar dulu,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu tetap menatap ruangan itu, Surya masih menang.”
Ayla menoleh.
Kalimat itu tepat sasaran dan menyebalkan.
Dia berjalan keluar lebih dulu.
Di tangga, suara tangisan anak kecil tidak terdengar lagi. Namun di kepala Ayla, gema angka tujuh masih tersisa, pelan, keras kepala, menolak mati.
Di luar gedung, udara subuh terasa kasar di paru-paru. Ayla berdiri di samping van, menolak selimut darurat yang ditawarkan petugas.
Maya mengambil selimut itu dan langsung menyampirkannya ke bahu Ayla.
Ayla menoleh tajam. “Maya.”
“Ini bukan belas kasihan. Ini perlindungan aset emosional.”
“Kalimatmu menjijikkan.”
“Yang penting hangat.”
Ayla ingin melepasnya, tetapi Arga sedang menatap. Jika dia melepas, pria itu pasti ikut bicara. Jadi dia membiarkan selimut itu selama tiga menit penuh.
Tiga menit lebih lama dari yang akan dia akui.
Bima melihat dari jauh dan berbisik pada Lestari, “Dia bisa dipaksa pakai selimut?”
Lestari menjawab, “Catat. Ini data langka.”
Ayla menoleh.
Mereka langsung pura-pura sibuk.
Arga mendekat dan berdiri di sampingnya, tidak terlalu dekat.
“Kita pulang setelah tim selesai.”
“Kamu takut aku kabur?”
“Ya.”
Jawaban jujur itu membuat Ayla menoleh.
Arga tidak tersenyum. “Tapi lebih dari itu, saya takut kamu mengira harus kabur.”
Ayla menarik selimut lebih rapat sedikit, sangat sedikit.
“Jangan terlalu peka, Pak Arga.”
“Saya usahakan gagal.”