Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sementara itu, Seina duduk tenang di bangku kecil sambil mendengarkan para pelayan mengobrol.
Dari percakapan mereka, ia memperoleh banyak informasi tentang keadaan Kota maupun berbagai gosip di dalam Kediaman Keluarga Sia.
Meski mereka hanya berbisik pelan, tak satu pun percakapan itu luput dari pendengarannya.
Salah seorang pelayan sedang membicarakan seorang pelayan bernama Heila.
Konon Heila dulunya adalah pelayan pribadi Selir Lina. Karena melakukan kesalahan, ia dihukum dan dipindahkan ke halaman cuci pakaian untuk melakukan pekerjaan kasar.
Padahal sebelumnya ia terkenal angkuh dan sering meremehkan pelayan lain. Tak seorang pun tahu kesalahan apa yang sebenarnya telah ia lakukan.
Namun dibanding melayani para majikan setiap hari dengan penuh tekanan, sebagian besar pelayan justru merasa pekerjaan di halaman cuci jauh lebih tenang.
Tak lama kemudian, seorang gadis muda berjalan menghampiri Seina. Ia berjongkok di depan gadis kecil itu lalu membuka sapu tangan yang dibawanya.
Di dalamnya terdapat sepotong kue bunga persik.
"Adik kecil, ini untukmu."
Seina mengangkat wajahnya dan langsung mengenali gadis itu, ia adalah Heila
Dari kejauhan, Mira diam-diam memperhatikan.
Begitu melihat Heila hendak memberikan makanan kepada Seina, jantungnya langsung berdebar. Namun sebelum ia sempat menghampiri, Seina sudah lebih dulu tersenyum sopan.
"Terima kasih, Kak. Tapi Ibu selalu mengajarkan kalau aku tidak boleh menerima makanan dari orang yang belum kukenal."
Mendengar jawaban itu, Mira akhirnya mengembuskan napas lega.
Heila tetap tersenyum dan menjawab, "Aku bukan orang asing. Ibumu sangat baik kepadaku, jadi aku juga menyukaimu."
Sambil berkata demikian, ia kembali menyodorkan kue itu namun Seina langsung menggeleng pelan.
"Maaf, Kak. Aku juga tidak bisa makan kue bunga persik."
"Dokter bilang kalau aku memakannya, kulitku akan langsung dipenuhi ruam."
Heila tampak ragu. Ia masih ingin membujuk Seina namun tepat saat itulah Mira datang menghampiri.
"Anakku sudah bilang dia tidak bisa memakannya. Kenapa masih dipaksa?"
Nada suaranya terdengar dingin dan membuat Heila buru-buru menjelaskan.
"Kak Mira, jangan salah paham. Aku hanya ingin berbagi makanan yang diberikan majikanku."
Mira mendengus pelan.
"Kalau begitu, nikmatilah sendiri pemberian majikanmu. Anakku tidak membutuhkan berkah itu."
Suasana mulai memanas, untung saja seorang pengawas halaman segera datang.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat kembali bekerja kalau masih ingin menerima upah!"
Heila menggigit bibirnya, ia melirik Seina sekali lagi sebelum akhirnya pergi.
Setelah suasana kembali tenang, Mira berjongkok di depan putrinya.
"Nak... kenapa tadi kamu menolak kue itu? Apa benar kamu alergi bunga persik?"
Di dalam hati, Mira bahkan mulai berpikir untuk menebang pohon persik di halaman rumah mereka jika memang Seina benar-benar alergi. Namun Seina menggeleng pelan.
"Ibu..."
"Aku tadi berbohong."
"Aku sebenarnya bisa makan kue bunga persik."
Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada yang mendengar lalu ia berbisik pelan di telinga Mira.
"Aku hanya... tidak menyukai kakak itu."
Mira tertegun, ia tak percaya bahwa naluri seorang anak berusia enam tahun bisa etajam itu.
Melihat mata Seina yang masih polos dan jernih, Mira akhirnya tersenyum sambil mengetuk pelan dahi putrinya.
"Putri Ibu memang pintar."
Belum lama Mira kembali bekerja, seseorang datang menghampiri.
Kali ini yang datang adalah Cilia.
"Kak Mira, berhentilah mencuci dulu. Nyonya Tua memanggilmu ke halaman belakang."
Mira tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa mengangkat kepala.
Melihat itu, Cilia langsung mengambil pakaian yang sedang dicuci Mira lalu meletakkannya kembali ke dalam baskom.
Ia tersenyum meminta maaf.
"Kak Mira, jangan marah lagi. Yumi masih muda dan belum mengerti. Aku sudah memarahinya."
Pandangannya kemudian beralih kepada Seina.
"Jadi ini putri Kak Mira? Cantik sekali."
"Kalau Kakak khawatir meninggalkannya di sini sendirian, bawa saja dia ke halaman belakang."
"Aku yang akan menjaganya. Kakak tidak perlu khawatir."
Mira akhirnya menghentikan pekerjaannya, ia tahu dirinya tidak mungkin menolak.
Enam anak menunggu untuk diberi makan di rumah, kalau sampai kehilangan pekerjaan ini, kehidupan keluarga mereka akan semakin sulit.
Ia mengusap kedua tangannya yang basah pada celemek, lalu menggenggam tangan Seina.
"Baik."
"Ayo kita pergi."
cerita nya juga seru