Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Zian tertegun. Kalimat terakhir Evan tidak terdengar seperti gertakan seorang remaja, melainkan sebuah janji mati dari seorang adik yang siap melakukan apa saja demi melindungi kakaknya.
"Saya pegang ucapan saya, Evan," balas Zian dengan nada yang sama kuatnya.
Evan tidak menjawab lagi. Dia mengangguk samar, lalu berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, kamarnya.
Sementara itu, Zian masih berdiri disana. Bayangan air mata Amira yang luruh di mall tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ada rasa bersalah yang amat sangat, bercampur dengan letupan amarah yang siap meledak kepada Armeta.
Zian merogoh ponsel dari saku jasnya. Dia menekan sebuah nomor dengan gerakan cepat dan dingin.
"Kevin ," ucap Zian begitu panggilan tersambung, suaranya beralih menjadi sedingin es.
“Cari tahu di mana Armeta sekarang. Dan pastikan semua aksesnya ke publikasi atau media apa pun diputus. Jika dia mencoba mendekati Amira lagi, hancurkan bisnis ayahnya tanpa sisa."
Tanpa menunggu jawaban dari asisten pribadinya, Zian langsung mematikan sambungan telepon.Dia melangkah perlahan menuju lantai dua. Langkahnya berhenti tepat di depan kamar Amira.
Zian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol gemuruh di dadanya sebelum mengetuk pintu dengan ketukan yang sangat pelan dan hati-hati.
"Amira..." panggil Zian, suaranya melunak, jauh dari kesan tegas yang biasa dia tunjukkan pada dunia luar. "Ini saya. Tolong buka pintunya."
Tidak ada sahutan dari dalam. Zian memejamkan mata sejenak.
"Saya minta maaf," bisik Zian, berharap suaranya bisa menembus dinding tebal itu. "Saya tidak akan membiarkan kejadian hari ini terulang lagi."
Di dalam kamar, Amira yang sedang memeluk lututnya di atas tempat tidur hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan tangis agar tidak semakin pecah. Dia mendengar setiap kata yang diucapkan Zian. Namun, di tengah rasa syok dan fakta bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah bentuk Tanggung jawabn Amira merasa hatinya justru semakin bimbang.
Klik
Suara kunci yang berputar membuat Zian langsung menegakkan tubuhnya. Pintu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Amira.
Zian sempat bersiap melihat mata yang sembap atau wajah yang layu, namun dia justru dibuat terpaku oleh penampilan istrinya.
Amira berdiri di sana dengan senyuman kecil yang tampak begitu dipaksakan. Dia sudah membasuh wajahnya. Tidak ada sisa air mata yang basah, hanya ada sedikit sembap di sudut mata yang berusaha dia tutupi dengan binar mata yang dibuat-buat ceria.
"Mas Zian," sapa Amira, suaranya terdengar renyah, seolah-olah ketegangan di mall tadi sama sekali tidak pernah terjadi.
"Maaf ya, tadi saya langsung masuk kamar. Tiba-tiba pusing banget karena AC mobil kekecilan, jadi agak mual."Zian menyipitkan matanya, menatap Amira dengan dahi berkerut.
"Amira, kamu tidak perlu—"
"Saya nggak apa-apa, Mas, beneran!" potong Amira cepat, tawa kecilnya terdengar hambar di telinga Zian.
"Soal perempuan di mall tadi... ? Mas nggak usah kepikiran. Saya paham kok, dari awal kita kan sudah sepakat soal status pernikahan ini. Ini semua karena tanggung jawab dan situasi darurat malam itu."
Amira terus berbicara tanpa jeda, seolah takut jika dia berhenti sedetik saja, pertahanannya akan runtuh. Di dalam hatinya, Amira terus berteriak, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa sesak di dadanya hanyalah ego sesaat. Jangan baper, Amira. Dia menikahimu karena kasihan dan tanggung jawab. Jangan berharap lebih, bisik hatinya, menyangkal mati-matian getaran aneh yang belakangan ini kerap muncul setiap kali Zian bersikap manis padanya.
Zian masih bergeming di tempatnya. Dia melangkah satu kaki lebih maju, memperkecil jarak di antara mereka, membuat Amira refleks menahan napas. Mata tajam Zian mengunci tatapan Amira, mencari celah di balik topeng keceriaan yang sedang wanita itu pakai.
"Kamu serius tidak apa-apa?" tanya Zian lirih, suaranya berat dan sarat akan emosi yang tertahan."Kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun dari saya, Amira."
Amira merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.Namun, Amira dengan cepat menarik napas dalam, memantapkan kembali kebohongannya.
"Saya serius, Mas. Saya baik-baik saja," ujar Amira sambil tersenyum lebar, meski jemarinya di balik pintu meremas ujung bajunya dengan sangat kuat.
"Oh ya, saya mau ke kamar Evan dulu ya. Mau mastiin dia sudah makan atau belum. Permisi, Mas."
Amira menggeser tubuhnya, berjalan melewati Zian dengan langkah yang sengaja dibuat santai, meninggalkan Zian yang masih berdiri terpaku di depan pintu kamar, menatap punggung Amira dengan perasaan campur aduk yang tak menentu.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care