NovelToon NovelToon
Lara Di Tapal Batas

Lara Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:36.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.

Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.

》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?

》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

...~•Happy Reading•~...

Apa yang dikatakan Rafael penuh rasa khawatir diterima berbeda oleh Laras. "Mengajakmu bicara?Kau sudah tahu yang akan aku kerjakan di sini?" Laras berhenti minum dan menatap Rafael tanpa berkedip. Dia lupa pertanyaan Rafael tentang tugasnya di kantor cabang.

Sontak Rafael menjentikan jarinya di depan wajah Laras. "Pikiranmu sedang jalan-jalan ke mana? Kau tidak simak yang aku bilang tadi?" Rafael balik bertanya dengan wajah serius.

Namun bagi Laras, sikap Rafael seakan lebih tahu dari dia. Hal itu mengusik dan menyinggungnya. "Tubuh dan pikiranku ada di sini. Kau minta diajak bicara soal kerjaan kan?"

"Simak dari awal. Bukan hanya di akhir. Simak seluruh kalimatnya. Apa yang menyebabkan aku utarakan tawaran itu." Ucapan tegas Rafael membuat Laras tegang.

"Aku ulang... Kalau kau anggap isi kepalaku berguna, ajak aku bicara. Kalau tidak, ya, tidak perlu ajak bicara. Sederhana itu." ucap Rafael sambil menggerakan tangannya.

"Kau mau mengajari aku cara bekerja di sini?" Laras yang mulai emosi, tidak cepat tanggap maksud Rafael. Bahkan akalnya seakan tertidur.

"Laras. Kau tidak mengerti yang aku bilang? Hanya berupa saran. Siapa yang mau mengajarimu bekerja? Apa pantas mantan OB, mengajari seorang pejabat teras di perusahaan bonafide?"

"Mengapa kau bawa bawa perbedaan jabatan kita?" Nada suara Laras meningkat disertai dengan wajah memerah.

Rafael mengangkat tangan. "Ok. Kalau bukan karna jabatan, wawasan ilmu. Disiplin ilmu kita berbeda, mungkin juga tidak bersinggungan." Rafael segera meralat.

"Tadi aku hanya menyarankan dari pengalaman yang kuperoleh bersama Ayahku di kampung dan ikut bekerja dengan Papamu."

"Kau tidak perlu tersinggung karna saranku. Jabatanmu sudah membuktikan kalau kau menguasai pekerjaanmu. Jadi orang sepertiku tidak perlu mengajarimu."

"Kau yang tersinggung, karna pertanyaanku tadi. Mengapa diperpanjang ke segala macam ilmu dan pengalaman?" Laras tidak bisa terima yang dikatakan Rafael, seakan dia tidak mengerti.

"Laras.... Setiap kata dan kalimat yang aku bilang tadi, lahir dari dasar hati yang merasa bertanggung jawab pada keselamatanmu, sebagai istri." Rafael menurunkan nada suara.

"Kalau itu tidak berarti bagimu, kau bisa buang seperti ini..." Rafael membuang tissu bekas membersihkan tangannya ke dalam tempat sampah. "Simple." Ucap Rafael sambil menggerakan tangan ke tempat sampah.

"Rafa, kau marah padaku?" Laras terkejut melihat wajah Rafael yang langsung keras.

"Marah padamu? Apa kau merasa lakukan sesuatu yang salah?"

"Tidak." Jawab Laras sambil menggeleng.

"Lalu mengapa kau mengira aku marah?" Laras tercengang.

"Kalau aku marah pada orang yang tidak bersalah, isi kepalaku hanya berisi sekam mentah." Rafael berusaha keras mengendalikan perasaannya yang mulai panas.

"Silahkan berdiri dan masuk istirahat." Rafael mengalihkan, agar pembicaraan mereka tidak jadi pertengkaran. "Silahkan. Aku mau bersihkan ini." Rafael menunjuk perangkat makan dan sisa makanan sambil tetap duduk. Dia berusaha bicara normal, walau hatinya mulai mengepul.

Laras merasa diusir. Dia melihat Rafael dengan emosi lalu segera berdiri. Hingga kursinya tergeser ke belakang. 'Mengapa dia emosi? Aku tahu yang akan dilakukan. Gak perlu diajari.' Laras membatin sambil masuk ke kamar.

Setelah Laras meninggalkan ruang makan, Rafael mengusap wajahnya dengan kedua tangan. 'Dia mengira bekerja dengan berbagai macam orang hanya cukup gunakan disiplin ilmu yang diperoleh dibangku kuliah.' Rafael duduk diam lama sambil berpikir tentang yang terjadi. Dia makin khawatir dengan cara berpikir Laras yang pendek.

'Mungkin harus lewati jalan seperti ini, supaya bisa saling memahami.' Rafael menghibur diri agar yang terjadi tidak menjadi duri dalam pernikahan mereka.

Rafael mengangkat perangkat makan kotor ke dapur untuk dicuci. Dia lakukan perlahan di dapur untuk mendinginkan hati dan perasaannya.

'Rafa, kalau memang kau sudah putuskan mau menikah, jalani dengan sukacita. Supaya tidak menambah beban di hati.' Rafael ingat pesan Ibunya saat dia minta izin mau menikahi Laras. Rafael menghembuskan nafas panjang dan kuat sambil mengeringkan tangan.

'Menikah kilat karna saling cinta, bisa terombang-ambing di laut pernikahan. Apa lagi menikah kilat karna mengira sudah mencintai, bisa karam sebelum berlayar.' Rafael membatin.

Kemudian dia berjalan masuk ke kamar. Melihat Laras sudah tidur, dia menuju kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.

Ketika naik ke tempat tidur, tidak seperti sebelumnya. Dia duduk perlahan, berdoa, dan tanpa mengangkat selimut dia membaringkan tubuh di samping Laras.

Laras yang berbaring seperti sudah tertidur, jadi terkejut melihat Rafael tidur membelakanginya. Dia sengaja melakukan gerakan untuk memancing reaksi Rafael.

Namun Rafael bersikap seperti sudah tidur, tidak bergerak. Posisi tidurnya seperti pohon tumbang. Hal itu mengesalkan hati Laras yang tidak bisa tidur.

~••

Ke esokan hari ; Rafael bangun pagi seperti biasa, tanpa membangunkan Laras yang masih tidur nyenyak.

Rafael keluar untuk menghirup udara segar sambil menggerakan badannya yang pegal. "Selamat pagi, Pak. Penghuni baru di sini?" Seorang Ibu yang berdiri di luar pagar menyapa Rafael.

"Iya, Bu. Baru kemarin." Rafael menjawab ramah.

"Siapa, Ma?" Seorang wanita muda dengan wajah berkeringat mendekat. "Tetangga baru kita."

"Pindah ke sini sendiri?" Ibu itu lanjut bertanya.

"Tidak, Bu. Bersama istri." Jawab Rafael cepat, agar tidak membuat masalah dipagi hari.

"Apa sih, Ma. Ayo masuk, lapar." Wanita muda itu menarik tangan Mamanya setelah menunduk minta maaf kepada Rafael, karena sudah mengganggu.

"Kau kenapa sih... Mama cuma mau kenalan sama tetangga."

"Iya, kalau orangnya sudah keluar pagar..."

Rafael jadi tersenyum mendengar percakapan sayup-sayup tetangganya. Dia kembali masuk ke dalam rumah.

Laras terbangun dan terkejut melihat Rafael sudah tidak ada di sampingnya. Dia mengambil ponsel untuk melihat jam. 'Katanya gak marah, tapi bangun, gak bangunin.' Laras membatin sambil menggerakan badan.

"Pagi." Sapa Rafael saat masuk kamar tanpa melihat Laras. Dia mengambil kaos untuk mengganti kaosnya yang basah.

"Kok, gak bangunin?" Laras protes.

"Tadi lagi nyenyak. Mau sarapan apa?" Tanya Rafael setelah mengganti pakaian.

"Apa aja." Jawab Laras sambil turun dari tempat tidur.

"Kalau begitu, pesan sarapan itu dari luar. Di dapur tidak ada sarapan apa aja." Jawab Rafael santai.

"Kau meledekku?" Laras memukul punggung Rafael yang sedang merapikan pakaian di koper. "Rasakan." Ucap Laras saat Rafael mengeliat untuk menghindari.

Rafael tidak menanggapi tindakan laras. Dia keluar kamar untuk memanaskan air dan berusaha melupakan kejadian buruk yang terjadi di antara mereka dengan membuat minuman hangat. Dia berharap minuman hangat bisa kembali menghangatkan hubungan mereka sebagai suami istri.

Ada sesuatu dalam dirinya yang mengingatkan untuk tidak menanggapi yang dilakukan Laras. Dia makin mengerti sifat Laras. Dia berharap, Laras cepat mengerti. Mereka bukan sedang berpacaran, tapi sudah suami istri.

'Suami istri perlu saling mengingatkan untuk hindari daerah berbahaya. Dan suami istri bukan hanya saling mengisi di tempat tidur, tapi juga pikiran dan hati. Sebab tidak ada suami atau istri yang sempurna.' Nasehat Ibunya kembali terngiang.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
❤️⃟Wᵃf🤎𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ ☘𝓡𝓳🏡⃟ªʸ
dengerin kata suami mu laras hati2
Rahmawati
skrg akan Mohon mohon maaf, knp gk bales di jambak sih
❥␠⃝ ͭ🍁Uma💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Rupanya yg ke rumah Laras asisten pak Hotlif, ada motif apakah dia malam-malam ingin bertemu apa tidak bisa dibahas waktu di kantor saja, syukur nya Rafael sudah membentengi Laras walaupun dia sendiri telat memahami perkataan Suami nya
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚*3G ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎
Laras kau harus tetap waspada jangan langsung percaya apa yang dikatakan oleh Hendi untuk jaga jaga saja sambil lihat besok di kantor situasinya bagaimana
❥␠⃝ ͭ🍁ALE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
nah iya jgn mudah percaya dlu sm Hendi Ras benar apa kata suamimu,,
❥␠⃝ ͭ🍁ALE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
buset ga tau gmn asalnya ngpa jd pd jambak"an ajasih bs kn g asal nuduh yg engga engga 🙄
❥␠⃝ ͭ🍁ALE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
maklum lah y Laras dr kecil hidup serba berkecukupan ,jd nyalain kompor aja tidak bs 🤣🤣maklumim aja lah
❥␠⃝ ͭ🍁TIE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
iya Laras jangan mudah percaya dulu sama apa yang dibicarakan Hendi harus waspada awal ketemu juga dia udah bohong ngaku2 jadi kepala cabang takutnya nanti kerjaanmu yang kena masalah
❥␠⃝ ͭ🍁HER💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
nah dengar tuuh nasehat babang rafa. sudah tahu sendiri hotlif gadungan itu. kalau laras mau dihasut hendi, biarkan saja babang rafa. biar tahu rasa. 🙊🙈
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Laras, dengerrr, itu Nasehat Suami
❥␠⃝ ͭ🍁TIE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Lahh ibu bisa kan dibicarakan dulu jangan maen jambak aja kalo jadi Laras aku jambak balik dahh kesel banget dituduh menggoda suami orang ditempat umum cuma perkara senyum doank, mending klo suaminya cakep ternyata zonkk jauh kemana mana gantengan Rafa hehee 🤭🤣
❥␠⃝ ͭ🍁TIE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Hadeuhh Laras sok2an pintar dan bisa segalanya ternyata nyalain kompor aja gak bisa wkwkkk babang Rafa semoga sabarmu gak ada habisnya ngadepin istrimu yang keras kepala
❥␠⃝ ͭ🍁RAI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
wah parah ini ibu ibu main jambak aja.. suami situ yang genit malah nyangkain laras.. jaman sekarang liay dulu bu.. jangan main jambak aja kali. ❣️
Rahmawati
main jambak aja itu orang, walaupun aku sebel sama laras tp kasian jg kl dituduh gk jelas gitu😡
❥␠⃝ ͭ🍁Uma💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Rupanya atasan Laras belum pernah ketemu dengan nya ya, mana istri nya cemburuan lagi main labrak saja itu orang, bagaimana nanti kalau pas ketemu di kantor, itu yg di kawatir kan Rafael calon bos nya itu mau bertemu dirumah tidak boleh rupanya sudah punya insting tidak baik untuk istrinya
❥␠⃝ ͭ🍁HER💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
laras ini seperti anak jaman sekarang yang gak tahu apa itu centong. yang dia tahu cuma belajar makan tidur pegang buku ke sekolah pulang makan, tidur. 🙊🙈🙈
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚*3G ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎
wahhhh ini ibu ibu sembarangan aja padahal yang ngajak komunikasi Laras suaminya dan Laras tidak ngapain2 kalo benar itu pak Hotlif benar2 ini akan ada sesuatu yang menarik nih🤔🤭
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Sperti kata Ortu, dari kecil, Lara udh 'dmanja' org tua ny 🤦🤦🤦
Dew666
💜💜💜💜
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚*3G ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎
ya ampun Laras tidak bisa nyalain kompor sendiri apakah dari kecil tidak diajarkan 🤭 🤔 bukan mau menyalahkan mamahnya ini 🤣🤣hanya jangan sampai kita punya anak lalu memanjakan mereka secara berlebihan berakibat si anak tak bisa mandiri maaf komen gak nyambung 🤭🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!