Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Sebuah Keajaiban
Dari kecil Gua sering gambarin dinding rumah Gua. Mau itu pemandangan, hewan, bahkan gambar abstrak yang gak tau maksud dan artinya apa. Tapi, hal yang Gua lihat kali ini bener-bener lebih dari sekedar apa yang Gua sangka.
Di hadapan Gua, bisa terlihat jelas pemandangan yang dari kecil Gua gambar. Meski coretannya gak begitu bagus, namun Gua bisa merasakan dari segi perasaan kalau pemandangan legenda ini terasa nyata banget!
"Tedy... coba cubit tangan Gua," ucap Gua skeptis karena merasa hal ini udah melampaui logika Gua. Yang Gua tahu saat ini, Gua cuma bisa masuk dalam dimensi imajinasi yang itu pun hanya kanvas putih kosong.
Namun kali ini beda. Gua bisa melihat jelas semua yang berada dalam kanvas ini bergerak! Semilir angin menerpa dedaunan pepohonan yang dibuat sengaja hanya searah, begitupun arah mata angin dan aliran airnya. Gua bahkan bisa melihat jelas ikan-ikan berenang meski bentuknya agak abstrak—wajar sih, gambaran anak TK yang di-setting sedemikian rupa wkwkwk. Begitupun gambar sawah yang menurut Gua ini lelucon, namun sayangnya sawah ini hanya berdiri tegak tanpa adanya pergerakan sedikit pun.
"Auch!" ucap Gua refleks setelah sadar karena cubitan kecil dari Tedy.
Ekspresi kebahagiaan terpancar jelas dalam raut wajah Gua. Gua kemudian melihat sekitar lagi, lalu memperhatikan gunung yang begitu tinggi serta matahari yang pas berada di tengah kedua sisi gunung tersebut.
"Ah, maaf Lana. Kau sendiri yang menyuruhku untuk mencubitmu," ucap Tedy meminta maaf.
"Tak perlu meminta maaf. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa masuk dalam lukisanku sendiri?" tanya Gua heran. Padahal kualitas gambarnya gak sebagus yang biasa Gua gambar sekarang.
"Tedy! Apa aku bisa masuk ke tempat lain?" tanya Gua lagi pada Tedy.
"Eh itu... aku tidak tahu pasti, Lan. Tapi kita coba aja, gak dicoba gak akan tahu, kan?" jawab Kuro.
Kuro dan Tedy lalu mengajak Gua keluar dari lukisan dinding untuk pertama kalinya di dalam kamar ini. Gua sempat menutup mata, lalu pas melek, sekitar Gua udah berubah jadi kamar Gua lagi. Gua menoleh ke belakang, melihat lukisan dinding itu perlahan berubah. Yang awalnya hanya goresan dari krayon milik Kak Liam, sekarang bertransformasi jadi ukiran cat yang rapi. Meski gambarnya sama, tapi dari segi kualitas jauh lebih baik dari sebelumnya!
"Sebenarnya kekuatan ini... apa sih? Gua jadi bingung sendiri," gumam Gua sambil membusungkan dada. "Tapi menarik, karena dengan ini nama Gua bakal merajalela di atas panggung dunia, bahkan bisa mengalahkan Vincent van Gogh!"
Gua mendadak tersadar karena suara Tedy yang berseru, "Ayo Lana! Kita ke lukisan selanjutnya!"
Tedy langsung masuk ke dalam lukisan Gua saat pertama kali memakai kuas dan cat air. Gua bisa melihat keajaiban ini secara langsung; Kuro dan Tedy bergerak-gerak di dalam lukisan tersebut. Namun, hal yang Gua takuti itu karena lukisan tersebut adalah pemandangan danau yang terinspirasi dari Danau Toba, lengkap dengan sebuah kapal di tengah danau serta ada orang yang lagi memancing.
"Tedy! Kuro! Apa kalian bisa mendengarku?" ucap Gua sedikit keras. Gua tahu hal ini mustahil, tapi kalau gak dicoba gak akan tahu, kan?
"Kami bisa mendengarmu, Lana!" ucap Tedy.
Begitu juga dengan Kuro yang mengangguk, lalu dia malah asyik tertidur di atas perahu tersebut. Tanpa berpikir panjang, Gua langsung masuk sambil memejamkan mata.
"Lana, mau sampai kapan kamu menutup mata seperti itu? Buka mata kamu, Lan, kalau gak kamu akan menyesal," bisik Tedy di telinga Gua.
Dengan keberanian penuh, Gua membuka mata. Seketika, terlihat jelas pemandangan yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya!
Hamparan air dengan kejernihan yang mampu memperlihatkan seluruh isi danau. Ikan-ikan melompat meliuk-liuk dengan keberagaman warna. Gua gak tahu mereka ikan jenis apa, tapi Gua masih terkejut karena ikan tersebut terlihat begitu nyata.
Tatapan Gua beralih ke orang yang sedang memancing tersebut. Dia nampak tertunduk lesu karena tak mendapat ikan satupun dari tadi. Sementara itu, perhatian Gua teralih ke Kuro yang malah asyik mukbang ikan sambil berenang. Kelakuan Kuro ini bener-bener bikin Gua geleng-geleng kepala.
"Hey Kuro, naik sini!" ucap Gua memanggil Kuro yang tengah asyik makan.
"Eh, Nona... Hehehe, tapi kalau saya ke sana, kapal tersebut nggak muat," ucap Kuro.
Mendengar ucapan Kuro, Gua baru sadar kalau kapal ini terlalu kecil. Selintas ide terpikir dalam benak Gua. Gua kemudian keluar sebentar dari lukisan, lalu mengambil kuas lukis di kamar dan masuk kembali ke dimensi danau.
Dengan konsentrasi penuh, Gua menggambar sebuah kapal yang muat untuk Kuro dan Tedy. Gua pikir ide ini mustahil, namun ternyata kapal itu terbentuk dengan sendirinya mengikuti garis yang Gua buat!
"Gua ngerasa jadi dewa di sini!" seru Gua bersorak senang.
Gua lalu menatap ember kosong milik orang itu, lalu tersebesit ide untuk membantunya. Gua kemudian melukis segumpal umpan dengan cacing-cacing yang mengelilingi umpan tersebut. Setelah itu, Gua melempar umpan ajaib itu ke dekat tempat orang tersebut memancing.
Secara ajaib, semua ikan langsung datang berkerumun mengelilingi si pemancing!
"Ah, dapat! Akhirnya dapat! Hahaha! Akhirnya anak cucuku bisa makan hari ini!" ucap pemuda itu kegirangan, membuat hati Gua merasa tersentuh.
Gua tidak menyangka efeknya bakal se-nyata ini. Pas orang itu menoleh dan memperlihatkan raut wajahnya dengan jelas, tiba-tiba... secara paksa Gua, Tedy, dan Kuro terlempar keluar dari dalam lukisan itu dan mendarat di lantai kamar.
"Aduh, bokongku..." ucap Tedy mengusap-usap pantatnya yang mendarat duluan.
"Ah, tidak! Makananku..." ucap Kuro meringis sedih karena tak sempat menikmati ikan yang ia tangkap.
Melihat ekspresi mereka, Gua langsung terkekeh geli. "Kalian ini ya... Tenang, Gua ganti kok snack-nya, sekalian buat penutup malam ini."
"Benarkah, Nona?" ucap Kuro dengan mata yang berbinar-binar senang.
"Tentu dong, kapan Gua ingkar janji sama kalian?" ucap Gua meyakinkan.
Kuro langsung menghamburkan pelukannya lalu menjilati Gua. Dapat dirasakan kalau semua ini bener-bener nyata. Namun, Gua masih bertanya-tanya perihal kejadian tadi. Apa maksud dari perkataan orang itu? Apa ada sesuatu yang Gua lupakan?
Gua kembali berjalan melihat lukisan tersebut. Terlihat jelas ekspresi muram si pemancing dalam lukisan itu perlahan memudar, digantikan dengan ekspresi senyum cerah sambil mengangkat tinggi-tinggi ikan hasil tangkapannya. Dan di sudut lukisan, Gua bisa melihat jelas ada siluet kami bertiga dalam bentuk bayangan hitam!
Terlihat jelas siluet Kuro yang menangkap ikan lalu memakannya, siluet hitam yang Gua yakini itu Tedy tengah asyik berenang gaya bebas, serta siluet Gua yang lagi asyik melukis sesuatu. Tentu hal ini membuat Gua terkejut setengah mati.
"Apa ini efek butterfly effect dari kehadiran Gua, Kuro, dan Tedy?" gumam Gua ngeri.
"Tak usah khawatir, Nona. Takdir Nona lebih dari semua ini," ucap Tedy dengan nada yang mendadak berubah misterius.
Gua tersentak melihat matanya yang biasanya berwarna cokelat, perlahan berubah menjadi biru cerah—warna biru yang sama persis dengan warna mata milik Gua!
Gua perlahan mundur selangkah lalu berkata dengan nada agak keras, "Apa maksud perkataanmu itu?! Kau... kau bukan Tedy!"
Untungnya, di rumah ini hanya Gua saja yang belum tidur, jadi suara Gua gak bakal ngebangunin yang lain. Tak hanya Tedy, wujud Kuro pun mendadak ikut menatap Gua dengan tatapan yang sangat tenang dan dalam. Mereka berdua lalu berucap bersamaan:
"Inilah Takdir keluarga Valeryne."