Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
Sejak kejadian itu Kirana jadi sering melamun pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Sore itu, Kirana jogging di sekitar Tidal Basin.
Udara terasa sejuk, bunga sakura masih bermekaran menghiasi sepanjang jalan dengan warna lembut yang menenangkan.
Tempat itu tampak lebih indah dari biasanya namun Kirana tidak benar-benar melihatnya langkahnya cepat napasnya teratur.
Tapi pikirannya kacau, saat ini di tempat itu dia tidak sedang mencari siapa pun dia hanya ingin joging mengusir bayangan Damar dari kepalanya.
“Aku nggak bisa terus begini," gumamnya pelan. namun bayangan itu tetap datang cara Damar menatapnya, cara Damar menyentuhnya dan ciuman itu seolah terus berulang di pikirannya.
Kirana menggeleng cepat. “Tidak, aku harus fokus, aku nggak boleh terus mikirin itu.”
Kirana mempercepat langkahnya."Nggak boleh," katanya lagi.
Namun tanpa diduga Kirana berpapasan dengan Damar mereka berjalan berlawanan arah. Entah sama -sama gugup tidak ada yang berhenti, tidak ada yang menyapa.
Hanya tatapan singkat lalu saling melewati Kirana melirik sedikit ke belakang Damar tidak menoleh. Namun beberapa langkah setelah itu Damar justru berhenti menatap punggung Kirana.
Kirana melirik jam tangannya sekilas
“Jumat, ini bukan jadwal jogging dia.” Kirana mengernyit langkahnya melambat.
Tanpa sadar Kirana duduk di salah satu bangku taman menatap lurus ke depan tatapanya Kosong.
Namun tanpa Kirana sadari Damar berdiri tidak jauh darinya memperhatikan hanya diam.
Beberapa menit kemudian.Kirana berdiri menghela napas panjang.
“Aku harus pulang…” kata pelan.
Saat itu dia tak langsung naik keapartemennya dia berjalan menuju supermarket terdekat.
“Hah, stok makanan sudah habis.” Gerutu Kirana, dia masuk mengambil Troli mulai memilih bahan makanan.
Namun pikirannya kembali melayang dia teringat Damar cara dia membantunya mendorong troli,cara dia berdiri di dekatnya tanpa banyak bicara.
Kirana berhenti di tengah lorong menatap kosong.
“Dia, nggak ada di sini…”
Kirana menghela napas pelan lalu memaksa dirinya bergerak lagi.
Setelah selesai berbelanja dia menuju kasir untuk membayar, Kirana membawa beberapa kantong belanja.
Tangannya mulai pegal langkahnya melambat saat menuju lift apartemen beberapa kali dia berhenti mengatur napas.
Hingga akhirnya Kirana sampai di lobby dia berjalan menuju lift telihat kerepotan membawa kantong-kantong itu.
Namun tiba-tiba seseorang mengambil sebagian dari tangannya.
“Eh” Kirana terkejut dia menoleh cepat matanya membesar.
“Damar…”
Damar berdiri di sampingnya, tanpa banyak bicara.
hanya membawa sebagian belanjaannya.
“Kenapa nggak bilang kalau mau ke supermarket?” ucap Damar datar.
Kirana terdiam seolah kehilangan kata-kata.
“Aku pikir kamu lagi sibuk, ” jawabnya pelan. Damar memalingkan wajahnya tidak berani menatap Kirana.
Ding
Pintu lift terbuka Damar masuk lebih dulu masih membawa kantong-kantong itu Kirana masih berdiri di luar terpaku.
Damar melirik sekilas. “Kamu mau diam saja di situ?”
Kirana tersentak kecil. “Ah, iya.”
Kirana masuk pintu lift tertutup, di dalam lift suasana terasa sempit sunyi.
Damar akhirnya membuka suara.
“Kamu nggak nyapa aku tadi pas jogging.”
Kirana tetap menatap lurus kedepan “Aku nggak mau ganggu.”
Damar terdiam lalu berdehem, tidak ada canda tidak ada keakraban seperti dulu, Angka di lift terus berubah Kirana menunduk Damar sesekali meliriknya diam-diam.
Ding.
Pintu terbuka, Kirana keluar lebih dulu Damar mengikuti dari belakang langkah mereka terdengar bergantian di lorong yang sepi.
Hingga akhirnya mereka sampai di depan studio Kirana, Kirana berhenti menekan kode pintu.
Beep.
Pintu terbuka Kirana menarik napas sejenak lalu menoleh ke arah Damar.
“Terima kasih,” ucapnya pelan Kirana mengambil kantong belanja dari tangan Damar. tanpa menunggu reaksi Damar Kirana masuk.
Klik.
Pintu tertutup Damar tertegun tetap berdiri di pintu diam. Tangannya yang kosong perlahan turun, Damar menatap pintu itu lama
“Dia, nggak suruh aku masuk, ” gumam Damar pelan.