"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26 - Gemuruh di Hari Perayaan
Pukul tujuh pagi, kampus sudah berubah menjadi lautan manusia. Balon-balon berwarna biru dan emas menghiasi setiap sudut, sementara tenda-tenda bazar mahasiswa mulai mengeluarkan aroma makanan yang menggugah selera. Namun, keriuhan itu bukan hanya karena perayaan ulang tahun kampus, melainkan karena satu nama yang terus diperbincangkan yaitu Setya Pradana.
Maura berdiri di depan cermin toilet dosen, menarik napas dalam-dalam. Sesuai janjinya atau lebih tepatnya perintah Setya, Maura mengenakan kemeja putih tulang yang dipadukan dengan scarf navy bercorak emas pemberian Setya. Scarf itu melingkar cantik di lehernya, memberikan kesan elegan dan beruntungnya tema acaranya sama dengan scarf yang diberikan.
"Tarik napas, Maura. Ini hanya satu hari. Setelah ini selesai, semuanya kembali normal," gumamnya pada dirinya sendiri.
Pukul sembilan tepat, sebuah iring-iringan mobil hitam memasuki gerbang utama. Protokol kampus mendadak sibuk dan membuat Pak Hamdani dan jajaran rektorat sudah berdiri berjajar untuk menyambut si bintang utama. Maura, sebagai pendamping yang ditunjuk khusus, harus berdiri di barisan paling depan, tepat di sebelah Dekan.
Pintu mobil terbuka dan terlihat Setya turun dengan gaya yang penuh wibawanya hingga membuat beberapa mahasiswi di barisan belakang memekik tertahan. Pria itu mengenakan setelan jas semi-formal tanpa dasi yang mampu memberikan kesan maskulin dengan gaya lebih santai.
Begitu matanya menangkap sosok Maura, langkah Setya yang semula lurus menuju Pak Hamdani sedikit berbelok dan berhenti tepat di depan Maura.
"Kamu memakainya," ucap Setya rendah, matanya menatap intens pada scarf di leher Maura dengan sudut bibirnya terangkat tipis.
"Selamat pagi, Pak Setya. Mari, acara sambutan akan segera dimulai," potong Maura cepat, mencoba mengalihkan perhatian dari tatapan iri Bu Rora dan bisik-bisik di sekitarnya.
Setya tidak menjawab, ia hanya memberikan isyarat agar Maura berjalan di sampingnya. Sepanjang jalan menuju aula, Setya sengaja memosisikan dirinya sangat dekat dengan Maura dan sesekali membisikkan komentar tentang dekorasi kampus.
“Terlalu meriah untuk sebuah institusi pendidikan, bagaimana menurutmu?” bisik Setya.
“Mengingat ini adalah acara tahunan, jadi wajar saja kalau dibuat semeriah ini, Pak,” jawab Maura yang sebenarnya wanita itu juga berpikiran yang sama.
Akan tetapi, untuk menjaga harkat dan martabat universitasnya, Maura harus membanggakan momen ini. Setya hanya menanggapi dengan gumaman rendah yang terdengar seperti tawa tertahan, seolah memahami betul bahwa lawan bicaranya sedang menahan diri.
Sesampainya di aula utama, suasana semakin panas. Barisan kursi VVIP sudah disiapkan dan sekali lagi, protokol memaksa Maura duduk tepat di sebelah Setya.
“Selamat pagi semuanya,” sapa presiden mahasiswa yang membuat kehebohan langsung mengisi.
Berbagai sambutan, lelucon terdengar yang membuat acara ini begitu meriah dan momen bahagia. Hingga sampailah pada momen untuk Setya Pradana memberikan sambutan di atas panggung megah itu dengan disaksikan seluruh universitas.
"Kepada yang terhormat, Bapak Setya Pradana, kami persilakan untuk memberikan sambutan sekaligus motivasi bagi kita semua," suara pembawa acara menggema dan langsung disambut riuh tepuk tangan yang jauh lebih kencang dibandingkan saat sambutan rektor sebelumnya.
Setya berdiri dan sempat menoleh ke arah Maura dan memberikan satu anggukan kecil. Saat Setya menaiki undakan panggung, suasana aula yang tadinya bising mendadak senyap. Kharisma pria itu bukan sekadar bualan, karena hanya dengan berdiri di balik podium sudah mampu mengunci atensi ribuan pasang mata.
Setya menyesuaikan letak mikrofon sebentar, matanya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di baris depan, tempat Maura duduk.
"Selamat pagi rekan-rekan mahasiswa dan jajaran pengajar," suara beratnya menggelegar melalui pengeras suara yang mampu menciptakan getaran yang aneh.
Sambutan Setya tidak membosankan seperti kebanyakan donatur lainnya. Pria itu bicara tentang efisiensi, tentang bagaimana dunia luar tidak peduli pada seberapa lama seseorang belajar, melainkan pada seberapa besar kontribusi yang bisa diberikan. Pria itu benar-benar menunjukkan kualitas dirinya lewat kalimat yang ia sampaikan di podium.
"Pendidikan bukan hanya soal memindahkan isi buku ke dalam kepala. Tapi soal bagaimana kamu mempertahankan prinsip di bawah tekanan," ucap Setya sambil menatap Maura lurus.
Maura tahu bahwa kalimat itu bukan hanya untuk mahasiswa, tapi sindiran halus untuknya yang sejak awal selalu penuh batasan. Di tengah pidatonya, Setya menyelipkan sedikit bumbu yang membuat seisi aula heboh.
"Saya sebenarnya orang yang sangat menghargai privasi dan waktu. Namun, universitas ini memiliki satu aset yang sangat gigih, seorang pendamping yang mampu meyakinkan saya bahwa dedikasi itu nyata... dan karena itulah saya berdiri di sini hari ini."
Bisik-bisik di barisan belakang kembali terdengar. Aset? Pendamping yang gigih? Maura ingin sekali menenggelamkan wajahnya ke dalam tas. Setya mengakhiri sambutannya dengan sangat elegan.
"Gunakan hari ini untuk bersenang-senang, karena besok dunia tidak akan memberikan toleransi pada kemalasan kalian. Terima kasih."
Begitu Setya turun dari panggung, ia langsung menuju kursinya dan berbisik cukup keras hingga orang di sekitar mereka bisa mendengar.
"Pidato yang bagus? Atau saya terlalu jujur soal alasan saya di sini, Maura?"
Maura hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menjaga senyum profesional yang kini terasa sangat berat.
"Bapak benar-benar tahu cara membuat keributan," balas Maura tanpa mengalihkan pandangan.
Setya terkekeh, suara rendah yang maskulin itu kini terdengar begitu dekat di telinga Maura.
"Ini baru permulaan. Kita masih punya satu kompetisi lagi, bukan?"
Maura paham betul ke mana arah kalimat itu. Lomba sederhana yang demi apa pun Maura enggan untuk mengikutinya. Bahkan, dosen muda itu tidak diberitahu oleh Pak Dimas mengenai lomba apa yang akan diikuti olehnya dan Setya.
Dimas menolak untuk memberinya bocoran dan itu membuat Maura gila.
“Nah, sekarang sudah saatnya kita seneng-seneng. Tapi, karena hari sudah mulai siang, lomba awal ini akan dimulai dengan lomba dosen vs mahasiswaaaaa,” kalimat itu membuat seruan heboh.
Sesuatu yang sangat langka dan membuat mahasiswa ingin melihat bagaimana para dosen perfeksionis ini mengikuti lomba rusuh ini. Meskipun hanya untuk pembukaan tapi antusiasme yang diberikan sangat heboh.
“Lomba ini adalah... lari berpasangan dengan kaki terikat! Tapi tenang, ini bukan sekadar lari. Pasangan harus bekerja sama menjaga balon di antara punggung mereka agar tidak jatuh sampai ke garis finis!” seru pembawa acara yang langsung disambut sorakan histeris dari tribun mahasiswa.
Maura mematung. Jantungnya mencelos. Lari? Kaki terikat? Balon di punggung?
“Pak Dimas benar-benar keterlaluan,” gumam Maura dengan wajah pucat.
Di sisi lain, Setya justru terlihat sangat tenang dan mulai menggulung lengan kemejanya hingga siku.
“Yang paling penting adalah... salah satu peserta lomba pembuka adalah...,” ada jeda yang membuat mahasiswa hening dan penasaran hingga, “PAK SETYAAA!”
Kehebohan langsung timbul dan membuat semua mata tertuju pada pria yang sudah berdiri dan bersiap untuk turut serta meramaikan acara.
Tidak ada yang menyangka bahwa Setya Pradana akan ikut serta.
kapan ini ceritanyaaa berlanjut ???