Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Presentasi Masa Lalu
Beberapa pertemuan tidak butuh panggung besar. Cukup satu tatapan, dan semua kenangan kembali berdiri di hadapanmu.
...Happy Reading!...
...*****...
Meeting sudah dimulai sejak lima belas menit lalu. Tapi otakku... entah ke mana.
Di depan layar, Saka sedang memaparkan strategi peluncuran produk baru dari Manterra. Nada bicaranya tenang, presentasinya rapi, gaya visualnya clean dan premium. Persis seperti citra produk yang ingin ia bangun.
Hari Sabtu lalu, dia hanya memperkenalkan perusahaannya secara umum. Tidak ada detail. Tidak ada insight. Bahkan tidak ada brief. Tapi hari ini semua keluar sekaligus. Seperti banjir informasi yang menampar di hari Senin pagi.
"Tujuan utama saya ada dua," ujar Saka, dengan ekspresi serius. "Pertama, brand repositioning. Kedua, launching lini produk premium untuk segmen profesional urban."
Aku mencoba fokus. Menyimak. Mencatat.
"Manterra saat ini mengalami penurunan pendapatan dua kuartal terakhir. Saya khawatir brand-nya mulai stagnan. Tidak lagi relevan untuk target usia dua puluh lima sampai tiga puluh lima."
Saka menggeser slide. Di layar kini muncul visual moodboard. Palet warna netral. Fotografi pria dewasa dengan aura karismatik. Tipografi clean. Semua terasa... personal tapi tetap maskulin.
"Kami ingin bergerak dari brand yang hanya fungsional menjadi brand yang aspiratif dan punya emotional value."
Aku mengangguk pelan. Oke, ini bukan sekadar tugas biasa.
Produk yang akan diluncurkan adalah Manterra Prime. Lini skincare premium untuk pria profesional. Ada cleansing balm, night serum, dan moisturizer dengan bahan aktif seperti ginseng, hyaluronic acid, dan centella.
Secara positioning, jelas. Secara produk, kuat. Tapi... kenapa rasanya dunia jadi blur? Suara Saka masih terdengar, tapi seperti dari speaker kamar mandi hotel. Gema, jauh, dan nyaris tak relevan. Sementara pikiranku malah melayang pada masa lalu. Cara dia menjelaskan rumus fisika saat kami masih sekolah.
Suaranya sekarang tenang dan berat. Tapi di kepalaku, suara itu berubah menjadi versi remaja, duduk di bangku taman belakang sekolah, menjelaskan rumus fisika dengan mulut sedikit kaku dan tangan gemetar pelan. Dulu aku menertawakannya tanpa beban. Sekarang, aku bahkan tak yakin bisa menatap matanya tanpa tenggelam dalam rasa bersalah.
Tatapannya yang fokus. Gerak tangannya saat menjelaskan.
Dan sekarang... semua itu kembali.
Bedanya, kali ini dia bukan anak SMA yang kutertawakan. Tapi seorang CEO yang sedang menuntut performa terbaik dariku.
Klik dari remote presentasi terdengar nyaring. Lalu hening. Dan di sela suara proyektor, aku mendengar namaku dipanggil.
"Nona Cayra."
Satu kata itu menampar pikiranku kembali ke ruang meeting.
"Nona Cayra Astagina," ulang Saka. Kini bahkan Mbak Rania ikut menoleh ke arahku.
Aku langsung duduk tegak. Tangan reflek membenarkan blazer. Suara dehamku terdengar jelas di ruang yang hening.
"Ya, Pak Saka?"
"Apa kau tidak mendengar instruksi saya tadi?"
Deg. Jantungku mencuat ke tenggorokan. Telapak tanganku mulai berkeringat, dan nadi di leherku berdenyut terlalu keras untuk diabaikan.
"Mohon maaf, Pak. Sepertinya saya kurang mengerti maksud ucapan Anda tadi."
Wajah Saka tetap datar. "Kau bilang Brand Strategist, tapi bahkan mendengarkan pun gagal?" ucapnya, sambil menautkan jari di meja, sorot matanya tajam tapi nyaris terlalu tenang.
Seperti seseorang yang menyimpan terlalu banyak hal, tapi memilih menyakitimu dengan satu kalimat paling tajam.
Aku terdiam. Ya ampun, kalau soal itu aku paham. Tapi tadi pikiranku sedang error, bukan karena nggak ngerti.
Beruntung, Mbak Rania menyelamatkanku. "Mungkin tadi penjelasan Saka terlalu cepat. Bisa diulangi lagi?"
Saka menghela napas tipis. Lalu menggeser slide presentasi. "Saya ingin kamu merancang konsep kampanye yang bisa menarik perhatian pria urban. Mereka mulai peduli dengan penampilan tapi tidak ingin terlihat terlalu narsis."
"Intinya, buat Manterra tetap maskulin. Tapi relevan."
Aku langsung membuka notes dan mencatat cepat. Lucu. Dulu dia cuma bikin aku malu karena salah jawab soal fisika. Sekarang, dia bikin aku malu di ruang meeting.
"Konsep komunikasi, tone of voice, tagar, visual mood, dan gambaran aktivasi kampanye. Hari ini sore sudah harus saya terima. Kirim ke email resmi Manterra."
Aku mengangguk. "Siap, Pak."
Lalu tanpa peringatan Saka menoleh ke arah Mbak Rania. "Besok pagi saya ingin Nona Cayra datang ke kantor Manterra untuk melihat prototype produknya. Tidak masalah, kan?"
Mbak Rania tampak tenang. "Tentu tidak. Hanya Cayra?"
"Iya. Cukup dia saja," ujarnya tanpa ragu.
Dan entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti perintah dari seseorang yang... punya urusan pribadi, bukan profesional. Kayak balas dendam versi SOP. Seolah hanya aku yang sedang diuji. Atau dihukum.
Aku spontan melirik. Hah? Maksudnya cuma aku? Bukannya biasanya tugas ini juga melibatkan Tasha sebagai Account Manager? Minimal dia ikut sebagai penghubung antara klien dan tim. Bahkan biasanya Yudha sebagai Brand Planner juga ikut.
Kenapa sekarang aku sendiri?
Pertanyaan itu hanya bergema di kepala. Tidak sempat kutanyakan karena Mbak Rania malah mengangguk santai.
Aku mencoba tetap tenang. Tapi jujur saja, ini mulai terasa aneh. Aku belum pernah ke kantor klien sendirian. Biasanya aku datang bertiga. Sekarang, sendirian seperti anak magang yang tersesat. Dan kenapa Yudha bahkan tidak ada di ruangan ini? Dari hari Sabtu aku belum melihat batang hidungnya. Biasanya dia sudah duduk di pojok sambil bawa laptop dan kopi dingin.
Catatan baru. Setelah ini aku harus cari Yudha. Mungkin dia tahu sesuatu.
Meeting berlanjut. Dari pukul delapan sampai sepuluh. Tapi herannya Tasha juga belum menampakkan dirinya.
Biasanya, Tasha sudah duduk di sebelahku, menyiapkan dokumen, sementara Yudha sibuk mengetik entah apa dari pojokan. Tapi kali ini... tidak ada siapa-siapa. Hanya aku dan Mbak Rania.
Rasanya hari ini seperti sesi ujian nasional.
Dan aku? Entah kenapa mulai merasa ini bukan sekadar tugas sebagai Brand Strategist.
Ini bukan sekadar hubungan kerja, ini kisah yang belum selesai.
Aku belum tahu. Yang jelas, ada sesuatu dalam tatapan Saka yang tidak bisa kuterjemahkan. Tatapannya terlalu dingin untuk disebut netral. Terlalu tenang untuk bisa disebut lupa. Dan aku... terlalu lambat untuk sadar, ini bukan hanya presentasi produk. Ini presentasi masa lalu yang belum selesai.