NovelToon NovelToon
AKU TALAK SUAMI-MU!

AKU TALAK SUAMI-MU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Bepergian untuk menjadi kaya / Suami Tak Berguna
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Meidame

"Wanita bisa hidup bahagia tanpa lelaki." Itu tekad kuat yang Adira tanamkan pada dirinya.

*

Ketika bahagia terlalu lama menyapa, terkadang kita harus lebih waspada, karena bencana bisa datang di saat yang tenang, itulah yang di hadapi oleh Adira yang kini berada di jurang kehancuran. Ia tidak hanya kehilangan suami yang selama ini sempurna untuknya, tetapi juga orang yang selalu ada dan menemani setiap langkah di hidupnya sejak kecil.

Penderitaan Adira semakin dalam saat ia menyadari bahwa perselingkuhan ini bukan hanya mencuri kebahagiaannya, tapi juga kehidupan dan jiwanya.

Di tengah amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan, Adira menolak menjadi korban yang pasrah. Ia bangkit dengan tekad yang membara, membalikkan keadaan, dan melontarkan sebuah gugatan yang mengejutkan. "Aku Talak Suamimu!"

Keputusan berani ini bukan hanya tentang memutus ikatan pernikahan, tetapi juga sebuah deklarasi perang terhadap pengkhianatan. Karena Adira tidak sudi untuk di hina lebih jauh lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meidame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB

• Menikah

Hari yang di nanti pun tiba. Resepsi pernikahan sederhana yang hanya di penuhi keluarga dari Yovan pun berlangsung dengan hangat. Adira terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putihnya. Wajahnya pun di rias tipis ala korean style. Sambil memegang buket bunga Adira berfoto bersama mertuanya dan beberapa orang ipar perempuannya.

Dari sudut lain Yovan tengah menyapa beberapa orang teman dekatnya yang datang. Dengan senyuman bahagia Yovan menyambut mereka.

"Wah selamat Yovan atas pernikahanmu, istrimu sangat cantik!" ujar salah satu teman futsal Yovan.

"Iya betul, beruntung sekali teman kita ini dapat perempuan secantik istrinya." Timpal teman satu tim futsal lainnya bernama Andre.

"Istrimu buat aku aja deh Van!" celetuk Miko, salah satu anggota futsal yang selalu ingin menjatuhkan Yovan. Entah apa alasan lelaki itu tidak menyukai Yovan. Yang jelas perkataannya sangat tidak pantas untuk di lontarkan pada seorang pengantin. Walaupun itu hanya bentuk candaan. Tapi siapa yang bisa menganggap itu sebuah guyon?

Yovan menatap Miko dengan sinis. Tangannya mengepal ingin sekali melayangkan tinju di mulut lelaki itu agar tidak bicara se-enaknya. Lagi pula siapa yang mengundangnua untuk datang? Dia tidak termasuk dalam list teman dekat Yovan.

"Sabar Van, cowok aku cuma bercanda. Yakan Miko?" Yovan melirik ke arah suara wanita yang dia kenali. Olif.

Ah iya. Yovan lupa jika Olif dan Miko sudah bertunangan bahkan mereka berpacaran sudah cukup lama. Pantas saja dia bisa masuk.

Dari pelaminan yang sederhana berhiaskan bunga putih dan emas. Adira melihat lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya tengah berbincang dengan teman. Ekspresi wajah Yovan terlihat sangat berbeda ketika berbicara dengan teman ataupun pasangan. Bahkan ada beberapa perempuan yang ikut serta, terkadang tertawa lepas memandang Yovan. Namun lelaki itu terlihat pandai menjaga jarak. Walaupun tetap saja tersempil rasa cemburu di dalam hati Adira.

"Adira, terimakasih ya kamu mau jadi istri Yovan." Suara Bunda-Ibunya Yovan, membuat Adira menoleh ke arah kanannya.

"Adira juga berterima kasih pada Bunda karena mau menerima Adira sebagai menantu."

"Kamu itu anak Bunda juga. Kamu perempuan pertama yang bisa bikin Yovan pulang ke rumah dan bisa tidur di jam yang seharusnya. Kamu tau pasti Yovan adalah lelaki yang keras. Tapi bersama kamu, banyak perubahan baik yang bunda lihat." Wanita berusia 50 tahunan itu terlihat sangat tulus mengatakan semuanya. Tidak Adira dapati kebohongan dari ucapannya.

Pertama ya? Adira merasa senang mendengarnya. Namun di sudut hatinya tersempil kekhawatiran. Apakah akan ada wanita lainnya? Tidak boleh. Segera Adira membuang pikiran buruk itu dari benaknya. Trauma rumah tangga Mama-Linda- tidak akan membuat Adira terpengaruh. Karena setiap rumah tangga pastinya berbeda-beda masalah.

Adira hanya bisa tersenyum kecil. Dia tidak tau harus berkata apa. Tangan Bunda lalu mengusap tangan Adira lembut. Layaknya seorang ibu.

"Kalau ada apapun kamu bisa telpon Bunda ya nak. Ceritakan semuanya pada Bunda." lalu Bunda berjalan menyapa beberapa saudaranya yang datang. Bunda menjauh, Kakak ipar Adira mendekat bersama adiknya.

"Kamu cantik Adira! Adikku beruntung bisa memiliki kamu." Ujar Mbak Yuna sambil menggendong anaknya yang berusia 3 tahun.

"Abang kayaknya maksa Kak Dira buat nikah ya?" Celetuk Yaya, adik Yovan, berusia 16 tahun. "Soalnya kakak cantik banget kayak artis. Harusnya kakak nikahnya sama Jay- enhyepen."

"Kamu mabok K-Pop terus Yaya. Gaboleh gitu!" Tegur Mbak Yuna.

Adira tertawa kecil mendengar pujian demi pujian yang dia terima dari keluarga barunya ini. Membuatnya teringat saat bersama keluarganya yang kini sudah bukan lagi keluarga. Tidak pernah Adira mendapatkan pujian tulus seperti ini. Bahkan setelah dirinya tidak lagi gendut. Dia tetap di anggap biasa saja.

"Adira, suamimu itu orangnya tegas. Kalau dia susah di bilangin. Kamu bisa hubungin Mbak ya!" lalu Mbak Yuna menghampiri suaminya yang tengah menyantap makanan dengan dua orang anak mereka yang lain.

Melihat itu Adira rasanya juga ingin segera memiliki anak.

"Kak kalau abangku yang jelek itu macam-macam, bilang saja sama aku! Biar aku kasih pelajaran. Dia harus takut kalau Kakak di rebut sama cowok lain di luar sana. Karena Kakak cantik. Kalau aku jadi Kakak, aku bakalan milih buat nikah sama CEO, ganteng, kulitnya putih, matanya tajam seperti elang. Hahaha..." Mendengar perkataan Yaya membuat Adira ikut tertawa kecil. Keluarga ini sangat hangat dan menyenangkan. Padahal mereka baru pertama kali bertemu.

***

"Mira, tolong jangan menghabiskan waktu terlalu lama di tempat itu nanti. Mama tidak sudi sebenarnya untuk datang. Tapi karena Papa kamu membujuk, makanya Mama mau datang." Linda kini tengah melangkahkan kakinya untuk memasuki villa tempat anaknya menikah. Sambil menenteng bingkisan kado.

"Iya tentu enggak bakalan lama Ma. Ohiya itu isi kado Mama apa?" Tanya Mira. Pasalnya kedua ibu dan anak ini bertemu tadi di mobil. Karena Mira harus bekerja dulu. Baru setelahnya menjemput Mamanya di rumah.

"Ini karena Papamu juga yang memaksa. Jadi Mama belikan anak itu alat masak. Dia kan pandai memasak."

Mira tersenyum simpul saat menyadari bahwa Mamanya masih memiliki perhatian kecil untuk sang anak. Jujur saja dalam hati kecil Mira merasa bersalah pada Adira. Sebab dirinya yang bukanlah anak kandung Linda selalu mendapatkan perhatian dan juga kasih sayang yang lebih. Dan kini Linda malah memutuskan hubungan dengan Adira. Meskipun itu semua bukanlah kesalahan Mira. Tetap saja rasanya Mira telah merebut keluarga Adira. Makanya sebisa mungkin saat Angga keluar dari penjara dan bebas. Mira memohon pada Papanya itu agar mau membujuk agar Linda datang ke pernikahan Adira.

Awalnya Angga tidak mau. Bahkan dia memaki Adira. Mengatainya tidak tau diri. Juga ingin membalas dendam. Tetapi karena bujukan Mira, semuanya bisa seperti saat ini.

Linda melangkah masuk dan menunggu Mira untuk meng- scan code tamu undangan. Kemudian menaruh kadonya di tempat yang telah di sediakan. Dari kejauhan Linda melihat sosok Adira yang berdiri dengan anggun mengenakan gaun pengantin. Kecantikan itu membuat perasaan Linda bangga. Walaupun dia enggan mengakuinya. Mata Linda lalu melihat sosok Yovan. Lelaki yang dia hina seperti kuli itu terlihat sangat bahagia berbicara dengan temannya.

"Ekhem." Sengaja Linda mendekati Yovan.

"Tante.." Yovan langsung menghampiri Linda. Dia begitu terkejut dengan kehadiran mertuanya ini.

"Yovan selamat ya!" Mira segera menyalami Yovan. Karena Mamanya tidak merespon Yovan dan malah memasang wajah jutek. Ada-ada saja tingkahnya di tengah keramaian.

"Mari Tante, Mira, aku antar pada Adira."

Tadinya Linda hendak menolak. Namun karena Mira langsung menarik lengannya. Linda pun ikut mendekat.

***

Dari kejauhan Adira melihat sosok yang seharunya sudah tidak akan lagi mendatanginya. Hatinya merasa senang. Namun melihat raut wajah itu, Adira paham, Mama hanya terpaksa hadir. Tiba-tiba hatinya menjadi perih. Saat Mira dengan mudahnya mengajak Mama untuk mendekat.

"Padahal dia hanya anak angkat, tapi dia lebih di anggap ketimbang aku yang anak kandung." lirih Adira. Wajahnya terus menampilkan senyuman karena tidak ingin terlihat menyedihkan.

"Adira selamat yaa!!" Mira memeluk Adira. Kemudian berbisik. "Aku juga akan segera menyusul sebentar lagi!"

"Dengan siapa?"Tanya Adira heran. Bukankah Mira akhirnya menolak perjodohan yang Papanya tawarkan.

"Rahasia!"

Lalu kini Adira dan Linda saling menatap dalam diam. Merasa sangat kikuk seperti orang yang tidak saling mengenal.

Linda mencondongkan tubuhnya dan memeluk Adira. "Selamat."

Hanya satu kata. Namun yang membuat Adira terkejut adalah tepukan pelan di punggungnya. Tangan Linda tak pandai berdusta. Kasih sayang itu masih ada walaupun hanya secuil-menurutnya.

"Maafkan aku."

Lalu keduanya melepaskan pelukan dan tertunduk.

"Yovan di mana ibu-mu? Tante ingin menyapa." Ujar Linda untuk menghindari situasi yang membuatnya merasa sisi keibuannya kembali muncul untuk Adira.

"Mari Tante saya antar."

Adira ingin melarang Yovan untuk mempertemukan Mama dan Bunda. Dia takut kejadian di rumah sakit terulang. Menjelekan Adira. Tetapi tenggorokannya seperti di mute. Tidak dapat mengeluarkan suara.

Tangan Adira di pegang oleh Mira. Lalu saudara angkatnya itu meletakkan tangan Adira di perutnya.

Adira mengerutkan kening.

"Aku akan segera hamil."

Adira mencibir. "Apaan sih Mira."

"Aku serius Dira!"

1
Ichigo Kurosaki
Kece abis!
Bé Chun
Nggak bisa berhenti.
Dálvaca
Wow, bikin terhanyut.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!