'GURUKU ISTRIKU, SURGA DUNIAKU, DAN BIDADARI HATIKU.'
***
Dia adalah gurunya, dia adalah muridnya. Sebuah cinta terlarang yang berakar di antara halaman-halaman buku teks dan derap langkah di koridor sekolah. Empat tahun lebih mereka menyembunyikan cinta yang tak seharusnya, berjuang melawan segala rintangan yang ada. Namun, takdir, dengan segala kejutannya, mempertemukan mereka di pelaminan. Apa yang terjadi selanjutnya? Petualangan cinta mereka yang penuh risiko dan janji baru saja dimulai...
--- INI ADALAH SEASON 2 DARI NOVEL GURUKU ADALAH PACARKU ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pelakunya adalah Reina
Dua hari sudah berlalu dan di hari-hari itu semuanya berjalan baik tanpa suatu masalah apapun. Kecuali, tentu saja, peristiwa-peristiwa aneh yang kembali terjadi antara Kaesang dan Tyas. Ada benda aneh lagi yang datang dan itu ditujukan untuk mereka. Isinya kurang lebih sama seperti yang dua hari lalu mereka dapatkan di hotel, yakni beberapa benda yang berlumuran darah dan itu dibungkus dengan kotak yang sangat cantik.
Mereka semua termasuk Daniel yang sudah datang pagi tadi sedang mengobrol dengan serius di ruang tamu.
"Jadi maksud kalian aku gitu yang udah ngirim semua barang ini?!" tanya Daniel, suaranya sedikit terkejut, tapi lebih terdengar kesal karena merasa dituduh. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal, menunjukkan kalau dia sedang benar-benar marah. Dia benar-benar tidak terima.
"Siapa lagi kalau bukan Om?" bentak Kaesang, wajahnya memerah menahan amarah. "Di sini, cuma Om yang paling nggak terima aku nikah sama Tyas. Pasti Om yang ngelakuin semua teror ini!"
Matanya melotot tajam, napasnya memburu. Tyas tersentak, merasa hawa panas menguar dari tubuh Kaesang. Dengan cepat ia menggenggam tangan Kaesang, bisiknya, "Sayang... tenang..."
"Enak banget ya kamu nuduh Om, Kae? Emang Om ini cinta mati sama Tyas. Bahkan, sampai sekarang pun Om masih tergila-gila sama dia. Tapi Om gak sampai senekat itu buat neror kalian. Om masih sayang sama kamu, Kae, dan memilih mengalah daripada melakukan hal-hal gila kayak gini," jelas Daniel, napasnya memburu.
Ia melanjutkan, "Bukan Om yang ngirim semua barang ini, Kae, mas. Selama ini aku di Australia sana menyibukkan diriku dengan bekerja, bukan main-main atau ngelakuin hal-hal nekat kayak gini!" Daniel berusaha keras membela diri, meyakinkan keluarganya kalau dia bukan dalang di balik semua barang aneh yang dikirim ke Kaesang dan Tyas. Wajahnya serius, membuat semua semua orang ragu, termasuk Kaesang dan Tyas. Keheningan menyelimuti ruangan.
Lalu, ponsel Indra berdering. Ia langsung meraihnya dari saku, mengangkat panggilan itu.
"Ya, halo,"
Selama kurang lebih beberapa menit Indra berbicara dengan seseorang di telepon itu. Tanpa pergi ke suatu tempat atau berbicara lirih. Tapi ia sengaja mengencangkan suaranya agar semua orang yang ada di sekelilingnya mendengarnya berbicara.
Semuanya masih tidak mengerti dengan siapa Papa Indra berbicara, tapi setelah panggilan itu berakhir, wajah Papa Indra terlihat tegang. Ia menghela napas panjang.
Lalu, Papa Indra berdiri, memasukkan ponselnya ke saku, dan menghampiri Daniel. Daniel pun berdiri tegak ketika Papa Indra sampai di hadapannya. Tanpa diduga, Papa Indra memeluk Daniel erat, menepuk-nepuk punggungnya sambil meminta maaf.
"Maafin Kakak ya, tolong maafin kakak, maaf," Indra terus meminta maaf, membuat orang-orang di sana bingung.
"Maaf kenapa? Maaf karena udah salah nuduh maksudnya?!" Daniel menyindir, suaranya sedikit meninggi. Namun, ia tetap membalas pelukan kakaknya.
"Papa kenapa malah meluk Om Daniel?" tanya Kaesang tidak mengerti.
"Mas?" Panggil mama Zora, sama terkejutnya.
Lalu papa Indra mengurai pelukannya dan berbalik. Menatap ke arah istrinya dan yang lain. Ia mengerti jika semuanya pasti terkejut melihatnya yang langsung memeluk Daniel.
"Papa meluk Daniel dan minta maaf karena memang seharusnya Papa minta maaf sama dia. Kita udah salah dengan menuduh Daniel sebagai dalang dari peneroran ini. Pelakunya bukan Daniel," jelas papa Indra. Lalu ia menghela napas kasar, menggeleng. "Orangnya masih sangat amatir. Papa bahkan nggak nyangka gitu kalau pelakunya itu orang ini," lanjutnya masih terlihat tidak percaya.
Ia dan Daniel kembali duduk di kursi masing-masing.
"Maksudnya gimana sih Pa? Pelakunya bukan Om Daniel?" tanya Kaesang, keningnya berkerut. Ia masih bingung, sekaligus terkejut dengan ucapan Papanya.
Semua mata tertuju pada Papa Indra, menunggu penjelasannya.
Papa Indra mengangguk, serius. "Pelakunya memang bukan Daniel. Bukan dia yang udah mengirim barang-barang itu ke kalian. Tapi orang lain," katanya.
Semua orang tercengang, matanya melotot tak percaya, kecuali Daniel yang terlihat biasa saja. Entahlah.
Kaesang dan Tyas saling menatap, antara terkejut dan juga bertanya-tanya siapa pelaku dari peneroran itu.
"Terus kalau bukan Daniel siapa Mas yang udah ngirim barang-barang itu ke Tyas sama Kaesang?" tanya Mama Zora dengan lembut, namun suaranya menunjukkan rasa ingin tahunya.
Papa Indra menunduk sejenak, terdiam dan menghela nafas berkali-kali. Setelahnya ia mengangkat wajahnya dan menjelaskan semuanya secara rinci kepada keluarganya.
"Jadi seperti itu. Orangnya memang bukan Daniel," kata papa Indra setelah penjelasannya berakhir. Ia lalu menoleh ke Daniel yang juga sedang menatapnya dengan tajam. Kecewa dan marah terpancar dari sorot matanya.
"Maafin Kakak ya karena udah nuduh kamu yang nggak-nggak," lanjutnya meminta maaf ke Daniel.
Kaesang dan yang lain menoleh ke Daniel, wajah mereka penuh penyesalan. "Maafin aku ya Om karena udah nuduh Om tadi," kata Kaesang, suaranya masih terdengar menyesal. Tyas dan Mama Zora hanya diam, wajah mereka juga menunjukkan penyesalan yang sama.
"Nyesel kan kalian udah nuduh aku?!" seru Daniel, wajahnya masih merah padam, suaranya sedikit meninggi. Ia memalingkan muka ke arah lain, lalu berdiri.
"Aku masih banyak urusan di Australia, kerjaanku belum rampung, tapi demi kalian, aku tinggalin semuanya dan pulang. Sekarang, aku harus balik lagi. Beberapa bulan ke depan, aku nggak akan pulang. Jadi, kalau nggak penting-penting amat, jangan hubungi aku. Aku pergi." Tanpa menunggu jawaban, Daniel langsung pergi.
Papa Indra dan semuanya terkejut melihat Daniel yang langsung pergi dan mendengar ucapannya. Tapi mereka tidak mengejar Daniel atau mencegahnya pergi. Mereka cukup mengerti dan hanya duduk terdiam di tempat mereka.
"Yang aku mau bicara sama kamu di kamar," kata Tyas setelah dari tadi hanya diam, menoleh ke Kaesang di sampingnya.
Kaesang menoleh dan mengangguk, lalu mereka berdua beranjak menuju ke kamar mereka. Langkah kaki mereka menaiki tangga, meninggalkan papa dan mama Kaesang yang masih terpaku di ruang bawah, larut dalam pikiran masing-masing.
Di kamar, Tyas menarik Kaesang ke ranjang. Mereka duduk berdampingan, Tyas bersandar manja di bahu Kaesang, tangannya melingkar di lengan suaminya. Wajahnya bercampur aduk; rasa bersalah, kebingungan, dan ketidakpercayaan beradu dalam pikirannya. Kaesang pun sama. Keduanya terdiam, larut dalam lautan pikiran masing-masing. Lama-kelamaan, Kaesang menarik Tyas hingga mereka terlentang di ranjang, sama-sama menatap langit-langit kamar.
"Aku nyesel Yang udah nuduh Daniel yang nggak-nggak. Ternyata bukan dia pelakunya," ucap Tyas lirih, tatapannya masih terpaku ke langit-langit.
Kaesang mengangguk perlahan, ia pun juga merasakan hal yang sama. "Iya, tapi mau bagaimanapun Om Daniel masih ada perasaan sama kamu. Kita harus tetap berhati-hati, jangan sampai hal yang sama terjadi lagi.
Meskipun tadi Om Daniel bilang akan mengalah, tapi aku nggak sepenuhnya yakin sama dia. Aku masih sedikit curiga saat lihat tatapan Om Daniel tadi ke kamu. Sepertinya Om Daniel itu...masih sangat berharap sama kamu, tapi entahlah.
Semoga setelah ini nggak ada satupun masalah yang datang ke keluarga kita. Semoga Reina juga berhenti buat berharap sama aku dan berhenti ngirimin barang-barang aneh kayak kemaren," katanya panjang lebar, penuh harapan, takut dan waspada.
Tyas menyimak ucapan Kaesang dengan saksama. Ia mengangguk pelan, lalu berujar, "Amin. Semoga nggak ada masalah lagi, ya, dan kita bisa hidup tenang dan bahagia."
Ternyata, dalang di balik teror kiriman barang-barang aneh itu bukan Daniel, seperti yang dicurigai Kaesang dan Tyas. Pelakunya adalah Reina, perempuan yang pernah hampir dijodohkan dengan Kaesang, tapi gagal. Dengan bantuan mamanya, Eleonor, Reina berhasil mengirimkan semua barang-barang aneh itu dan menerobos pertahanan ketat Papa Indra.
Banyak sekali yang papa Indra jelaskan tadi, tapi yang pasti pelakunya adalah Reina. Perempuan bau kencur yang bisanya hanya marah-marah.
Bersambung ...