Kisah seorang istri yang mengkhianati suaminya hanya karena benci suaminya bukan pria yang ia inginkan. Ia mengkhianati suaminya dan ia juga di khianati selingkuhannya yang dengan sengaja membunuhnya dengan menembakkan tiga peluru di dadanya hingga wanita itu mati hingga terjun bebas dari lantai 30 apartemennya sendiri.
"Maafkan aku Tuhan, maaf kan aku suamiku! Jika aku di beri kesempatan aku tidak akan mengkhianati mu dan akan mencintaimu setulus hatiku! Maafkan kebodohan ku! Maafkan aku! " - Michelle Van Reich.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertembak
Jambi, 30 Juli 2024
...****************...
Selamat membaca...
30 menit sebelum terdengar suara tembakan.
"Denisa, perhatikan langkah kakimu! Bergeraklah dengan hati-hati karena kita tidak tahu apakah pihak lawannya Dexter sudah mengepung tempat ini atau bukan! Bisa saja mereka ada ditempat yang tersembunyi dan melihat kedatangan kita," ucap Elle mengingatkan Denisa sebelum mereka memasuki bangunan terbengkalai tersebut.
"Kau jangan khawatir, aku akan berhati-hati! Kau juga harus begitu," sahut Denisa dengan mengangguk mengerti.
Elle memberikan jempolnya, ia lalu memasang masker yang hanya memperlihatkan mata Hazel nya saja. Dengan mata yang tajam dan telinga yang mendengarkan dengan sempurna, Elle memasuki gedung tempat pertemuan Dexter dengan rekan bisnisnya tanpa suara.
"El, apa Tuan Romano tidak membawa pasukannya saat ini?" bisik Denisa dengan penasaran.
"Entahlah, sepertinya bawa tetapi mungkin tidak terlalu banyak! Itu hanya dugaanku saja, siapa tahu ia membawa banyak pasukan tetapi mereka berjaga seperti bayangan," jawab Elle tidak begitu yakin.
Denisa mengangguk paham, ia lalu berjalan dibelakang Elle dengan mata yang tajam mengamati setiap pergerakannya agar tidak menimbulkan suara yang membuat posisi mereka berdua diketahui musuh.
Sekilas Elle merasakan keberadaan seseorang sebelum ia melangkah lebih jauh sehingga ia berhenti dan menahan langkah Denisa.
"Bersembunyi Denisa! Aku melihat bayangan yang juga mengawasi tempat ini! Sepertinya kita tidak bisa masuk lebih dalam karena bisa ketahuan! Lagipula aku tidak tahu apakah itu bayangan dari pihak Dexter ataupun dari pihak rekan bisnisnya," bisik Elle memberitahu Denisa yang kaget tiba-tiba berhenti.
Denisa mengangguk paham, ia lalu berbelok ke kanan dengan diikuti Elle dan bersembunyi dibalik drum yang tidak diketahui apa isinya.
Elle mengeluarkan teropong kecil dari saku jaketnya, ia lalu mendekatkan teropong tersebut pada kedua matanya dengan posisi yang aman.
Ia bisa melihat dengan jelas keadaan didalam melalui teropong kecil miliknya, hanya saja apa yang mereka bicarakan tidak bisa di dengar karena jaraknya yang lumayan jauh.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa pria itu seperti menahan amarahnya pada priaku?" gumam Elle dengan terus mengamati mereka dengan teropongnya.
Ia melihat sang kekasih tetap dengan raut datar dan dinginnya saat berbicara dengan pria lawannya, ia juga melihat gerak gerik Dexter yang tampak malas dan ingin menyudahi pembicaraan tersebut.
"Kenapa Uncle Han tidak membawa pasukan yang banyak untuk berjaga-jaga? Mereka terlalu meremehkan kekuatan musuh," gerutu Elle dengan kesal dibalik teropongnya.
"Hais, kalau tidak ada mereka yang juga mengamati dari kegelapan, aku sudah masuk ke sana dan mendengar apa yang mereka bicarakan!" tukasnya lagi dengan kesal.
"Hei, kenapa kau yang jadi marah-marah? Apa yang kau lihat hingga menjadi kesal begitu?" tanya Denisa berbisik sambil menyenggol lengan Elle.
"Kau lihat saja sendiri," jawab Elle dengan menyerahkan teropongnya pada Denisa dan giliran ia yang duduk bersembunyi.
Denisa pun melihat keadaan didalam sana dengan posisi seperti Elle tadi. Keningnya berkerut karena tanpa sengaja melihat pergerakan yang tidak biasa dari pihak lawan.
"Apa yang mereka lakukan di sana? Kenapa ada cahaya merah yang membidik pria dengan rambut blonde itu?" gumamnya dengan bingung.
Elle tersentak mendengar gumaman Denisa sehingga ia ikutan berdiri dengan tumpuan lututnya sejajar dengan posisi Denisa.
"Apa yang kau katakan Denisa?" tanya Elle agak was-was.
"Entahlah, ada cahaya merah yang ditujukan pada pria dengan rambut blonde yang berdiri di samping tangan kanannya Tuan Romano! Kau lihat saja sendiri," jawab Denisa dengan memberikan teropong itu pada Elle.
Dengan cepat Elle merebut teropong tersebut dan matanya melotot saat melihat cahaya merah yang dikatakan Denisa tadi.
"Oh, shitt! Mereka bermain curang dengan menggunakan sniper! Ini tidak bisa dibiarkan! Denisa, cari orang yang mengarahkan infra merah dari sniper secara diam-diam dari arah selatan! Dugaanku mereka berada di sana dan habisi mereka tanpa ketahuan!" umpat Elle dengan memberikan perintah pada Denisa.
"Baik," jawab Denisa patuh.
"Lakukan dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara! Setelah berhasil, amankan senjatanya karena menggunakan senjata itu bukan keahlianmu," ucap Elle memperingatkan Denisa.
Denisa memberikan jempolnya dan mulai mengendap-endap menuju tempat yang diperintahkan Elle tadi.
Lima menit sudah berlalu saat Denisa diam-diam mendekati pihak musuh dan ia berhasil menemukan pria yang memegang senjata itu di lantai atas dengan posisi siap membidik pihak Dexter.
Hap
Denisa berhasil membekap mulut pria tersebut dengan menggunakan bius dosis tinggi yang ia tuangkan pada saputangan nya.
Ia sekuat tenaga menahan bobot tubuh pria tersebut agar tidak menimbulkan suara yang membuat ia ketahuan.
"Astaga, makan apa pria ini? Dalam posisi baring aja berat sekali, bagaimana jika dalam posisi berdiri? Bisa gepeng badanku ditindihnya," keluh Denisa.
Ia lalu mengambil senjata laras panjang tersebut dan membawanya dengan susah payah ditempat yang tersembunyi.
Elle syok saat melihat rekan bisnis Dexter mengacungkan senjata mereka dengan mengelilingi Dexter dan bawahannya.
Sekelebat ingatan akan masa lalunya saat Dexter ditembak oleh Demian bermain di pikiran Elle. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, ketakutan akan kematian Dexter kembali muncul sehingga Elle dengan reflek berlari ke dalam saat mendengar suara tembakan bersahutan.
"Berhenti!!!" pekiknya dengan berlari kearah Dexter tanpa melihat jika salah satu dari pihak Mr Chan melepaskan tembakan ke arah Dexter.
Dor
"Aaahhhh,,," pekik Elle saat tubuhnya berhasil memeluk Dexter hingga hampir tumbang kalau tidak ditahan oleh Dexter.
"Sweetheart!!!" teriak Dexter dengan wajah syok.
"Master, Nyonya terkena tembakan!" pekik Hansel kencang saat melihat darah pada punggung Elle.
Dexter langsung melepaskan masker yang menutupi sebagian wajah Elle agar perempuan itu bisa bernapas.
"Steve, Hansel! Habisi mereka sampai bersih tanpa meninggalkan jejak!" perintah Dexter dengan wajah menggelap.
Keduanya mengangguk dan bersama bawahannya yang tadi bersembunyi kembali melepaskan tembakan kearah musuh yang berlindung entah dimana.
Denisa yang mendengar jeritan Elle berlari kearah tersebut dengan wajah cemas.
"Elle!!!" teriaknya dengan penuh kekhawatiran.
Dexter menatap tajam Denisa yang datang dengan wajah khawatir pada Elle.
"Apa yang kalian berdua lakukan disini, hah! Kenapa kau membiarkan Elle keluar apartemen?" bentak Dexter dengan tatapan menghunus seperti pedang yang siap memotong leher musuhnya.
"Maafkan saya, Tuan! Saya benar-benar tidak bisa mencegah perintah Nona Muda," jawab Denisa dengan kepala menunduk.
Dexter menahan amarahnya karena sejujurnya Denisa tidak bersalah, wanitanya saja yang benar-benar penuh kejutan.
"Amankan jalan, kita harus membawa Elle ke rumah sakit sebelum ia kehabisan darah!" perintah Dexter pada Denisa sambil menggendong Elle yang punggungnya terus mengeluarkan darah segar.
"Baik, Tuan!" jawab Denisa patuh.
Ia dengan sigap mengamankan jalan Dexter yang membawa Elle keluar dari bangunan tersebut. Beberapa kali Denisa melepaskan tembakan kearah jam sembilan dan jam dua untuk mengecoh musuh yang sedang baku hantam dengan rombongan Hansel dan Steve.
"Cepat kemudikan mobilnya ke rumah sakit terdekat, Denisa!" teriak Dexter kencang dengan hati yang cemas karena Elle mulai turun kesadarannya.
Bersambung...
😠😠😠