"Dia milik ku...Kau membunuh ku."
Suara itu yang setiap saat, Ratna dengar setelah ia menikah dengan Bram.
Bram punya istri bernama Nilam, Namun Nilam hanya anak orang tidak punya. Atas perintah dari Ibu nya, Bram memulang kan Nilam kerumah orang tua nya. Padahal Nilam sedang hamil besar.
Seminggu setelah Nilam pindah, Bram menikah dengan Ratna. Nilam frustasi karena cinta nya yang amat besar pada suami nya.
Hingga kehebohan terjadi, Nilam di temukan mati di dalam kamar oleh orang tua nya. Perut nya memburai keluar, Bayi nya juga ikut meninggal. Seolah perut nya meledak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26
Maulana dan Makmur serta Ustad Fikri, Para golongan anak muda ini mendapat jatah ronda. Mereka sudah keliling kampung lima menit yang lalu, Kini wayah nya untuk istirahat dulu.
Mereka membawa kopi dan juga camilan lain nya, Agar jangan sampai ketiduran. Kalau pun ingin tidur, Bisa berganti gantian. Bahaya jika mereka malah tidur semua, Maka maling akan beraksi lagi.
"Bagian sana tadi kayak nya cuma dua orang ya." Ujar Azka.
"Bapak bapak ya gitu, Alasan nya karena lelah bekerja. Giliran mau kelon, Wah cepet banget." Cetus Makmur.
"Kau pun pasti nya gitu, Sayang nya belum ada yang mau di keloni." Ejek Azka.
"Astagfirullah." Ustad Fikri hanya geleng geleng kepala jika pembahasan nya sudah menjurus kesana.
Maulana masih diam saja karena merasakan perut nya tidak enak, Entah kenapa sejak tadi ia merasakan lambung nya sangat perih. Padahal Maulana tak punya riwayat asam lambung atau pun maag.
"Hooeeek."
Akhir nya Maulana muntah karena mual sudah tidak tertahan lagi, Yang membuat Azka menjerit karena Maulana muntah darah dan karung beras.
Lagi pula dari mana pula karung beras bisa berasal dari perut, Ustad Fikri tegak di depan pos ronda sambil berdoa kepada Allah. Merasakan energi yang tidak bagus sedang mengarah kesini.
"Tolongin, Mur? Kau malah diam saja." Bentak Azka.
Makmur memang hanya terdiam melongo karena tidak percaya dengan penglihatan nya, Azka membuang rasa jijik dan berusaha menarik karung yang sangat susah keluar dari mulut Maulana.
"Ya Allah, Ini pasti santet." Pekik Azka sudah bisa menduga nya.
Bruutt.
Karung itu berhasil di tarik keluar oleh Azka dan darah semakin deras keluar dari mulut nya Maulana, Ustad Fikri masih terus membaca doa sampai keringat membasahi dahi nya yang putih licin.
"Sa..kit..Ya Allah." Rintih Maulana terputus putus.
"Nyebut Maul, Semoga Allah menolong kita." Azka sudah menangis karena tidak tega pada teman nya.
Makmur menarik Maulana agar berbaring di lantai pos, Karena muntah nya juga perlahan berhenti berkata doa yang Ustad Fikri panjat kan.
"Hueeeek."
"Ya Allah, Fikri."
Azka kaget juga melihat Fikri yang terjatuh dan memuntah kan darah segar, Namun pemuda ini melambai kan tangan pertanda ia baik baik saja. Malah ia langsung bangkit untuk melihat bagai mana keadaan nya Maulana.
"Bukan kah perut Maulana tampak besar?" Tanya Makmur.
"Sebaik nya tolong panggil kan Abi ku saja, Az!" Pinta Fikri.
Azka sigap menghidup kan motor untuk memanggil Abi nya, Beruntung nya di pertengahan jalan malah melihat Habib Amir sedang berjalan.
"Habib!"
Habib Amir menoleh sambil tersenyum, Bahkan tanpa di minta pun orang tua ini langsung naik keboncengan motor nya Azka. Pemuda ini mengira bahwa Habib sangat pandai nya membaca pikiran orang, Maka tanpa di beritahu pun langsung mengerti.
"Loh kok cepat sekali?" Heran Fikri.
"Abi tadi mau jalan kewarung nya Pak Darman, Tapi malah ketemu dengan Azka." Ujar Habib Amir.
Habib Amir mendatangi Maulana yang masih terbaring menggeliat kesakitan, Perut nya juga membuncit besar. Entah apa yang di baca nya, Habib mengelus perut Maulana berulang kali.
Hingga dengan ajaib nya bisa mengempes sendiri, Nafas Maulana yang terengah engah menahan sakit pun kembali normal.
"Sering berdoa kepada Allah agar terlindungi dari mereka." Ujar Habib.
"Siapa yang mengirim santet kepada ku, Habib?" Maulana bertanya pelan.
"Orang yang menyukai mu." Sahut Habib dan segera turun dari pos.
"Terima kasih sudah menolong Maulana, Bib. Mari saya antar kan pulang." Tawar Azka.
"Tidak usah, Saya masih mau jalan jalan." Tolak Habib dan segera pergi.
Karena Habib tidak mau di antar dan juga karena masih mau kewarung, Mereka pun memilih untuk menemani Maulana saja. Hanya Fikri yang masih menatap jalan, Habib Amir sudah tidak kelihatan punggung nya lagi.
"Kamu kenapa, Fik?" Makmur menepuk pundak Fikri.
"Ndak kok." Fikri menggeleng pelan sambil tersenyum.
Lewat pertimbangan yang akhir nya di sepakati oleh mereka, Maulana pulang saja dan di antar oleh Fikri. Karena Fikri tadi pun sempat muntah darah walau hanya sedikit.
...****************...
Fikri masuk kedalam rumah setelah mengucap kan salam, Tadi selepas mengantar kan Maulana. Ia sempat pulang lagi kepos, Namun mereka kekeh menyuruh dia pulang saja.
"Loh kamu dari mana? Kok tumben sudah pulang." Tanya Habib.
"Dari ngantarin Maulana, Bi. Tadi kan dia sakit itu." Jawab Fikri duduk di hadapan Habib.
"Sakit apa dia?" Tanya Habib agak kaget.
Fikri menatap Abi nya tajam, Padahal tadi Habib yang mengobati Maulana. Kenapa sekarang malah bertanya seolah tidak tahu, Namun Fikri kembali menyadari keanehan pada baju koko Abi nya yang sudah berganti jadi warna biru, Padahal tadi berwarna merah.
"Apa Abi tidak keluar rumah sama sekali?" Tanya Fikri.
"Tidak! Abi lelah dan mau ngapain juga keluar malam begini." Sahut Habib santai.
"Namun tadi kami bertemu Abi di luar sana, Abi juga mengobati Maulana." Cerita Fikri.
"Ngomong apa kamu Fik! Tidak mungkin Abi punya kembaran." Sergah Habib.
"Demi Allah, Bi. Aku tidak berbohong, Ayo kita kerumah Maulana sekarang." Ajak Fikri.
Untuk membukti kan ucapan putra nya barusan, Habib pun ikut menuju rumah nya Maulana. Padahal sejak sore ia sama sekali tidak ada keluar dari rumah, Namun putra nya malah mengatakan bahwa ia mengobati Maulana.
"Tidak mungkin ada setan yang menyerupai Abi kan?" Fikri berbalik menatap Abi nya.
"Tidak masalah jika dia melakukan kebaikan, Namun bila dia melakukan hal yang tidak bagus. Maka Abi akan mengejar kemana pun dia pergi." Sahut Habib.
Mereka pun tiba di rumah Maulana yang tampak sunyi saja, Karena Bapak nya Maulana sedang pergi kekota untuk menjual hasil panen nya. Adik Maulana yang keluar dari rumah setelah mendengar pintu di ketuk.
"Assalamualaikum, Apa maulana nya ada, Jani?" Tanya Habib.
"Walaikum sallam, Ada Abang di dalam. Habib." Jawab Rinjani.
Habib dan Fikri masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu, Rinjani memanggil Abang nya yang sudah berbaring di kamar.
"Ada habib sama ustad Fikri, Bang." Beritahu Rinjani.
"Hmmm, Abang akan menemui mereka." Angguk Maulana dan segera keluar dari kamar.
Maulana tersenyum menatap tamu nya yang baru datang, Ia mengira jika Habib akan mengulang pengobatan. Walau jarak waktu nya sangat lah dekat.
"Ada apa ya, Bib?" Tanya Maulana menyandar kan tubuh nya.
"Benarkah saya yang tadi mengobati mu, Nak Maul?" Tanya Habib.
"Iya kan, Habib yang mengobati ku tadi kan. Fik?" Tanya Maulana.
Fikri mengangguk pelan, Habib memegang tangan Maulana untuk melihat siapa yang sudah berani menyerupai diri nya dan mengobati Maulana.
ᴋᴇʀᴇɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀñʏᴀ...
jeng jeng
seru juga ceritanya thor 👍
setahu aku Semar mesem 🤔🤔