Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan makan malam
Clarissa tidak langsung menjawab, dia terlihat sedang berfikir apa yang akan dia katakan ada Papa Nadi. Tak berapa lama dia mengangguk dan tersenyum samar. Clarissa akan melakukan apapun demi bisa seperti sebelumnya. Kasih sayang, cinta, perhatian dan segalanya dari kedua orang tuanya.
"Ini baru anak Papa yang paling cantik" ucap Papa Nadi sambil mengacak rambut Clarissa hingga berantakan.
"Papa iiihhh, kenapa harus diacak-acak sih. Kan berantakan" ucap Clarissa menggunakan bahasa isyaratnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf-maaf sayang, habisnya Papa gemas" ucap Papa Nadi yang sekarang sudah terbuka pada putrinya.
Mereka akhirnya saling berpelukan bersama dan istirahat. Clarissa juga sudah bisa memejamkan matanya karena beban dalam dadanya terasa lenyap saat sang Papa menyadari kesalahan nya dan tidak akan membahas masalah yang sebelumnya. Mereka sudah saling bersama dan keadaan Mama Dania sudah sangat baik, juga sudah diperbolehkan untuk pulang.
Bahkan sekarang tepat sudah satu bulan setelah kejadian itu. Clarissa juga sudah satu bulan menyembunyikan kebenaran dia sudah bisa bicara. Hanya kepada Varaz dia berbicara dan tidak menyembunyikan apapun darinya.
Sekarang Clarisa dan Adji juga semakin dekat karena pekerjaan mereka yang berhubungan. Dan itu membuat Mama Dania dan Papa Nadi semakin salah faham akan kedekatan mereka berdua.
Saat makan malam ini Papa Nadi sengaja mengundang Adji dan kedua orang tuanya untuk makan malam bersama. Clarissa mati-matian menahan emosi dan kekesalan nya pada Adji. Entah kenapa dia begitu sangat membenci Adji, atau karena Adji adalah anak kandung Papa Nadi? Atau memang tidak menyukainya karena hal lain? Hanya Clarissa yang tahu apa yang dia sembunyikan dan alasan apa sampai dia sebegitu bencinya ada Adji.
"Pa, apa Papa yakin dengan semua ini? Mama takut jika Clarissa akan marah dan melakukan hal yang tidak-tidak. Mama nggak mau jika harus kehilangan dia" ucap Mama Dania yang merasa takut dengan keputusan mereka berdua.
"Papa sudah bertanya dulu pada Clarissa Ma. Dan apa Mama tahu, jika Clarissa sendiri yang menyarankan acara makan malam ini. Jadi, Mama jangan takut atau berfikiran macem-macem" jawab Papa Nadi yang membuat Mama Dania merasa tidak percaya akan apa yang beliau dengar.
"Apa Papa yakin? Jadi dia sendiri yang sudah memutuskan ini semua? Alhamdulilah Ya Allah, Engkau mendengarkan do'a-do'a hamba ini Ya Robb" tanya Mama Dania yang mengucapkan syukur atas apa yang beliau dengar dari suaminya.
"Katanya bukan hanya Clarissa yang menginginkan semua ini. Adji juga sama, ternyata memang mereka sudah memiliki perasaan satu sama lain. Kita hanya memberikan jalan untuk mereka berdua" jawab Papa Nadi yang langsung mendapatkan pelukan dari Mama Dania.
Sedangkan tidak jauh dari sana, Clarissa mengepalkan tangan nya dan menatap sinis pada kedua orang tuanya.
"Ternyata mereka salah faham apa yang akan aku katakan pada mereka? Bagaimana caranya aku mengatakan penolakan ini dan aku sudah miliki seseorang yang aku cintai? Apa aku sanggup untuk menyakiti perasaan mereka? Aku harus bagaimana?" gumam Clarissa yang segera pergi dari sana setelah mengatakan itu dan dia akan mengurung diri didalam kamar untuk sementara.
"Kenapa jadi seperti ini? Aku meminta Papa mengundang mereka juga supaya aku bisa mengatakan jika aku akan menolak perjodohan konyol ini dan aku akan mengatakan jika aku sudah memiliki kekasih. Begitu juga Adji, dia juga sudah memiliki kekasih. Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Clarissa setelah masuk kedalam kamar.
.
Tidak jauh dari Clarissa yang sedang merasa kesal, sedih dan bingungnya. Adji juga me RSS Asalkan hal yang sama. Dia menerima pesan dari Clarissa, jika mereka akan tetap melangsungkan perjodohan ini dan mungkin akan langsung menikah saat itu juga.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku sanggup meninggalkan Fania? Apa aku sanggup mengkhianatinya? Apa aku sanggup?" gumam Adji yang menghela nafasnya berulang-ulang agar bisa menenangkan perasaan nya yang berkecamuk.
"Nak, kenapa kamu belum bersiap? Bukankah kita semua diundang untuk makan malam kerumah Tuan Nadi? Segeralah bersiap, tidak enak jika kita datang terlambat" tanya Ibu Nining pada Adji, beliau memang sudah bersiap dan tinggal pergi saja.
"Iya Bu, Adji akan bersiap sekarang. Ibu dan Bapak tunggu sebentar" jawab Adji yang segera bangkit dari duduknya dan segera mengganti pakaian nya.
"Sudah siap nak? Kita berangkat sekarang saja" tanya Pak Budi yang sudah menggunakan batik yang senada dengan Ibu Nining.
"Sudah Pak, kita bisa berangkat sekarang" jawab Adji yang mengangguk dan mereka bertiga berjalan beriringan menuju rumah utama keluarga Wigunadi.
'Ya Allah, apa keputusan aku sudah benar? Atau malah sebaliknya? Maafkan aku Fan, aku sudah mengkhianati kamu dan mungkin aku akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah aku cintai seumur hidup ku ini. Maafkan aku Fania, maaf' gumam Adji dalam hati, perasaan nya begitu berkecamuk saat mengingat-ingat ini semua.
Hingga membuat kedua orang tuanya menyadari jika putra mereka sedikit berubah dan terlihat sangat terpaksa dalam melakukan segala hal. Apa lagi ini adalah menyangkut sebuah ikatan pernikahan untuk seumur hidup dia jalani.
"Nak, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Ibu Nining yang sangat tahu Wa atak dan juga sikap putranya.
"Adji baik-baik saja Bu, hanya sedikit tidak enak badan saja. Mungkin akan demam Bu" jawab Adji sambil menunduk. Tidak ingin jika sang Ibu yang sangat peka tahu jika dia sedang berbohong.
"Ya sudah, setelah ini kamu minum obat dan istirahat. Kamu ini terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat" ucap Ibu Nining yang merasakan jika putranya itu memang sedang ada yang dia sembunyikan dari mereka berdua.
"Iya Bu" jawab Adji dan mereka sudah sampai didepan rumah keluarga Wigunadi.
Mereka langsung disambut oleh Papa Nadi dan Mama Dania. Jangan lupakan Clarissa yang sudah tampil sangat cantik dan dia sangat berbeda dari biasanya. Dia terlihat selalu tersenyum dan itu membuat Adji merasa bingung akan sikapnya itu.
'Tumben sekali Nona Clarissa tersenyum dihadapan kami semua? Tidak seperti biasanya saat dia bertemu dengan kamu sebelumnya. Apa ini memang rencananya untuk tetap melangsungkan perjodohan ini? Jika iya, dia begitu sangat munafik' ucap Adji dalam hati sambil terus menatap Clarissa yang masih setia tersenyum.
'Apa yang dia lakukan sekarang? Bukankah sudah aku katakan sebelumnya untuk tidak bersikap seperti itu dan menolak perjodohan gila ini. Kenapa dia terlihat sangat bersemangat dan terlihat sangat bahagia? Cih, dasar munafik. Tidak sepantasnya dia itu putra tunggal Wigunadi. Sangat berbanding terbaik dengan Papa yang sangat berwibawa' ucap Clarissa dalam hati sambil mengepalkan tangan nya menahan kesal pada Adji.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu