Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA-MASA TAHANAN
Sidang baru digelar setelah hampir 4 bulan aku mendekam dipenjara. Sungguh masa yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Bukan suatu hal yang baik apalagi menyenangkan untuk diceritakan. Bahkan dibanding 23 tahun kesusahanku masih lebih baik kenistaan dalam sel karena kesalahan.
Aku terlalu takut untuk membela diri. Karena kutahu, ini murni kesalahanku. Vika berusaha mencari pengacara yang lebih bonafid yang bisa menyelamatkanku dari hotel prodeo nantinya. Tapi tetap saja, aku bersalah. Terlebih Arif lebih kuat dari yang kubayangkan.
Sepertinya Arif memiliki dendam berakar kepadaku dan Vika. Ia sangat ingin menghancurkanku dan juga Vika. Setelah ia meminta ganti rugi untuk barter tanda terima perceraian dengan harga yang fantastis pada Vika yakni 2 miliar ganti rugi semua kesedihan moriil maupun materiil akibat ditinggal Vika selama beberapa bulan itu. Hebat, otak licik si Arif! Kini ia juga menuntutku 1 miliar karena kesalahanku membawa kabur istrinya hingga perbuatan asusila dan menghamilinya. Hhh.... Ia benar-benar pintar menguras Vika.
Sementara Ranti sejak hari kedua aku ditahan, tak lagi menjengukku bahkan menelponku sekedar menanyakan keadaanku.
Vika bilang, Ranti menutup semua aksesnya untukku dan Vika. Ranti menghilang entah kemana. Mungkin pulang ke Pondok Gede atau ke Depok rumah adiknya. Aku hanya berdoa Ranti dan Jingga selalu sehat dan Allah jaga mereka.
Aku hanyalah pecundang yang kini benar-benar terpuruk akibat tingkahku yang jumawa dan sombong ini.
Perut Vika pun semakin hari semakin membesar. Aku menangis dipelukannya menjelang sidang beberapa hari lagi. Biasanya akulah yang menjadi tempat dipeluk Vika, tapi kali ini kebalikannya. Vika mengelus kepalaku pelan. Juga berurai airmata. Tak ada kata penghiburan keluar dari bibirnya karena iapun tak bisa berkata apa-apa.
Perusahaan kecil yang baru saja ia bangun dengan Ranti akhirnya dilelang untuk biaya kedepan urusan kami yang tak kunjung selesai. Aku lelah. Aku menyerah. Meski aku masih bersyukur Vika tetap mendampingiku dalam keterpurukanku. Tapi aku sedih, tidak bisa lagi menjadi pria gagah dimata Vika.
Belum lagi perusahaan tempatku bekerja juga memecatku dengan tidak hormat karena kesalahan fatal yang berimbas kepada nama baik perusahaan. Ternyata tak sedikit yang harus kukorbankan dari sikap main-mainku yang kusangka kenikmatan selamanya.
Sidang berjalan dramatis. Aku sungguh baru tahu kalau Arif adalah pemain sinetron ulung. Ia bahkan berakting begitu bagus membuat suasana ruangan sidang yang tertutup mengharu biru karena cerita sedih yang ia suguhkan lewat kesaksiannya sebagai korban.
Bahkan Vika sampai histeris dan nyaris pingsan mendengar karangan ceritanya yang super hebat. Bahkan bila aku tak begitu dekat dengan Vika dan tahu jalan cerita aslinya, mungkin aku pun akan terhanyut terbawa perasaan menyatakan betapa murahannya Vika.
Aku sudah bisa menilai Vika sebelumnya. Wanita itu tak serendah yang mantan suaminya ceritakan. Bahkan mungkin seribu satu kulihat betapa jahatnya seorang lelaki yang begitu menindas, memeras dan juga menginjak-injak harga diri siwanita itu. Dialah Arifin Borne, lelaki yang paling jahat dimuka bumi ini menurutku. Bahkan kupikir ada dendam masa lalu juga yang membuatnya begitu ingin menghancurkan Vika.
Sidang masih akan berjalan setelah ditunda satu minggu untukku menyiapkan pembelaan.
Aku sudah terlalu lelah untuk eksepsi berikutnya. Aku hanya pasrahkan pada pengacara yang disewa Vika untukku.
Aku terpaku menatap wajah tirus diseberang sana ketika persidangan tadi. Ada Ranti duduk dikursi paling belakang melihat jalannya sidang. Tapi ia tak berinisiatif mendatangiku. Bahkan seulas senyumpun tak mampu ia berikan padaku sebagai kekuatan untukku dimasa mendatang. Aku hanya bisa menunduk melihat kepergiannya begitu saja setelah sidang selesai.
Aku rindu masa-masa dimana Ranti seperti sebelah kakiku. Kami dulu begitu kompak membangun rumah tangga yang bahkan begitu terseok-seok diawalnya. Memulai pernikahan dengan sederhana dan mengontrak kamar kecil berukuran 5x3 meter dengan kamar mandi diluar. Sungguh bahagia walaupun kami hidup susah dahulu.
Airmataku jatuh seiring berlalunya Ranti.
Setelah sidang pertama Arif rupanya memblow up kasusku ke media. Suasana diluar menjadi panas dan gaduh terutama disekitaran sosialku. Ayahku yang awalnya tidak tahu kalau anaknya ada dipenjara akhirnya kaget dan jatuh sakit hingga harus dirawat dirumah sakit.
Ada beberapa kerabat dan sahabat yang mensupport aku, tapi lebih banyak yang mencibir dan menertawakan kebodohanku.
"Saudara Dika, ada tamu untuk anda!" Seorang polisi membukakan pintu selku. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju tempat khusus pertemuan para tahanan bila ada yang berkunjung.
Ranti!... Aku menahan nafas seperkian detik. Terkejut melihat dirinya yang tengah duduk dikursi ruang tunggu sendirian.
Ia berdiri ketika melihatku datang. Mencium punggung lenganku tanpa berkata sepatahpun. Aku hanya menangis terisak jatuh dikakinya. Aku sangat bersalah padanya. Juga pada Jingga.
"Maafin aku, Ranti! Maaf, maaf banyak menyakitimu!"
"Kesalahanmu telah kumaafkan mas, bahkan sebelum kamu minta. Cuma satu sesalku.... Ternyata, cintamu padaku tak cukup kuat untuk melawan jerat pesonanya Vika padamu. Aku terlalu percaya diri mengabaikan semuanya bisa saja terjadi. Aku terlalu berbangga hati karena telah merasa memilikimu seutuhnya bahkan bagiku keindahan Vika tak kan mampu menggoyahkan kesetiaanmu padaku. Ternyata, aku terlalu sombong pada diriku sendiri!" Aku hanya bisa menangis mendekap kedua lutut Ranti diwajahku. Aku malu mendengar ucapannya. Sangat malu.
Setelah emosiku mulai stabil, Ranti membimbingku duduk dihadapannya.
"Maaf, aku kesini bawa kabar buruk. Dan kuharap, mas menerimanya dengan lapang dada karena takdir Tuhan ini."
Aku tercekat. Menahan nafas menunggu kabar buruk yang ingin Ranti sampaikan. Perceraiankah?... Aku menundukkan kepala hingga tak sadar airmataku berjatuhan menimpa meja dihadapanku.
"Semalam Vika pendarahan. Bayi kalian tidak terselamatkan. Bayi cantik itu sudah meninggal dunia sebelum dilahirkan. Itu kata dokter yang menanganinya. Bersyukur Vika kini kondisinya sudah lebih baik. Makanya, Vika memohon agar aku memberitahukan kabar ini pada mas!"
Lagi-lagi aku tersungkur diatas meja. Menangis tak lagi peduli pada Ranti dan sekitarnya. Ranti hanya mengusap-usap lenganku. Berusaha menghibur walau tanpa kata dan hanya lewat sentuhan.
"Kamu harus kuat, mas! Ini jalan yang telah kalian pilih sebelumnya khan?... Aku hanya bisa berdoa, badai ini cepat berlalu. Ini pasti berlalu seiring berjalannya waktu!" kata Ranti bijak sekali.
Ia berpamitan padaku yang masih tersungkur dengan penyesalan yang teramat dalam.
"Mas, aku tidak janji untuk mendampingimu. Bahkan sekedar berkunjung menengokmu. Jadi, berusahalah tabah dan kuat!" katanya lagi sebelum pergi membuatku mengucapkan banyak terima kasih atas segalanya. Semua kesetiaannya dan pengorbanannya, yang kubalas dengan penghianatan yang kejam.
Aku tersadar kalau aku lebih jahat daripada Arif. Aku justru menyakiti Ranti yang telah begitu baik padaku. Hhh....
...
Sidang hakim memfonisku 2 tahun potong masa tahanan. Aku terbukti bersalah dengan segala bukti dan catatan yang Arif punya. Bahkan karena kendala Vika yang masih lemah sehabis melahirkan membuatnya tidak bisa bersaksi untukku.
Sementara pihak Arif berhasil membawa istriku Ranti menjadi saksi. Meski demikian, keterangan Ranti cukup meringankanku ternyata. Akhirnya vonis 2 tahun harus kujalani dengan pasrah meskipun para pengacaraku berdalih terlalu lama dan mengusulkanku mengajukan banding. Tapi aku menolak.
Kupikir daripada menghabiskan waktu dan menghamburkan uang untuk hasil yang belum pasti, lebih baik terima saja nasib atas segala kesalahanku.
"Maaas...! Maafkan aku mas! Aku ga bisa jadi ibu yang baik untuk anak kita," Vika menghambur kepelukanku ketika terakhir kali menjengukku di sel tahanan polisi. Karena hari ini aku akan dipindahkan ke rutan Salemba resmi menjadi pesakitan untuk jangka waktu yang lama.
Aku hanya bisa memeluk Vika dengan derai airmata. Membiarkannya bercerita diantara isak tangisnya yang memilukan. Membuatku juga merasakan kesalahan yang mendalam.
Kuusap wajah Vika yang lusuh dan begitu tirus. Mencoba menenangkannya dengan sentuhan tanganku selagi kumasih bisa. Konon kabarnya, rutan tidak sebebas sel tahanan sementara. Untuk berkunjung, ada waktu-waktu tertentu.
"Mas! Apa kita ga sebaiknya ambil langkah banding?" kata Vika menanyakan kembali jalur yang pihak pengadilan tawarkan.
Aku menggeleng. Kemungkinan aku mendekam 1 tahun setengah setelah potong tahanan. Aku menerimanya.
"Jangan boros, honey! Belajar me-manag keuanganmu. Karena kemungkinan hidup susah ada didepan mata. Aku percaya kamu bisa menjaga dirimu, Vika! Aku disini. Mempertanggungjawabkan semua perbuatanku. Dan kuharap kamu juga bisa melaluinya dengan baik!" nasehatku membuat Vika mendekapku lagi. Aku ikut sedih melihatnya seperti itu.
"Mobil sudah kujual, mas! Tinggal rumah, itupun aku ga tau apakah mampu untuk bayar cicilan bulanannya. Aku akan berusaha cari kerja setelah pulih."
"Jaga kesehatanmu itu yang utama! Baru setelah itu tata kembali kehidupanmu. Mulailah semuanya dari awal! Kamu bisa khan, yang?"
"Kamu salah sebut!" Vika cemberut padaku. Aku tersenyum kecil melihat kecemburuannya.
"Iya honey!"
"Aku ga tau mas! Aku ga bisa hidup tanpamu mas! Aku ga tau harus bagaimana lagi! Apalagi kini Ranti juga pergi ninggalin aku. Rumah kalian dipasang tulisan dijual. Aku juga ga boleh kerumah orangtua mas lagi! Sekarang hanya pak Iksan yang masih setia menemaniku, mas!"
Aku mendekap Vika yang kembali terhanyut dengan kepiluannya. Lagi-lagi airmata ini tumpah tak tertahan.
Apa mau dikata, Vika? ... Kau pikir aku juga bisa hidup tanpa kau dan Ranti juga Jingga? Kau pikir hari-hariku senang disel tahanan ini? Bahkan nyamuk pun seolah memusuhiku menggerombol dengan pasukannya menyerangku tak kenal malam maupun siang.
Ranti menangis melihatku digiring dibawa ke Salemba dengan mobil tahanan. Apa mau dikata. Seperti pribahasa, nasi sudah jadi bubur. Semua sudah terlanjur. Aku tidak akan menengok kebelakang. Menerima suratan nasib ini dengan hati kosong tanpa kalian. Hanya tetesan airmata yang setia menemani hari-hariku dengan penyesalanku.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..