Naira gadis yang sudah berusia 27 tahun di datang ke jakarta dan tinggal bersama kakaknya untuk mencari kerja.
setelah melakukan interview tapi di tolak, namun siapa sangka dia malah di tawari untuk jadi seorang sekretaris oleh Direktur Utama perusahaan tempat dia melamar pekerjaan.
setelah menerima tawaran itu dan dia mulai bekerja ternyata yang menjadi atasannya itu adalah Rivaldi seorang laki-laki yang dulu pernah menjadi musuhnya saat SMA dan pernah dia tolak cinta nya..
Bagaiman kelanjutan kisahnya?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulah Clara.
Saat jam istirahat Romi tiba-tiba masuk ke ruanganku tanpa mengetuknya dahulu. Aku hanya menatapnya saja.
"Lo kenapa gak bilang kalau Clara udah balik?" Tanya nya.
"Balik, kapan?" Tanya ku balik.
"Lo yang satu rumah kenapa lo gak tahu?" Ucapnya.
"Gue juga gak tahu" Jawabku.
"Mendingan lo cari tahu deh dia dimana, gue takut dia berbuat onar" Ucapnya mengingatkan ku.
Romi langsung pergi begitu saja setelah memberibtahuku kalau adik ku Clara sudah balik. Aku langsung menyuruh seseorang untuk mengecek keberadaan Clara dimana.
Tak lama aku langsung mendapat kabar kalau Clara sedang di kantin perusahaan dan sedang berbicara dengan Naira. Aku langsung memdatanginya, padahal selama ini aku tidak pernah datang ke kantin perusahaan dan semua orang yang ada di kantin menatapku bahkan para cewek sudah saling berbisik. Sesampainya di kantin aku melihat Clara sedang memarahi Naira karena aku lihat Naira sedikit takut. Aku pun menghubunginya lalu dia berbalik melihat ke arahku dan Naira juga sama. Setelah dekat aku langsung merangkul pundak Clara "apa yang lo katakan sama dia?"
Clara tersenyum lalu berkata "gue gak bilang apa-apa ko, abang tanya saja sama mbak Naira nya! "
"Gue gak percaya lo pasti sudah bikin masalah disini, kalau nggak, tidak mungkin semua orang menatap ke arah sini dengan penasaran" Ucap ku penuh penekanan.
Clara cuman diam saja sambil memajukan bibirnya.
"Sekarang lo minta maaf sama mbak Naira" Titah ku.
"Mbak aku minta maaf ya? Jangan di ambil hati ucapan ku tadi, aku adiknya bang Rival, Clara" Ucap nya dan mengenalkan diri.
Naira dan mbak Anita berjabat tangan kepada Clara. Tak lama Romi datang dan berkata "ada apa lo panggil gue? " Tanya nya.
"Ni bawa, dia kesini pasti nyari lo" Ucap ku pada Romi sambil mendorong Clara.
"Dih siapa juga yang cari dia" Ucap Clara.
"Alah jangan ngeles deh, kalau udah di cuekin tar nangis" Maki ku.
"Ih" Kesalnya lalu pergi.
Aku melirik Romi agar dia mengejar Clara.
"Memang nyusahin adik lo, kalau gak sayang udah gue tinggal" Ucapnya lalu mengejar Clara.
Aku langsung melihat ke arah Naira dan bertanya "kamu kenapa makan disini?"
"Ada yang ingin aku bicarakan sama mbak Anita" Jawabnya.
"Kan bisa suruh mbaknya ke ruangan kamu!" Ucapku.
"Iya maaf, sekarang sudah beres ko" Ucapku.
"Ya sudah kalau gitu hayu" Ajaknya dan langsung menggenggam tanganku.
"Mbak aku duluan ya" Pamit nya.
Mbak Anita cuman mengangguk dan tersenyum.
Sesampainya di ruangan ternyata ada Romi dan Clara yang sedang berdebat. Naira melirikku tanda bertanya.
"Romi itu tunangannya Clara, mereka udah lama tunangan tapi gak mau di suruh menikah karena ingin aku duluan jadi kemarin Clara belajar dulu ke luar negeri" Ucapku menjelaskan.
"Clara itu waktu kita kelas tiga dia baru masuk SMP ya?" Tanya nya.
"Iya, Clara dari dulu fans berat Romi" Ucapku. sambil duduk.
Mereka sekarang malah bermesraan gak lihat apa aku gak bisa seperti mereka bikin iri saja.
Tiba-tiba Clara berkata pada Romi "kalau abang gak mau aku marah, aku punya syarat"
"Apa syaratnya?" Tanya Romi.
"Berikan aku kartu kredit, aku mau pergi shopping sama mbak Naira" Ucapnya.
"Lah kenapa bawa-bawa Naira?" Tanya ku.
Romi sudah mengeluarkan kartu kreditnya yang di minta Clara.
"Makasih" Ucapnya lalu mencium pipi Romi.
Lalu dia berjalan mendekati ku.
"Sekarang giliran abang keluarin ATMnya buat mbak Naira" Ucapnya.
Aku pun mengeluarkannya namun tiba-tiba Naira berkata mencoba menolak "Tapi aku lagi kerja Clara"
"Ngapain kerja sih mbak, ni kantor punya calon mbak juga" Ucap Clara sambil mengambil kartu kredit ku.
"Tapi" Ucapnya mencoba memberi alasan lagi namun langsung ku potong "udah temani saja, nanti kalau gak di temani takut ngamuk" Ucap ku.
"Enak saja memang aku apaan" Kesal Clara.
"Sudah mbak ayo, udah di izinin ini" Ajaknya.
Namun tiba-tiba bunda masuk dan bertanya pada Clara, Clara pun memberitahu bunda kalau mereka akan jalan ke mall, ku lihat Naira sepertinya takut namun bunda tidak marah malah pengen ikut dan aku sudah tertawa menertawakan tingkah Naira. Namun disini aku akan tekor karena bunda pasti akan pakai kartuku. Setelah mereka pergi Romi pun kembali ke ruangannya dan aku melanjutkan pekerjaan ku. Sorenya saat jam pulang tiba-tiba bunda menghubungiku untuk menjemput Naira karena bunda dan Clara tidak bisa mengantarkannya. Aku pun segera pergi untuk menjemput Naira disebuah salon yang bunda sebutkan namanya tadi. Setelah sampai di sana bunda dan Clara menungguku setelah aku datang mereka langsung pergi dan aku menunggu Naira yang masih di dalam entah sedang apa. Tak lama Naira keluar dengan memakai dress selutut berwarna biru dan rambut tidak di ikat Naira cantik banget beda dari sebelumnya.
Akhirnya aku ajak dia makan malam dulu sebelum pulang, apa lagi dengan penampilan dia seperti ini adalah momen bagus. Saat sampai di restoran dan kami sedang menunggu pesanan aku terus menatapnya.
"Kamu kenapa lihatin aku terus?" Tanyanya.
"Kamu beda, cantik" Jawabku memujinya.
"Oh jadi kemarin-kemarin aku gak cantik gitu?" Jawabnya dengan nada kesal.
Dia malah marah padahal niat aku mau bikin dia senang.
"Bukan gitu, kamu tiap hari juga cantik tapi sekarang ada yang berbeda" Ucapku menjelaskan.
"Iya aku tahu, kan aku baru keluar dari salon" Jawabnya.
"Jangan marah dong" Rayuku karena sepertinya dia tidak suka.
"Aku gak marah, cuman aku gak bisa lo kalau harus dandan seperti ini" Ucapnya.
"Kenapa?" Tanya ku.
"Ya aku gak biasa saja, aku cuman mau tampil yang aku mau bukan seperti ini" Ucapnya menjelaskan.
Naira memang tidak seperti gadis lain yang senang berdandan karena dia orang nya simpel dan itu yang membuat aku suka sama dia dari dulu.
"Aku ngerti ko, ini memang bukan gaya kamu, aku tidak akan mempermasalahkan kamu mau gimana toh yang terpenting kamu nyaman" Ucapku sambil menggenggam tanganku.
Akhirnya kami makan dan setelah makan kami pulang,aku mengantarkan nya. Sesampainya depan rumah Naira turun.
"Kamu gak akan mampir dulu?" Tanyanya.
"Gak usah, bunda sudah nunggu aku di rumah" Jawab ku .
"Ya sudah aku masuk dulu," Pamit nya.
Aku oun mengangguk dan setelah Naira masuk barulah aku menjalankan mobil.
Bunda menungguku di rumah sepertinya ada hal yang mau dia bicarakan. Sesampainya di rumah aku langsung masuk dan ternyata ada Romi juga di rumah dan sudah menungguku dan kami sekarang berada di ruang keluarga.