Zea Rahayu, hidupnya hanya dipenuhi oleh awan mendung yang tidak pernah bersinar. Sejak kecil selalu dianggap pembawa sial oleh ayah dan kakak nya, karena kelahiran Zea yang merenggut nyawa ibu nya.
Hingga saat dewasa, Zea harus menjadi alat penebus hutang ayahnya yang tidak sedikit. Dia dipaksa menikah dengan seorang presdir yang terkenal kejam dan bengis, Albizar Malik Dewantara.
Pria berwatak dingin yang baru saja dikhianati oleh sang kekasih, dan berniat menjadikan Zea sebagai bahan pelampiasan untuk membalas rasa sakit terhadap mantan kekasihnya.
Kehidupan yang tidak mudah, kembali harus dilalui Zea..
Akankah dia bisa bertahan ketika hanya dijadikan sebagai istri figuran??? Ditambah dengan perlakuan ibu dan adik Malik yang begitu tidak menyukai nya karena ingin Zea pergi meninggalkan Malik.
Konflik prahara rumah tangga dan masalah dalam kehidupan Malik, membuat Zea semakin merasa sulit.
note : untuk visual ada di Ig ygy @mulyani syahfitri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mulyani Syahfitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Aneh Malik
Malik memandangi wajah Zea yang nampak masih tertidur pulas disamping nya. Zea tertidur menghadap kearah Malik. Sepertinya dia masih belum sadar berada sedekat ini dengan Malik.
Hari sudah pagi, sudah pukul enam. Tapi Zea masih juga belum bangun. Malik membiarkan nya, karena saat ini dia masih asik memandangi wajah ayu Zea. Ini adalah yang pertama kali untuk Malik berada sedekat ini dengan seseorang. Apalagi dengan seorang wanita. Bersama Floe dulu, mereka hanya sebatas menjalani hubungan. Tidak ada sentuhan sama sekali karena Malik yang memang tidak bisa menyentuh seseorang.
Tapi bersama Zea, entah kenapa gadis kecil ini bisa dengan mudah dia sentuh. Malik bahkan tidak merasa risih atau merasa apapun. Bahkan malam tadi tanpa sadar dia tidur dengan memeluk Zea. Sangat nyaman, seperti berada dalam pelukan ibunya.
Zea demam, hingga dia tidak sadar dengan apa yang Malik lakukan. Bahkan Zea begitu gelisah karena tubuhnya yang panas. Dan baru menjelang pagi barulah Zea bisa tertidur dengan tenang. Bahkan saat ini wajah Zea masih terlihat pucat meski sudah tidak lagi panas.
Malik memandangi wajah itu dengan lekat. Cantik, bahkan begitu alami dan natural. Bahkan semakin kesini, Zea semakin terlihat cantik dan ayu.
Pertama kali dibawa kemari Zea benar benar lusuh dan kucel. Namun dia sudah terlihat cantik. Dan semakin dia merawat dirinya, dia malah semakin terlihat mempesona dengan usia nya yang masih sangat muda.
Malik mengangkat tangan nya, ingin menyentuh wajah Zea. Tapi tiba tiba dia terdiam saat melihat mata Zea yang mulai bergerak. Dan dengan cepat pula Malik menurunkan tangan nya, dan memejamkan kembali matanya.
Dan memang, Zea mulai terbangun dari tidur nya. Tidur yang rasanya baru sebentar sekali. Zea mengernyit seraya meraba kepala nya yang masih terasa pusing.
Namun ketika membuka mata, dia langsung terkejut dan bahkan dengan reflek memundurkan tubuh nya yang berada begitu dekat dengan Malik, bahkan sangat dekat.
Mata Zea mengerjap cepat dan meringis. Kenapa bisa sedekat ini, batin nya. Perasaan malam tadi dia tidur sudah menepi. Kenapa sekarang malah sudah berada ditengah, bahkan bisa dibilang tidur dalam dekapan Malik.
Zea meraba kepala nya yang pusing, dia ingat malam tadi dia demam. Tapi entah kenapa seperti ada sesuatu yang bisa menenangkan nya.
Zea kembali memandang Malik yang masih terpejam. Wajahnya tenang dan tidak kaku seperti biasa.
Dan karena sudah siang, Zea mulai beranjak perlahan dan begitu hati hati.
Namun suara Malik kembali membuatnya terkejut.
"Mau kemana kau" tanya Malik.
Zea memandang Malik yang sudah membuka matanya, dan kini memandang nya dengan lekat.
"Saya... Saya mau turun tuan" jawab Zea.
"Hari sudah siang dan kau baru bangun. Kau tahu apa hukuman mu kan" ucap Malik.
Hukuman.. lagi lagi hukuman.
"Maaf tuan" jawab Zea seraya tertunduk dan tidak berani memandang Malik.
"Apa kau begitu nyaman tidur bersama ku. Bahkan dengan berani nya kau malah memelukku" ujar Malik.
Zea terkesiap, dia langsung memandang Malik, namun segera menunduk kembali.
Memeluk?
Benarkah?
Tapi kenapa dia tidak tahu.
Malik beranjak dari tempat tidurnya dan memandang Zea dengan lekat.
"Kau tahu seberapa berharga nya tubuhku ini bukan. Dan kau adalah satu satunya orang yang berani menyentuh ku" desis Malik seraya mendekatkan diri nya kearah Zea.
Zea meringis seraya menjauhkan tubuh nya. Namun lengan nya langsung ditarik oleh Malik, hingga mau tidak mau dia mendekat dan merapat pada tubuh Malik.
"Kau pilih hukuman mu sekarang. Tidur didalam ruangan pengap itu setiap malam, atau mengurus tubuhku dengan baik?" Tanya Malik.
Zea mengernyit. Mengurus tubuhnya yang bagaimana yang Malik maksud? Bukan kah selama ini dia sudah bekerja dengan baik.
"Ma..maksudnya tuan?" Tanya Zea.
Malik mendengus sinis dan melepaskan lengan Zea.
"Setiap malam kau harus bisa membuat ku tidur nyenyak" jawab Malik.
Zea kembali tertegun.
Dia memandang Malik tidak percaya. Apa apaan itu, membuat tidur nyenyak? Apa selama ini tidur Malik memang tidak nyenyak?
"Kau mengerti istriku" ucapan Malik membuat Zea terkesiap.
"Tapi bagaimana caranya tuan?" Tanya Zea.
"Fikirkan sendiri. Kau punya otak kan. Jangan kau suruh aku untuk ikut berfikir" jawab Malik dengan begitu sadis.
Dan setelah mengatakan itu, dia bahkan langsung beranjak dan turun dari atas tempat tidur. Pergi berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Zea yang masih terperangah tidak percaya.
Zea mengusap kepala nya yang semakin pusing. Kenapa permintaan pria itu semakin lama semakin aneh saja.
Malam tadi dia meminta Zea untuk tidur bersama nya. Dan sekarang malah meminta Zea untuk membuat tidur nya nyenyak.
Aneh sekali memang.
...
Setelah saling membersihkan diri, sekarang mereka sudah berada dimeja makan.
Sesekali Malik melirik kearah Zea yang masih nampak pucat dan lemas. Sedangkan ibu dan adik nya sarapan tanpa ambil perduli.
"Malik, apa malam nanti kamu akan datang kepertunangan Floe dan Gabriel?" tanya nyonya Donita setelah Malik selesai sarapan.
"Ya" jawab Malik dengan singkat.
Dia menoleh kearah Zea yang memberikan sapu tangan khusus untuk nya. Malik mengusap mulut dan tangan nya dengan gaya yang cukup elegan.
"Apa kau akan pergi bersama nya?" tanya nyonya Donita seraya melirik kearah Zea yang hanya diam dan tidak ingin ikut campur.
"Menurut mommy" sahut Malik.
"Kak, itu acara pesta besar. Tidak sepantasnya kakak membawa dia. Aku takut kakak akan malu karena dia disana nanti" ucap Michella pula.
Zea langsung menoleh pada Michella. Kenapa jahat sekali kata kata itu, memang apa yang mau dia perbuat. Lagi pula jika boleh meminta Zea juga tidak ingin pergi.
"Bukan urusan mu Michella" jawab Malik yang segera beranjak dari duduk nya. Dan segera diikuti oleh Zea dan juga Zayn.
"Malik kau harus pertimbangkan ini nak" seru nyonya Donita, namun Malik hanya diam dan acuh saja.
Dia terus berjalan keluar rumah tanpa menghiraukan pandangan kesal dari ibu tiri dan adiknya itu. Memang nya mereka siapa berani mengatur hidup nya.
Saat diluar, Malik langsung menoleh pada Zea yang sudah berdiri mematung memandang nya.
"Kau ikut aku" ujar Malik.
Zea terkesiap, sedangkan Zayn hanya diam, namun alisnya saja yang tergerak.
"Ikut tuan?" tanya Zea.
Dan tanpa menjawab, Malik langsung pergi menuju mobilnya. Zea masih memandang nya dengan bingung.
Apa Malik meminta nya untuk ikut keperusahaan? Tapi untuk apa?
"Nona.. ayo" panggilan Zayn membuat Zea terkesiap.
Dia langsung mengangguk dan segera berlari kecil untuk masuk kedalam mobil.
Duduk disamping Malik yang hanya diam dengan wajah datar dan dingin nya.
Tidak tahu akan dibawa kemana, Zea hanya bisa pasrah. Setidak nya hari ini dia bisa terbebas dari ibu dan anak itu.
Selama diperjalanan, Zea hanya diam dan memandang keluar jendela mobil. Memandang hiruk pikuk ibukota yang cukup padat. Sudah lama sekali dia tidak melihat dunia luar. Bahkan bisa dibilang tidak pernah.
Dan hari ini akhirnya dia bisa menghirup udara bebas sejenak. Meski tidak tahu akan dibawa Malik kemana.
Keperusahaan nya atau....
Kerumah sakit.???
Ya, mata Zea langsung melebar saat mobil yang dikendarai Zayn masuk kedalam area sebuah rumah sakit besar.