Bosan dengan kehidupan bagaikan seorang putri membuat Kimora Candy Anastasya harus membuat perjanjian dengan sang ayah agar bisa terbebas dari semua peraturan Keluarga Besar Park.
Ayah Kimora, Baek Hyeon sangat protektif terhadap putrinya itu hingga semuanya harus sesuai dengan peraturan keluarganya. Semenjak istrinya meninggal Baek Hyun sangat over protektif hingga membuat Kimora tidak betah.
Hingga ia memilih menjadi artis dan bertemu dengan Abigail seorang vampire yang juga bekerja di dunia entertainment sebagai artis figuran. Tertarik dengan kehidupan Abigail membuatnya banyak berubah dari seorang gadis manja menjadi mandiri. Hanya saja Abigail sangat anti terhadap wanita.
Lalu bagaimanakah cara Kimora menaklukan hati Abigail? Akankah keluarga besar mereka memberikan restu dan berakhir bahagia? Atau penuh dengan rintangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26. HAMPIR SAJA
Akhirnya saat ini Kimora bisa bermain di pantai bersama dengan Abigail. Tampak sekali jika ia terlihat sangat bahagia. Apalagi Kimora hanya berdua bersama dengan Abigail.
Bermain saling melempar pasir dan saling mencipratkan air laut ke tubuh masing-masing. Senyum Kimora yang lepas mengisyaratkan jika ia bahagia. Pokoknya pengalaman bisa bermain di pantai bersama dengan Abigail tidak akan pernah dilupakan oleh Kimora.
"Seneng nggak?" tanya Abigail di sela-sela permainannya.
"Banget!" ucap Kimora sambil mencipratkan air ke tubuh Abigail.
Tubuh Abigail tampak terlihat sangat pucat ketika berada di bawah terik matahari. Beruntung dia tidak meleleh karena hal itu. Ditambah lagi sebuah kenyataan jika dirinya seorang vampire.
Meski panas, tetapi ia sangat menyukai udara di pantai itu. Jika merasa terlalu gerah, maka ia akan berlari ke tepi pantai yang ada pohon kelapanya. Pohon yang bergerombol dan rindang bisa dipakai untuk berteduh dari cuaca yang terik.
Saat Kimora asik berteduh, tiba-tiba saja Abigail membawa ikan yang banyak.
"Nih, ikan! Kamu lapar 'kan?"
"Lapar sih, tapi masa iya aku makan ikan mentah!"
"Oke, kamu tunggu di sini!"
Hanya dalam hitungan detik Abigail sudah kembali dengan membawa beberapa kayu bakar kering. Lalu ia membuat api unggun kecil di tengah pasir dan menyalakan apinya tanpa menggunakan pematik api.
"Keren!" puji Kimora spontan.
Melihat keahlian Abigail yang begitu banyak, rasa kagum Kimora kepadanya semakin bertambah. Begitu pula rasa cinta yang tumbuh di hatinya.
Dengan cepat, Abigail menusuk ikan lalu membakarnya di atas bara api. Sama seperti kapan hari ketika Abigail membakar kelinci di tengah hutan, tidak perlu membutuhkan banyak waktu ikan yang di bakar telah matang. Tanpa menyisakan ikan untuknya, Abigail langsung menyerahkan semua ikan itu kepada Kimora.
"Nih, makan!"
Tanpa ragu, Kimora Langung melahapnya.
"Enak banget, gurih."
"Tentu saja gurih. Meskipun kita tidak memberikan bumbu apapun, hanya dengan diberi sedikit air garam rasanya juga pasti sudah gurih."
Kimora terlihat mengangguk. Sambil mengunyah ikan bakar tersebut dengan lahap, ia tidak mengalihkan pandangannya pada Abigail.
"Kenapa kamu nggak makan?"
"Karena aku bukan manusia! Jadi tidak perlu makan setiap hari."
Mendengar ucapan dari Abigail tersebut, membuat Kimora hampir memuntahkan makanan yang sedang dilahapnya.
"Memangnya vampir tidak pernah makan?"
"Makan tapi nggak setiap hari. Jadi kalau kita sudah mengkonsumsi beberapa liter darah setiap hari, tanpa makan pun kita juga tidak akan kenapa-napa!"
Glek
Sontak Kimora menelan salivanya dengan susah payah. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupannya kelak. Akan tetapi ketika ia melihat ke arah Abigail, entah kenapa keraguan yang berada di dalam hatinya itu tiba-tiba sirna hentikan oleh rasa cinta yang selalu bertumbuh di dalam hatinya.
"Sudah cukup belum makannya, aku terlalu lama di luar ruangan takutnya energiku akan habis dan aku tidak bisa melindungimu."
Ucapan Abigail bagaikan sebuah perintah baginya. Jadi, dengan cepat Kimora habiskan beberapa ekor ikan bakar tersebut dalam sekali waktu. Hampir saja ia keceplosan dalam bersendawa karena terlalu kekenyangan.
"Ups ...."
"Kenapa?"
Tanpa perlu Kimora mengatakan hal tersebut kepadanya, sebenarnya Abigail sudah tahu apa yang berada di dalam hatinya.
"Pegangan yang kuat kita akan terbang!"
Tidak perlu menunggu waktu lama lagi, kini Abigail segera menggendong tubuh Kimora dan membawanya kembali ke kastil dalam sekejap mata.
Di balik sikapnya yang dingin, rupanya Abigail cukup perhatian padanya. Buktinya tadi ia rela mengambil beberapa ikan untuk dijadikan santapan sarapan pagi menjelang siang untuknya.
"Meskipun Kimora adalah sosok yang sangat menyebalkan, tetapi jika keadaannya seperti ini, maka aku akan lebih memperhatikannya lagi. Toh ini tidak akan lama."
Akhirnya mereka sampai di kastil dengan selamat.
"Oh ya ... kamu berani 'kan kembali ke kamarmu sendiri?"
"Berani dong."
"Aku akan pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat."
Setelah berpisah dengan Abigail, Kimora melangkahkan kakinya ke kamar. Saat ia hendak menuju ke kamarnya, Kimora harus melewati sebuah lorong yang sangat menyeramkan.
Sebuah lampu yang menjadi penerang di sana berkedip-kedip. Di kanan jalan ada sebuah lukisan vampir yang menempel di dinding. Awalnya ia merasa biasa saja, tetapi ketika ia melihat ke arah lukisan itu, bulu kuduk Kimora tiba-tiba saja berdiri.
Ia pun mempercepat langkahnya untuk meninggalkan lukisan. Namun ketika ia menoleh, beberapa pasang mata yang berada di dalam lukisan itu, seolah-olah menyala dan mengikuti langkah Kimora ketika bergerak.
Menyadari jika sosok lukisan itu adala gambar vampir. Belum lagi tangan mereka yang keluar dari dalam lukisan membuat Kimora terkejut dan berteriak.
"Va-vampir!"
Kimora menyadari jika saat ini keadaannya sudah berubah menjadi bahaya. Lantas ia bergegas untuk meninggalkan lorong tersebut dengan berlari.
Manusia vampir yang berada di dalam lukisan itu membuka mata lalu keluar dari dalam sana. Mereka beramai-ramai mengejar Kimora. Apalagi bau darahnya terasa sangat menggiurkan.
"Mau kabur?" tegur salah seorang vampir.
"Berjalanlah ke sini dan jadilah makanan untuk kami!" teriak salah seorang anggota vampir yang lebih muda dari pemimpinnya.
Kecepatan mereka saat mengejar Kimora membuatnya terjatuh.
"Arghhhh!"
"Ka-kalian siapa?" tanya Kimora ketakutan.
Belum sempat keterkejutan Kimora terhenti, tiba-tiba saja muncul banyak vampir yang mengelilingi dirinya.
"Ayo, kita nikmati lezatnya manusia ini!" ucap mereka beramMerasa jika Kimora ketakutan, maka dengan segera Abigail melesat ke arah lorong untuk menyelamatkan Kimora.
"Kalian, memangnya nggak tau dia cewek siapa ya!" ucap Abigail bergerak mendekati Kimora.
"Gawat!" teriak mereka semua.
Perlu kalian tahu, ketika kami akan berubah menjadi satu maka semuanya akan berakhir sudah."
Rupanya Abigail datang tepat waktu, sesaat ketika ia hampir mendekati Kimora, Abigail sudah membereskan mereka terlebih dahulu.
"Aa-aampun!" teriak mereka kesakitan.
Apalagi saat itu Abigail menggunakan kekuatannya sangat cepat.. Abigail teelihat santai ketika milk. Ya
"Aku sudah lama banget nggak minum darah segar!"
"Betul, aku juga ... ha ha ha ...."
Kimora bangkit lalu semakin memundurkan langkah kakinya karena . Namun, mereka mengejar Kimora dengan lebih cepat.
Ketakutan.
"Mau kabur! Ayo kita lihat sampai mana manusia ini bisa kabur."
Gigi taring yang runcing milik mereka membuat Kimora semakin ketakutan. Tiba-tiba saja otak Kimora berpikir lain. Ia menghentikan langkahnya lalu berbalik sambil menatap para vampir tersebut.
"Bagaimana jika aku menghadapi mereka di sini!"
Otaknya mengatakan jika ia harus berpikir cerdik saat ini. Namun, gerakan mereka lebih cepat dan sudah berdiri di hadapannya.
"Kalian jangan makan aku!" teriak Kimora sambil menutup wajahnya dengan salah satu tangan.
"Aku selalu makan sampah. Darah ... darahku pasti nggak enak!"
"Wahai manusia cantik, pergilah ke neraka!" ucap salah satu vampire sambil bergerak mendekat ke arah Kimora.
Merasa jika Kimora ketakutan, maka dengan segera Abigail melesat ke arah lorong untuk menyelamatkan Kimora.
"Kalian, memangnya nggak tau dia cewek siapa ya!" ucap Abigail bergerak mendekati Kimora.
"Gawat!"teriak mereka semua.