Arjuna atau yang biasa dipanggil Juna karena kegemarannya bermain dan mendaki gunung membuat ARJ Adventure.
Juna tidak mau bekerja di Dewa Corp Company atau DCC perusahaan milik sang kakek. Dia lebih suka menekuni hobinya, karena hal itu dia dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Namun berbeda dengan sang ayah, Dharma membebaskan apa saja yang akan Juna lakukan selama itu positif. Mendapat dukungan ayah dan ibunya membuat Juna bersemangat walau selalu diremehkan oleh sepupunya Dante Dewantara yang begitu obesi menjadi pemilik DCC.
Gendis seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di negeri ini DIS Dewantara International School yang mempunyai cita cita keliling Indonesia selalu mendapat perlakuan buruk dari Maylin, teman SMA nya yang sekarang menjadi kepala HRD di DIS.
Bagaimana Juna dan Gendis menghadapi masalah mereka, dan bagaimana mereka saling berhubungan?
Ikutin terus kisah Juna dan Gendis ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTMGT 26
Libur semester tiba, Gendis bernafas lega karena nilai untuk mata pelajarannya tidak ada yang dibawah KKM atau Kriteria Ketuntasan Minimal. KKM yang ditetapkan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di DIS 82. Murid-murid Gendis rata-rata mendapatkan nilai 85, Gendis sangat puas ia pun bisa merasa tenang untuk menikmati libur semesternya.
"Syukurlah tidak ada yang di bawah KKM, jika itu terjadi dijamin aku tidak akan bisa libur karena harus memperbaikinya. Uhhh…. Senangnya. Holiday i'm coming ....". Ucap Gendis senang.
Kelakuan absurd nya itu tidak lepas dari pandangan Bagus, sang adik.
" Astaga kak. Kak Gendis begitu saja bahagia. Heran Bagus mah."
" Nih denger ya adikku sayang yang ganteng, kenapa kakak seneng. Sebagai guru pasti seneng dong melihat hasil belajar siswa yang memuaskan apalagi saat proses belajarnya mereka tidak mengeluh dan tertekan. Mereka happy saat belajar dan mereka sesuai kemampuan dan keinginan sendiri mendapat hasil yang bagus. Ingat tanpa dipaksa dan tanpa tekanan."
"Iya … iya… Bu guru. Eh kak, cowok yang waktu itu menjenguk kakak di RS kok tidak terlihat lagi?"
"Mas Juna maksud kamu."
"Iya itu. Bang Juna."
"Entah, mungkin dia sibuk. Banyak trip juga mungkin."
"Oh iya… bisa jadi. Bagus pengen tuh ikut trip nya bang Juna. Kayaknya asik gitu. Terus destinasinya keren-keren."
"Wuihhh memang asik tau dek. Memang capek sih tapi terbayar lunas lihat pemandangan diatas gunung. Kemarin rencananya mau buat trip ke Gunung Prau Dieng, tapi entah belum ada kabar lagi. nya juga belum ada."
"Ah Bagus mau ikut ah nanti kalo jadi."
"Ikut aja, dijamin ketagihan heheh."
Semenjak Maylin mengatakan bahwa Juna adalah miliknya, Gendis memang tidak pernah bertemu lagi dengan Juna. Gendis juga tidak pernah menghubungi Juna ataupun sebaliknya Gendis juga tidak pernah menerima pesan ataupun telepon dari Juna. Terakhir bertemu ya saat Gendis di rumah sakit. Gendis berpikiran kalau memang Juna dan Maylin memiliki hubungan berarti dia harus menjaga jarak dengan Juna. Gendis tidak mau jika nanti dituduh sebagai orang ketiga ataupun mengganggu hubungan.
Tapi semuanya itu adalah pemikiran Gendis semata. Pada kenyataannya Juna sengaja menghindari Gendis karena ia tahu kalau Maylin punya niat jahat kepada Gendis. Juna juga tahu kalau Maylin mengancam Gendis, maka dari itu Juna memilih menjaga jarak dengan Gendis agar Maylin lengah. Benar saja, Maylin tidak mengganggu Gendis beberapa waktu kemarin. Bahkan rencananya untuk mempermalukan Gendis di ujian semester kali ini pun Maylin lupa. Walaupun Juna menempatkan pengawal bayangan di sekitar Gendis, dia tetap tidak mau ambil resiko saat kondisinya tengah seperti ini.
🍀🍀🍀
Hari minggu menjadi hari yang menyenangkan bagi semua orang karena bisa santai sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan dan menghabiskan waktu di rumah, mengistirahatkan pikiran dan bercengkrama dengan keluarga. Begitu juga dengan Gendis dan keluarga. Hari ini Gendis maupun Bagus tidak pergi bermain bersama teman mereka. Mereka memilih di rumah bersama ayah dan ibu.
Mereka semua berada di halaman belakang menikmati sarapan pagi berupa pisang goreng dan ubi goreng serta teh hangat untuk Gendis dan Asri sedangkan Bagus memilih kopi susu dan Budi tentu saja kopi hitam. Sungguh nikmat yang tiada tara dapat berkumpul bersama seperti ini.
"Hari minggu seperti ini yang ibu selalu nantikan" Ucap Asri.
"Kenapa memang bu?" Tanya Bagus.
"Kalau hari biasa, kan ibu di rumah sendiri. Ayah dsn Gendis berangkat mengajar pagi-pagi, nah Bagus pergi kuliah. Jadi deh ibu di rumah sendiri."
Mendengar perkataan sang istri membuat Budi tersentuh ia pun kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Asri lalu memeluknya. Gendis dan Bagus pun melakukan hal yang sama, mereka semua memeluk sang ratu dalam istana kecil mereka itu.
"Sudah-sudah tidak usah mellow, ibu hanya mengungkapkan rasa senang ibu dapat berkumpul dengan kalian." Ucap Asri sambil melerai pelukan semua orang.
Tok… tok… tok…. "Selamat pagi."
Pintu rumah Budi diketuk oleh seseorang seperti suara anak kecil gumam Gendis. Gendis pun berinisiatif untuk berjalan ke pintu depan dan membukakan pintu.
"Lhooo Alina. Ada apa, Alina sendiri." Gendis terkejut melihat Alina berada di balik pintu. Ia melihat ke kanan dan kekiri tapi tidak menjumpai orang dewasa bersama Alina.
"Iya Alina sendiri diantar sopir. Tuh pak sopirnya masih menunggu Alina."
"Memangnya diijinin sama Bunda."
"Diijinin dong, soalnya Alina bilang mau kerumah Bu Gendis dan mau ajak bu Gendis main ke rumah."
Plak… gendis menepuk jidatnya mendengar penuturan Alina. Gendis mengajak Alina untuk masuk ke halaman belakang dulu sembari menunggu Gendis bersiap.
"Selamat pagi Pak.. buk… halo kak Bagus." Ucap Alina memberi salam lau mencium tangan Budi Asri.
Budi tercengang mendapat perlakuan dari Alina. Begitu juga Bagus sangat kaget tiba-tiba ada gadis kecil yang menyapa nya. Namun tidak dengan Asri. Asri sangat senang dengan kedatangan Alina.
"Lho Alina kesini sendiri nak?" Tanya Asri.
"Iya bu, Bundanya sedang sibuk jagain Abang. Abang sedang sakit." Jawab Alina
"Bu…" Ucap Budi yang sudah dipahami oleh Asri.
"Oh iya ibu lupa. Yah, Gus,... Ini itu Alina murid Gendis yang menyelamatkan Gendis saat akan tertimpa pot. Alina juga yang membawa Gendis Ke RS." Budi dan Bagus akhirnya mengerti.
"Alina kesini ada apa."
"Alina mau ajak Bu Gendis ke rumah Bunda. Boleh ya bu...yah…" Tanya Alina yang tiba-tiba merubah panggilan ke budi dari pak menjadi ayah. Sejenak Budi kaget namun dia senang seolah mendapat anak perempuan lagi.
"Boleh, bawa aja kak Gendisnya. Kalau sedang tidak di sekolah panggil kakak aja." Ucap Budi
"Siap yah." Jawab Alina sambil mengangkat tangannya seperti memberi tanda hormat. Ketiganya pun gemas melihat tingkah Alina. Bagus pun merasa senang seperti mendapatkan adik perempuan , jadi berasa bukan bontot lagi, berasa jadi abang, keren juga, gumam Bagus dalam hati.
Gendis yang sudah siap kemudian berpamitan kepada Budi dan Asri diikuti Alina. Mereka berdua pun berjalan beriringan memasuki mobil.
" Maaf ya pak lama." Ucap Gendis kepada sang sopir.
"Tidak apa-apa non sudah jadi tugas saya."
"Oh iya pak, nanti mampir dulu ya mau beli martabak yang ada di ujung jalan depan."
"Iya non siap."
"Kak memangnya jam segini ada yang jual martabak." Tanya Alina merasa heran.
"Ada dong." Jawab Gendis sambil menoel hidung Alina.
Benar saja diujung jalan memang ada martabak. Gendis pun memesan martabak manis dan telor. Tak lama pesanan mereka pun siap dan melanjutkan perjalanan ke rumah Bunda Anjeli.
Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di pintu gerbang lalu memasuki pekarangan rumah. Gendis takjub melihat halaman depan yang dipenuhi berbagai macam bunga, keterkejutan Gendis bertambah saat melihat halaman samping yang banyak terdapat jenis sayur-sayuran. Rumah yang menurut Gendis begitu besar itu jika dibandingkan dengan rumah miliknya bisa tiga atau empat kali lipatnya terasa mewah dan sangat asri. Banyaknya tanaman di setiap sudut pekarangan membuat udara begitu segar meski di tengah perkotaan yang yang panas ini.
"Ayo kak, sudah sampai. Jangan bengong heheh"
Gendis mengangguk malu lalu menerima uluran tangan Alina yang ingin menggandengnya. Saat memasuki rumah Gendis juga merasa kagum karena setiap sudut rumah ditempati oleh planthouse sehingga namoka Asri.
Saat hendak menuju ke ruang tengah Gendis kaget melihat seseorang yang dia kenal.
"Kamu…."
"Lho… kok kamu…"
TBC
Ea…. Kamu kamu kamu lagi… siapa itu kamu kamu…
Yook jangan lupa untuk like dan vote nya. Mau kasih hadiah sangat boleh, sangat tidak menolak heheheh biar tambah semangat up nya. Hari ini cukup ya udah 3 bab nih. Ditunggu bunga mawar atau kopinya ya…
Terimakasih
Matursuwun.