Aleta merasa hidupnya hancur setelah dikhianati oleh orang yang ia sayangi, malam dimana seharusnya dia yang bertunangan dengan kekasihnya. Namun, justru adiknya yang menggantikannya dan tepat pada malam itu juga Aleta tidak sengaja masuk kedalam kamar hotel yang akhirnya membuat hidupnya hancur sehancur-hancurnya, dia harus menanggung akibat dari perbuatan yang dilakukannya dengan seseorang yang tidak ia kenal.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah Aleta mampu bertahan?
Ig : @elaretaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengemis
Sore harinya semua keluarga Andrean termasuk Aleta sudah berada di taman, "Kapan kamu ke rumah Ayah sama Bunda nya Leta?" tanya Papa Daffa.
"Nanti Pa, setelah Arka gak sibuk. Papa tau sendiri kan gimana sibuknya Arka apalagi ada beberapa masalah di perusahaan," ucap Arka.
"Kalau gak biar Aleta ke rumah Ayah sama Bunda sendiri aja Mas, lagian kan yang pengen ketemu Ayah sama Bunda Aleta bukan Mas Arka, jadi Mas Arka kerja aja gapapa kok," ucap Aleta.
"Itu sih terserah kamu," ucap Arka.
"Arka," peringat Papa Daffa.
"Huh, jangan deh biar saya ikut kamu ke rumah Ayah sama Bunda kamu, takutnya nanti kalau ada apa-apa gimana, nanti kalau saya gak sibuk kita pergi ke rumah Ayah sama Bunda kamu," ucap Arka.
"Iya, bener kata Arka. Pokoknya kamu gak boleh sendirian ke sana," ucap Mama Febby dan Aleta hanya menganggukkan kepalanya.
'Aleta tau, Mas Arka pasti terbebani dengan adanya Aleta di sini. Maaf Mas, Aleta akan berusaha sebaik mungkin siapa Mas Arka bisa terbatas dari Aleta secara perlahan-lahan,' ucap Aleta dalam hati.
.
Pagi harinya Aleta bangun dan ia melihat ke sampingnya dimana tidak ada Arka lalu Aleta melihat jam yang ternyata sudah pukul 9 pagi.
"Pasti Mas Arka udah berangkat kerja," gumam Aleta.
Aleta pun beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena hari ini ia berencana untuk mengunjungi Ayah Abram dan Bunda Dea sendiri karena Aleta masih teringat dengan jelas perkataan Arka mengenai dirinya kemarin.
Setelah bersiap-siap, Aleta pun keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.
"Loh, Bi. Mama dimana kok Aleta gak lihat Mama dari tadi?" tanya Aleta, pada Bi Novi salah satu pembantu di rumah keluarga Andrean.
"Nyonya sedang keluar dengan teman arisannya Nona, apa Nona perlu sesuatu?" tanya Bi Novi.
"Gak kok, Bi, terimakasih," ucap Aleta dan diangguki Bi Novi.
"Nona Leta mau kemana kok sudah rapi?" tanya Bi Novi.
"Saya mau keluar sebentar, Bi. Ada urusan soalnya," ucap Aleta.
"Nona Leta mau makan terlebih dahulu?" tanya Bi Novi.
"Hem, memang masakannya tadi apa, Bi?" tanya Aleta.
"Tadi masakannya tadi capcay sama ayam, tapi semuanya sudah habis karena tadi juga ada kekuatan Nyonya Dessy. Tapi, kalau Nona ingin masakan seperti tadi biar Bibi buatin," ucap Bi Novi.
"Eh, gak usah deh, Bi. Nanti hair Leta makan di luar aja sekalian urusin semuanya," ucap Aleta.
"Beneran nona, lebih baik Bibi masakin aja ya takutnya makanan yang Nona makan tidak bersih nanti yang ada Tuan Arka marah ke Bibi karena membiarkan Nona Leta makan makanan luar," ucap Bi Novi.
"Gapapa, Bi. Lagian Leta gak bakal kenapa-napa kok percaya deh sam Aleta, kalau gitu Leta pamit pergi dulu ya Bi," ucap Aleta.
"Iya, Nona. Biar Bibi panggilkan supir dulu ya," ucap Bi Novi.
"Gak perlu, Bi," ucap Aleta.
"Gak perlu? emangnya kenapa Non?" tanya Bi Novi.
"Nanti biar Leta pergi sendiri aja," ucap Aleta.
"Gak Non, Non Aleta gak boleh pergi sendiri tanpa supir. Nanti Tuan pasti bakal marah bukannya hanya ke Bibi, tapi juga ke supir," ucap Bi Novi.
"Yaudah deh, kalau gitu biar Aleta sendiri aja yang panggil supirnya," ucap Aleta dan beranjak dari tempat tersebut.
"Gak Non, Bibi yang akan panggilan supirnya dan Non Aleta hanya duduk diam di sofa ya," ucap Bi Novi lalu pergi.
Beberapa saat kemudian, Bi Novi pun sampai dengan tergesa-gesa, "Kenapa, Bi?" tanya Aleta, yang memuat wajah gelisah Bi Novi.
"Ehm, gimana ya Non, ternyata semua supir sudah di pakai buat nganterin Nyonya, Tuan Arka, Nona Audy sama Nona Sandra," ucap Bi Novi.
Aleta pun tersenyum dan menghampiri Bi Novi, "Gapapa, Bi. Leta bisa berangkat sendiri kok," ucap Aleta.
"Tapi, Non...," ucapan Bi Novi terhenti lantaran Aleta yang menyelanya.
"Gapapa kok, Bi. Kalau gitu Aleta pergi dulu ya, Bi," ucap Aleta dan pergi dari kediaman Andrean tersebut dengan berjalan kaki menuju halte.
"Bahkan aku gak pantes buat diantar supir, karena bagaimanapun aku bukan bagian dari keluarga Mas Arka. Keluarga Mas Arka hanya menganggap anak yang aku kandung ini bagian dari keluarganya Mas Arka dan bukan aku," gumam Aleta.
Aleta menunduk dan menatap perutnya yang mulai menonjol, meskipun begitu masih terlihat terlihat jelas.
"Bantuin Mama ya sayang, biar Mama bisa terus di dekat baby, Mama tau nanti Mama bakal ditendang dari keluarganya Mas Arka. Tapi, Mama bakal berjuang demi kamu," ucap Aleta dan mengusap lembut perutnya.
Saat bus datang, Aleta pun menaikinya menuju ke halte terdekat dari rumah Ayah Abram dan Bunda Dea.
Setelah sampai di halte tempat tujuannya, Aleta pun turun dan berjalan kaki menuju rumah Ayah Abram dan Bunda Dea. Sesampainya di sana, Aleta saat melihat rumah Ayah Abram dan Bunda Dea yang terbuka dimana artinya keluarganya ada di rumah.
Dengan semangat Aleta berjalan menuju rumah tersebut hingga ia sampai di depan rumah keluarganya, tapi belum sempat ia bersuara tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya dan hal itu membuat Aleta membalikkan tubuhnya lalu menatap orang itu.
"Wah, siapa nih yang datang! oh ternyata mantan kakak gue ya yang datang eh maksudnya perempuan hina yang udah malu-maluin keluarga udah datang nih!" teriak Vanya.
"Kakak ke sini gan mau cari masalah sama kamu, jadi anggap aja kamu gak lihat Kakak. Kakak ke sini pengen ketemu ayah sama Bunda," ucap Aleta dan mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian, keluarlah Bunda Dea, "Oh ada Vanya, udah pulang kamu sayang. Ayo masuk tadi Geo kirim baju loh buat prewedding kalian berdua," ucap Bunda Dea dan memeluk Vanya.
Bunda Dea melewati Aleta begitu saja bahkan Aleta seperti tidak terlihat di mata Bunda Dea.
"Beneran Bun, wah perhatian banget sih Kak Geo," ucap Vanya.
"Bunda," panggil Aleta dengan pelan.
"Ngapain sih kok ada pengemis di sini, kalau mau minta-minta jangan dia ini ya mbak, mbak bisa pergi dari sini," ucap Bunda Dea.
"Bunda, ini Aleta anaknya Bunda," ucap Aleta.
"Anak? maaf-maaf nih ya, anak saya cuma dua yaitu Vanya sama Gladis. Mbaknya gak usah ngaku-ngaku ya," ucap Bunda Dea.
"Gak Bunda, Leta juga anaknya Bunda. Kalau Bunda gak percaya Bunda bisa lihat kartu keluarga pasti ada nama Leta di sana," ucap Aleta.
"Enak aja, gak ada ya," ucap Bunda Dea dan masuk ke dalam dan selang beberapa saat Bunda Dea keluar lalu membuat sebuah kertas dan menunjukkannya pada Aleta.
"Lihat nih! di kartu keluarga saya cuma ada Vanya dan Gladis, mbaknya gak usah ngaku-ngaku deh," ucap Bunda Dea.
"Ayo sayang kita masuk, biarin aja pengemis itu di luar gak usah suruh masuk," ucap Bunda Dea dan masuk ke dalam rumah.
"Udah deh, situ pergi aja. Orang rumah gak akan ada yang mau ngakuin situ keluarga, kasihan deh gak punya keluarga," ucap Vanya dan mendorong Aleta hingga Aleta terjatuh di atas tanah.
"Dasar sampah, perempuan hina, gak tau malu, genit, j*lang," hina Vanya lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu ruang dengan kencang hingga membuat Aleta terkejut.
Untung saja Aleta tidak terlalu parah jatuhnya sehingga tidak berdampak pada kandungannya.
.
.
.
Tbc.
Author cuma mau ingetin ya, jika cerita ini hanya karangan author/cerita fiksi dan tidak benar-benar terjadi di dunia nyata jadi pastinya banyak yang gak masuk akal, jadi harap di maklumi.🙏
eehhh.... ternyata udah lahiranpun masih lo-la
Tuhan.... tolong dong bebasin kami dan semua pembaca cerita ini dari keturunan yg lengkap seperti ALETA
tapi gak bisa dipungkiri sosok seperti ini banyak didunia nyata
betul yg dibilang Arka itu "pantes Leta ditinggal pacar krn bodoh dan lemah"
ya... semoga anak keturunan para pembaca g' ada yg seperti Aleta
lemah sih gakpapa tapi jgn suka bohong juga kan bisa
lemah gakpapa tapi jgn semua rasa cuma dibicarakan dlm hati juga kali, kangak semua orang cenayang yg ngerti isi hati org lain