follow igku @zariya_zaya
Kasus pembullyan yang terjadi disebuah kampus ternama hingga ada salah satu korban bully mengalami koma, membuat Valexa ingin mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Valexa, si gadis tangguh adalah mahasiswi baru yang langsung dibully dihari pertama dia masuk universitas bergengsi karena penampilannya dianggap cupu dan kampungan.
Keteguhan Valexa menghadapi para pembully membuat Ravelo, sang pangeran kampus mengincar Valexa untuk dijadikan kekasihnya. Para kaum hawa idola Ravelo, langsung menyalakan api permusuhan pada Valexa karena dianggap merebut idola mereka. Namun, dibalik itu semua, ada sebuah rahasia yang dimiliki seorang Valexa dan hanya Ravelo saja yang mengetahuinya.
Apa rahasia itu? Dan apa tujuan Valexa datang ke kampus elit? Bisakah dia menghadapi para musuh-musuh yang membully dan mengincar nyawa Valexa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26 Charlen
Pernyataan pria yang baru saja ditolong Valexa membuat tuan dan nona muda yang bingung itu jadi semakin bingung. Mereka terus bertanya-tanya ... kenapa pria tersebut tidak ingin di bawa ke rumah sakit padahal lukanya sangat parah dan butuh perawatan intensif. Jika tidak segera ditolong, ia bisa dalam bahaya besar dan beresiko kehilangan nyawa. Pertanyaan-pertanyaan lain yang timbul di hati Valexa dan Ravel adalah siapakah sebenarnya pria ini dan kenapa ada pembunuh semacam yakuza mengincarnya.
Sejauh Ravel ada di kampus ini, ia baru tahu kalau ada sekelompok ninja yang bebas berkeliaran di tempat ini. Ia bahkan juga baru tahu kalau ada orang yang bisa menyelinap ke kampus tanpa diketahui oleh penjaga atau petugas keamanan kampus lainnya. Artinya, ada begitu banyak misteri yang belum bisa dipecahkan oleh Ravel termasuk misteri tentang apa yang menimpa kakaknya dan sahabat Valexa.
Yang dipikirkan Ravel juga sama seperti apa yang ada dipikiran Valexa. Malah, gadis itu punya firasat kalau pria yang mereka bawa ini ada hubungannya dengan misteri di kampus itu. Jika tidak, mana mungkin sekelompok ninja tak di kenal mengincar nyawa orang ini. Pasti karena pria tersebut memiliki sesuatu yang diinginkan si penjahat, siapapun dia.
"Tolong ... penuhi permintaanku ... mereka semua ... bisa membunuhku jika ... kalian membawaku ke rumah sakit. Aku ... akan tunjukkan jalan ... ke mana kalian harus membawaku pergi .... tapi ... matikan lampu sorot mobil kalian dan kita terobos hutan di depan sana ..." ujar pria yang sedang terluka itu sambil terbata-bata.
Valexa menatap Ravel, dan berharap kekasihnya ini mau menuruti permintaan pria yang sedang sekarat di jok belakang mobilnya. Dan Ravelpun menurutinya. Ia mematikan lampu sorot mobil dan masuk menerobos hutan lebat yang entah ada di mana mereka sekarang. Keadaan sangat gelap, Ravel tak bisa melihat apa-apa, tapi pria yang terbaring dibelakangnya tetap menyuruh Ravel terus berkendara ke depan tanpa harus tahu apa saja yang sudah diterobosnya.
"Terus saja lurus ke depan! Jangan hiraukan ... apa yang kau tabrak," ujar pria asing itu.
Dalam hati Valexa, ia merasa sangat salut. Pria dibelakangnya ini sedang terluka, tapi masih bisa memberikan petunjuk arah jalan yang harus dituju. Setelah memasuki kawasan hutan yang entah berapa mil jauhnya, akhirnya mobil Ravel tiba disebuah lapangan terbuka dan dipenuhi dengan tumbuhan padang ilalang. Tidak ada yang tahu seberapa luas padang ilalang ini. Yang jelas tempatnya sangat luas sekali.
Ditengah-tengah tumbuhan panjang berakar serabut ini, terdapat sebuah bangunan tua yang sudah lama tak digunakan. Pria asing itu minta diturunkan di sana dan Ravel menuruti keinginannya. Begitu mobil berhenti di depan rumah tua itu, Ravel keluar dan memeriksa kondisi pria asing yang tengah terluka parah. Valexa juga ikut memeriksa dengan membantu memberikan penerangan.
"Apa kau punya kotak medis?" tanya Valexa pada Ravel.
"Punya," jawab Ravel. Ia menurunkan tas hitamnya dan mengeluarkan kotak putih berlambang UKS yang sudah ia siapkan untuk berjaga-jaga. Walau kecil, isinya sangat komplit dan lengkap untuk pertolongan pertama.
"Berikan padaku ... aku ... bisa mengobati sendiri lukaku. Maaf sudah merepotkan kalian dan terimakasih atas bantuanmu, Nona." pria itu merebut kotak putih dari tangan Ravel lalu mulai mengobati lukanya.
Valexa berniat membantu tapi belum juga tangannya menyentuh tubuh pria asing didepannya, mendadak tangan Ravel mencegahnya. "Aku saja yang membantunya, kau tidak boleh lihat tubuhnya, menjauhlah," pinta Ravel dengan tatapan api kecemburan yang tak berdasar.
Karena Valexa tak ingin berdebat dengan Ravel, jadi dia menurut. Gadis itu menjauh dari badan mobil untuk mengamati keadaan sekitar bangunan rumah tua yang sudah usang karena lama terbengkalai. Bangunan yang hampir roboh ini, mirip seperti gudang tua tak terpakai.
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benak Valexa. Siapa yang membangun rumah di tengah-tengah pegunungan seperti ini? Dan bagaimana bisa orang yang terluka itu tahu kalau di tengah padang ilalang yang jauh dari jangkauan tangan manusia ini ada sebuah rumah?
"Apa ini rumah anda?" tanya Valexa untuk mengurangi rasa penasarannya pada pria yang terlihat jauh lebih baik setelah ia dan Ravel berhasil menghentikan pendarahannya.
"Iya ... ini rumah keluargaku," jawab pria itu singkat. "Terimakasih atas bantuanmu, Ravel." Pria itu tersenyum pada Ravel yang langsung terkejut karena orang yang ditolongnya tahu namanya.
Tidak hanya Ravel saja yang kaget, Valexa juga bingung, rupanya pria tak diketahui namanya itu mengenal kekasihnya. Semakin penasaranlah Valexa akan sosok pria tak dikenal ini.
"Bagaimana kau tahu namaku? Aku bahkan belum memperkenalkan diriku padamu?" tanya Ravel. "Tunggu, sebenarnya ... kau ini siapa? Sepertinya aku pernah melihatmu? Tapi di mana?" Tanya Ravel mencoba mengingat-ingat, namun tetap saja ia tidak bisa mengingat wajah pria ini.
"Kau mungkin sudah tidak ingat lagi padaku, lama tak bertemu sejak kau pindah ke Eropa. Tapi aku senang akhirnya kita bisa bertemu lagi, Ravelo. Aku teman kakakmu, namaku Charlen." pria itu memperkenalkan namanya.
Deg!
Jantung Ravel langsung berdetak kencang, kini ia ingat kalau kakaknya memang pernah punya sahabat karib bernama Charlen. Sejak Ravel pindah ke Eropa, ia memang sudah tak pernah lagi mendengar kabar tentang sahabat kakaknya ini.
"Kak Charlen! Sungguh ini kau!" pekik Ravel langsung memeluk tubuh pria yang sedang terluka itu.
"Ya ... ini aku ... tadinya aku tidak mengenalimu, tapi wajahmu mirip dengan kakakmu, jadi aku langsung tahu. Kau sudah besar sekarang." pria itu membalas pelukan Ravel.
"Ehem." Valexa berdeham. "Maaf, bukannya aku mengganggu acara nostalgia kalian. Tapi ... aku tak punya banyak waktu melihat kalian berdua berpelukan didepanku. Silahkan dilanjutkan kalau masalah ini sudah selesai. Bisakah anda jelaskan apa yang terjadi? Siapa para ninja itu? Kenapa mereka mengincar nyawa anda? Apa yang anda lakukan di kampus?" Valexa mulai memberondong pria itu dengan banyak pertanyaan tanpa peduli pada rasa bahagia Ravel karena bertemu dengan teman dekat kakaknya.
Meski begitu, Ravelpun setuju dengan pertanyaan yang diajukan kekasihnya walau ia agak geli saat Valexa seolah cemburu padanya ketika dirinya memeluk Charlen. Sedangkan Charlen tidak tahu mana dulu pertanyaan yang harus dijawabnya lebih dulu.
"Ah, kak Charlen ... kenalkan ... dia Valexa, pacarku, harap maklum kalau dia cemburu padamu," ujar Ravel sengaja membuat Valexa marah.
"Siapa yang cemburu padamu, ha? Aku hanya tak ingin buang-buang waktuku di sini. Aku harus segera menemukan petunjuk kasus penganiayaan sahabatku. Aku sama sekali tak peduli dengan siapa kau berpelukan!" cerosos Valexa terpancing emosi juga.
"Kenapa kau marah kalau tidak cemburu?"
"Aku tidak marah? Aku kesal karena kau menuduhku cemburu padamu? Dasar Ge-Er!" cetus Valexa.
"Tinggal bilang aja apa susahnya, sih? Aku tidak keberatan kalau kau cemburu."
"Berapa kali aku bilang? Aku tidak cemburu!" Valexa ngotot.
"Sudah hentikan ... kalian berdua jangan bermesraan!" Charlen menengahi.
"Kami tidak bermesraan!" bentak Valexa cepat.
"Oke-oke ... baiklah ... aku paham. Karena kau sudah menolongku, maka aku akan menjawab semua pertanyaanmu, ehm ... Nonaaa ..." Charlen lupa siapa nama kekasih adik sahabatnya ini.
"Valexa, calon istriku." Ravel membantu mengingatkan.
"Aku tidak mau jadi istrimu! Jangan mengaku-ngaku!" Valexa benar-benar kesal pada Ravel.
"Cepat atau lambat kau akan jadi istriku!" ujar Ravel.
Valexa mau buka suara tapi keburu dipotong oleh Charlen.
"Jika kalian berdua masih saja bermesraan, jangan salahkan aku jika kunikahkan kalian di sini seperti yang kulakukan pada Ronan dan kekasihnya, Shakila!" ancam Charlen gedeg juga melihat Valexa yang terus saja marah pada Ravel.
"Apa?" teriak Ravel dan Valexa bersamaan. Mata mereka menatap lurus wajah pria yang berdiri diantara keduanya.
Bukan karena diancam hendak dinikahkan, tapi Valexa dan Ravel sangat terkejut, karena ternyata orang bernama Charlen ini bilang kalau dirinyalah yang menikahkan kakak Ravel dengan sahabat Valexa, yaitu Shakila.
BERSAMBUNG
****
mampuslah lo caittin