Bagaimana jika hubungan yang telah di jalin selama empat tahun terbentang oleh restu orangtua?
Apa harus terus bertahan hingga restu itu datang tanpa kepastian hubungan? atau memilih untuk mengakhiri hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing? Atau malah memilih bertahan dan memantapkan hubungan itu meski harus melawan restu?
Begitu lah dengan kisah Kriss dan Delia yang hubungannya harus terombang-ambing karena RESTU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah lima belas menit melakukan ritual buang hajat di toilet, Roy pun keluar dari dalam toilet.
Roy tidak langsung keluar dari dalam rumah sakit, ia memilih untuk berkeliling sekalian mencari Delia.
Karena Delia tadi mengatakan ingin melakukan check-up bulanan, maka dari itu Roy pun berjalan menuju poli penyakit dalam.
Namun langkah kaki Roy terhenti saat ia melewati poli kandungan.
"Loh itukan Delia." Gumam Roy dalam hati.
"Katanya mau check-up bulanan, kok malah di poli kandungan." Gumam Roy lagi dalam hati.
Roy tak langsung mendekati Delia, ia memperhatikan Delia terlebih dulu, manatau Delia ada di poli kandungan karena tidak sengaja bertemu dengan teman atau sanak saudaranya yang sedang memeriksakan kandungan.
Roy mengernyitkan keningnya saat melihat gerak-gerik Delia yang sedang mengelus perutnya ditambah lagi wajah Delia yang muram.
"Apa jangan-jangan Delia..." melihat gerak-gerik Delia itu, tanda tanya besar terukir di dalam benak Roy.
Roy pun melangkah mendekati Delia, namun baru satu langkah ia melangkah, Delia berdiri dari tempat duduknya karena namanya yang dipanggil.
Mendengar nama Delia yang di panggil, tubuh Roy bergetar hebat bahkan sampai lemas, sangking lemasnya Roy sampai tak bisa melanjutkan langkahnya. Ia pun memilih untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya.
***
Di dalam ruangan dokter kandungan.
"Silahkan duduk Bu." Ucap dokter kandungan pada Delia.
Delia pun menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya di kursi yang ada didepan meja dokter.
"Jadi Bu Delia sudah tidak datang bulan dari bulan lalu?" Tanya dokter wanita itu.
Delia hanya menganggukkan kepalanya, ia terlalu gugup sampai-sampai suara tidak bisa keluar dari mulutnya.
"Sudah pernah periksa dengan testpack?" Tanya dokter lagi.
Delia menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, silahkan berbaring disitu Bu." Pinta sang dokter sambil menunjuk ranjang periksa.
"Mari Bu." Ucap bidan yang juga ada di ruangan itu.
Delia pun berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ranjang periksa.
Setelah Delia berbaring, bidan pun membuka baju yang Delia pakai hingga sebatas dada lalu menuangkan gel diatas perut Delia.
Setelah gel dituangkan diatas perut Delia, dokter pun mulai meletakkan alat diatas perut Delia yang sudah diberi gel.
"Selamat yah Bu, Ibu sedang hamil sekarang." Ucap dokter sambil menatap layar monitor.
Mata Delia membulat kaget.
"Ha-hamil? Ba-bagaimana ini?!" Gumam Delia dalam hati.
"Dokter serius?" Tanya Delia.
"Iya serius Bu. Ini embrionya." Kata dokter sambil memainkan kursor komputernya untuk memperlihatkan embrio yang tumbuh dalam rahim Delia.
"Kalau di lihat dari ukurannya, janin Ibu sudah masuk dua bulan yah." Ucap dokter.
"Hah... dua bulan?" Kaget Delia.
"Kenapa Bu, kok kaget?" Tanya dokter yang heran melihat ekspresi Delia yang kaget.
"Saya minum pil kb dok, bagaimana mungkin bisa hamil?" Akhirnya Delia mengungkapkan rasa penasarannya.
Dokter kandungan tersenyum mendengar keluhan Delia.
"Minumnya teratur? Atau hanya setelah berhubungan intim?"
"Hanya sehabis berhubungan saja." Jawab Delia.
"Dapet pil kb nya darimana? Di jelasin tidak aturan konsumsinya?" Tanya dokter.
Dengan polosnya Delia menggelengkan kepalanya.
"Suami saya yang beli dok diapotik." Jawab Delia berbohong dengan statusnya dengan Kriss.
"Oh..." dokter hanya membulatkan mulutnya percaya dengan alasan Delia.
"Jadi Ibu, pil kb itu harus rutin diminum, karena pil kb itu alat kontrasepsi hormonal yang akan meningkatkan kadar hormon dalam tubuh. Sekali saja Ibu tidak minum, kemungkinan untuk hamil 50%. Apalagi ini Ibu hanya meminum setelah berhubungan intim saja." Ucap dokter menjelaskan.
"Jadi gimana dong ini dok?" Tanya Delia gelisah.
"Loh kok gimana sih Bu?! Kan Ibu punya suami, jadi kasih tahu aja sama suami Ibu kalau sekarang Ibu sedang mengandung buah cinta kalian."
"Tapi suami saya belum mau punya anak dok, makanya dia suruh saya mengkonsumsi pil kb." Jawab Delia sambil menangis.
Dokter menghela nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar.
"Kasih pengertian Bu sama suami Ibu. Bilang sama suami Ibu, anak itu adalah rejeki, sekalipun memakai alat kontrasepsi jenis apapun kalau memang Tuhan sudah berkehendak, ya tetap saja akan jadi. Lagipula, itu adalah konsekuensi yang harus di terima jika dua orang dewasa melakukan hubungan badan. Kalau memang tidak mau punya anak, yah jangan berhubungan badan." Ucap dokter.
Delia terdiam, seperti sedang mencari solusi.
Bersambung...