Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noah Menyusun Rencana.
Noah sedang berdiri menghadap jendela besar. Memandangi gedung pencakar langit dari dalam gedung perusahaannya dengan mata tajam serta raut wajah yang tampak sangat serius. Sesekali pria itu mengeluarkan tangannya dari dalam saku celananya untuk mengusap bibirnya frustrasi.
Dua hari telah berlalu dan selama dua hari itu pula Farika belum ditemukan dan sejak saat itu juga Noah sudah sangat bekerja keras mencari keberadaannya.
Dia mengerahkan seluruh anak buah terbaiknya untuk mencari anak itu, dia juga mengerahkan perusahaan IT nya untuk melacak lokasi keberadaan anak itu, namun hasilnya tetap zonk. Entah anak buahnya yang tidak berguna atau si penculik yang terlalu licik namun yang pasti itu membuat emosinya meledak di udara.
Ada apa dengan pria ini? Bukankah dia mengatakan bahwa dia tidak menginginkan anak itu? Lalu kenapa dia bekerja keras untuk menemukan anak itu? Apakah sekarang dia sudah menjilat ludahnya sendiri dengan peduli pada anak itu? Jawabannya, No.
Noah melakukan hal itu bukan karena peduli tapi karena rasa bersalah. Yah Noah memang pria setan. Tapi dia bukanlah iblis yang begitu saja lari dari tanggung jawab. Dia sadar akan kesalahannya yang menempatkan anak-anak dan wanita itu dalam bahaya.
Yah, sebagai seorang pewaris utama Rayan Grup tentu dia memiliki banyak musuh yang mengintainya dan mencoba untuk melenyapkannya karena banyak yang menginginkan posisinya.
Memang! perusahaan besar itu sepenuhnya milik ayahnya, namun jangan lupakan struktur organisasi dalam dunia perbisinisan. Tanpa adanya dewan komisaris pemegang saham, perusahaan itu tidak akan meraih kesuksekan seperti ini. Dan, salah satu musuh yang sangat ingin melenyapkannya adalah ibu tirinya sendiri Herlina Alexia Rayan.
Noah tidak pernah mengira bahwa wanita iblis itu lebih dulu mengetahui bahwa dirinya ternyata sudah memiliki keturunan dari seorang wanita yang tidak pernah pria itu sangka. Karena kesalahannya yang tidak menggunakan pengaman malam itu, membuat semuanya rumit. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah basi.
Tidak mungkin juga dia melenyapkan darah dagingnya sendiri. Hei, dia tidak selaknat itu, dia masih mengenal dosa. Terlebih saat Noah mengetahui fakta tentang anak-anaknya, yang memiliki kejeniusan di atas rata-rata dan tentu saja kejeniusan itu menurun darinya.
Senyuman terulas di bibir sensualnya. Ketika kesombonganya menyeruak di udara.Ternyata benih kadarluarsanya itu limited edition.
Namun akal sehatnya membawanya untuk kembali pada kenyataan bahwa saat ini tidak ada waktu untuk berbangga diri, dia harus memutar otaknya sekarang. Bagaimana caranya agar dia bisa melindungi tiga anaknya dan wanita itu? Sebenarnya wanita itu tidak masuk dalam daftar untuk dia lindungi. Dia bukan siapa-siapanya. Wanita itu hanyalah wadah untuk penampungan benihnya. Namun entah kenapa bayang-bayang wanita itu selalu mengganggunya. Sikap liar yang selalu Kaila tunjukkan padanya, selalu berhasil menghipnotis Noah. Bagaimana mungkin seorang wanita kalangan bawah berani menantangnya. Wanita itu selalu menunjukkan sisi yang tidak pernah Noah bayangkan. Kemarahan, kesedihan dan keberanian berbaur menjadi satu di dalam manik coklat indah itu. Noah merasa terperdaya oleh gadis lemah yang berhasil melemahkannya. Sial! Apakah sekarang dia ingin memiliki wanita itu?
Mengingat wanita itu membuat dia tidak bisa menahan bibirnya lagi untuk kembali tersenyum. Sial sekali bukan!
Sementara Ben yang sejak tadi berdiri di belakang Noah hanya mampu memincingkan matanya ke arah bosnya itu saat melihat dari pantulan kaca pria itu tengah tersenyum. Astaga, Ben tidak menyangka jika pertemuannya dengan sang ayah dua hari yang lalu membuat pria itu sakit jiwa. Bisa-bisanya dalam kondisi yang genting saat ini, dia masih mampu untuk tersenyum. Apakah Ben harus membenturkan kepala bosnya itu ke tembok agar dia kembali pada kesadarannya? Namun lagi-lagi Ben hanya mampu mengumpat di dalam hatinya saja. Kasihan sekali nasib seorang kacung.
"Hm...." Noah berdehem halus saat berbalik menatap asistennya. "Masih belum ada petunjuk?"
"Belum Tuan."
"Lalu bagaimana dengan perkembangan Faustine dan Ferdinan?"
"Mereka sama dengan kita Tuan, belum menemukan apa-apa."
Noah memicingkan matanya, "are you sure?"
"Yes." Ben membenarkan posisi dasinya yang rapi. "Pengawal yang bertugas mengawasi mereka. Tidak menemukan pergerakan yang mencurigakan. Setelah keluar dari rumah sakit malam itu, tidak ada hal lain yang Fau dan Fer lakukan selain melacak lokasi kejadian penculikan adiknya sepulang sekolah. Itu saja."
Noah mengambil duduk di kursi kebesarannya, menatap tajam asistennya, "lalu wanita itu?"
Ben berdecak pelan dan mengumpat dalam hati saat Noah melayangkan pertanyaan itu. Sebenarnya pria itu hanya penasaran pada Kaila bukan tentang anak-anaknya. Pertanyaan pertama hanya basa-basi semata. Cih, Dasar gengsian.
"Sampai detik ini wanita itu belum mati, Tuan."
Noah terbelalak. "Apa maksudmu?"
"Yang dia lakukan hanya menangis dalam pelukan Niko."
Ben berusaha menahan tawanya saat melihat wajah Noah yang kini terbakar api cemburu. Ben sangat yakin, wanita itu sudah menghangatkan hati yang dingin itu.
"Tuan Niko hanya berusaha menghibur Nona Kaila, Tuan."
Noah berdecih, "apa peduliku tentang dia."
Lagi-lagi Ben hanya mampu menghela napas. Pria itu sangat kaku memahami perasaannya sendiri. Dasar jones.
"Lalu bagaimana dengan siluman ular itu?"
"Siluman ular?" Ben menyipitkan mata bingung.
"Herlina Anakonda Rayan." Tegas Noah.
"Alexia. Tuan!" Ben meralat kata Anakonda.
"Terserah!" Noah memutar kursinya membelakangi Ben. "Apa dia baik-baik saja?"
"Sejak kapan Anda peduli dengan ibu tiri, Anda."
Secepat kilat Noah kembali memutar kursinya, melayangkan tatapan tajamnya hingga menusuk relung hati Ben dan berhasil membuat pria berusia 34 tahun itu menundukkan pandangannya. Bukannya dia tidak mampu untuk melawan atasannya, hanya saja dia memang sudah sangat melewati batas.
"Berhati-hatilah dengan ucapanmu itu Ben." Ucap Noah dengan nada yang tenang namun sarat akan kebencian. Dia tidak akan pernah sudi mendengar orang mengatakan wanita itu adalah ibunya, meskipun sebutan ibu tiri sekalipun.
"Maaf Tuan." Lirih Ben.
Noah kembali meredakan emosinya saat mendengar kata maaf dari pria itu. Yah, permintaan maaf pria itu membuatnya luluh. Lemah sekali.
"It's okay. Asal jangan keseringan." Noah mengetukkan jarinya di atas meja. "Jadi? Apakah dia masih baik-baik saja saat rencananya gagal kali ini?"
"Saya tidak tau pasti Tuan." Ben berkata jujur, bagaimana mungkin dia harus mengetahui apa yang saat ini wanita itu rasakan. Memangnya dia cenayang.
Noah berdecih, "menurut asumsimu saja, Ben."
"Kalau menurut saya, sepertinya saat ini dia sedang mengamuk, Tuan."
Pria itu langsung tersenyum penuh arti. Setelah mendengar penuturan asistennya itu dia sangat mengharapkan hal itu benar terjadi pada wanita ****** itu, bahkan Noah mengharapkan lebih dari itu. Menjadi gila mungkin.
Seperti yang baru saja dikatakan Ben bahwa saat ini wanita itu sedang mengamuk memang benar adanya.
Terlihat di dalam sebuah rumah yang sangat luas. Berserakan barang-barang mewah seharga miliyaran kini menjadi sampah tak berharga di lantai marmer itu.
Wanita itu berubah menjadi banteng yang mengamuk, menghantam apa saja yang ada di dekatnya dengan tongkat bisbol.
Dia begitu murka setelah dua hari yang lalu Widia gagal membawa Farika, karena anak itu jatuh ke tangan yang lain. Dan yang membuat emosinya meledak di udara adalah, selama dua hari ini dia tidak mengetahui bahwa Widia dan Niko gagal melalukan perintahnya. Sial! Berani sekali mereka melanggar perintahnya.
Setelah puas mengamuk. Kini wanita paruh baya itu tengah duduk di sofa ruang tengah mewahnya. Deru napasnya memburu seiring dengan emosi yang membakar jiwanya.
Sesekali wanita itu menyesap wine dengan tatapan tajamnya kosong entah kenapa. Saat ini dia harus memikirkan cara, agar dia bisa mendapatkan anak-anak sialan itu.
Yah, Herlina sangat menginginkan anak kembar Noah untuk dia ajak bermain-main sebentar, setelah itu dia akan mengirimnya ke neraka jahanam bersama neneknya.
Pokoknya dia harus berhasil dengan misinya tersebut sebelum keberadaan anak-anak itu diketahui oleh Abraham. Jika pria tua bangka itu mengetahui fakta bahwa sebenarnya Noah memiliki keturunan, maka rencananya untuk menjadikan Niko sebagai pewaris utama Rayan Grup akan musnah begitu saja.
Saat Noah menolak untuk menjadi pewaris utama maka anak-anak itulah yang akan menempati posisi itu sebagai pewaris utama. sangat sial!
Herlina meninju bantalan sofa dengan sangat keras. Di dalam diri anak-anak itu mengalir darah Rayan, itulah mengapa dia harus melenyapkan mereka sebelum terlambat.
Namun, lagi-lagi dia gagal melakukannya karena kecerobohan anak satu-satunya, yang sangat dia percaya dan itu adalah Niko.
Jika saja saat itu dia tidak termakan bujuk rayu anaknya itu, anak itu pasti tidak akan lahir.
Herlina tertawa geram. Sepertinya dia tidak bisa lagi mempercayai anaknya itu. Mulai sekarang dia yang akan bergerak sendiri untuk menghancurkan mereka.
Cengkeraman tangannya pada gelas itu semakin kuat hingga membuat benda itu pecah di tangannya. Setelahnya dia pun kembali tertawa bak orang gila.
Wanita itu mengeratkan kepalannya tangannya, sisa beling gelas itu semakin menusuk daging tangannya hingga membuat cairan kental berwarna merah bercucuran di lantai. Namun, wajahnya terlihat biasa saja seolah tak merasakan sakit sama sekali. Seolah rasa sakit itu tertimbun oleh amarah yang memuncak.
...Happy Reading ❤...
Kencangin dukungannya dong readers. hehehe
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂