"Kita putus saja, gue gak nyangka lo segendut itu, gue kira lo cuma montok saja. Sorry, gue gak suka sama cewek gendut." Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Allan kepada Aline, setelah pertemuan pertama mereka.
Sejak saat itu, Aline bersumpah akan kurus dan melakukan diet ketat. Ia bertekad pas masuk SMA nanti, berat badannya sudah harus ideal.
Hem, entah jodoh atau kesialan, Aline malah satu SMA dengan Allan. Dan yang bikin ia makin spot jantung, mereka sekelas dengan posisi duduk berdekatan dengan si mantan nyebelin itu.
Apakah Aline dan Allan akan CLBK atau malah menjadi musuh bubuyutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Posesif
Mantan Nyebelin
Bagaian 26 : Mantan Posesif
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, segera kukemasi buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas.
"Mel, antarin gue pulang, ya!" bisikku pada cewek berambut sebahu itu.
Amelia mengangguk lalu beranjak bangkit dari kursi. Kami melangkah keluar dari kelas, lalu menuju parkiran.
"Tumben gak dijemput lo, Line?" tanya Amelia.
"Besok Abang gue merit, jadi sibuk gitu deh. Oh iya, lo datang ya!" jawabku.
"Oke." Amelia mengacungkan jempolnya.
Ketika sampai di parkiran, Kak Raka juga ada di sini. Ia sedang berdiri di samping mobilnya ketika kami datang. Tatapan kami beradu sejenak, sebelum ia masuk ke mobilnya.
Tatapannya masih seperti tadi pagi, tatapan penuh luka yang menyiratkan kepedihan. Kak Raka, kangen. Lagi-lagi aku menangis dalam hati.
"Line, kok masih bengong aja? Kak Raka udah pergi tuh." Ucapan Amelia membuyarkan lamunanku.
"Eh .... " Aku menghela napas berat. Iya, Kak Raka udah gak ada di sini.
"Udah ah, ayo naik!" Amelia sudah siap memboncengku dengan motor maticnya.
Belum sempat Amelia tancap gas, Allan memotong jalan kami.
"Lo berdua mau ke mana?" tanyanya dengan nada sinis sambil membuka kaca helmnya.
"Pulang dong, masa mau ke pasar!" jawab Amelia sambil terkekeh.
Aku hanya meliriknya sinis, lagi sebel banget liat tampang pentakiIan itu. Mantan posesif yang bikin ilfil.
"Ya udah, buruan pulang kalo gitu! Titip istri masa depan gue ya, Mel. Antarin dia sampai ke depan rumahnya!" ujar Allan sambil menyunggingkan senyumnya.
Amelia menolehku sambil mengeryitkan dahi, ia pasti kaget mendengar ocehan si mantan nyebelin itu.
"Gue duluan, bye .... " Allan melambaikan tangan kemudian tancap gas.
Amelia kembali menatapku dengan tersenyum jahil.
"Allan ngaku lo istrinya, Line?"
"Ah, udah deh, gak usah didengerin. Mantan sengklek dia mah," jawabku sambil menepuk pundak Amelia dan menyuruhnya segera jalan.
Amelia menjalankan motornya dan kini kami telah melenggang di jalanan yang lumayan macet karena gerombolan anak-anak yang juga baru pulang sekolah.
"Line, mau mampir minum es teler di ujung jalan sana gak?" tanya Amelia sambil menyikutku.
"Boleh, Mel, gue juga haus banget nih," jawabku.
"Kebetulan ada sesuatu yang mau gue omongin juga ama lo," ujar Amelia sambil melirikku dari kaca spionnya.
Aku mengganggukkan kepala dan sedikit penasaran juga dengan apa yang akan diomongin Amelia.
Taklama kemudian, motor Amelia telah berhenti di warung tenda pinggir jalan yang menjual aneka es.
"Lo mau ngomongin masalah apaan?" tanyaku tak sabar sambil menyeruput es teler yang begitu menyegarkan tenggorokan.
Amelia menyendok aneka buah-buahan yang ada di dalam mangkok es-nya.
"Masalah Kak Raka .... " jawab Amelia sambil menyunggingkan senyum.
Aku terdiam sejenak, mendengar namanya disebut, hati mendadak perih.
"Tapi sebelumnya, gue mau tanya dulu ... lo dan Allan apa udah balikan lagi?"
Ya elah, sekarang malah nama Allan yang disebut, mendadak selera minum gue hilang deh. Aku melengos.
"Buruan, Line, jawab! Lo mau dengar cerita tentang Kak Raka gak nih? Tadi, di kantin ... dia nyamperin gue ama Winda pas lo pergi."
"Eh, masa sih? Dia ngomong apa ama lo berdua?" Mataku sedikit berbinar.
"Tapi, jawab dulu pertanyaaan gue yang tadi. Lo sama Allan itu gimana?"
Aku menghela napas panjang, lalu berkata, "Status gue ama Allan tetap 'mantan', Mel."
"Syukur deh kalo gitu." Amel tersenyum sumringah.
Aku menatapnya curiga.
"Kok senang gitu? Jangan bilang lo naksir Allan, ya?" Aku menatapnya tajam, hati mulai sedikit cemburu. Ya ampun, kok jadi cemburu gini? isshhh ....
Amelia langsung ngakak, sambil memegangi mangkok es-nya.
"Kok malah ketawa?" Aku mengeryitkan dahi.
Amelia menghentikan tawanya, lalu mulai bersikap serius.
"Ya udah, gue gak ketawa lagi."
"Buruan lo mau ngomongin apa tentang Kak Raka?" Aku mulai sewot.
Amelia terlihat menarik napas sebelum memulai pembicaraan.
"Kak Raka itu masih cinta ama lo, Line," ujar Amelia.
Hatiku langsung bersorak girang.
"Emang lo tahu dari mana?" Aku tak dapat menyembunyikan rasa senang ini.
"Ya, tadi Kak Raka curhat masalah kalian. Dia gak maksud buat mutusin lo, dia cuma mau lo jujur masalah hubungan lo ama Allan soalnya dia udah tahu kalo kalian itu mantan. Kak Raka cuma mau kejujuran dari mulut lo aja."
Aku tertegun mendengar penuturan Amelia, mendadak jadi kangen meluk Kak Raka deh. Huaaaaa ....
"Kak Raka nungguin chat permintaan maaf dari lo, tapi ... lo malah asyik-asyik aja pasca putus dan makin lengket ama si Allan, mantan lo itu," ujar Amelia lagi.
Aku makin merasa bersalah ama Kak Raka. Kasihan dia, menderita karena ulah Allan si mantan nyebelin itu.
"Terus gue mesti gimana, Mel?" Aku menatap nelangsa sahabatku itu.
Amelia memutar bola mata, lalu mengulum senyum.
"Kalo lo masih sayang ama Kak Raka dan mau hubungan kalian kembali seperti dulu lagi, lo harus ngajakin dia balikan."
Aku meringis, sepertinya aku gak akan berani melakukan itu.
Tiba-tiba, sebuah motor berhenti di hadapan kami dan si pengendara yang barusan menjadi topik obrolan, kini malah berdiri di hadapanku.
"Kok masih nongkrong di sini aja? Ayo, pulang!" Allan meraih tanganku dan menggandeng keluar dari warung tenda itu.
"Eh .... " Aku menatapnya kesal.
"Line!" Amelia juga terlihat kesal, sama sepertiku.
"Lan, kok seenaknya gini sih? Gue masih ngobrol hal penting ama Amel." Aku melotot pada cowok dengan style kaos oblong hitam+celana pendek itu.
"Nanti-nanti lagi aja ngobrolnya, besok-besok kan masih bisa. Kayak baru ketemu setelah sekian tahun aja," omelnya sambil memasangkan helm ke kepalaku.
Isshhh, aku hanya bisa menahan dongkol lalu mengikuti perintahnya untuk naik ke motor. Heran juga, aku kok gak bisa melawan si dinosaurus nyebelin ini. Kucubit bahunya dengan keras.
"Kenapa lagi sih, my wife?" tanyanya sok polos sambil mengerlingku dari kaca spionnya.
"Nyebelin!!!" umpatku sambil memukul pundaknya berkali-kali.
"Pukul aja terus! Asal jangan digigit aja, soalnya gue gak mau ketularan rabies!" jawabnya lagi sambil tersenyum jahil.
"Issshhh .... " Aku mengerucutkan bibir lalu melipat tangan di dada.
Taklama kemudian, motor Allan telah berhenti di depan rumah. Aku turun dan tanpa menolehnya langsung membuka pintu pagar, lalu masuk.
Aku langsung menuju kamar dan mengabaikan para tim dekor yang ternyata belum selesai juga mendekornya.
Kulempar tas ke tempat tidur, lalu meraih handuk. Sepertinya aku harus berendam biar adem luar dalam.
*******
Betul sekali, tak hanya tubuh yang fresh diajak berendam, kepala dan hati juga ikutan dingin. Aku membuka mata setelah sekian menit memejamkan mata, dan sempat bermimpi indah juga tadi. Hehee, mimpiin Kak Raka ngajakin balikan. Aku tersenyum senang sambil melilitkan handuk ke tubuh, lalu melangkah keluar dari kamar mandi.
'Degggg'
"Agghhhh!!!" Aku menjerit histeris sambil menutupi dada, melihat Allan sedang melengkor di tempat tidur sambil bermain ponsel. "Ngapain lo di kamar gue?!"
Allan hanya cuek, mungkin ia sedang asyik bermain game. Aku menghentakkan kaki dengan kesal.
Aku menghela napas panjang lalu berteriak lagi, " Balikin badan gak lo? Gue mau ambil baju di lemari!"
Allan membalikan badan dan menghadap ke jendela. Secepat kilat, segera kuambil baju di lemari dan membawanya masuk kembali ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian.
Aku keluar dari kamar mandi lalu melototi Allan yang masih berbaring tengkurap di atas tempat tidur.
"Hey, ngapain lo di sini?" Kuraih bantal dan melemparkan padanya.
Allan menangkis bantal dengan sebelah tangannya lalu meletakkan ponselnya dengan geram.
"Gara-gara lo gue kalah, tanggung jawab gak lo!" Allan menarik tanganku hingga terduduk di pangkuannya.
"Ihh, apaan sih lo?" Aku bangkit dan mendorong tubuhnya dengan geram. "Gimana bisa lo masuk ke kamar gue, hah?!"
Allan tersenyum lalu berbaring, kemudian menjawab, "Ya, lewat pintulah."
"Maksud lo? Lo lewat pintu depan?! Gimana bisa?!?!"
"My wife, semua pekerja yang di bawah itu anak buah nyokap. Jadi, gue santai aja jalan ke sini," jawabnya sambil nyengir.
Issshhh, makin hari makin semena-mena aja nih dinosaurus, seenak jidatnya aja keluar masuk kamarku. Aku menatapnya makin jengkel.
"Gue laper, Ndut. Bawain makanan dong!" pintanya dengan nada lembut setengah memohon.
"Ya elah, lo kira rumah gue restoran apa?!" Lagi-lagi aku melototinya.
"Di rumah gak ada yang bisa gue makan. Buruan ah, buatin gue makanan!" perintahnya lagi.
Aku memutar bola mata jengah, lalu melangkah menuju pintu.
"Kunci, woy, pintunya! Jangan sampai Kak Andine dan Bang Aldi melihat lo ada di kamar, bisa ****** gue!" hardikku kesal.
Allan turun dari tempat tidur dan menghampiriku di dekat pintu.
"Jangan lama-lama, ya! Gue udah lapar level tinggi," ujarnya sambil memegang pintu.
Aku memberi isyarat agar ia segera menutup pintu. Pintu tertutup, aku menuruni tangga lalu menuju dapur.
Hemm, tak ada makanan di sini. Aku menatap nelangsa meja makan yang kosong melompong. Kubuka kulkas dan meraih tiga bungkus mie instant, sebungkus nugget dan sosis. Lalu memasaknya. Tak hanya Allan yang lapar, aku juga.
Beberapa saat kemudian, semangkok besar mie instant dan sepiring nugget dan sosis sudah selesai kumasak. Tinggal di bawa naik ke atas saja. Oh iya, sebotol minuman juga. Ya ampun, si dinosaurus merepotin gue aja. Aku kesusahan membawa beban yang banyak ini.
"Rakus amat, Line! Ihhhh .... " cibir Kak Andine ketika aku hendak menaiki anak tangga.
"Laper, Kak, dari pagi gak ada makan," alibiku sambil mempercepat langkah.
Hemmmm, semoga aja gak ada yang tahu kalo ada cowok nyebelin itu di kamarku. Bisa langsung dinikahkan kalau sampai ketahuan.
Bersambung ....