Delima, gadis yang hidup dengan rasa percaya diri yang rendah. Terbiasa dibully membuatnya menarik diri dari pergaulan dan merasa dirinya tak pernah berharga. Sampai Ia dicintai oleh Richard Kusumadewa, mantan pemakai narkoba dan playboy kelas kakap. Akankah Richard mampu merubah Delima dan mengembalikan rasa percaya dirinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Yang Masih Berlaku
Richard
"Tawaran?" aku bingung dengan apa yang Adel tanyakan. "Tawaran apa?"
Adel terlihat gugup dan malu-malu mengatakannya. Ia memainkan tutup botol air mineral yang beberapa kali Ia buka lalu di tutup kembali.
Tak juga berbicara aku pun memanggil namanya. "Del?"
Adel terlonjak kaget, sepertinya sejak tadi Ia sibuk berpikir.
"Em... Tentang tawaran kamu...." Ia malu-malu mengatakannya.
"Iya. Tapi tawaran yang mana?" aku makin bingung dibuatnya.
"Tawaran yang tadi."
"Yang tadi itu yang mana ya? Hmm... Kamu mau es dogernya? Kalau mau aku ambilkan di bawah." mungkin Adel malu untuk bilang kalau Ia juga mau es doger. Ketika aku hendak mengambilkan di bawah, Adel menarik lenganku.
"Bukan. Bukan tentang es doger. Aduh... Gimana ngomongnya ya?" Ia melepaskan lenganku dan menggaruk kepalanya.
Aku berusaha mengingat-ingat apa tawaranku sampai membuat Adel malu-malu seperti itu mengatakannya. Enggak mungkin juga sih kalau cuma mau es doger sampai malu-malu begitu.
"Tawaran nikah?!" aku dan Adel mengatakannya bersamaan.
"Hah? Kamu serius Del?" aku enggak percaya Adel menanyakannya. Beneran?
Adel mengangguk malu-malu. Wajahnya kini merah merona. Pasti malu mengatakannya. Dia kan perempuan.
Enggak enak bicara sambil berdiri begini. "Kita ngomongnya di sofa aja ya."
Aku menaruh air mineral yang tadi hendak kuminum namun batal karena pertanyaan Adel di atas meja. Kamarku memang ada sofa dan mejanya. Hanya sofa dua seat yang bisa diubah jadi tempat tidur.
Adel dengan patuh menurutiku. Setelah duduk di sofa kami malah terdiam. Aku masih shock dengan permintaan Adel, dan Adel mungkin masih malu karena menagih tawaranku.
Jujur aku senang sekali. Mengetahui Adel mempertimbangkan tawaranku. Namun kebahagiaanku biasanya berjalan bersama dengan kesedihan. Aku tahu apa yang membuat Adel melakukannya.
Tatapan Adel yang penuh luka saat Rian datang bersama seorang cewek. Tatapan kekecewaan karena bukan dirinya yang diperkenalkan pada keluarga Rian sebagai calon istri.
Tatapan itu pasti sama persis seperti tatapanku saat Ia menolakku di depan kedua orang tuanya. Aku tahu karena aku pernah merasakannya.
Apa aku sakit hati? Apa aku dendam? Sedikit. Manusiawi toh? Tapi aku udah lupa. Udah belajar ikhlas.
Aku laki-laki. Saat aku berani mengajak anak gadis orang menikah dadakan tanpa bicara terlebih dahulu maka aku pun harus siap menerima penolakan.
Namun Adel berbeda. Dia perempuan. Hanya bisa berharap, hanya bisa berangan kalau Ia yang akan dipilih. Betapa kecewanya Ia saat tahu kalau Ia tidak dipilih, melainkan wanita lain yang menempati tempatnya.
"Aku lebih menyarankan kamu menangis. Nangis aja sekencang mungkin. Kamar ini kedap suara kok. Menerima tawaranku bukan solusi. Lebih baik menangani hati kamu dulu." aku meminum air mineral untuk mendinginkan hatiku.
Aku malah menyuruh Adel menangis. Bodoh. Seharusnya aku langsung mengiyakan penawaran yang Ia berikan. Aku bisa diterima tanpa harus capek-capek berusaha dan ditolak lagi.
"Aku enggak mau menangis. Tadi mungkin iya. Tapi sekarang tidak. Jadi gimana, kamu masih mau menikahiku kalau aku memintanya? Sesuai perkataanku tadi." Adel menatapku dengan serius. Mata kami saling memandang.
"Kamu yakin? Sekali maju aku enggak mau putar balik." kataku dengan tegas.
Adel menarik nafas lalu menghembuskannya. "Yakin. Aku yakin dengan keputusanku."
"Dengan menjadikanku sebagai pelarianmu?" kataku sinis.
"Tak masalah kan?" Adel menyandarkan kepalanya di sofa. Pandangannya menatap ke langit-langit kamarku. "Aku kalah."
"Kalah?" tanyaku tak mengerti.
"Iya, kalah. Bu Sri bilang, lebih baik hidup dengan seseorang yang mencintai kita daripada hidup dengan orang yang kita cintai. Dengan sombongnya aku mematahkan teori emak-emak pengalaman itu. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa hidup dengan laki-laki yang kucintai. Karena itu aku berusaha mendekatkan diri dengan Kak Rian,"
Aku diam saja mendengar isi hati Adel. Ia butuh teman bicara saat ini. Melihat dari tatapannya yang amat terluka.
"Aku tahu Kak Rian hanya menganggapku sebagai adik, teman adiknya. Namun harapanku tak pernah putus. Di acara bridal shower kemarin pun Ia memperkenalkanku sebagai adiknya. Bukan orang yang spesial,"
Aku menatap Adel tak percaya. Waktu di toko buku sepertinya Ia baik-baik saja. Ia pasti menyembunyikan semua perasaannya dan terlihat bahagia seperti biasanya.
"Aku memang bodoh dan terus saja berharap. Saat Kak Rian bilang sedang berusaha, aku pikir Ia sedang usaha PDKT denganku. Dan aku sadar hari ini, kalau semua hanya halusinasiku. Semua hanya sekedar angan yang hidup di imajinasiku. Terlalu baper aku dibuatnya,"
Aku ikut menyandarkan kepalaku di sofa. Ikut menatap langit-langit kamarku meski tak ada pemandangan apapun diatas sana. Hanya bercat putih dengan lampu downlight dan ukiran gypsum.
"Ternyata butuh sesuatu yang menyakitkan untuk menyadarkanku. Bukan kata-kata bijak seperti yang selalu kamu katakan. Dan hari ini aku mendapatkan sesuatu yang menyakitkan. Amat menyakitkan."
"Dan melampiaskannya padaku?" lagi-lagi aku berkata sinis.
"Iya. Kamu benar. Aku egois ya?"
"Iya." aku menatap Adel yang balik menatapku. Kami pun tertawa bersama.
"Kamu tau Cat alasan aku menagih tawaranmu?" tanya Adel yang masih menatap wajahku.
"Karena aku orang terakhir? Last man standing?"
Adel tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan."
"Lalu kenapa?" tanyaku bingung.
"Karena kamu seksi."
"Wuahahahaha...." Aku tertawa ngakak dibuatnya. "Really? Pasti karena kamu tadi lihat aku habis berenang ya? Hayo ngaku! Hmm... Pantas saja Mama menyuruhku cepat-cepat ganti baju."
"Hmm.... Bisa iya, bisa enggak. Tapi bukan itu alasan utamaku." Adel bermain teka-teki. Menyebut aku seksi saja sudah membuatku besar kepala. Apalagi ya selanjutnya?
"Lalu apa?"
"Entah mengapa, dalam pikiranku... Jika aku tidak menikah dengan Kak Rian, kayaknya asyik juga menikah denganmu. Punya Maya sebagai adik ipar, punya Tante Lena yang baik sebagai mertua dan punya Om Dibyo sebagai mertua yang keren. Serakah ya aku? Kamu benar sekali. Aku memang serakah."
Aku tersenyum. "Kamu akan menyesali keputusanmu nanti atau tidak? Seperti yang aku bilang tadi, sekali berjalan pantang untuk putar balik."
Adel terdiam. Ia kembali menatap langit-langit kamarku. Aku menunggu sampai Ia berkata padaku. Menunggu dalam diam dan rasa penasaran yang berkecamuk.
"Setiap keputusan pasti ada resiko. Aku tahu keputusan yang kuambil ini mendadak dan kamu pasti berpikir kalau aku mengambilnya karena emosi sesaat. Mungkin benar, tapi jujur aku sudah memikirkannya sejak jauh-jauh hari,"
"Perkataan Bu Sri berhasil nyangkut di kepalaku. Melunturkan sikap keras kepalaku. Berhasil membuatku yang awalnya menganggap remeh dua emak-emak tak tau apa-apa menjadi menganggap mereka bak guru. Dan aku begitu tertarik dengan perkataan lebih baik hidup dengan orang yang mencintai dibanding hidup dengan orang yang kita cintai namun tak berbalas,"
"Aku mau kita menjalaninya. Seperti yang Duo Julid bilang, witing tresno jalaran soko kulino. Entah waktunya setahun, dua tahun, bahkan mungkin 10 tahun. Enggak ada yang tidak mungkin kan?"
Seharusnya aku melonjak kegirangan. Harapanku untuk bisa mempersunting Adel menjadi kenyataan, namun kenyataan kalau aku hanyalah pelariannya membuatku sedikit kecewa.
Ini yang aku mau. Tinggal diiyakan saja. Namun ini awal perjuanganku. Hidup bersama wanita yang mencintai laki-laki lain.
Kalau mengikuti pola pikir Papa, pasti Papa akan bilang, "Maju terus! Masalah ada buat dihadapi, bukan ditinggalkan. Tantangan pasti ada, asal niatnya kuat pasti bisa dilewati."
Satu keputusanku, akan merubah semua masa depan kami. Jika aku menolaknya, maka bisa dipastikan aku tak akan berhubungan dengan Adel lagi. Ia tipikal orang yang pemalu dan rendah diri.
Sudahlah, aku lebih rela tetap bersama Adel meski Ia tak mencintaiku daripada kehilangan dia untuk selamanya.
"Oke. Kita akan menikah." keputusanku sudah bulat.
Adel langsung duduk tegak. Ia menatap ke dalam mataku. "Kamu beneran mau?" Ia memastikan lagi keputusan yang kuambil.
"Iya. Toh sejak awal aku sudah meminta kamu untuk menikah. Saat kamu justru yang menagih tawaranku, kenapa aku menyia-nyiakannya?" aku balik bertanya.
"Tapi...."
"Jangan khawatir. Tidak ada kontrak pernikahan diantara kita seperti kisah di dalam novel. Aku enggak akan kasih syarat kamu apapun, kamu pasti mengerti tentang hukum pernikahan kan? Baik secara agama dan negara?"
Adel mengangguk.
"Ya, patuhi saja sesuai hukum agama dan negara. Sesimpel itu kan. Yang penting niat kita menikah, menyempurnakan setengah ibadah dan menjauhi dari zina. Aku cuma takut kamu melewati batas."
"Loh kenapa aku?" tanya Adel bingung. "Bukannya laki-laki yang biasanya tidak bisa menahan hawa nafsu?"
Aku mengu lum senyum. "Kan kamu bilang tadi kalau aku seksi. Nanti kamu lost control lagi dan menerkamku, hauummm..."
Adel tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon recehku. Tawanya amat cantik dengan lesung pipi yang terlihat begitu indahnya.
"Jadi kapan kita akan menikah? Minggu depan atau bulan depan?"
Pertanyaanku membuat Adel berhenti tertawa "Secepat itu?"
Aku mengangguk. "Ya, selain aku takut kamu menerkamku, aku juga takut kalau aku yang tiba-tiba menerkammu haaauummm."
"Ih apaan sih!" Adel memukul pelan lenganku. "Aku kan belum bilang sama kedua orang tuaku. Kamu tau sendiri bagaimana Papaku. Kemarin aja Papa kurang suka sama kamu."
"Tenang saja. Itu urusanku. Kemarin aku enggak berani maju karena kamunya yang enggak dukung. Kalau kamu dukung pasti aku maju terus. Lalu masalah apa lagi?"
Adel kembali terlihat berpikir. "Kita nanti tinggal disini juga?"
"Terserah kamu. Mau tinggal di rumahku yang di Hang Tuah boleh. Tinggal di apartemenku juga boleh. Aku sih lebih suka disini. Rame. Seru kalau lagi kumpul."
Adel terlihat mengangguk setuju. "Tapi aku enggak mau pesta pernikahan yang megah."
"Maaf, kali ini aku kurang setuju." tolakku.
"Kenapa?"
"Karena kamu akan berurusana sama Mama dan Papa. Kamu tau kan permintaan Maya saat resepsi kemarin? Maunya resepsi sederhana."
"Itu bukan resepsi sederhana! Itu resepsi besar namanya. Ada layar tancep dan juga dangdut dengan panggung besar kayak gitu dibilang sederhana?" Adel memotong perkataanku.
"Ya bagi Mama dan Papa sih sederhana. Mereka sudah bertekad kalau aku menikah nanti harus dirayakan dengan besar-besaran. Ya kayak dendam kesumat gitu. Bukan aku enggak mau menyetujui niat kamu, yang kita hadapi adalah Papa dan tuan putri Mama. Susah berurusan sama mereka."
Adel menghela nafas berat. "Baiklah kalau maunya kayak gitu. Aku bisa apa. Toh Mamaku pasti senang dibuatnya." kalimat terakhir Adel mengucapkannya seperti menggerutu.
"Hah? Apa?"
"Bukan apa-apa. Next. Masalah tempat tinggal dan resepsi sudah. Lalu kapan kamu mau menemui Mama dan Papaku?"
"Hari ini juga oke. Tapi ingat, aku butuh dukungan kamu. Ini adalah niat kita berdua. Bukan hanya niatku semata. Jadi aku mau kamu support aku saat aku bicara dengan orang tua kamu. Bukan kayak kemarin."
"Kamu dendam ya? Dari tadi bahas itu melulu." cibirnya.
"Bukan dendam, Sayang. Ini tuh strategi perang. Saat pemimpin mau maju ke medan perang, anak buah harus dukung. Kalau anak buahnya berontak dan malah pergi, bisa mati ketembak itu pemimpinnya."
"Jadi kamu pemimpinnya dan aku anak buahnya?" tanya Adel.
"Iya. Kan aku calon imam kamu." aku menatap ke dalam mata Adel. "Imam yang seksi." godaku.
Adel tersenyum sambil membuang pandangannya dariku. "Ih ngeledekkin terus. Nyesel deh aku jujur sama kamu."
"Jadi gimana nih? Siap enggak aku ketemu orang tua kamu hari ini juga?" aku memastikannya sekali lagi.
"Siap." jawab Adel yakin.
"Oke. Sesuai kesepakatan ya, enggak ada putar balik!"
"Iya."
Lalu terdengar suara ketukan di depan pintu.
Tok...tok...tok...
"Kakanda! Adel! Buka pintunya! Kalian sudah terkepung!" pasti Maya deh.
Aku beranjak bangun dan berjalan ke pintu, benar saja sudah ada Maya di depan pintu bersama dua dayang-dayang resenya.
"Kakanda ngapain sih? Berduaan aja di dalam kamar sama Adel. Bikin fitnah aja tau enggak!" cerocos Maya.
"Wah beneran lagi berduaan May? Jangan sampai kejadian kayak kamu terulang lagi nih!" celetuk dayang-dayangnya Maya. Entah ini yang namanya Bu Sri atau Bu Jojo.
"Beneran ada Adel disini?" sahut dayang-dayang satu lagi.
Aku membuka pintu makin lebar. "Aku sama Adel lagi ngobrol. Jangan suudzon dulu!"
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamarku tanpa permisi.
"Wah... Ini kamar atau rumah? Gede banget, mewah lagi. Kayak kamar yang ada di telenovela Marimar ya?" celetuk dayangnya Maya yang tubuhnya lebih pendek. Bajunya enggak matching, atasan merah dan bawahan hijau botol.
"Gede banget kamarnya, ngalahin rumah kontrakkan kamu, Sri!" ujar temannya yang badannya tinggi yang memakai baju bertuliskan LV.... Kw pastinya.
Jadi yang tadi enggak matching namanya Bu Sri dan yang pakai baju KW berarti Bu Jojo toh. Oke, noted!
"Kamu ngapain sih Del dari tadi aku tungguin kamu enggak turun-turun? Udah mau dimulai tau acaranya. Tamu udah berdatangan." ujar Maya yang kini duduk di samping Adel.
"Habis liat Lego dan koleksi pialanya Richard, May. Terus ngobrol deh sampai lupa kalau dibawah ada acara." kata Adel sambil tersenyum.
"Eh Mas, Kakaknya Leo." Bu Sri memanggilku. "Ada minuman dingin juga enggak? Haus nih!"
"Ada. Mau apa? Pop Mie juga mau enggak sekalian?" tanyaku sambil mengeluarkan beberapa buah minuman dari kulkas.
"Boleh." aku geleng-geleng kepala dibuatnya. Beneran aneh bin ajaib nih dayang-dayangnya Maya sekaligus Cupidku.
****
Hi Semua...
Sehat-sehat semua ya...
Terima kasih aku ucapkan untuk semua yang udah dukung aku baik itu kasih vote, like, kirim hadiah bahkan koin. Kalian buat aku makin semangat untuk nulis.
Untuk yang sedang isoman, ayo semangat! Kita semua bisa melewati semua ini. Sehat...sehat...sehat...
Karena sesungguhnya penyakit terbesar adalah berasal dari pikiran. Jadi hindari stress, lebih baik baca novel buat naikkin imun ya.
Sekali lagi salam sehat semua! Kalian kuat, kalian hebat!!!