NovelToon NovelToon
The Last Lotus

The Last Lotus

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:37.5k
Nilai: 5
Nama Author: sri devi

Demi rasa cinta yang besar, seorang perempuan menyembunyikan kebenaran. Baginya kebenaran tidak ada gunanya tanpa kepercayaan.

Rasa cinta yang memudar seiring dengan kepercayaannya kepada perempuan itu, ia berusaha mencari kebenaran untuk ibundanya, tetapi ia justru terjebak dalam cinta yang lain.

Sedangkan dia memegang kunci kebenaran yang di sembunyikan perempuan tersebut, dan juga kepercayaan yang di berikan tapi ia juga terjebak dalam cinta yang salah.

Akankah mereka berhasil mencari kebenaran?
Apakah perempuan itu mendapat kepercayaan?
Apakah dia dapat terbebas dari cinta yang salah?

Penasaran? langsung baca yuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Croissant

Croissant di malam hari tampak indah. Cahaya yang terlihat dari jendela yang masih terbuka tirainya, seolah memancarkan kehangatan. Menyeimbangkan dinginnya udara di luar yang penuh pepohonan. 

Di depan jendela itu, Jira berdiri sambil memegang gelas berisi cokelat panas, menatap cahaya remang halaman rumah. Suasana sunyi yang ada di sekitar seolah ikut menegaskan hati Jira yang terasa kosong dan hampa. Jira merasa kesepian terlebih setelah kedatangan Arsa. 

Tak bisa dimungkiri, saat Arsa memaksa mencium ada getaran hebat bergejolak di dirinya. Jira ingin lebih, bukan sekadar ciuman. Dia teramat merindukan pria itu tapi rasa sakit akibat perlakuan Arsa yang melarikan diri seolah alarm yang mengingatkan Jira bahwa tak seharusnya dia mengharapkan Arsa lagi. 

 

Jira berbalik, menatap sisa croissant yang ada di meja makan. Teringat tawa bahagia Crystal saat memakannya menjadi hiburan tersendiri. Setidaknya Jira masih bisa tersenyum karena perubahan membaik pada diri Crystal meski terkadang gadis itu selalu menanyakan berbagai hal di masa lalunya. Tak semua dijawab jujur oleh Jira, sesuatu yang menurutnya menyakiti Crystal akan dia sembunyikan. 

Jira baru saja akan mengambil sepotong pastry berbentuk bulan sabit itu ketika lampu tiba-tiba padam. 

"Bas?" Jira memanggil asistennya untuk mengecek listrik. Tak ada sahutan. Jira ingin memanggil Bi Ami atau Hana tapi diurungkannya karena tak ingin menganggu jam istirahat mereka. Akhirnya Jira meraba kursi untuk duduk dan menunggu satpam yang mengecek. Hampir semenit berlalu tapi tak ada perubahan, ketika memutuskan untuk mengecek sendiri, samar terlihat cahaya dari ruang depan. 

Jira memicingkan mata menatap seberkas cahaya lilin yang kian mendekat diikuti nyanyian. 

"Happy birthday to you ... happy birthday to you ..."

Jira menutup mulutnya dengan tangan, matanya memelotot takjub. Bukan karena semua penghuni rumah sedang berkumpul sambil bernyanyi tapi karena melihat pembawa cake berhias lilin yang terseok perlahan mendekatinya. 

"Happy birthday Kakak!"

Jira tak bisa menatap wajah-wajah lain. Hanya wajah Crystal yang terlihat bercahaya, bukan hanya karena dia yang berada dekat dengan lilin tapi karena dia berdiri dengan kedua kakinya. 

"Crys? Kamu ... kamu ..." Jira tak sanggup berkata-kata menyadari Crystal bisa berjalan walau dengan sedikit tertatih. 

"Kejutan!" sahut Crystal sambil tertawa kecil. "Tiup, Kak. Aku nggak bisa berdiri lama."

Jira luar biasa terharu, ditiupnya lilin diiringi sorakan para karyawannya, tepat saat itu Crystal nyaris jatuh bila Jira tak sigap menahannya. Reyna segera mengambil cake di tangan Crystal dan Jira membimbingnya duduk di kursi. Ketika lampu kembali menyala, Crystal melihat air mata menetes di pipi Jira. 

"Crys, kamu sudah bisa jalan? Sejak kapan?" tanya Jira sambil jongkok di depan Crystal.

"Sudah tiga hari tapi Mbak Crystal sengaja mau ngasih kejutan Mbak Jira," jawab Bi Ami sambil tersenyum. 

"Kalian semua membohongi aku? Kalian memalsukan laporan dokter?" tanya Jira berpura kesal. 

"Bukan, cuma disembunyikan," jawab Bas sambil nyengir.

"Sakit, Crys?" tanya Jira sambil memperhatikan kaki Crystal tapi adiknya perlahan mengangkat wajah Jira hingga mereka saling menatap. "Sakit sedikit tapi aku pasti bisa sembuh lagi. Aku mau sembuh untuk Kakak, biar bisa ikut keluar rumah sama Kakak."

Jira terhenyak, dia ingin menumpahkan air mata lagi. Tak pernah ada keinginannya mengurung Crystal di Croissant. Jira membebaskan bila gadis itu ingin menikmati dunia luar dengan catatan dikawal Bas tapi selama ini Crystal memilih tetap di rumah. 

"Crys, kamu boleh keluar, kok."

"Ya, nanti aku keluar kalau sudah bisa gandengan sama Kakak."

Jira menyeka air mata lalu memilih memeluk Crystal dengan haru.  

"Kak, makasih karena selalu ada untuk aku. Kata Bi Ami, kakak itu bulan untuk aku."

Jira mengernyit tapi Bi Ami meralat. "Itu ucapan Mbak Crystal sendiri, kok."

Jira tak bicara lagi karena terlalu bahagia. Dieratkannya pelukan sambil membatin. "Makasih karena sudah berjuang sembuh, Crys."

Bi Ami, Bas, dan Reyna hanya bisa tersenyum bahagia menatap Jira dan Crystal. Mereka percaya selalu ada hal baik dari setiap kejadian. Kecelakaan itu membuat Jira banyak berubah terutama kepada Crystal hingga gadis itu tak pernah menyadari bahwa dulu Jira tidak memedulikannya. Crystal pikir Jira terbiasa memeluknya.

Pelukan Jira terasa hangat di hati Crystal, begitu juga di hati yang menontonnya. Malam itu Croissant menjadi dua kali lebih hangat dari biasanya.

***

Jira sengaja tidak masuk kantor karena ingin melihat Crystal belajar berjalan, sekaligus melarikan diri dari kemungkinan datangnya Arsa ke kantor. Tak ada kata yang keluar dari bibir Jira saat melihat Crystal melangkah dengan bantuan tongkat. Rasa syukur dia simpan di hati sekaligus berdoa mimpi buruk yang kerap menghantui Crystal bisa menghilang. 

Terkadang Crystal menjerit di tengah malam tapi Crystal tak mau menjawab jujur apa yang membuatnya histeris ketakutan.

"Kita coba ke luar ya, Bi." Crystal dengan semangat melangkah ke teras, diikuti Jira yang hanya memperhatikan dari jendela. 

"Lepas, Bi. Aku bisa sendiri." 

Dengan ragu Bi Ami melepas Crystal yang berjalan tertatih. Sudut pandang Bi Ami menatap Jira di jendela, hingga wanita itu menoleh dan tersenyum saat Jira menghilang dari jendela.

"Ahhhh!" Crystal menjerit karena terjatuh, Bi Ami yang kaget segera membantu Crystal berdiri. 

"Nggak bisa ... sakit ... sakit ..." Crystal merintih karena tak bisa berdiri lagi. Bi Ami panik dan segera menjerit memanggil Bas dan satpam tapi kedua orang yang dipanggil tak kunjung datang hingga Crystal mencoba berdiri sendiri tapi terjatuh lagi, kali ini dia merintih kuat. "Sakiiiit!"

"Crystal?!" 

Bi Ami dan Crystal menoleh, terkejut melihat Arsa mendekat dan tanpa bicara menggendong Crystal. 

"Mas Arsa? Gimana bisa ...."

"Dibawa ke mana?" tanya Arsa memotong keterkejutan Bi Ami.

"Lewat sini!" Bi Arsa segera memandu jalan untuk masuk ke rumah dan meminta Arsa meletakkan Crystal di sofa. 

"Hana, kasih tahu Bi Ami jangan kelamaan bawa Crystal di luar!"

Suara Jira yang terdengar jelas membuat Arsa bergegas ingin menurunkan Crystal tapi terlambat, Jira melihatnya. 

"Kak, Kak Arsa pulang!" seru Crystal riang. 

"Siapa yang ngizinin orang asing masuk ke rumah?" tanya Jira dingin. 

Crystal dan Bi Ami saling pandang tapi Jira tak peduli, bergegas dia masuk ke bagian dalam rumah diikuti Arsa yang mengejar setelah menurunkan Crystal.

"Ji, dengerin aku!" Arsa menarik tangan Jira. 

"Tolong, jangan kekanakan!" bentak Arsa.

"Kekanakan?" tanya Jira dingin. "Kamu sudah nanya ke diri kamu sendiri, seberapa kekanakannya kamu selama ini?" 

Tanpa menunggu jawaban Arsa, Jira menyentak tangannya lalu berlalu ke kamar tapi Arsa mengekor. Sama seperti sebelumnya, Arsa berhasil merengsek ke dalam. 

"Ji, jangan gini. Plis, dengerin aku ..." Arsa memohon, kali ini bahkan berlutut di depan Jira yang memalingkan wajah.

"Aku tahu aku salah, egois, kekanakan tapi selama ini aku juga tersiksa. Berulang kali aku mau kembali tapi aku malu ketemu kamu. Aku yang nggak dewasa karena iri sama sikapmu yang dengan mudah bisa melewati segalanya, aku ...."

"Mudah? Kamu pikir kehilangan orang tua itu mudah? Kamu pikir hal gampang setiap hari ngeliat Crystal bertahan hidup dengan kondisinya yang begitu? Kamu pikir aku nggak nyaris gila karena impian Crystal hancur?!"

Tanpa sadar Jira sudah menangis terisak membuat Arsa tergugu. "Dan orang yang aku percaya malah mencurigai aku sengaja menciptakan kecelakaan. Orang yang bersumpah bahagiakan aku malah pergi begitu aja. Kamu pikir aku nggak tersiksa mikirin kamu?!" Jira menjerit hingga terduduk di lantai sambil terisak. Tangisan Jira menyentuh relung hati Arsa, ada bagian dalam dirinya yang teriris melihat air mata Jira. Perlahan, Arsa mendekat dan menghapusnya. 

"Ji, maafin aku. Kita lewati segalanya bersama, izinkan aku kembali, Ji. Tolong terima aku karena aku butuh kamu. Kamu juga butuh aku, kan?" tanya Arsa. 

Tak ada kata yang keluar dari bibir Jira tapi ketika jari Arsa yang menghapus air matanya perlahan menyentuh tengkuk, Jira tak bereaksi. Karena tak ada penolakan, Arsa memberanikan diri memegang kedua belah pipi Jira lalu memaksanya untuk saling menatap. 

"Ji, kamu masih cinta aku, kan?" 

Hanya isak tangis Jira yang didengar Arsa tapi ketika pria itu mendekati wajahnya, Jira mencengkram kuat kemeja Arsa. "Kenapa, Sa? Kenapa kamu kembali? Kenapa kamu begini?!"

"Aku ... karena aku cinta kamu, Jira. Aku butuh kamu dan aku nggak mau kehilangan kamu."

Jira semakin menangis, dia tak menyangka Arsa kini berada di dekatnya bahkan sudah merengkuh tubuhnya. Otak Jira yang dibuai rasa rindu tak bisa berpikir jernih saat bibir Arsa mulai menelusuri wajahnya, tak mau berhenti seakan ingin melepas semua rindu.

"Happy birthday, Ji. Aku tepati janjiku, nggak ada satu pun hari ulang tahunmu yang akan terlewati tanpa aku."

Masih ada air mata yang menetes di pipi Jira. Arsa memang benar, hampir setahun berlalu tapi hari ulang tahun Jira belum terlewati. Arsa memegang janji yang dia ucapkan sembilan tahun lalu di cafe dekat sekolah mereka. 

"Ji, aku kangen banget sama kamu. Aku ...."

Jira tak ingin menanggapi ucapan Arsa, bagai kerasukan dia membungkamnya dengan bibir. Ciuman itu seolah ingin membayar semua hal yang terlewati selama ini.

Sementara Arsa juga ingin meluapkan semua rasa yang dia pendam. Rasa Jira yang selalu terbayang di benaknya. Bagai kesetanan, Arsa menarik Jira lalu membawanya ke atas ranjang. 

"I miss you, Ji. Miss you so much."

Arsa berbisik sembari melepas pakaian Jira. Sentuhannya membuat Jira bergerak tak karuan. Meski masih ada benci menggantung di hati Arsa serta keraguan di hati Jira, tapi keduanya tak peduli. 

Sama seperti ketidakpedulian mereka pada Crystal yang sedang terpaku di depan kamar. Crystal yang sudah berada di kursi roda, terdiam. Dia tak cukup bodoh untuk memahami apa yang kemungkinan sedang terjadi di dalam kamar Jira. Crystal tahu seharusnya dia bahagia tapi entah mengapa dia merasa gelisah. Kepalanya dipenuhi ingatan saat Arsa tadi menggendongnya. 

"Apa di masa lalu kita memang sedekat itu?" tanya Crystal sambil mendorong kursi rodanya menjauhi kamar Jira. 

1
sksksk
kece
??????@!2😍😄6h9
Nemu Lg karya yg the best
Ilfra Ilivasa
dari prolog udah bagus kak! mantap!
Ilfra Ilivasa
mantap kata-katanya! dan akan saya jawab, "ia tidak marah, melainkan sang awan lah yang menghilangkan bulan dan itu artinya bulan itu tidaklah marah. Dirinya hanya membutuhkan waktu untuk keluar dari awan itu"
Eva Sri Wahyuni
ini novel yang paling sad sih 😭
sksksk: sengaja buat yang sad" bund biar keluar air matanya 🤭
total 1 replies
sksksk
bagus banget
🐤
yaa aampuun thor berasa banget beban yg di tanggung jira semasa hidupnya
ga nyangka dia bakal pergi padahal yg berjuang sekuat tenaga adalah jira
kirain endingnga jira bakal bahagia padahal bahagianya hanya sementara
keren sih authornya memang ku akui ceritanya berat banget full masalah tapi itu yg jadi keseruan tersendiri gimana dia bisa menjalani semuanya dan bisa melindungi orang orang yg di sayangi
sksksk: makasi kakak sudah mampir
total 1 replies
Arasa Cimamahmuda
nyimak
nura julian
tulisan rapi 👍
sksksk: terimakasih 🥰
total 1 replies
Quora_youtixs🖋️
semangat terus sukses selalu buat karyamu 👍
Yeni Eka
Aku hadir nih thor kasih boom like
Nona Bucin 18294
💜💜💜
Nona Bucin 18294
like like like 💜
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir,,,
circle
aku mampir Thor, 😘😘
Sweet chicie💞
wah aku up jejak sampai disini dlu ya kak,, nyicil baca ya ni bakal jadi pr,,, mangattt
Sweet chicie💞
rindu mampir kak, baru mulai baca udah tertarik kak, semangat ya berkarya terus,...
Sweet chicie💞
like
Sweet chicie💞
up
SoVay
hadiiiirrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!