Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Teman Lama
Nadin bersiap-siap dengan baju yang rapi. Dia akan menghadiri interview kerja hari ini. Tersenyum menatap dirinya di depan cermin, lalu murung ketika teringat dengan Vahisa.
'Apa mungkin Vahisa akan menikah dengan tuan muda? Apa mungkin aku akan ditinggalkan oleh si konglomerat sejagat ini.' Bertanya pada hatinya sendiri.
"Nadin!" Panggil Argan.
"Iya sayang." Jawab Nadin. Di depan Argan memanggil sayang, di dalam hati memanggil tuan muda. Dasar Nadin!
"Tolong pasangkan dasi untukku!" Titah Argan. Dia memberikan dasi pada Nadin.
Nadin mengalungkan dasi pada leher Argan. Dia melilitkan dasi hingga berbentuk.
"Sayang, aku tampan kan?" Argan mengedipkan matanya sebelah dengan tersenyum.
"Iya." Jawab Nadin singkat.
"Aku keren kan?" Masih terus menggoda istrinya itu.
"Mungkin." Menjawab dengan terpaksa. Dia sedang tidak ingin sebenarnya bicara dengan Argan, sejak di kamar hotel saat mendengar kedatangan Vahisa.
"Kamu kenapa sih, kok berubah menjadi cuek. Oh aku tahu, kamu cemburu sama Vahisa." Argan menebak tepat sasaran.
"Aku tidak apa-apa. Itu bukan bagian dari urusanku" Jawab Nadin.
Argan memegang kedua pundak Nadin. Dia ingin Nadin berbicara dengan melihatnya, agar dia tahu kejujuran perasaan hati Nadin.
"Nadin sayang, tatap mataku." Ujar Argan lembut.
Nadin memandang wajah Argan, menatap sepasang bola mata yang menawan itu.
"Kenapa?" Tanyanya datar.
"Katakan bagaimana perasaan kamu padaku?" Tangan kanannya Argan beralih menggenggam tangan kanan Nadin. Dia mencium tangan itu dengan perasaan penuh kasih sayang.
'Ingin rasanya aku menghindar. Aku ingin pergi yang jauh, tanpa harus bertemu dengannya untuk sementara waktu. Bukan berarti membenci, tapi aku hanya ingin melupakan sejenak rasa sakitnya' Batin Nadin.
"Sayang, kenapa harus melakukan ini?" Tanya Nadin.
"Laksanakan tanpa bertanya kenapa."
"Aku tidak mencintaimu itu jawabannya." Ucap Nadin.
'Aku kira dia mencintaiku, ternyata dia tidak ada perasaan apa-apa padaku.' Batin Argan.
"Baguslah." Jawab Argan. Sebenarnya lumayan kecewa mendengar jawaban dari Nadin.
****
Nadin memasuki perusahaan Shakespeare Group. Kini giliran dia yang akan diinterview di ruangan direktur utama itu.
"Dulu kamu pernah bekerja di mana sebelum melamar di sini?" Tanya petugas interview.
"Saya pernah bekerja di toko baju." Jawab Nadin.
"Berapa lama?"
"Satu tahun." Jawabnya.
"Lalu setelah itu apa kegiatan lagi?"
"Berjualan es jagung." Jawabnya.
"Apa alasanmu melamar di perusahaan ini?"
"Karena saya ingin menyalurkan kemampuan yang saya miliki, di bidang yang akan saya kerjakan. Saya juga tahu perusahaan ini sedang berkembang dengan pesat, dan saya ingin menjadi bagian dari perusahaan ini." Jawab Nadin.
"Baiklah, sekarang saya akan mengetesi kamu bermain Komputer."
Nadin disuruh menginput data perusahaan. Dia juga disuruh interview tertulis selain interview lisan. Tidak lama kemudian akhirnya Nadin sudah selesai dengan semua hal yang dikerjakannya.
"Selamat iya, kamu lolos. Mulai besok kamu sudah boleh masuk bekerja di sini."
"Terimakasih pak." Jawab Nadin.
Setelah selesai dengan sesi interview, Nadin keluar dari ruangan itu. Dia mengucapkan syukur berulang kali.
"Ini saatnya aku update episode terbaru dari novel." Nadin merogoh ponselnya.
Dia mulai mengetik naskah episode 2 sambil berjalan. Tanpa dia sadari dua orang wanita muncul dari balik tembok pembatas dan akhirnya.
Bruk!
Tidak sengaja Nadin bertabrakan dengan dua orang tersebut.
"Maaf, aku tidak sengaja" Ujar Nadin sambil tertunduk, dia menahan ponselnya yang hampir terjatuh.
"Nadin!" Panggil dua orang itu, yang ternyata mengenalnya.
Nadin mendongak. "Yulis, Sisi, kalian ngapain di sini?" Tanya Nadin. Dia melihat mereka mengenakan pakaian kerja yang rapi.
"Kami bekerja di perusahaan ini." Jawab Sisi.
"Nadin, kami tidak menyangka akan bertemu denganmu." Ujar Yulis dengan mata berbinar-binar.
"Iya alhamdulillah bisa bertemu dengan kalian." Jawab Nadin.
Yulis mensejajarkan posisinya, dia merangkul Nadin."Eh, kamu tahu tidak bahwa teman sekelas kita saat SMA dulu selalu mencarimu?" Berbicara dengan mengedipkan mata.
"Memangnya siapa?" Tanya Nadin.
"Chiko, dia sampai meminta nomormu pada kami loh."
Akhirnya mereka berjalan sambil berbincang-bincang. Mereka tampak bahagia karena dapat bertemu kembali.
"Ngomong-ngomong, kamu ngapain di perusahaan ini?" Tanya Sisi penuh selidik.
"Aku tadi mengikuti interview, dan besok pagi aku sudah diperbolehkan bekerja."
Sisi merasa terkejut, tidak menyangka akan sering bertemu Nadin.
"Nadin, aku senang sekali bisa satu perusahaan denganmu."
"Oh iya, kamu masih berteman dengan Niken?" Tanya Sisi.
Nadin terdiam, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah menjadi sedih.
"Nadin, kamu kok terlihat lesu seperti itu mendengar nama Niken?" Tanyanya lagi.
"Tidak apa-apa."
"Apa kamu yakin?" Sisi masih bertanya.
Nadin mengganggukan kepalanya. Dia merasa tidak perlu bercerita apa-apa. Dirinya saja harus menutup rapat pernikahan itu.
'Apa mungkin tidak akan ada yang tahu tentangku. Tentu saja meski pernikahan itu tersebar kan hanya nama saja. Lagipula saat acara pernikahan, Argan melarang wartawan ataupun reporter untuk masuk ke ruangan dan mengambil foto-foto.' Batin Nadin.
"Nadin kamu tahu tidak, sekarang kamu bakalan sering ketemu dengan Chiko." Tangan Yulis menyenggol tangan Nadin.
"Memangnya dia bekerja di sini?" Tanya Nadin.
"Iya, benar sekali." Jawab Yulis.
****
"Aku akan membuat judul episode dua ini dijebak teman." Monolog Nadin.
Dia masih fokus mengetik naskah di ponselnya, tidak menyadari keberadaan Argan. Dia sudah keluar dari kamar mandi, usai membersihkan diri.
"Kenapa akhir-akhir ini, kau terlihat sering memegang ponsel." Tanya Argan tiba-tiba, sedikit ada rasa curiga.
"Aku tidak apa-apa. Aku ada perlu dengan ponsel ini." Jawab Nadin. Dia menghentikan sejenak kegiatan mengetik naskah.
"Aku mau mengecek ponselmu. Cepat berikan!" Pinta Argan. Dia memang posesif sekali akhir-akhir ini.
Argan memeriksa ponselnya setelah Nadin dengan sukarela memberikan.
'Untung saja aku sudah memasukkan aplikasi My Happy Toon pada brankas tersembunyi. Jadi aplikasi itu hanya bisa diakses melalui kode.' Batin Nadin.
Setelah merasa puas dan tidak menemukan apapun. Argan memberikan ponsel Nadin kembali, dia segera melangkahkan kakinya menuju lemari besar dengan dua pintu.
Dia mulai membukanya, mencari baju kaos yang akan dikenakan olehnya. Dia mengambil kaos berwarna hitam, dan langsung memasangkan pada tubuhnya.
'Benar-benar mencurigakan. Aku seperti merasa ada yang telah dia sembunyikan dari diriku. Tapi apa iya sampai sekarang aku tidak bisa menemukan jawaban.' Batin Argan.
Nadin mulai mengetik kode akses brankas tersembunyi. Dia kini membuka aplikasi itu kembali. Melanjutkan naskah yang belum selesai tadi. Dia harus waspada dan pintar membagi waktu. Jangan sampai tuan muda ini akan curiga dengan yang dia lakukan.
Nadin masuk ke alam imajinasinya sejenak. Tapi sesekali memperhatikan Argan, takut jikalau dia mendadak mendekat. Dia akan bingung menjelaskan, bila ketahuan dengan tuan muda bahwa dia sedang mengumpulkan uang.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂