Musim telah berganti dengan begitu cepat. Denting waktu membawa kita pada detik ini. Musim pertama telah usai meninggalkan bait-bait kenangan yang begitu indah.
Mereka telah bersama setelah melewati rintik sendu. Kini saatnya berbahagia. Namun adakah waktu yang tidak terbatas untuk merasa bahagia?
Bagaimana cinta akan menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25_Ada Apa Dengan Kalian
“Kau tidak boleh bermain ini lagi.” Ucap Yuna.
Si kecil diam tanpa kata, ia tidak memprotes tetapi air mata menetes perlahan di pipinya.
Si kecil diam tanpa kata, ia tidak memprotes tetapi air mata menetes perlahan di pipinya. Sorot matanya menyampaikan kesedihan. Dadanya naik turun menahan isak.
“Aku tudah mengerjakan semua tugasku, Mommy.” Dengan berlinang air mata ia mencoba menjelaskan. Ia menatap Yuna dengan begitu sedih, berharap Yuna mengembalikan robot miliknya.
Yuna membalas tatapan mata sedih anaknya. Hatinya luluh, ia merasa kasihan dan tidak tega tapi untuk kali ini Yuna tidak ingin terus membiarkannya. Kedua tangannya mengulur dan memeluk si kecil Arai dengan sayang. Ia menempelkan pipinya di rambut si kecil. Sementara tangan kanannya mengusap air mata di pipi Arai.
“Kembalikan robotku, Momm. Aku belum teletai merakitnya,” ujar Arai terisak.
“Momm pasti akan mengembalikan robotmu, tapi Momm harus melihat perubahan dalam dirimu. Kau tidak akan mendapatkan robot itu lagi jika kau masih saja membolos.”
Sikecil paham arti ucapan mommy. Itu artinya, ia tidak bisa mendapatkan robotnya sekarang, itu artinya Momm tidak akan mengembalikan robotnya sekarang. Kedua tangan mungil nan halusnya mendorong tubuh Yuna agar tidak lagi memeluknya. Ia menatap Yuna sekilas lalu beranjak dan naik keatas ranjang. Arai dengan imut membenamkan wajahnya di bantal dan menangis sesenggukan disana. Ia sudah menggambar celah-celah kecil pada system robot itu, ia sudah mengingat-ingatnya
dengan sangat teliti agar tidak ada bagian yang tertukar.
Yuna duduk di sisi ranjang dan mengusap punggungnya. Tapi Arai segera menyingkirkan tangan Yuna.
“Momm jahat. Aku nggak mau bitara tama Momm.” Suara Arai galak tetapi terdengar imut. Ia merasa sangat kesal karena robotnya diambil. Ia tahu ia salah dan ia sudah minta maaf. Kenapa Momm tetap mengambil robotnya.
Sore harinya.
Si kecil sudah hafal jam berapa Daddy pulang. Meskipun seharian dia tidak mau keluar kamar tapi begitu waktu menunjukkan pukul 16.35 ia segera membuka pintu kamar dan berjalan keluar. Ada Yuna diruang tengah tapi dia tidak mau menyapanya. Dia masih kesal karena robotnya disita. Yuna menatapnya dengan senyum lebar. Terlihat sangat menggemaskan saat bibir seksi itu cemberut.
Belum ada mobil Leo masuk tapi tak lama, layar kecil itu memperlihatkan pagar tinggi mereka terbuka secara otomatis.
Yuna segera menyusul putranya dan membukakan pintu untuknya. Si kecil langsung berlari begitu Leo keluar dari mobil. Ia langsung melompat untuk meminta gendong tapi tidak seperti biasanya. Kali ini, dia langsung menyebunyikan wajahnya di pundak Daddy.
“Hal seru apa yang terjadi hari ini?” tanya Leo. Ia membuat kecupan sayang dirambut anaknya. Si kecil menggeleng. Leo berjalan menuju seseorang yang tengah menunggunya di depan pintu. Si kecil masih menyembuyikan wajahnya di pundak Leo, kedua tangannya memeluk Leo erat.
Leo tidak bisa membungkuk untuk mencium Yuna karena tubuh si kecil berada ditengah menghalanginya. Saat ia akan menurunkan sedikit kepalanya, si kecil bahkan segera meletakkan kepalanya dibawah dagu Leo agar Sang Daddy tidak bisa menunduk.
Kini, Yuna yang berinisiatif untuk mencium Leo, dia menjinjit untuk memberi Daddy ciuman tapi itu tertahan dengan tangan kanan Arai. Ia berusaha untuk menghalangi.
Leo terkekeh. “Kalian bertengkar?” tanyanya merasa lucu.
“Mommy, nakal.” Arai menjawab dengan masih menyembunyikan wajahnya. Ia mengadu.
Leo dan Yuna tersenyum lebar mendengar itu. Daddy kemudian kembali membuat kecupan di rambut Arai dan tangan kanannya mengulur untuk mengusap pipi Yuna. Dia tidak berhasil mencium Mommy jadi sebagai gantinya ia hanya membuat usapan lembut di pipi.
Leo membawa Arai kedalam dan memangkunya di sofa. Sementara Yuna melangkah kekamarnya untuk menyiapkan air hangat.
“Sudah tidak ada Mommy disini, kau boleh mengangkat wajahmu,” bisik Leo di telinga si kecil.
Dengan pelan, Arai mengangkat wajahnya dan menatap Leo. “Mommy, jahat,” ucapnya kesal.
“Sttt,” Leo menempelkan jarinya di bibir manyun anaknya. “Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu? Anak pintar tidak boleh berbicara seperti itu.” Ucap Leo lembut tetapi penuh ketegasan.
Arai diam. Ia mengangguk pelan.
“Hmm, sekarang ceritakan pada Daddy. Apa yang terjadi, dari pertama sampai akhir.”
Si kecil kemudian dengan semangat menceritakan saat ia selesai mengerjakan ulangan lalu kabur hingga akhirnya Mommy menyita robotnya.
“Jadi robot pintarnya di sita sama Mommy?” tanya Leo. Si kecil mengangguk dengan teraniaya. Itu membuatnya terlihat sangat imut.
“Daddy akan membantumu membujuk Momm untuk mengembalikan robot pintar. Okey.” Leo menenangkan hati si kecil. Si kecil langsung mengangguk senang meskipun sejujurnya ia tidak yakin Daddy berhasil membujuk Mommy. Ia sangat tahu, Daddy adalah orang yang maha mengalah pada mereka berdua.
“Kita toss dulu.” Leo menawarkan telapak tangannya kemudian si kecil membalasnya. Mereka
melakukan toss dengan semangat. Kemudian si kecil turun dari pangguan Leo. Ia duduk disamping Daddynya.
“Daddy mandi dulu. Nanti kita rakit bersama,” ujar Leo penuh kelembutan dalam suaranya. Si kecil mengangguk dan memberi ciuman di pipi Leo.
“I love you, Daddy,” ucapnya dengan manis. Leo tersenyum lebar dan mengusap rambutnya.
“Anak pintar.”
Setelah itu, Leo menaiki tangga dan masuk kekamarnya.
Yuna tengah mengambil baju ganti untuknya dari dalam lemari. Ia menempatkan diri dibelakang Yuna dan memeluknya dari belakang.
“Momm, apa benar Momm menyita robot milik pangeran tampan?” Leo bertanya dengan suaranya yang imut. Ia akan merayu Nyonya untuk mendapatkan robot itu.
“Iya.” Yuna menjawab singkat.
“Robot itu baru saja ia dapatkan dan dia belum selesai merakitnya. Bagaimana jika Momm mengembalikannya.”
Yuna melepaskan pelukan Leo dan membalik badan. Ia menatap wajah Leo sekilas lalu membuka jasnya.
“Dia kabur lagi dari sekolah.” Yuna memberi alasan kenapa dia sampai menyita robot si kecil. Kedua tangan Leo memeluknya lagi. Saat ini, Yuna mulai melepas dasinya.
“Dia sudah selesai mengerjakan semua tugasnya, dia juga dengan cepat menyelesaikan ulangannya,” Leo memberi alasan. Ya, itu adalah alasan si kecil dalam ceritanya.
Yuna mendongak dan menatap Leo. Menatapnya dengan tajam.
“Bukan berarti dia semaunya kabur dari sekolah. Sekolah itu ada peraturannya, dia kabur dari sekolah itu artinya dia melanggar aturan.”
Leo masih dengan kelembutannya mengusap pipi Yuna. “Dia merasa bosan, Sayang.”
“Lalu apa dengan alasan itu dia berlaku semaunya! Tidak menghargai gurunya, tidak menghargai teman-temannya. Dia kabur dari sekolah dan itu bukan hanya satu, dua, tiga kali.”
Mata mereka beradu. Ada jeda sebelum akhirnya Yuna kembali menunduk dan membuka kancing kemeja Leo. Ia mengambil nafasnya panjang.
“Maaf jika kali ini aku harus menghukumnya,” ucap Yuna pelan. Leo diam membiarkan Yuna membuka kancing kemejanya satu persatu hingga selesai.
“Sayang,” panggilnya dengan senyum.
“Hmm.”
“Apa kau lupa jika dulu semasa sekolah kau juga sering kabur dan semua hukuman dari Ayah tidak membuatmu berhenti,” ucap Leo pelan dengan senyum. Ia bergurau sebenarnya tapi Yuna langsung menatapnya tajam.
“Kenapa jadi bawa-bawa aku?” suara Yuna mulai tidak bersahabat.
Leo mengalihkan pandangannya sebentar. Ia akan habis jika tidak berhasil mengembalikan suasana. Si Nyonya pasti akan marah padanya juga.
“Dia masih kecil, Sayang,” ucap Leo.
“Justru karena dia masih kecil kita harus membuatnya disiplin,” jawab Yuna.
“Kita akan membuatnya disiplin tanpa menghukumnya, tanpa menyakiti hatinya, tanpa membuatnya kecewa.”
“Kau terlalu memanjakannya. Berapa kali dia begini, gurunya bahkan sering bilang jika dia jarang memperhatikan saat gurunya menerangkan, dia asik sendiri dan tidak mau berinteraksi dengan temannya. Dia mengabaikan pelajaran yang diberikan gurunya. Kau tidak tahu bagaimana aku berusaha membujuknya untuk mengikuti pelajaran,
agar dia mau memperhatikan saat guru mengajarinya. Agar dia mau bermain bersama
temannya. Tetapi tetap saja, di sekolah dia masih sama. Dia terlalu cuek pada semuanya. Kau pikir menyenangkan hampir setiap minggu dipanggil untuk menghadap keruang guru pembimbing.” Yuna masih menatap Leo dengan tajam. “Hanya gara-gara aku menyita robotnya saja, kau mengungkit-ungkit masa laluku, kau mengungkit-ungkit hukumanku. Apa sekarang kau ingin bilang jika itu karma untukku? Kau menyebalkan.” Yuna mendorong tubuh Leo untuk menjauh darinya.
“Sayang, bukan begitu maksudku.” Leo menangkapnya lagi. Yuna mengalihkan pandangan.
“Segeralah mandi. Kau pasti lelah. Akan kusiapkan teh hangat untukmu.”
Yuna menarik lengannya lalu melangkah pergi keluar dari kamar. Entahlah, pikirannya sedang kacau.
Leo menghela nafas panjang. Ia memejamkan matanya sejenak dan memijit keningnya pelan. Kemudian masuk kekamar mandi. Saat ia keluar kamar mandi, sudah ada teh hangat dan sepotong cake diatas meja hanya saja, tidak ada Yuna di dalam kamar.
Setelah mengganti baju, ia turun kebawah dan menuju taman samping. Si kecil tengan bermain dengan asistennya disana.
“Momm tidak ada disini?” tanya Leo begitu ia sampai. Leo duduk di gazebo. Si kecil langsung mendekat ke arahnya dan duduk disampingnya.
“Apa Daddy berhasil membujuk Mommy?” tanyanya tak sabar. Ia menatap Leo penuh harap. Dan dengan pandangan yang menyesal Leo menggeleng.
Si kecil langsung menepuk keningnya pelan.
“Tudah kutebak,” ucapnya. Leo terseyum dan mengacak-acak rambutnya gemas.
***@***
Sementara disana.
Vano memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar. Jika biasanya dia pulang bareng dengan Neva, mulai hari ini ia pulang sendirian dan pasti ada Neva dirumah tengah menunggunya. Ia melangkah dan membuka pintu rumah. Lalu membawa langkahnya masuk kedalam rumah. Tidak ada Neva diruang tengah. Vano mengerutkan keningnya, kemana istrinya? Ia melangkah lagi menuju tangga dan hidungnya langsung mencium aroma yang begitu menggugah selera. Ia mengendus sebentar lalu
membawa langkahnya menuju dapur.
Tepat. Ada Neva disana. Wanita itu terlihat sibuk memberikan garam dan bumbu untuk menciptakan cita rasa yang pas. Asisten rumah tangga bagian masak membungkuk begitu menyadari kedatangan Vano. Vano berdiri tak jauh darinya tetapi Neva tidak
menyadari itu.
“Uhum.” Vano berdehem pelan. Itu membuat Neva langsung menoleh. Wajahnya telihat terkejut melihat Vano.
“Hai, kau sudah pulang. Jam berapa sekarang,” ucapnya. Ia mencium pipi Vano singkat karena takut jika ia bau dapur.
“Sepertinya kau sangat sibuk, hingga tidak menyadari kedatanganku,” jawab Vano. Dia melangkah maju untuk melihat apa yang tengah Neva masak.
“Nyonya muda sibuk sedari tadi, Tuan,” asisten masak mereka yang menjawab.
Neva nyengir memperlihakan giginya. “Aku bahkan
belum sempat mandi, heheee,” ucapnya.
Vano tersenyum lebar dan mencubit pipinya.
“Kau sangat bersemangat.”
Neva melepas celemek lalu meletakkannya diatas meja.
“Bi, tolong selesaikan, Ya.” Pintanya sopan pada asisten masaknya.
“Baik, Nyonya Muda,” jawab asisten siap.
Kemudian dengan bergandengan mesra mereka meninggalkan dapur dan masuk kedalam kamar.
___________
Catatan Penulis 🥰🙏
Up banyak-banyak niihhh 🥳🥳🥳
Terima kasih banyak untuk like, koment, hadiah, tips dan votenya. 🙏🙏🙏
Yuukk like koment ya kawan tersayang 😘🥰 Jika suka silahkan vote. Terima kasih 🙏
Luvyuuu. Kutunggu jejak jari indahmu 🥰 Salam hangat 🙏