NovelToon NovelToon
Mafia Berhati Malaikat

Mafia Berhati Malaikat

Status: tamat
Genre:Contest / Mafia / Cintapertama / Tamat
Popularitas:587.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ani.hendra

Sebelum baca siapkan tissue dulu ya 🤧🤧

Javier Louis adalah seorang anak laki-laki yang di buang karena ibunya tidak menyukai keberadaannya. Anak hasil dari pemerkosaan membuatnya di benci dan tidak di terima.

"Kau memang tidak pernah salah, hanya takdirmu yang salah, kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupmu seperti ini."

Sementara di sisi lain, Xaviera Careen mengalami kesedihan atas kematian ibunya. Ia begitu terpukul hingga selalu menyalahkan dirinya.

"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Setiap detik dalam hidupku, aku merindukannya. Dadaku sangat sesak sampai tidak bisa bernapas, apa yang harus aku lakukan? Datanglah...sapa aku dalam mimpi."

Tangisan Xaviera yang begitu menyayat hati.

Bagaimana nasib Javier dan Xaviera. Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan nasib percintaannya?

Happy reading 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGALAH DEMI DOKUMEN.

💌 MAFIA BERHATI MALAIKAT 💌

 

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Javier nampak frustasi, Ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil menengadah ke atas. Napasnya masih naik turun karena berlari tadi. Javier memilih duduk di pinggir jalan. Ia membuang napas dengan pipi menggembung.

"Apa itu bukan Xaviera yang kulihat di kapel?Atau memang nama itu hanya kebetulan sama?"

"Jika itu memang dirimu, mungkin belum saatnya aku bertemu denganmu Xaviera." Javier mendesah panjang. Dilema seakan menggempur kegelisahan dalam hatinya.

Walau ia masih penasaran dengan gadis yang bernama Xaviera itu. Hatinya masih gundah Javier mendongak ke atas lagi. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang. Javier larut dalam pemikirannya sendiri. Akhirnya Javier memutuskan kembali ke hotel. Ia mendesah dengan bahu ikut turun. Javier menatap lurus ke depan dengan tatapan lemah dan sayu.

Beberapa orang di sana belum ingin meninggalkan tempat itu. Sebagian dari mereka masih mengurus sisa acara festival. Ada juga memilih tidak mengikuti acara mengarak bunga dan kembali ke rumahnya. Javier diam beberapa saat, menatap orang-orang yang sibuk sendiri. Ia akhirnya bangun dan berdiri meninggalkan tempat itu. Jam berputar dengan cepat. Ini sudah menunjukkan pukul dua siang. Saat melangkah menuju parkiran mobilnya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari panggung. Suara itu begitu nyaring dari mikrofon menyebut nama Xaviera.

"Kepada Xaviera Careen. Anda meninggalkan dokumen penting di atas panggung ini. Harap mengambilnya dari seksi pelaksana. Karena panggung ini akan segera ditinggalkan." ucap pria itu dari atas panggung. Tidak ada sahutan, hingga ia kembali menyebut nama itu kembali. "Xaviera Careen?"

Javier mengerutkan keningnya. Ia menghentikan langkahnya dan terdiam di posisinya sambil memutar tubuhnya menghadap ke arah panggung. Lagi-lagi jantung Javier terpukul kencang saat mendengar nama itu. Dengan langkah tegap dan pasti Javier kembali melangkah menuju panggung.

"Apakah Xaviera Careen masih ada di sini?" ucap pria itu kembali berseru di depan mikrofon.

"Bukankah Xaviera ikut pergi mengarak bunga?" ucap salah satu lelaki yang naik ke atas panggung. Ia kembali saat membelikan minuman dingin untuk mereka. Pria itu adalah pemain drummer di sana.

Mike menjauhkan mikrofon dari mulutnya. "Berarti kita simpan saja dulu ya?" Tanyanya sedikit ragu.

"Aku yakin Xaviera akan kembali. Kita simpan dulu. Kalau tidak serahkan kepada Steven saja. Dia salah satu lelaki yang dekat dengan Xaviera." ucap salah satu pria pemain gitaris menimpalinya.

"Steven? dia sudah pergi sejak Xaviera selesai bernyanyi."

"Kemana Steven?"

"Bisalah, urusan keluarga. Adiknya bertingkah lagi."

"Kalau begitu biar aku yang simpan." Javier tiba-tiba muncul di sana.

Mike langsung memutar badannya dan melihat ke arah pria asing yang tiba-tiba muncul di sana. "Kau mengenal Xaviera?"

"Ya, saya kekasihnya." Ucap Javier dengan seulas senyum menawan. Entah mengapa mulutnya begitu cepat mengatakan itu.

"Maksudmu pacar?" Mike dan salah satu temannya sama-sama saling berpandangan.

"Ya, saya pacarnya. Ada yang salah?" Javier memasang ekspresi serius sambil menaikkan alisnya setengah.

"Yang saya tahu Xaviera hanya menjalin hubungan dengan Steven." kata Mike.

"Serahkan saja dokumen itu. Karena saya mengenal Xaviera." Ucap Javier tegas.

"Jangan bohong kamu," Ancam Mike dengan mata menyalang tajam. Ia tidak akan mudah mempercayai pria ini.

"Sudah serahkan saja. Jika dokumen itu tidak sampai ke tangan Xaviera. Kita bisa lapor dia ke polisi."

"Hanya dengan dokumen ini, saya tidak mungkin mencemarkan nama baikku sendiri." kata Javier tersenyum singkat dengan posisi bersedekap.

"Benar kata pria itu, lagian kita sudah tidak ada waktu lagi jika harus menunggu Xaviera. Kita harus segera berangkat ke luar kota."

Pandangan Mike seakan mengintimidasi Javier. Ia mengamati Javier dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Benarkah pria ini jujur atau tidak. Setelah pertimbangan yang cukup matang. Akhirnya Mike menyerahkan dokumen itu. "Serahkan kepada Xaviera." ucap Mike tegas dengan mata menyorot tajam. Ia lalu mengulurkan tangannya memberikannya kepada Javier.

"Pasti, dokumen ini aku serahkan sendiri kepada pemiliknya." kata Javier menerima dokumen ini dengan seulas senyum penuh arti. Ia pun turun dari panggung menuju mobilnya kembali.

"Kenapa kau bohong?"

"Soal apa?" kata Mike balik bertanya.

"Kau mengatakan Steven adalah kekasih Xaviera."

"Aku hanya tidak percaya dengan lelaki itu." Ucap Mike datar dan memandang punggung Javier.

"Lihat mobilnya saja Ferrari. Xaviera memang bisa memilih lelaki kaya."

"Jadi apa kamu pikir Xaviera gila harta? Xaviera juga anak dari keluarga terpandang di negaranya."

"Yang aku tahu Xaviera tidak pernah memberikan hatinya kepada pria. Apakah karena dia tampan. Xaviera langsung menerimanya?"

"Aku rasa itu benar, buktinya Steven yang sudah bertahun-tahun mencoba masuk ke dalam hati Xaviera dan sampai sekarang tidak pernah bisa. Benteng pertahanan hati Xaviera terlalu kuat."

"Harusnya Steven memakai kunci emas, agar dia bisa masuk. Bukankah begitu?" Kata Mike terkekeh.

STEVEN DAV.

Sementara Javier masuk ke dalam mobilnya kembali. Ia memijat lehernya, menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Ia tersenyum sendiri menyadari apa yang telah dia ucapkan tadi.

"Pacar?" Javier terkekeh. Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya. Ia menggeleng lalu memandang dokumen yang ada ditangannya. Ia memeriksanya dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya. Ia bisa pastikan Xaviera akan kembali ke panggung itu.

DDDRRRTTT.... DDDRRRTTT....!

Panggilan dari handphone Javier bergetar di dalam kantong celananya. Javier mengerutkan kening karena panggilan itu dari asistennya Demian.

"Hmmm." Javier hanya menjawab dengan gumam saja sambil membalikkan dokumen yang ada di tangannya.

"Tuan, anda dimana?"

"Kenapa?" tanya Javier mengernyit heran.

"Salah satu investor kita menarik kembali modalnya."

Javier menautkan kedua alisnya hingga saling menyatu. "Siapa?" tanya Javier dengan rahang mengeras. "Apa maksudmu Mark yang menarik modalnya?" tanya Javier memastikan.

"Benar tuan." jawab Demian.

"Cih..."Javier berdecak sambil menarik sudut bibirnya naik ke atas. "Apa alasannya?" tanya Javier tanpa ekspresi.

Demian nampak menarik napas singkat. Ia pun mengatur kata-kata yang tepat untuk ia ucapkan kepada bos-nya itu. "Alasan Karena stigma negatif tentang pasar modal kita. Mereka menilai pasar modal mendapati reputasi buruk. Mark sepertinya mempunyai kecurigaan cukup mendalam tentang investasi di pasar modal yang katanya semakin menurun."

Javier menggeram kesal sambil mencengkram setir mobilnya sendiri. "Jadi apa maksud Mark perusahaan kita akan bangkrut Demian?" Javier sudah meninggikan suaranya. Emosinya tersulut karena perkataan Demian. Selama ini, Javier tidak pernah main-main dalam mengolah perusahaan. Ia sekalipun tidak pernah mengecewakan kolega bisnisnya. Kini yang membuatnya geram. Mike menilai perusahaannya buruk. Sungguh Javier tidak bisa menerima itu.

"Sepertinya begitu tuan, Mark sendiri menghasut para investor lainnya untuk menarik modalnya. Mereka juga mengatakan risiko keamanan transaksi perusahaan kita sangat buruk, hingga Mark sangat takut uangnya akan hilang."

"Dia benar-benar mencemarkan nama baik perusahaan. Nanti malam pertemukan aku dengan Mark. Aku ingin memberinya perhitungan."

"Baik tuan." Jawab Demian.

Tiba-tiba mata Javier memicing pada sosok wanita yang sedang berlari. Javier ingat pakaian yang dikenakan Xaviera saat berada di atas panggung tadi. Ia bisa yakin yang berlari itu adalah Xaviera. Tiba-tiba hatinya menghangat. Emosi di dadanya tiba-tiba hilang begitu saja.

"Baiklah Demian, jangan lupa. Pastikan Mark menemuiku malam ini." Kata Javier tegas sambil terus memperhatikan gerak-gerik Xaviera.

"Baik tuan."

Setelah mendengar konfirmasi dari Demian. Javier langsung mematikan handphonenya lebih dulu. Matanya terus memperhatikan Xaviera. Ia tersenyum kecil sambil membuang napasnya menatap ke arah panggung. Lagi Javier tertawa sambil menunduk karena melihat kepanikan wanita itu. Ia pun tidak tahan lagi dengan segala gejolak yang muncul di dadanya.

Javier memilih keluar dari mobilnya, Ia tersenyum sambil membenarkan jasnya. Javier melangkah dengan tubuh tegap dan berjalan menghampiri Xaviera yang turun dari atas panggung. Ia sepertinya sedang sedih. Jelas saja, soalnya ia tidak menemukan sesuatu yang sedang dicarinya. Xaviera pasti merasa dokumen penting itu sudah hilang.

"Oh my god, aku bisa gila." Xaviera melepaskan napas yang tertahan lewat hembusan napas panjang dari mulutnya yang terbuka. Ia berjalan meninggalkan panggung itu dengan perasaan sedih. Rasanya ingin menangis, tapi air matanya tidak keluar. "Ahh...aku siap di pecat jika seperti ini." Xaviera mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia menghubungi aunty Angel.

"Aunty dimana?" tanya Xaviera.

"Aku di cafe sayang, apa kau menemukan dokumennya?"

Bibirnya bergetar, "Aku tidak menemukannya aunty. Sekarang, aku siap di pecat." ucap Xaviera dengan wajah meringis ingin menangis.

"Mungkin ada yang menyimpannya sayang, coba hubungi teman-temanmu yang berada di atas panggung tadi."

"Semoga saja aunty, mereka benar-benar menyimpannya, jika tidak...?"

"XAVIERA?" Panggil Javier lembut dengan suara baritonnya.

Xaviera membalikkan badannya melihat ke arah lelaki yang tengah menyapanya. "Aunty, nanti aku hubungi lagi ya."

"Sayang, aku berada di...." belum lagi Angel selesai bicara. Xaviera sudah memutuskan panggilan itu.

Xaviera kembali menatap ke arah lelaki yang sedang tersenyum manis kepadanya. "Astaga pria ini sok ramah, dia tersenyum seperti pria paling tampan saja." Batin Xaviera berbicara.

"Apa kabar Xaviera?" tanya Javier tersenyum lagi, ia sengaja menyembunyikan dokumen itu di balik tubuhnya.

Xaviera diam dengan kerutan dahi yang dalam. Ia tidak langsung menjawab. Xaviera menatap pria itu dari atas sampai ke bawah tanpa ekspresi.

"Apa kau tidak mengingatku Xaviera?" Tanya Javier, sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Senyum itu bahkan ia buat lebih menawan lagi.

"Aku tidak mengenalmu. Maaf jangan menghalangi jalanku." kata Xaviera dingin. Ia pun berjalan meninggalkan Javier.

"Apa kau mencari ini Xaviera?" ucap Javier begitu nyaring.

Sepersekian detik Xaviera menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya kembali. Javier menunjukkan dokumen yang ada di tangannya. Mata Xaviera terbelalak, ia melangkah mendekati lelaki itu. Tujuannya ingin mengambil dokumen itu. "Kau mencuri dokumenku," Xaviera ingin merampasnya dari tangan Javier.

Namun Javier mengangkat tangannya dan menjauhkan dokumen itu. Dia tidak langsung memberikannya. Javier ingin menahan Xaviera agar dekat dengannya, setidaknya ia ingin tahu. Apakah Xaviera cewek yang dikenalnya 15 tahun yang lalu atau tidak. "Aku akan memberikan dokumen ini. Tapi dengan satu syarat."

Xaviera menatap Javier dengan mata memicing tajam. "Syarat?" Ekspresinya begitu dingin di sana. Serasa salju turun di atas mereka.

"Aku ingin kau mentraktirku minum."

"Hei...kau siapa? aku tidak mengenalmu. Sekarang serahkan itu!" pinta Xaviera tegas sambil mengulurkan tangannya. Ia memaksa Javier agar memberikan dokumen itu ke tangannya. Xaviera sudah sangat kesal, ia tidak suka dengan lelaki yang sok akrab dengannya itu.

"Tidak, aku ingin kau mentraktirku minum. Jika kau tidak mau, ya sudah!" Javier mengangkat ke dua bahunya.

"Astaga...." Xaviera merasa jengah dengan sikap pria itu.

Javier tersenyum simpul. "Aku rasa dokumen ini sangat penting untukmu nona. Kau tidak akan rugi jika hanya untuk sekedar mentraktirku minum."

Xaviera membuang napasnya dengan pipi menggembung. Ia menatap Javier dengan geram. Namun demi dokumen itu. Ia memilih mengalah. Tapi bukan berarti pria ini menang. Xaviera tidak akan terpengaruh hanya karena ucapan itu. Semua lelaki sama saja. Mengaku mengenalnya. Tapi itu hanya bentuk cara mereka untuk melakukan pendekatan kepadanya.

Dengan satu kali tarikan napas, Xaviera pun berucap. "Baiklah, hanya batas minum, tuan." ucapnya lebih dulu pergi meninggalkan pria itu. Ia membuang napas kesal dengan tangan mengepal kuat.

BERSAMBUNG

❣️ Readers tersayang tinggalkan jejak kalian ya. Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu 🤗🤗🤗

💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

💌 BERIKAN VOTEMU 💌

💌 BERIKAN BINTANGMU💌

1
marBowo yuNi
Luar biasa
Surta Siahaan
karyamu sungguh indah thor, tetap. semangat dgn karyamu yg lain, baru x ini sya baca novel sebagua ini, biasanya cerita perselingkuhan dan pengkhianatan, tp ini it's amazing, saya suka, salam kenal dr saya u anda, sukses sll u karya terbaik berikutnya, alias critanya gk bertele2
salam sejahtera buat, kt sehat sll buat klrgnya😘😘
Surta Siahaan
semangat ya thor karyamu luar biasa
jgn lupa persatukan viera dgn javier, heheee
bunga cinta
makin seru
Li5naJait
kapan buatnya?? akhhhj author curang, ngintip sendirian 😁😁😁
Li5naJait
aku benar2 tdk mengerti dgn pemikiran Alfinso, harusnya yg dibereskn itu Valerie, loe punya uang, kekuasaan, tp mengatasi satu wanita gila aza tdk bs, justru membuat masalah jd rumit. Mafiaa apaan sperti itu
Li5naJait
Alfonso jd egois tdk bijak. mereka saling memcintai, jika mereka bs saling menerima, apa masalahnya. Harusnya yg Alfonso lakukan adlh menyingkirkan Valerie, bukan malah menghancurkan perasaan Javier dam Viera, Alvonso aneh
Li5naJait
kenapa dibuat rumit, bicaran dgn Xaviera, biarka dia mengambil keputusannya utk terus bersama atau tdk, bukan malah meninggalkan Viera begitu aza
Li5naJait
harusnya Javier membicarakannya dgn Viera tohhh perbuatan Valerie tdk ada hubungannya dgn Javier, bahkan dia jg korban kegilaan Valerie. kapan Valerie dan Alexander ini musnah, koq masih baik2 aza mereka dgn kejahatannya
Izza Kadir
betul2 sedih boleh bayangkan aq kat tempat die 😭😭😭😭
Darisha Asley
Happy ending
Darisha Asley
sukses selalu ya thor
Darisha Asley
Ceritanya memuaskan
Darisha Asley
Saya mampir kesini lagi thor
Muhiddin Muhi
lebih menekankan ke kisah percintaan, bukan mafia nya. ceritanya berbeda jauh dengan judul nya. 🙏🙏🙏
saya cantikkj
apa kabar Deng Alex n valeria
saya cantikkj
bunuh vier skarang Dy s kaya apa vier mw memaafkan Valeria lagi
saya cantikkj
asyek
saya cantikkj
ini cerita dari awal sudah bikin mewek
saya cantikkj
kabar mamax Javier gimana y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!