Clarissa adalah seorang mahasiswi kedokteran di Prancis. Tidak sengaja ia bertemu dengan lelaki bernama Jio, yang berprofesi sebagai Bodyguard profesional, yang juga hidup di Kota Paris, Prancis.
Jio lelaki dingin yang pernah patah hati, membuat Clarissa menjadi penasaran. Dengan segala cara, Clarissa mencoba mencari perhatian Jio.
bagaimana kisah Clarissa dan Jio?
Novel ini adalah sekuel dari novel sebelumnya yang berjudul Oh My Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25# Dia baik sekali, tetapi...
Jio memarkirkan mobilnya di basemen gedung apartemennya. Ia keluar dari mobilnya dan beranjak membukakan pintu untuk Clarissa.
Clarissa yang hendak keluar dari mobil itu pun langsung di sambut oleh Jio dan tanpa basa basi, lelaki itu pun langsung membopong tubuh Clarissa. Clarissa kembali terperangah dengan sikap Jio yang sangat jantan menurut dirinya.
Jio mengunci mobilnya dan berjalan menuju lift gedung itu.
"Aku bisa jalan kok," Ucap Clarissa sambil menatap Jio saat di dalam gendongan lelaki itu.
Jio tidak menanggapi ucapan Clarissa, ia terus berjalan sambil membopong tubuh Clarissa ke arah lift. Jio tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang melihat dirinya yang sedang membopong Clarissa. Ia menekan tombol lift dan menunggu pintu lift terbuka sambil menatap Clarissa.
"Aku mengkhawatirkan mu," Ucap Jio dengan tatapan dinginnya.
Jantung Clarissa berdegup kencang saat melihat sorot mata dan mendengar ucapan yang di lontarkan Jio kepada dirinya.
"Jio...." Gumamnya.
Ting..!
Pintu lift pun terbuka, lalu Jio masuk masih dengan membopong tubuh Clarissa.
Beberapa saat kemudian, lift itu sampai di lantai sepuluh dimana apartemen dirinya dan Clarissa berada. Jio pun bergegas keluar dari lift itu dan berjalan menuju apartemennya.
Jio melirik luka di pergelangan tangan dan siku Clarissa. Darah dari siku Clarissa pun menodai mantelnya. Tetapi, hal itu tidak berarti apa-apa bagi Jio. Baginya, Clarissa selamat dan aman saja sudah sangat membuat hatinya lega.
Clarissa menunjuk pintu apartemennya saat Jio melewati apartemen miliknya.
"Kok?" Ucap Clarissa sambil terperangah.
"Kita ke apartemen ku saja, biar aku bisa mengobati luka di tanganmu," Ucap Jio tanpa menatap Clarissa.
Jio menurunkan Clarissa dari gendongan nya tepat di depan pintu apartemennya. Lalu, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya dan ia pun mengambil kartu apartemennya dari dalam dompetnya itu.
Clarissa sempat sekilas melirik ada foto seorang gadis di dalam dompet Jio. Hati Clarissa sedikit merasa terganggu dengan foto di dompet Jio. Clarissa pun menundukkan wajahnya dan membuang pandangannya.
Pintu apartemen Jio terbuka, lalu Jio memapah Clarissa untuk masuk kedalam apartemennya.
"Biar aku kembali ke apartemen ku saja," Ucap Clarissa.
Jio menatap Clarissa dengan tak percaya.
"Kenapa?" Tanya Jio.
Clarissa menghela napasnya dan mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Jio. Lalu, dengan tertatih, Clarissa pun beranjak dari hadapan Jio.
Sebenarnya Clarissa merasa cemburu dengan foto di dompet Jio. Tetapi, ia tidak mau mengatakannya dan menyinggung masalah foto itu.
Jio hanya terpana saat melihat Clarissa yang tertatih menuju apartemennya.
"Hei, apa kau tidak tahu aku mencemaskan mu?" Tanya Jio.
Clarissa menoleh dan tersenyum tipis kepada Jio.
"Terima kasih," Ucap Clarissa. Lalu, ia melanjutkan langkahnya menuju apartemen miliknya.
Jio hanya terdiam mematung, hingga Clarissa menghilang di balik pintu apartemen gadis itu.
Jio menghela napasnya, ia tidak tahu mengapa Clarissa mendadak seperti sedang marah kepada dirinya. Jio pun melangkah masuk ke dalam apartemennya dan duduk terdiam di atas sofa ruang tamunya.
"Mengapa ia begitu?" Gumam Jio.
Flashback on
Jio yang sedang libur tampak sangat bosan saat berada di apartemennya. Ia menatap Jam di dinding, jarum jam menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. Ia pun teringat ucapan Clarissa yang mengatakan bila dirinya akan pulang pada pukul enam sore hari ini. Lalu, Jio tersenyum sendiri. Ia menyambar mantel dan kunci mobilnya dan pergi meninggalkan apartemen itu.
Jio melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dimana Clarissa bekerja. Entah mengapa ia mulai tertarik untuk berbicara atau berada di dekat gadis itu. Maka, Jio pun berniat untuk menjemput Clarissa dengan cara tidak sengaja ia melintas di depan rumah sakit itu.
Setelah ia sampai di sekitar rumah sakit, Jio belum melihat Clarissa muncul dari dalam rumah sakit itu. Ia pun menepikan mobilnya tak jauh dari halte Bus, karena ia tahu Clarissa akan menumpangi Bus atau taksi untuk kembali ke apartemennya.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Clarissa muncul. Ia pun tampak bersemangat saat melihat Clarissa yang sedang menunggu Bus. Jio sengaja tidak menghampiri Clarissa terlebih dahulu. Ia mencoba menikmati tingkah laku dan gerak gerik Clarissa yang kini sangat menarik baginya.
"Ck, kau lucu sekali." Gumam Jio.
Setelah beberapa menit, ia pun berniat untuk menyalakan mobilnya. Tak disangkanya, dua orang pemuda yang baru saja melintas di samping mobilnya pun menarik Clarissa dan berusaha untuk membawa Clarissa pergi. Jio yang terkejut terpana beberapa saat, melihat kejadian itu.
Setelah melihat Clarissa berteriak dan terjerembab di atas trotoar, Jio pun turun dari mobilnya dan berlari ke arah dua lelaki yang berencana untuk mencelakakan Clarissa.
Baku hantam pun tak dapat di hindari, hingga akhirnya Clarissa selamat karena pertolongan Jio.
Flashback off
..
Clarissa yang sudah berada di apartemennya segera membersihkan luka di pergelangan tangan dan siku nya. Sesekali ia menahan perih yang di sebabkan oleh luka itu. Lalu, ia mengobati luka itu dengan obat luka yang tersedia di kotak obat miliknya.
Clarissa termenung mengingat betapa gagahnya Jio saat menyelamatkan dirinya.
"Andai saja aku tidak melihat foto wanita itu, mungkin sekarang aku sedang berbunga-bunga karena sikap heroik mu Jio." Gumam Clarissa.
Drettt..! Dreettt..!
Clarissa meraih ponselnya dari atas meja lalu menatap layar ponsel itu.
"Felix?" Gumamnya.
Dengan segera, Clarissa mengangkat panggilan telepon itu dan menyapa Felix dengan ramah.
"Hai, kau sudah pulang?" Tanya Felix.
"Sudah," Ucap Clarissa.
"Kalau kau tak lelah, bolehkah aku mengajakmu keluar?" Tanya Felix lagi.
"Hmmm, Felix, aku baru saja mengalami insiden yang tak di inginkan. Dua orang lelaki menyerang ku, hingga aku terluka. Beruntung ada......." Clarissa menghentikan ceritanya. Ia tidak mungkin menyebutkan nama Jio kepada Felix.
"Ada siapa?" Tanya Felix.
"Ada seseorang yang menolongku."
"Sekarang keadaan mu bagaimana? aku ingin menemui kamu, tunggu aku di apartemen mu. Beri aku nomor unit apartemen mu sekarang." Ucap Felix dengan panik.
"A-aku..."
"Aku akan kesana sekarang, aku mohon jangan larang aku untuk menemui mu, aku sangat khawatir Clarissa," Ucap Felix dengan suara yang bergetar.
Clarissa terdiam, ia mulai merasa menyesal karena menceritakan kejadian itu kepada Felix, sehingga mengundang lelaki itu untuk datang ke apartemennya.
Tetapi, semua terlambat. Felix sudah memaksa untuk menjenguk dirinya. Mau tidak mau, Clarissa tidak bisa menolak niat baik lelaki itu.
"Baiklah, aku berada di lantai sepuluh unit E-8," Ucap Clarissa.
"Ok, aku akan segera berada di sana beberapa menit lagi. Jangan kemana-mana," Ucap Felix sambil mengakhiri panggilan telepon itu.
Clarissa terdiam membisu. Ia kembali menaruh ponselnya di atas meja. Lalu, ia menghela napasnya dalam-dalam.
"Dia baik sekali, tetapi... entah mengapa aku belum bisa mencintai lelaki itu." Gumam Clarissa.