Cerita 18+.
Lelaki itu tak bisa dipungkiri menarik secara fisik. Tapi Livia membencinya. Apa yang terjadi di suatu malam berhujan sehingga Livia terpaksa menikah dengan Norman? Apakah Livia bahagia menjalani kuliah dan menjadi istri Norman yang belum tamat kuliahnya? Livia shock kala tau Norman punya masa lalu kelam... karena biasa disewa tante-tante. Baca lanjutannya. Siapkan dirimu untuk happy, sedih, juga ngakak guling-guling mengikuti kisah mereka berdua.
Seperti biasa Fresh Nazar menyajikan cerita sehari-hari dengan balutan drama, kejadian lucu dan tokoh yang rada gila. Novel ini memang buat kamu yang mencari bacaan dewasa, lucu dan berbeda dari yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25. Anu Lo Kenapa?
Livia menatap Irawan yang mengeluarkan botol kecil berisi vitamin.
“Minum satu deh cyyiinn. Satu vitamin ini sehari bisa membuat stamina Ira gagah dip*rkosa, eh gagah perkasa. Bisa membuat kulit halus sehalus kulit bayi. Bisa membuat perasaan iri dengki terbang ke angkasa seperti beha tertiup angin di jemuran. Pokoknya mantap jiwa mantap raga mantap surga deh vitamin eike ini.”
Livia mengambil sebuah tablet vitamin itu. Mungkin benar kata Ira. Wajahnya yang pucat bisa segaran setelah minum vitamin. Ia minum vitamin itu dengan bantuan air putih kemasan botol yang dikasih Kiki.
“Kiki mau juga dong vitaminnya, Ra. Biar Kiki kuat menghadapi kenyataan hidup yang sering pahit menghimpit.” Kata Kiki.
Ira memberi sebuah vitamin juga buat kiki. “Iya, Ki. Yeiy harus rajin minum ini karena masalah hidup yeiy berat. Jadi orang gendut dan jomblo kayak yeiy itu makan hati. Apalagi yeiy temannya manis-manis kayak Via sama Ira yang manis kayak martabak p*ju, eh keju. Via ditaksir Norman. Ira ditaksir supir metro mini. Berat lho hidup itu kalau kita jomblo gak laku bertahun-tahun. Ye kan?”
Mau rasanya Kiki nimpuk Ira pake tempat sampah gede di dekatnya. “Ngomong aja lo!” Kiki kesal tapi mengambil juga vitamin yang disodorkan Ira. Buru-buru Kiki menenggak vitamin itu.
Livia yang sudah minum vitamin terdiam. “Uugghh…!” Mendadak Livia meringis. Ia memegangi bagian bawah perutnya.
“Aih, yeiy kenapa Via? Wajah yeiy wajahtu wajahiya, seperti menahan kentut tapi sakit luar biasa?” Ira kaget.
“Gak kenapa-napa. Mungkin perut gue mules doang.” Livia berbohong. Tidak mungkin ia bilang ke Ira bahwa bagian intimnya nyeri karena berhubungan dengan Norman yang punya senjata big size. Bisa dibayangkan seperti apa omongan Ira kalau tau hal itu.
"Vitamin lo bikin sakit perut kali." Kiki curiga menatap Ira.
"Auuww..! Tentu tidak benar ucapanmu wahai Jubaedah unfaedah! Ini vitamin eike beli mahal dari dokter yang terkenal dunia akhirat lho Cyinnn. Mungkin Via lagi M ya sayang?"
Livia ingat. Ia semalam pakai pembalut karena bagian intimnya mengeluarkan darah. Pagi ini ia merasa sudah baikan dan tak pakai pembalut lagi. Tapi Livia cemas. Takut bagian intimnya mengeluarkan darah.
“Ki, tolong anterin gue ke mini market depan pake motor lo.” Livia berkata sambil meringis menahan sakit. "Gue pengen beli pembalut."
Kiki yang memang setia kawan, segera mengambil motornya di parkiran. Gak lama keduanya ke mini market yang sebenarnya gak jauh amat dari kampus. Tapi kalau kesana jalan kaki, Livia takut bagian intimnya kembali berdarah.
Di mini market Livia membeli pembalut. Ia lantas permisi ke pelayan mini market untuk ke kamar kecil. Pelayan mengizinkan. Di kamar kecil itu segera Livia memasang pembalut ke organ intimnya. Ia kaget karena memang organ intimnya kembali berdarah.
“Lo ngapain pake pembalut?” Kiki heran saat kembali ke motor. “Seingat gue lo kan baru haid dua minggu lalu?”
DEEGG! Livia kaget Kiki masih inget jadwal haidnya. Maklum sesama wanita dan akrab pula, ia tak sungkan bicara saat mendapat haid.
“Nngg, anu…” Livia berpikir untuk mengarang jawaban yang masuk akal.
“Emangnya anu lo kenapa? Berdarah?” Kiki malah nanya hal yang hendak ditutupi Livia.
“Eng, enggak kok. Cuma kayaknya mau haid gitu. Jadi gue jaga-jaga aja, takut tau-tau rembes. Malu kan gue kalo sampe rembes.”
Kiki gak nanya lagi. Terus memacu motor kembali ke kampus.
*
Sementara itu Norman bertemu Meli yang menatapnya sinis di lantai 5. Jadwal aktivitas mereka memang banyak di lantai atas yang banyak terdapat ruang dosen. Karena mahasiswa semester akhir sering berhubungan dengan dosen pembimbing.
“Lo makin mesra aja sama si Livia.” Meli cemberut. “Tadi gue liat lo nganterin dia lagi pake motor.”
“Terus kenapa? Lo gak suka?!” Norman meladeni kejutekan Meli. Soalnya Norman masih kesal karena kemarin Meli menyebabkan Livia sampe kecebur got. Dan akhirnya Norman kecebur got juga.
“Emang gue gak suka!” Kata Meli jujur. “Lo itu ganteng, badan bagus, pisang gede! Lo pantas dapat cewek tajir melintir. Bukan cewek kere kayak Livia yang bisa lo pungut dengan mudah kayak sampah di pinggir jalan!”
“Gue udah biasa ketemu cewek tajir melintir.” Norman santai saja menjawab. “Tapi rata-rata mereka sombong gak jelas cuma karena mereka kaya. Dan perempuan sombong kayak gitu bagi gue gak asik dijadiin istri!”
DEEGG! Meli jadi curiga. “Istri? Sejak kapan lo kebelet nikah? Emang lo dekatin si Via karena pengen dia jadi istri lo?”
Norman kaget juga ditanya demikian. Bingung mau jawab apa.
Tapi dari lorong samping muncul seorang perempuan bertubuh besar gemuk, berkaca mata dengan kulit putih mulus. Perempuan itu melihat Norman dan segera menghampiri.
“Kamu… Masuk ke ruang saya!” Kata perempuan itu jutek.
Norman terperanjat menatap Bu Luna Kalniya.
“Ada apa, Bu?”
“Kamu harus konsultasi skripsi kamu kan? Skripsi kamu ternyata gak bener semuanya!” Jutek Bu Luna Kalniya.
Ucapan si dosen berbeda sama sekali dengan saat terakhir Norman konsultasi skripsinya. Kemarin masih dibilang skripsinya bagus.
Norman sadar. Perubahan mendadak ini pasti ada hubungannya dengan permintaan khusus Bu Luna Kalniya kemarin.
Bu Luna Kalniya membetulkan letak kaca mata di ujung hidungnya. Wajahnya gusar. “Masuk ke ruangan saya sekarang! Mumpung saya punya waktu buat ngebahas skripsi kamu! Saya juga mau ngajar!”
Tak ada pilihan lain. Norman mengikuti Bu Luna Kalniya ke dalam ruangannya.
Meli menatap kepergian Norman sambil senyum manis. ‘Rasain! Biar mampus lo diomelin Bu Luna! Moga aja skripsi lo ditolak!’ Dalam hatinya Meli berdoa demikian.
Di dalam ruangan Bu Luna Kalniya membiarkan Norman duduk dulu di bangku depannya. Baru saja Norman duduk di bangkunya, Bu Luna Kalniya membanting berkas skripsi di depan lelaki muda itu.
BUUKK! Norman kaget karena berkas Skripsi itu mengenai tangannya.
“Kamu mau skripsi kamu ini saya coret semua?!” Bu Luna Kalniya melotot galak ke Norman.
“Enggak Bu.... Sayang waktunya kalau saya mesti ngulang semua ini dari awal.”
“Terus kenapa kamu gak datang ke hotel Grand Sky tadi malam?!” Suara Bu Luna dingin.
DEEGGG! Norman sama sekali lupa dengan hal itu. Tadi malam ia punya masalah besar sampai digerebek warga. Tapi sesungguhnya, kalaupun Norman ingat Bu Luna minta tidur dengannya ia tetap tak mau. Memang Norman tidak berhasrat menemani Bu Luna Kalniya di kamar hotel. Yang benar saja harus tidur dengan kerbau air sementara ia punya pilihan Livia, perempuan yang menawan hatinya.
“Saya lupa, Bu.” Norman menjawab netral.
“Kamu lupa?!” Bu Lina sinis. “Tapi kenapa telpon saya gak kamu angkat? Pesan WA saya gak bisa masuk ke hand phone kamu?”
“Nomer saya lagi gak aktif, Bu.” Jujur Norman. Ia memang sengaja tidak mengaktifkan SIM card dengan nomer yang diberikannya ke Bu Luna Kalniya. Karena nomer itu juga merupakan nomer ‘marketing’ alias nomer pemasaran diri Norman di kalangan yang reader sudah pahamlah pokoknya. Di waktu tertentu, Norman memang sengaja tidak mengaktifkan nomer itu kalau sedang ingin privasinya tidak terganggu.
“Berarti kamu sengaja melecehkan saya!” kata Bu Luna Kalniya geram.
“Melecehkan gimana? Saya menyentuh ibu juga enggak!” Norman gak terima dibilang melecehkan.
“Apa bukan melecehkan namanya?!“ Suara Bu Luna semakin naik Matanya jengkel seolah hendak menelan Norman bulat-bulat kayak donat. “Kamu tau? Saya nunggu di hotel itu semalaman kayak orang gak ada kerjaan. Tapi kamu gak datang!”
Mau rasanya Norman menyahut. ‘Siapa yang nyuruh lo nunggu gue, wahai induk buaya?!’ Tapi Norman gak ngomong gitu dan memilih diam. Ia memegang hand phonenya erat-erat, seperti anak kecil yang balonnnya tinggal empat. Maklum balon hijaunya baru saja meletus dikempit dada busung Bu Luna.
“Kamu sudah melecehkan harga diri saya! Kamu harus dapat balasan yang setimpal!” Suara Bu Luna Kalniya berapi-api. “Skripsi kamu saya batalin semua ACCnya…! Semuanya saya tolak! Dari bab 1 sampai yang sekarang!”
DEEGG! Norman terperanjat. “Kalau semuanya ibu tolak, berarti judul skripsi saya itu gak bisa diterusin? Maksud ibu, saya harus ngusulin judul skripsi baru?!”
“Iya! Karena judul yang ini sudah saya tolak! Kamu harus ngusulin judul baru!” Senyum sinis menyeringai di bibir Bu Luna yang tipis mungil di kulit wajahnya yang tebal berlemak. “Dan kamu harus tau. Belum tentu saya mau ngasih ACC ke judul baru yang kamu usulkan!”
BERSAMBUNG…….
Apa yang terjadi selanjutnya? Pasrahkah Norman menerima perlakuan si dosen yang semena-mena? Apakah Ira dan Kiki akhirnya tau bahwa Livia sudah menikah dengan Norman?
Ikuti terus cerita ini. Klik LOVE dan taruh novel ini di rak bukumu agar bisa selalu menerima update terbaru HOT MAN ON CAMPUS. Jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN agar Authornya semangat lanjutin nulis episode baru. Karena tanpa dukungan pembaca, author bukanlah apa-apa. Semoga karya ini semakin banyak yang suka.
selalu dimanjain