NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Tanda tangan

Fajar terbangun dari tidurnya, meregangkan otot bersiap kembali bekerja bagai kuda. Tapi tunggu dulu, nasibnya sekarang sedikit berbeda. Dia punya "ordal" alias orang dalam tingkat tinggi—yang tak lain adalah Ibu Direktur sendiri, Kirana, yang kini resmi menjadi pacarnya.

Memikirkan momen semalam sukses membuat Fajar tersenyum malu sekaligus menepuk dada bangga. Siapa sangka dia bisa meluluhkan hati wanita sedingin batu es itu dan membebaskannya dari sangkar?

Keluar dari kamar, Fajar langsung menuju meja makan untuk sarapan. Setibanya di sana, bapaknya yang sedang duduk santai langsung menodongnya dengan pertanyaan.

"Jadi... gimana pekerjaanmu? Jangan bilang kamu cari masalah di kantor," selidik sang bapak.

"Ya kali, Pak. Gak lah, malahan aku ini lagi sibuk menyelesaikan masalah," balas Fajar santai sambil mengambil lauk.

"Bagus, bagus. Kalau begitu, masalah apa yang lagi kamu urus?"

"Ssst, jangan nanya, Pak. Ini rahasia dapur perusahaan, privasi. Udah ya, aku mandi dulu!" Fajar buru-buru menyudahi sarapannya dan ngacir meninggalkan meja makan menuju kamar mandi.

"Aduh... itu anak, ditanya bukannya ngasih tau," gerutu bapaknya sambil geleng-geleng kepala.

"Udahlah, Mas... anak-anak kan juga butuh privasi buat urusan kerjanya," sahut ibu menengahi sambil membereskan piring kotor.

Seusai mandi dan mengenakan kemeja kerjanya, Fajar bersiap berangkat. Sepeda listrik yang ia pakai semalam sudah dikembalikan karena masa sewanya habis, jadi hari ini ia meminjam motor bapaknya.

Fajar mengendarai motor itu dengan santai. Aspal komplek rumahnya baru saja diperbaiki, membuatnya bisa menikmati embusan angin pagi tanpa perlu waswas menghindari lubang atau batu kerikil. Ia memandangi hiruk-pikuk warga sekitar yang sudah ia kenal sejak lama, sesekali melempar senyum atau menyapa tetangga yang berpapasan dengannya.

Namun, begitu motornya keluar dari gerbang komplek dan berbelok ke jalan besar, pemandangan seketika berubah drastis. Jejeran rumah warga langsung digantikan oleh gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh menantang awan. Trotoar lebar membentang di kanan-kiri, dengan barisan pohon-pohon asli yang ditanam rapi di tengah pembatas jalan protokol.

Medan perangnya sudah di depan mata.

Setibanya di gedung pencakar langit PT Arunika Jaya, Fajar melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Ia berniat menuju meja kerjanya untuk mulai memilah data proyek, namun langkahnya terhenti.

Dari arah lorong lantai atas—tepatnya di area ruangan Direktur Marketing—terdengar suara perdebatan yang cukup alot. Insting Fajar langsung menyala. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai atas, dan bergegas menuju sumber masalah.

Saat pintu lift terbuka, ia melihat Sekretaris Direksi sedang bersitegang dengan Kirana di ambang pintu ruangan.

"Oi, oi, ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" sapa Fajar santai namun dengan nada menuntut, memecah ketegangan.

Sekretaris itu menoleh. "Bagus Anda ada di sini, Pak Fajar."

"Ada apa ini? Tumben sekali Sekretaris Direksi turun tangan ke ruangan ini?" Fajar melangkah maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Kirana seolah menjadi tameng pelindung.

"Saya cuma mau menyampaikan memo resmi. Bahwa CEO perusahaan ini, Pak Ardi, sedang pergi ke luar negeri pagi ini juga untuk urusan ekspansi proyek dan bisnis," ucap sekretaris itu dengan nada kaku.

Fajar menaikkan sebelah alisnya. "Gitu doang?"

"Iya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Sekretaris itu menunduk sekilas lalu berbalik pergi.

Begitu pintu ruangan Kirana tertutup rapat, ekspresi santai Fajar seketika berubah menjadi tatapan penuh selidik.

"Kenapa, Fajar? Ada yang salah?" tanya Kirana yang menyadari perubahan raut wajah kekasihnya.

"Hmm... aku merasa dia menyembunyikan sesuatu, Kirana."

"Menyembunyikan sesuatu?"

"Iya," Fajar mengangguk yakin. "Coba pikir, di kalender resmi perusahaan sama sekali nggak ada jadwal untuk ekspansi proyek bulan ini. Apalagi sampai berangkat dadakan begini."

Kirana terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Jadi, menurutmu Ayahku sedang merencanakan sesuatu di belakang kita?"

"Pasti. Tapi ya... lebih baik begitu. Dengan absennya dia, kita diberi ruang bernapas. Kita bisa pakai waktu ini buat cari tahu seluk-beluk kotor di perusahaan ini tanpa diawasi langsung," ucap Fajar optimis.

Kirana menunduk tipis. "Emm, iya..."

Melihat raut wajah Kirana yang kembali murung, nada suara Fajar langsung melembut. "Jadi... mau gimana, Kirana? Pikiranmu lagi kalut. Mau aku antar pulang ke rumah saja buat istirahat?"

Kirana menggeleng pelan, sorot matanya menyiratkan luka yang dalam. "Hmm... nggak usah. Kalaupun pulang, di rumah aku nggak ada siapa-siapa. Kalau di rumah sendirian, aku terus teringat mendiang ibuku... dan aku masih tidak tahu siapa yang membunuhnya."

Langkah Fajar terhenti. Fakta kelam itu membuat dadanya ikut sesak. "Ouuh... turut berduka cita ya, Kirana."

"Ya... terima kasih," balas Kirana memaksakan senyum tegar. "Lagipula, aku masih ada urusan dengan beberapa perusahaan lain. Aku harus tetap kerja."

"Gimana kalau aku bantu?" tawar Fajar siaga.

"Tidak usah. Kamu fokus jalankan tugasmu selayaknya Kepala Tim Proyek Khusus saja dulu," tolak Kirana halus.

Fajar tersenyum hormat sambil meletakkan tangan di dada. "Baik, Bu Direktur. Kalau begitu, saya permisi ke ruangan saya dulu."

"Okay."

Namun, saat Fajar berbalik dan hendak memegang gagang pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dari luar. Seseorang melangkah masuk dengan dagu terangkat sombong. Ia adalah Manajer Keuangan—orang yang memegang kendali atas sebagian besar arus kas di PT Arunika Jaya.

"Halo, Pak Fajar, Bu Kirana," sapanya dengan senyum yang dibuat-buat.

"Iya... halo. Ada apa Manajer Keuangan repot-repot kemari?" tanya Fajar mulai curiga.

"Ouh, begini," Manajer itu melirik dokumen di tangannya. "Saya cuma mau memberitahu kalau saya tidak bisa mencairkan dana operasional untuk tim khusus Pak Fajar."

"Lah? Kenapa?"

Manajer itu tersenyum licik. "Wah, Pak Ardi kan lagi ke luar negeri. Saya nggak berani cairin dana sebesar itu tanpa tanda tangan beliau langsung."

"Hah?" Fajar menatap pria paruh baya itu dengan tajam. "Apa maksudmu, Pak? Bukannya secara prosedur, tanda tangan Direktur Marketing sudah cukup untuk dana awal?"

"Haa... nggak apa-apa. Saya cuma... kepengin aja menundanya," jawab Manajer itu mulai menunjukkan arogansinya karena merasa di atas angin.

"Ouhh... Bapak sengaja mempersulit? Bapak nggak suka sama kami?" Fajar mendengus pelan, lalu sudut bibirnya tertarik membentuk seringai mengerikan. "Kalau begitu... saya punya ini, Pak!"

Fajar memutar badannya, berjalan santai ke meja Kirana, dan mengambil sebuah map dokumen berisi hasil riset yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Ia melemparkan map itu ke atas meja tepat di hadapan si Manajer Keuangan.

"Nih... silakan dibaca. Di situ tertulis jelas bukti-bukti pelanggaran aturan perusahaan dan manipulasi anggaran yang Bapak lakukan. Saya sudah melakukan riset mendalam sebelum proyek ini dimulai," bisik Fajar dengan nada mengancam.

Mata Manajer Keuangan itu melotot seakan mau keluar dari kelopaknya. "KENAPA... KENAPA KAMU BISA MENEMUKANNYA?!"

Fajar tertawa meremehkan. "Hahahah, beginian mah gampang buat saya. Jadi... Bapak mau tanda tangan surat pencairan dana saya sekarang, kan?"

Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membasahi dahi manajer itu. Tangannya gemetar hebat. "HAHAH... IYA, PAK! SAYA SEGERA TANDA TANGAN!"

Tanpa membuang waktu sedetik pun, pria itu membungkuk di meja dan menandatangani dokumen Fajar detik itu juga.

"Ini, Pak!" serahnya panik.

Fajar menerima dokumen itu dan menepuk pundak sang manajer dengan keras. "Jangan gitu lagi ya, Pak. Nanti jantungnya copot."

"S-siap, Pak!"

"Pergi!" usir Fajar dingin.

Manajer itu langsung lari terbirit-birit keluar ruangan. Saking paniknya, wajahnya sampai menabrak pintu kaca sebelum akhirnya kabur sambil melambaikan tangan minta ampun.

Ruangan kembali hening. Fajar mengibas-ngibaskan dokumen bertanda tangan itu dengan senyum bangga. Ia menoleh ke arah Kirana yang sejak tadi mematung melihat aksinya.

"Kamu... baru saja membelaku?" tanya Kirana pelan, matanya tak berkedip menatap Fajar.

Fajar berjalan mendekat, mencondongkan wajahnya sedikit dengan senyum menggoda. "Gimana? Makin suka, kan?"

Mendengar godaan itu, Kirana langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela. Namun, rona merah yang menjalar dari pipi hingga ke telinganya sama sekali tak bisa disembunyikan.

Melihat rona merah di wajah Kirana, Fajar tersenyum puas. Ia tidak ingin menggoda gadis itu lebih jauh sebelum pacarnya itu benar-benar meledak karena malu.

"Ya sudah, karena urusan pendanaan sudah selesai dan manajer panik itu sudah kabur... aku kembali ke ruanganku dulu, ya," pamit Fajar dengan nada santai. "Aku mau langsung memilah data proyek ini sebelum para teknisi R&D itu mulai bertingkah lagi."

Fajar memutar tubuhnya, bersiap melangkah keluar dari ruangan. Namun, baru satu langkah ia ambil, sebuah tarikan pelan menahan pergerakannya.

"Tunggu!"

Fajar menoleh kaget dan mendapati tangan kanan Kirana tengah mencegatnya. Jari-jari lentik gadis itu mencengkeram ujung lengan kemeja Fajar dengan ragu-ragu. Wajah sang Direktur Marketing itu masih sedikit bersemu, namun sorot matanya memancarkan kekhawatiran yang sangat tulus.

"Jangan sampai kelelahan, ya... istirahat juga penting," ucap Kirana pelan, nyaris seperti bisikan yang menyembunyikan rasa gengsinya.

Senyum di bibir Fajar seketika mengembang. Kali ini jauh lebih lembut dan tulus dari senyum kemenangannya tadi. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap Kirana, mengangkat sebelah tangannya, lalu mengelus puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.

"Iya... tenang saja," balas Fajar menenangkan.

Sentuhan lembut dan hangat di kepalanya membuat ketegangan di bahu Kirana meluruh. Ia membiarkan Fajar memperlakukannya dengan manis, meresapi rasa aman yang belum pernah ia dapatkan di dalam dinding perusahaan ini.

Dengan semangat yang kini terisi penuh lipat ganda oleh perhatian sang kekasih, Fajar akhirnya benar-benar melangkah keluar ruangan. Otaknya sudah siap membedah tumpukan data, menanti tantangan baru apa yang akan ia hancurkan hari ini demi melancarkan misinya.

[Bersambung]

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!