NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Suara hantaman kayu yang pecah berkeping-keping menggema memenuhi ruangan toko roti yang sempit, memecah keheningan dan merobek kehangatan pelukan yang baru saja menyatukan jiwa Damian dan Aurelia. Pintu depan yang kokoh itu kini telah jebol, menyisakan serpihan-serpihan kayu yang berserakan di atas lantai yang basah oleh sisa cairan merah dan tumpukan salju yang masuk terbawa angin badai.

Di ambang pintu yang rusak itu, siluet bayangan gelap mulai bermunculan. Tiga orang pria bertopeng hitam pekat, mengenakan jubah perjalanan tebal yang basah oleh salju, melangkah masuk secara perlahan namun pasti. Di tangan mereka masing-masing, bilah pedang panjang berkilat memantulkan cahaya lentera yang berkedip-kedip redup, menguar bau amis darah dan ancaman kematian yang nyata.

Aurelia seketika terperanjat, tubuhnya menegang kaku di dalam dekapan Damian. Refleks traumanya kembali bergolak hebat, membuat napasnya tersangkut di tenggorokan.

Namun, tidak seperti sebelumnya—di mana ketakutan membuatnya kehilangan akal sehat—kali ini ada kehadiran kokoh yang berdiri di hadapannya.

Damian melepaskan pelukannya secara perlahan, namun tangannya yang besar tetap menggenggam erat bahu Aurelia untuk memastikan wanita itu berdiri stabil. Dalam sepersekian detik, ekspresi rapuh dan penuh penyesalan di wajah sang Jenderal lenyap tak bersisa. Yang tersisa di sana kini adalah wajah seorang panglima perang yang dingin, kejam, dan mematikan—wajah yang siap merobek siapa saja yang berani menciderai apa yang telah ia akui sebagai miliknya.

Manik mata abu-abu badai Damian menyipit tajam, menatap lurus ke arah para penyusup yang berdiri di tengah ruangan. Sebagai Jenderal Agung Kekaisaran yang telah melibas berbagai pemberontakan, Damian tidak butuh waktu lama untuk membaca situasi ini. Para pembunuh bayaran ini bukan sekadar bandit jalanan atau sisa-sisa pemberontak utara yang tersesat.

Ini adalah operasi terselubung yang dirancang oleh musuh-musuh politiknya di Senat ibu kota—faksi aristokrat busuk yang merasa terancam dengan keberhasilan kampanye militernya di utara serta kedekatannya dengan Putri Mahkota Elaina. Mereka mengetahui keberadaan Aurelia. Mereka tahu bahwa istri sang Jenderal bersembunyi di kota pelabuhan kecil ini, dan mereka berniat menggunakan wanita itu sebagai alat politik yang kotor—menculik, menyiksa, atau membunuhnya untuk menjatuhkan reputasi, menghancurkan otoritas, dan memecah konsentrasi Damian di pusat kekaisaran.

"Rupanya para tikus got dari Senat ibu kota tidak pernah belajar cara mati dengan tenang," suara Damian bergemuruh rendah, dingin, dan sarat akan ancaman maut yang membekukan udara ruangan.

Salah satu pembunuh bayaran bertopeng di depan mendengus dingin, suaranya terdengar serak di balik kain penutup wajah. "Jenderal Damian Valerius... Anda seharusnya tetap berada di garis depan utara atau mendekap sang Putri Mahkota di istana, alih-alih membuang waktu melindungi wanita pelarian yang membawa sial ini. Keberadaannya adalah noda bagi nama besar keluarga Valerius. Senat menginginkan kepalanya... dan jika Anda menghalangi, Anda akan turun sebagai pengkhianat negara."

Ancaman itu dilontarkan tanpa rasa takut, menyiratkan bahwa mereka memiliki dukungan politik yang kuat di balik layar.

Namun, ancaman itu justru menyulut amarah paling gelap di dalam diri Damian. Alih-alih gentar, sudut bibir sang Jenderal terangkat membentuk sebuah senyuman sinis yang mengerikan.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Damian bergerak. Dengan satu sentakan tangan, ia menghunus pedang panjang miliknya dari sarung baja di pinggang. Logam pedang itu berderit tajam, memantulkan kilatan cahaya yang menyayat kegelapan malam.

Sebelum melangkah maju menghadapi para pembunuh tersebut, Damian menoleh ke belakang sejenak. Ia menatap Aurelia lekat-lekat, memastikan bahwa manik mata hijau wanita itu menangkap setiap kata yang akan ia ucapkan.

"Aurelia," panggil Damian dengan suara yang kembali melembut secara drastis khusus untuk wanita itu, meskipun tangan kirinya merogoh ke dalam saku mantel militernya. "Dengarkan aku baik-baik. Jangan kemana-mana. Tetaplah bersembunyi di sudut ruangan ini, di balik rak kayu ini, dan jangan pernah melangkah keluar apa pun yang terjadi di luar sana."

Aurelia menggelengkan kepalanya panik, jemarinya mencengkeram lengan mantel Damian. "Damian... mereka banyak... jangan pergi..."

Damian menatapnya dengan pandangan penuh keyakinan, sebuah tatapan yang menenangkan badai di dalam dada Aurelia. Dengan gerakan cepat, Damian mengeluarkan sebuah belati kecil bersarung kulit hitam berukir lambang keluarga Valerius dari balik mantelnya—sebuah senjata pusaka pribadi yang selalu ia bawa sejak hari pertama ia memegang komando militer, benda paling berharga dan sakral baginya.

Ia mengangkat belati itu dan menempatkannya langsung di tangan Aurelia, menutup jemari lentik wanita itu agar menggenggam erat gagang belati tersebut.

"Ambil ini," bisik Damian penuh penekanan. "Ini belatiku. Belati ini tidak pernah lepas dari sisiku, dan kini kupercayakan padamu untuk melindungi nyawamu sendiri. Jika ada yang berani mendekatimu melewati mayatku, gunakan ini tanpa ragu. Hentikan siapa pun, lindungi dirimu, dan tunggulah aku."

Aurelia menatap belati di tangannya dengan tubuh yang gemetar hebat. Kesadaran bahwa Damian memberikan senjata paling berharganya menunjukkan betapa pria itu menempatkan keselamatan Aurelia jauh di atas nyawanya sendiri.

Sebelum Aurelia sempat merespons lebih jauh, para pembunuh bayaran di depan melompat menerjang secara bersamaan, mengayunkan pedang mereka ke arah Damian dalam serangan frontal yang mematikan.

Damian berbalik dalam sepersekian detik, menepis tebasan pertama dengan dentingan logam yang memekakkan telinga, lalu melayangkan tendangan telak yang menghantam dada salah satu penyerang hingga terpental menembus dinding kayu toko. Pertempuran brutal pun pecah di dalam ruangan sempit itu. Darah segar menciprat ke dinding dan hamparan salju di lantai, sementara suara benturan baja berderik nyaring memecah malam badai.

Aurelia mundur perlahan sesuai perintah Damian, merosot terduduk di balik sudut rak penyimpanan bahan kue yang aman, mendekap erat belati pusaka milik sang Jenderal di dadanya sambil memejamkan mata menahan isak tangis.

Di tengah kekacauan pertempuran dan tebasan pedang yang berkelebat cepat, salah satu pembunuh bayaran yang menyadari bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan Damian dalam pertarungan terbuka, mendadak mengubah arah serangannya. Sambil melompat menghindari sabetan pedang Damian, pembunuh itu meluncur cepat ke arah sudut ruangan—langsung menerjang ke arah tempat Aurelia bersembunyi dengan belati terhunus di tangan—

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!